
"HENTIKAN !"
suara itu mampu menghentikan Dae san dan mereka menoleh ke sumber suara.
Dae san tersenyum evil saat melihat siapa yang datang. "akhirnya kau keluar juga Lingxiu, tak ku sangka sekarang kau menjadi wanita yang sangat cantik dan berani, wah wah wah, apa kau mau mencoba bertarung dengan ku ?,"
Della berjalan mendekat menghampiri pangeran Fang Qi yang tertunduk dengan menahan pedang. "pangeran," ucap Della sembari membantu pangeran Fang Qi berdiri, "ambilah, jangan hiraukan aku," sahut pangeran fang Qi sembari menyerahkan pedang yang di bawanya,
"tapi,"
"jangan membantah ini perintah," ucap pangeran Fang Qi dan dengan segera Della mengambil pedang itu. ia melirik ke arah Dae san.
terlihat Dae san tersenyum smrik, lalu menghantamkan sebuah serangan.
Bumm !
sebuah ledakan, menggema di sana. Della terpental bersamaan dengan pangeran Fang Qi yang ikut terlempar, badannya berguling di tanah dan tak sadarkan diri.
Della berusaha bangkit, hantaman itu sangat ia rasa dada yang begitu sesak.
"menyerahkan, dan berikan pedang itu, kau akan selamat," ucapnya sembari mendekat.
Della tersenyum smirk, "kau mau pedang ini bukan ? maka rebutlah dari tangan ku," ucapnya langsung menyerang.
Duar !
Bum !
serangan berbagai serangan, dan duel sihir pun terjadi. ledakan ledakan menggema di langit Tampa henti.
Crak !
Duarrr ! hantaman sihir bertemu dan mereka sama-sama terpental ke belakang.
"ukhuk," Della mengeluarkan seteguk darah.
"menyerahlah kau tak akan mampu menghadapi ku,"
Della masih tetap dalam pendiriannya ia kembali menyerang Dae san begitu juga dengan mudahnya Dae san menghalang serangan yang menghantam.
dan,
Duarr !
Bruk !
Ukhuk, ukhuk,
Della terbentur ke pohon, dan terbatuk darah, kali ini ia rasakan dadanya seakan remuk.
"sudah ku bilang, menyerahlah, dan jadilah pengikut ku," ucap Dae san sembari mendekat.
Della menatap tajam orang yang mendekatinya itu. lalu terkekeh "apa kau akan membiarkan ku hidup ?," tanya Della menatap Dae san.
"tentu saja, dan kau akan mendapatkan kekuatan yang lebih besar dari pada ini,"
Della terkekeh, " aku menyetujuinya," ucapnya terhenti, ia melihat wajah Dae san yang tersenyum kemenangan "pilihan yang tepat, Lingxiu".
"tapi itu terjadi jika kau masih hidup,"
Crass !
Ahgrrrr !
sebuah pedang menembus jantung Dae san dari arah belakang.
orang itu tersenyum, "berhentilah, terlalu berambisi kau akan rugi sendiri," ucap Changyi lalu memberi kode agar Della sedikit menjauh.
"agrhh ,!" teriak Dae san tatkala tubuhnya terasa terbakar. "lepaskan pedang ini !"
sebuah cahaya merah terpancar dari pedang yang menusuk Dae san perlahan cahaya itu membakar tubuh Dae san sedikit demi sedikit. hingga menjadi abu.
changyi mendekat lalu mengambil pedang yang membakar tubuh Dae san. lalu dengan sihirnya abu Dae san di pindahkan di sebuah guci.
"letakan abu di makam kastil," perintah Changyi kepada kakek wuyu,
"tapi mengapa dia harus di makamkan di sana guru ? bukankah dia sudah berkhianat dan membuat ke kacauan ?," tanya kakek wuyu heran.
"sebagaimana pula dirinya dia tetaplah murid ku, walau kepribadiannya yang kurang baik, itu tidak pernah menghapus jika dia bukanlah murid ku," jawab changyi lalu berlalu pergi.
.
.
.
.
Di gunung bintang, mereka semua berkumpul mengobati luka-luka yang berada di badan mereka, sedangkan kakek wuyu kini sedang mengobati murid kesayangannya pangeran Fang Qi. yah dia adalah orang yang mengalami luka parah, ia masih terbaring di peraduan.
Della, menaruh beberapa mangkuk obat di meja
"Bagaimana keadaanya ?" tanya Della kepada kakek wuyu yang baru selesai mengobati pangeran Fang Qi.
"dia baik-baik saja," jawabnya lalu meraih mangkuk obat dan kemudian menambah beberapa racikan obat ke dalamnya.
"duduklah, ulurkan tangan mu, biarkan aku meriksa mu," ucap kakek wuyu lalu Della menuruti perkataan kakek wuyu.
kakek wuyu, terdiam saat merasakan denyut nadi Della. "kenapa detak jantungnya melambat dan tak ada denyut sihir di nadinya," ucapnya membatin. lalu menatap Della dengan tatapan tak percaya. "kenapa kek ?," tanyanya penasaran di tatap seperti itu.
"apa kau tidak merasakan sakit ?," Della hanya menggeleng pelan, rasa sakit sebenarnya ia rasakan saat bertarung tadi, namun itu sudah tak ia rasakan.
ini aneh. batin kakek wuyu lalu melepaskan tangannya. Situa dan yang lainya terhenti tatkala mendengar perkataan mereka, lalu menatap ke arah Della.
"ada apa ? kenapa kalian menatap ku seperti itu ?," tanyanya yang merasa bingung. tak ada yang menjawab semuanya terdiam.
"hah, sepertinya tak ada yang mau menjawab ku," ia beranjak dari duduknya.
"Lingxiu," panggil Yuan Fu menghentikan langkah Della. "kau, mau kemana ?," tanyanya terlihat khawatir. Della menaikan satu alisnya,
"cari angin," ucapnya asal lalu melanjutkan langkahnya. namun saat akan keluar ruangan tiba-tiba langkahnya terhenti, tangan kirinya memegangi dadanya, ia merasakan dadanya dihujani beribu jarum, dan lagi-lagi sebuah darah menetes dari hidungnya. ia mengusap darah itu.
"kenapa harus begini lagi," gumamnya dan perlahan pengelihatannya semakin kabur.
"Lingxiu, " teriak Yuan Fu dengan panik, lalu Changyi menangkap tubuh Della yang hampir terjatuh, ia menatap orang yang menangkapnya, namun pandangan itu tak jelas.
"aku tak apa," ucapnya lirih dengan kondisi darah yang masih keluar dari hidungnya.
semua orang terkejut saat melihat kondisinya saat ini. Changyi membopong Della dan memindahkannya di kursi panjang.
"terimakasih," ucapnya lirih
"ambilkan kristal kehidupan," ucap Changyi namun Della memegang lengannya dan bergeleng pelan, "tidak perlu, mungkin ini saatku harus kembali," ucapnya lirih.
Changyi terdiam, semua orang terdiam, jujur saja mereka merasa sangat kehilangan, walau mereka semua tahu dia bukanlah jiwa Lingxiu yang asli, namun pengorbanan dirinya dan semua kenangan yang telah tersusun itu memberikan sesuatu rasa disisi hati.
ia menatap mereka bergantian, lalu perlahan matanya terpejam. sebuah air mata menetes di setiap sudut mata orang yang di sana, merasakan sesuatu yang hilang dari kisah mereka. "terimakasih," ucap Changyi pelan lalu memejamkan matanya menahan air mata yang akan tumpah kembali.