
Della membuka matanya karna terdengar suara pelayan.
"selamat pagi Nona," sapa seorang pelayan yang sudah berada di kamar yang sedang menyiapkan rutunitas Della.
"ada apa."
"kami sudah menyiapkan air hangan untuk Nona berbesih diri"
Della beranjak dari ranjangnya. dan bergegas masuk ke kamar mandi ia terhenti ketika pelayan itu mengikutinya.
"kalian keluarlah. aku tak ingin di ganggu saat mandi,"
Pelayan itu menunduk memberi hormat.
"baiklah Nona, biarkan pelayan ini mengambilkan baju untuk anda"
"Tidak-tidak. kalian cukup menungguku sampai selesai mandi. tunggu di luar." ucap della sembari membalikan badanya. aku seorang dewi fasion akan memilih seleraku sendiri.
"Baiklah nona" ucap sang pelayan sembari memberi hormat dan kemudian berlalu pergi.
Setelah selesai dengan ritualnya ia segera memilih baju sesuai seleranya lalu merias wajahnya dengan riasan yang tipis.
sementara itu Junjie berjalan kearah kamar ia terhenti melihat para pelayan berdiri di luar.
"kenapa kalian masih berdiri di luar"
Seketika para pelayan menoleh dan memberi hormat.
"Nona menyuruh kami menunggu di luar tuan dan tak mau di ganggu" jawab salah satu pelayan tersebut.
setelah mendengar jawaban dari pelayan ia segera masuk ke dalam kamar.
ia tersenyum melihat Della sedang merias wajahnya. ia mendekat tampa bersuara. mengamati aktifitas Della yang lihai dalam merias wajahnya sendiri.
"Selesai." ucap Della sembari beranjak dari duduknya dan membalikan badanya.
"kau sejak kapan disini ? kau apa kau mau berangkat sekarang ?"
Della melihat Junjie sudah dengann baju zirahnya.
"Seperti yang kau katakan. ini akan berlagsug selama satu bulan. Selama aku keperbatasan seperti yang aku janjikan kepadamu kau akan di bantu oleh Gen, ia akan mengurus semua yang kau butuhkan termasuk masalah penyerangan keluargamu."
"baiklah."
mereka sudah berada di halaman depan kediaman keluarga jendral weizhe untuk mengantar keberangkatan jendral dan junjie.
Setelah keberangkatan jendral dan junjie, Xiuying menepuk pundak sebelah kanan Della.
"Kakak ipar.. ayo masuk."
Della menoleh. "baiklah. ayo."
ahirnya mereka kembali masuk ke dalam
"Ying'er aku ingin melihat-lihat kediaman ini bolehkah kau menemaniku,"
"Tentu saja, mari ikuti aku" sembari menarik tangan Della.
Xiuying menjelaskan setiap tempat yang ia lewati..
'wah dia sangat cakap berbicara, bila dia didunia moderen sudah ku rekrut menjadi pekerjaku dalam promosi.' batin Della sembari tersenyum tipis.
mata della terhenti di sebuah kediaman yang bertuliskan Anggrek terlihat ada beberapa pengawal berjaga disana.
"xiuying. disana kediaman siapa ?" tunjuk della kearah kediaman anggrek.
Xiuying mengikuti arah yang di tunjuk Della.
"emt.. itu kediaman selir Ruan." jawab xiuying sedikit getir.
.selir ruan ? "kenapa aku tidak pernah melihatnya"
"selir ruan masih dalam masa hukuman karna sebuah kesalahanya."
"oh." jawab della singkat karna tak ia tak begitu tertarik dengan mengusik privasi orang.
Sepertinya kebiasaan buruk orang jaman old ialah mempunyai banyak istri. aku heran dengan para mereka yang mau di dua ataupun membagi cinta. aku tak bisa membayangkan. jika itu terjadi padaku sudah kupastikan aku meninggalkan orang itu.
mereka terus berjalan menyusuri kediaman jendral. mereka terhenti halaman yang luas terlihat disana beberapa prajurit sedang berlatih.
"ying'er ayo kesana" ajak della sembari menarik lengan Xiuying."
sementara itu Jinhai yang sedang berlatih menghentikan latihanya saat melihat Lingxiu kakak iparnya berjalan kearah tempat latihan.
"Kakak ipar !" ucap jinhai sembari menghampiri mereka. beberapa prajurit yang sedang berlatihpun teralihkan pandanganya saat mendengar Jinhai berteriak. Seketika mereka seperti tersihir melihat seorang wanita berjalan bersama nona muda mereka. seketika wajah mereka bersemu merah.
'cantiknya..'
'siapa dia ? cantik sekali..'
'apa dia seorang dewi ? cantik sekali.'
batin para prajurit yang belum sadar dari lamunannya. Hingga tak sadar jika orang yang mereka lihat telah sampai di dekat mereka.
"Ehem. apa kalian ingin kepala kalian berpindah tempat ?." ucap Jinhai menyadarkan lamunan para prajurit. seketika para prajurit itu tersadar dari lamunannya.
"ma.maafkan kami Tuan muda." sembari memberi hormat.
"lanjutkan latihan kalian. berani lihat-lihat tanggung akibatnya."
seketika para prajurit itu buru-buru pergi dan melanjutkan latihanya.
"kakak ada apa ? apa kakak mau melihat latihanku ?"
"hei siapa juga yang ingin lihat latihanmu yang jelek itu" sahut xiuying.
"aku bertanya kepada kakak ipar bukan kepadamu !" sahut jinhai tak mau kalah.
ya. begitulah mereka ketika ketemu tak bisa akur seperti kucing dan tikus.
"terserah. kau sudah merusak suasanaku !"
"kau yang merusak suasana latihanku !"
Della memutar bola matanya malas.
"cukup. apa kalian akan berdebat seeperti ini terus. aku pusing melihat kalian !"
Della sembari meninggalkan mereka dan menuju para prajurit yang sedang berlatih.
"lihat gara-gara kamu kakak jadi rusak suasana hatinya !"
"kau menyalahkanku ? ini semua gara-gara kamu !"
"kenap kau malah menyalahkanku !"
Della sudah tak menghiraukan mereka yang berdebat tampa henti. dan menghampiri prajurit yang sedang berlatih.
"bolehkah aku ikut berlatih ?"
seketika para prajurit itu menoleh menghentikan latihanya.
"apa kau yakin Nona ?" ucap salah satu prajurit. ia berfikir. Dari penampilannya mana mungkin ia bisa berlatih.
"Benar nona apa kau yakin akan berlatih ?"
sahut salah satu diantaranya. mereka memandang bahwa wanita di hadapanya ini tak mungkin dapat berlatih dengan parasnya yang lemah lembut serta pakaianya yang feminim. pantasnya ia duduk manis di korsi. ada juga yang memandang remehnya.
ada yang berbisik-bisik.
Siapa dia ? kenapa tiba-tiba menghampiri kita.
Lihat betapa cantiknya dia.
siapa dia.
apa dia gila ? ingin ikut berlatih ?.
apa dia teman Nona muda ?
wanita yang aneh.
Hah. mereka tak tau diri Della yang sesungguhnya. Jika mereka tahu mungkin mendekat saja mereka tak berani.
"apa aku tidak boleh berlatih ?"
"Bukan itu maksud kami Nona, tapi seorang wanita lemah lembut tidaklah pantas memegang sebuah pedang."
Della menaikan satu alisnya.
"Apakah begitu ?"
"Benar Nona, sebaiknya anda lihat saja tidak pantas seorang perempuan seperti anda memegang pedang."
sahut salah satu prajurit.
Wah-wah. orang-orang yang sombong dan hanya memandang satu sisi saja.
"Ada apa ini ?" sahut Jinhai menghampiri bersama Xiuying. Ya. mereka telah selesai berdebat panjangnya.
"Tidak ying'er."
"maaf Tuan muda. kami hanya memperingati karna Nona ini ingin ikut latihan." ucap salah satu prajurit.
"Dimana sopan santunmu ! terhadap Kakak iparku.. Apa hanya segini yang kau tanngkap tentang pelatihan disini ! tidak menghormati tuan kal.."
belum selesai ia berkata sudah di potong oleh Della.
"Jinhai. Sudahlah jangan di perpanjang."
"tidak kakak mereka harus disiplinkan akan perbuatan mereka."
"mereka tidak salah, mereka hanya tidak tahu tentang diriku. jangan salahkan mereka, biarkan mereka berlatih aku hanya ingin ikut mereka berlatih jika kau menghentikan mereka aku jadi tidak bisa ikut berlatih."
"kakak yakin akan berlatih ?"
"kenapa tidak ? apa kau juga meragukanku ?" ucap della sembari menaikan satu alisnya.
"mana mungkin kakak." "kalian cepat lanjutkan berlatih !"
"Baik tuan muda." ucap prajurit itu sembari membugkuk lalu berlalu pergi
"Kakak apa kau sungguh yakin ?" xiuying sembari menatap Della heran. Pasalnya yang ia ketahui putri dari kediaman zhu tidak bisa bbela diri bahkan takut melihat pedang.
Hah. mengapa kalian begitu meragukanku. apakah selemah itu aku di mata kalian.
"Berikan aku pedang."
Jinhai mengambil pedangnya dan memberikannya kepada Della.
Xiuying sangat kawatir akan tindakan Jinhai yang langsung memberikan pedangnya dengan segera ia mengambil pedang di tangan Jinhai dan menyembunyikanya di belakang.
"Ying apa yang kau lakukan !" Sahut Jinhai.
"tidak. apa kau tidak tahu kakak ipar sangat takut dengan pedang !" jawab xiuyig tak kalah keras.
"Benarkah itu kakak ipar ?"
"Jinhai, Xiuying. cukup. jangan berdebat. Traumaku terhadap pedang sudah sembuh jadi berikan pedang itu kepadaku" ucap della sembari mengadahkan satu tanganya.
"apa kau yakin kakak ?"
"berikan ying'er.. apa kau sungguh tak percaya kepadaku ?."
dengan ragu-ragu ahirnya xiuying memberikan pedang yang ia sembunyikan di balik punggungnya.
"Lihat aku tidak apa-apa bukan ?" ucap della sembari menunjukan pedang di tanganya.
" ayo kalian temani aku bermain pedang." sembari menarik tangan jinhai dan xiuying.
Lain tempat lain pula kejadian
para pasukan perang sebagian sudah beradi di tempat markas dan sebagian masih berada di sisi barat kerajaan. mereka akan berangkat bersama pangeran yang di tugaskan memimpin perang.
Terlihat Junjie sudah bersiap di atas kudanya.
"Jendral Jie." seketika Junjie menoleh.
"hormat kepada pangeran kedua"
"berdirilah, Bagaiman kabarmu lama sudah tak terlihat. ku dengar kau jatuh sakit. "
"Benar, tapi kabar hamba sekarang baik pangeran."
"sukurlah. Karna perang kali ini. harus membutuhkan kekuatan penuh." ucapnya sombong dan tersenyum mengejek.
"pengawal. umumkan kita berangkat sekarang." ucap pangeran sembari memicu kudanya.
Jiunjie menatap kepergian Pangeran ke dua dengan sorotan tajam.
Cepat atau lambat aku akan membekukanmu pangeran kedua. aku akan selalu menggagalkan semua rencanamu untuk mencelakainya.
Ya. Junjie atau yang aslinya Adarsya itu telah mengetahui dalang di balik penyerangan mereka ialah Pangeran kedua. mengincar Lingxiu (Della) untuk di jadikan bidak catur merebutkan tahta (pemberontakan) karna kekuatanya.
'Tuan, kau harus waspada kepadanya' ucap pedang fire terhadap Junjie.
'apa yang kau lihat ?'
'dia memiliki kekuatan hitam, jalan satu-satunya kau harus segera menyempurnakan diriku. dan mematahkan kutukan ini'
'apa kau sudah menemukan pasanganmu ?'
'sudah tuan. aku sudah menemukanya.'
'dimana dia.'
'dia berada di tangan istrimu'
Junjie terdiam dan sedikit tersenyum. Keberuntungan apa yang menghampiriku. Della sepertinya memang kita di takdirkan untuk bersama.
"Apa yang kau lamunkan ? cepat beraangkat" suara itu menyadarkan Junjie.
"tak ada." ucapnya sembari memacu kudanya.
Kita kembai kediaman Jendral weizhe..
Tring !
Tring !
Tring !
Sebuah benturan pedang terdengar nyaring. Della kini bermain pedang bersama Jinhai dan xiuying. dua lawan satu.
Ia memutar melompat menghindari pedang dan menyerang. Permainanan pedangnya sudah semakin lihai dan gerakanya indah seperti Dewi mmemainkan tarian pedang.
Trang !
Della membuat pedang xiuying lepas dari tanganya dan mmemblokir pergerakan jinhai.
Semua mata terbelalak melihat hal itu para prajurit yang yang menyinyirnya tadi melihat kagum terhadapnya.
Bagaimana bisa seorang wanita begitu lihai dalam bermain pedang !
Xiuying dan Jinhai masih dalam mode terkejutnya.
Della hanya mengulas senyum.
"Bagaimana adikku ? apa kalian menyerah ?"
Seketika mereka tersadar.
"kakak. aku menyerah." ucap xiuying.
"jadi kau tidak jinhai ?"
"huff. aku bukan pengecut kakak."
Trang !
Jinhai mampu lolos dari blokiran Della. ia memutar badanya dengan sangat lincah.
Sring ! Trangg !
Seorang Prajurit masuk dan menyerang.
Della sedikit mudur karna hantaman pedang yang ia terima.
"Aku ikut."
Seketika semua mata terbelalak banyak bisik-bisik diantara mereka yang melihat.
"Bukankah itu ketua pasukan."
"ketua pasukan ?! wanita itu pasti akan kalah."
"benar ketua sangatlah kuat dia di latih khusus oleh jendral weizhe bersama tuan muda junjie sewaktu berlatih"
Della Tersenyum simpul.
"Baiklah aku terima."
"Kakak. Apa kau yakin dia sangatlah kuat." ucap jinhai kawatir.
"Bagus gadis kecil. aku kagum dengan keberanianmu."
Dan
Trranggg !!
Benturan pedang menggema..
mereka sama-sama terlempar mundur tiga meter.
"Kakak !" teriak xiuying kawatir.