
Setelah kelahiran anak mereka Situa tidak pernah muncul lagi di hadapan mereka seakan akan ia menghilang tertelan langit sudah hampir sepuluh tahun berlalu tentu saja anak yang mereka lahir kan kini sudah tumbuh menjadi anak yang cantik, dan baik hati.
Mereka memberi nama Zhu Ling Xiu. anak itu tumbuh sangat sehat dan baik serta rendah hati. Ia tidak segan segan berbuat baik kepada siapapun kebaikannya tidak pandang bulu. Hingga sebuah kebaikan itu membuat mala petaka pada dirinya.
Suatu hari saat Ling Xiu pergi untuk mengunjungi tempat kerja kakaknya Zian namun satu hal yang berbeda saat itu entah kenapa ia melepaskan kalung yang ia pakai dan tak pernah ia lepas sebelumnya dan kemudian ia bergegas berangkat.
Saat di tenga jalan kereta mereka bertemu seseorang, orang itu menabrakkan diri di kereta Ling xiu dan ia terjatuh. Saat kereta berhenti tiba tiba Lingxiu langsung turun dari kereta untuk melihat apa yang terjadi. Sebenarnya sebelum Lingxiu turun pelayan yang bersamanya sudah mencegahnya untuk tidak turun dan mengkhawatirkannya namun ia menolak dan bersikukuh untuk menolongnya.
Lingxiu menghampiri orang tersebut dan membantunya namaun naas orang yang ia tolong ternyata seorang penculik ia memberi kode kepada rekannya dan beberapa orang dari arah berlawanan dengan berpakaian hitam wajah ditutupi dengan cepat memukul pundak Lingxiu hingga pingsan dan membawanya pergi.
Para pelayan histeris melihat nona nya di culik. Mereka kalang kabut mencari bantuan namun tak ada yang membantu serta. Orang-orang hanya melihat kejadian itu dengan tatapan kasihan Tampa Engan membantu.
Pelayan Yang bersama Lingxiu langsung melapor ke pada tuan zhu. Seketika kediaman tuan Zhu menjadi ricuh. Tuan Zhu bergegas memerintahkan beberapa orangnya untuk mencari anaknya, tidak terkecuali Zian. Ketika mendengar berita buruk itu ia bergegas pulang dan langsung mencari adik perempuannya itu.
Nyonya Zhu yang terkejut tak bisa berbuat apa apa selain menangis dan menahan kekhawatiran yang luar biasa. Anak perempuan satu satunya telah di culik, ia menunggu dengan gelisah sambil menggendong anak terkecilnya yang berusia Lima tahun ya itu adalah Zixin. Zixin mengusap air mata ibunya.
"Kenapa ibu menangis... jangan menangis, kakak pasti ketemu benarkan ibu kakak Zi juga ikut mencarinya," ucapnya dengan sedikit cedal.
Sementara itu.
Penculik itu masih membawa tubuh Lingxiu. Saat sampai di tengah hutan tiba tiba sebuah kilat menyambarnya dan membuat tubuh mereka terpental jatuh dan Lingxiu terjatuh di tanah. Penculik itu berdiri sembari mencari sosok yang menyerangnya secara tiba tiba.
"Siapa di sana !"
Sekali lagi sebuah kilat cahaya menyambarnya dan membuatnya terpental tubuhnya membentur pohon dan mengeluarkan seteguk darah dari mulutnya.
"Sial !. Pengecut.! Keluar kau !," Teriak penculik itu masih mencari orang yang menyerangnya matanya masih mencari di setiap sudut pepohonan hutan naum tidak menemukan apa apa yang ada ia melihat tubuh gadis kecil yang ia culik itu melayang di udara namun tak bergerak.
Penculik itu tercengang dengan apa yang ia lihat iamenelan ludahnya.
"Ha.han...han..tu.!," Seketika pencuri itu berusaha kabur lari terjatuh jauh dan beberapa meter ia berlari ia malah menabrak orang.
Brukkk.
Ia terjatuh tangannya masih bergetar seketika ia mendongak.
"Tu..tuan."
Terlihat orang yang di panggil tuan itu terlihat wajahnya gelap.
"Tak berguna !" Seringai kata yang terucap membuat penculik itu membeku ketakutan
"Ma..maafkan hamba tuan..!," Sambil sujud sujud.
Lelaki yang di panggil tuan itu menendang bawahanya. Ia segera meraih Lingxiu yang melayang namun serangan misterius menghalanginya. Lelaki itu hanya bisa menahan serangan serangan yang datang tanpa bisa membalas serangan yang datang secara acak tanpa terlihat seseorang yang mengendalikannya.
"Sial. Kelua kau tua bangka ! Jangan menjadi pengecut !" Lelaki itu telah berteriak dengan kesal ia seperti di permainkan. Teriakan teriakannya menjadi sia sia karena yang dia teriaki tak kunjung keluar.
Sial jika begini terus aku tidak bisa membawa anak itu pergi. Semakin aku mendekati anak itu serangan itu muncul secara tiba tiba dan tidak bisa di prediksi arahnya anak itu seperti di lindungi. Cih. sungguh merepotkan membuang tenaga dan energi ku. Sebenarnya apa keuntungan menculik anak ingusan itu. Kenapa Tuan Shen sangat menginginkan gadis kecil itu ?.
"Merepotkan !,"
Tidak ada cara lain aku harus menyerang anak itu tak apakan bila bermain main sebentar dengannyaa.
Lelaki itu mengeluarkan pedangnya
saat ia mulai melangkah perlahan. Tiba tiba tubuh Lingxiu turun ketanah.
Lelaki itu terhenti.
LingXiu perlahan mulai membuka matanya dan ia terbangun.
Ia melihat sekeliling dengan bingung. "Aku Dimana ?," Gumamnya yang melihat sekeliling hanya penuh dengan pepohonan ia memegang kepalanya yang sedikit pusing.
"Sudah bangun bocah tengik," Ucap orang itu dan Lingxiu menoleh ia melihat sosok lelaki yang berdiri di depanya dengan jarak yang lumayan sedikit jauh ia menghadap kepadanya dengan membawa sebuah pedang. Lelaki itu berjalan perlahan mendekatinya.
Lingxiu menatapnya tidak ada perasangka buruk terhadap lelaki yang mendekat itu. Sedangkan lelaki itu terus mendekat dan bersiap menyerangnya.
"Paman.. kenapa aku bisa berada disini ?,"
Lelaki itu tak menjawab dan semakin mendekat. Lelaki itu melihat sebuah Simbol di kening Lingxiu bercahaya putih.
Lelaki itu tersenyum menyringai. Ah ternyata dia orangnya pantas saja tuan Shen menginginkannya.
"Gadis kecil, aku menginginkan Simbol di keningku itu, kemari biar ku ambil dengan pedang ini," lelaki itu semakin dekat dan Lingxiu mundur beberapa langkah saat melihat pedang di tangan lelaki itu.
"Paman a.apa maksud anda ?"
lelaki itu tersenyum.
"Tidak ada. paman hanya ingin nyawamu saja gadis kecil, bagaimana boleh kan ?," Ucapnya menyeringai.
Wajah Lingxiu terkejut ia terus mundur dengan panik. Kakinya membentur sebuah batu dan ia terjatuh.
"A apa salah ku paman aku tidak melakukan kesalahan kepada paman."
Ia mengankat pedanganya dan mengayunkan ke Ling Xiu. Ling xiu mencoba menghindar beberapa kali ia menghindari serangan itu ia berlari dan terjauh.
"Penapa paman ingin membunuhku ?," Suara gemetar Ling Xiu tak terhindar lelaki itu menggengam kuat pedangnya. Ling xiu terpojok karena tubuhnya kini menabrak pohon di belakangnya lelaki itu tersenyum sambil mengangkat pedangnya dengan segera Lingxiu menutupi dirinya dengan tangannya dan perteriak.
kilat butih menyambar.
SRRIIGG !.. Crass.
AH.!
Terlihat darah bercucuran dimana mana. Tubuh itu tertebas dan rumput yang hijau kini menjadi merah, darah mengalir dan meresap kedalam tanah meninggalkan noda merah darah.
Perlahan LingXiu membuka matanya karena merasakan air mengenai tubuhnya. Matanya membulat melihat darah berceceran di tanah dan mengenai tubuhnya. "pa.paman i.itu. ma.mati ?," Gumamnya bergetar, dan melihat badannya yang terkena noda darah. Ia kembali melihat lelaki yang sudah tak bernyawa itu.
Ba.bagiman Bi.bisa.!
Seseorang berlari menghampiri dan orang itu berteriak ketika melihat junjungannya mati.
"TUAN !!" Lelaki bercadar serba hitam itu menatap Ling Xiu "Gadis Kecil KAU. MEMBUNUHNYA !," Sambil menunjuk kearah Lingxiu ia melihat bagaimana kilatan putih muncul dari gadis kecil itu.
Ling xiu menggeleng ketakutan.
"Aku melihatmu kau membunuhnya !!," Lelaki itu mengeluarkan pedangnya
"Kau harus mati !," Sambil menunjuk Ling xiu dengan pedang.
"a.aku tidak mem.bunuhnya, paman,"
Lelaki itu mendekat ke Ling xiu dan mengayunkan pedang. ling xiu mencoba menghindar namun telat
Cras.
Ahhhh !.
Pedang itu pengenai lengan Lingxiu.
"MATILAH KAU !" Sambil mengayunkan pedang.
"Ling Xiu.!"
CRINGG!
Suara benturan pedang.
Zian menghalangi serangan pedang itu.
"Siapa kau !"
Lelaki itu tak menjawab tatapanya tambah muram karena tangkisan pedang dari Zian.
"Berani sekali kau melukainya !, Ku pastikan kepalamu tak lagi bertengger di tubuhmu !,"
"Cih. Sombong sekali kau anak muda.! Kau bukan tandingan ku ! Minggir bila kau tak mau mati !"
Zian tidak bergeming sedikitpun ia masih bertahan di posisinya tak lama duel pedang pun terjadi beberapa kali Zian di pukul mundur dan mengeluarkan seteguk darah lelaki bercadar itu kekuatannya bukan main dan ia bukan tandinganya.
Energinya mulai habis. Ia bukan lawan sebanding, keterampilannya dalam berpedang tak bisa mengimbanginya.
"Sudah ku bilang. kau bukan tandinganku. Jadi minggir"
Zian tak bergeming ia masih mempertahankan posisinya melindungi sang adik. Sedangkan Lingxiu sudah terlihat pucat pasi kebanyakan kehilangan darah wajah tegang dan khawatirnya tak bisa terelakkan
"Kak mundur jangan diteruskan." suaranya lirih ia tak tega melihat kakaknya kenapa-napa, berulang kali makanya kalah telak. Ia bukan tandingannya.
"Kak. mundur.." Pintanya berkali-kali namun Zian masih saja tak bergeming
Lelaki bercadar itu berjalan mendekat menggenggam kuat pedangnya dan siap menghunuskan ke arah Zian.
"Kau yang memilih mati anak muda," lelaki itu mengangkat pedangnya ke arah Zian yang terkulai lemas di depannya.
"TIDAK !!!" Ling xiu berteriak sambil menjulurkan tangannya.
Seketika kilat putih menyambar lelaki bercadar itu seperti sebilah pedang tajam dan seketika lelaki bercadar itu tumbang dan darah segar mengalir dari tubuhnya ke tanah kepalanya menggelinding dari tubuhnya.
Zian tercengang dengan apa yang ia lihat tak luput dari Ling xiu ia pun juga tak percaya dengan apa yang ia lihat ia melihat kedua tanganya.
wajahnya terkejut matanya terbelalak. "Ti.tidak.
aku ti tidak a apa aku mem.bunuh ?!," Gumamnya dan tanganya bergetar hebat ia memandang kakanya yang sama sama terkejut.
*******
Jangan Lupa Like, vote and komen