MAGIC PRINCESS

MAGIC PRINCESS
Episode 36



Hari ini akan menjadi hari penting bagi kedua keluarga itu, semua persiapan sudah selesai. hal yang mudah bagi seorang pedagang kaya untuk menyiapkan acara yang begitu mendadak dan tentunya membutuhkan biaya yang tak kecil. hanya menjentikkan jari saja semua sudah terwujud. memang berbeda hidup seorang yang mempunyai kantong emas dengan seseorang yang mempunyai kantong arang. perbedaan yang sungguh riskan sekali. yah. begitulah kehidupan manusia di bumi ini, siapa yang kuat ia yang menang. siapa berusaha keras ia yang akan mendapatkan hasil.


Para pelayan rumah keluarga Zhu kini sedang sibuk menyiapkan segalanya dari memasak, menyiapkan ruangan. dan lain-lainya. mereka sibuk dengan perkerjaannya masing-masing. tak terkecuali dengan Neri, sendari tadi ia mengikuti Tuanya kemanapun ia pergi. ya. saat ini ia mendapatkan pekerjaan ekstra ia harus memastikan tuannya tidak melakukan hal-hal yang aneh dan kabur. saat ini Neri diberi anak buah beberapa orang untuk membantunya. ya seperti kalian lihat tuanya itu terlalu banyak mempunyai akal untuk terlepas dari pengawasan.


"Neri."


"iya nona,"


"ambilkan manik-manik di kamarku"


ah. nona. apa lagi rencana anda.


Neri membuang nafas jengah namun pelan supaya tidak terdengar. segera ia menunjuk salah satu orang dibelakangnya.


"kamu ambil barang yang nona suruh"


pelayan itu langsung undur diri.


seketika Della menoleh kebelakang. raut wajahnya tak berexspresi. sial. padahal aku ingin kabur. tapi kenapa mereka malah menambahkan orang untuk mengawasiku.


"Neri."


"ia Nona."


"aku lupa membawa benang dan jarum"


"tenang saja nona, kami telah menyiapkan apa yang nona butuhkan" neri tersenyum sembari menunjukan benang ditanganya. nona, aku taku kamu pasti ingin menyingkirkan kita dan kaburkan.. makanya aku sudah menyiapkan semuanya.


Della terbelalak melihat benang di tangan Neri.


Bagaimana itu bisa berada di tangan Neri padahal aku sudah menyembunyikanya. ahh! kalau begini terus bagimana aku bisa kabur.


"oke kalau begitu" Della membalikan badan berlalu pergi dan tak lupa para pelayan yang ditugaskan menjaga Della pun membuntutinya kemanapun ia pergi.


kali ini ia tak akan bisa kabur.


Mereka terus mengikuti hingga ahirnya situannya itu terhenti di gazebo halaman Timur.


"Neri."


"iya nona."


"aku bosan. aku mau kembali kekamar" Seketika Della berbalik dan berlalu pergi. Neri dan lainyapun membuang nafas pasrah.


sabar. sabar. hanya hari ini saja.


para pelayan itu mengelus dada mereka setelah itu segera ia membuntuti tuanya lagi.


sesampainya di depan kamar. Della langsung membuka pintu kamar dan segera masuk. baru sampai beberapa langkah Della terhenti.


"apa kalian semua juga mau tidur bersama-sama diranjangku ?"


seketika mereka terhenti. saling menatap. menyadarkan diri. sepertinya mengikuti orang tanpa arah tujuan itu mampu menguras energi mereka dan membuat mereka kelelahan.


"maaf nona,"


"ah. sudahlah. kalian istirahatlah." sembari mengibaskan tangan "jangan lupa tutup pintunya kembali"


semuanya telah keluar. kecuali neri.


"kenapa kamu masih disini ?"


"aku juga pergi nona ?" sembari menunjuk dirinya sendiri. Della hanya bersedekap dan mengangkat sebelah alisnya.


"Baiklah nona, aku pergi" ia berbalik badan dan berlalu pergi lalu menutup pintu. saat pintu sudah tertutup para pelayann tadi masih berada diluar menunggu Neri. "Kalian berjaga disini dan juga sebelah sana. aku tinggal sebentar. jangan biarkan nona kabur. kalau aku datang dan mendapati nona sudah tidak ada dikamarnya. lihat saja nanti"


"Baiklah.."


Neri berlalu pergi. dan para pelayan itu membuang nafas lelah.


"ah.! aku lebih memilih menjadi kerjaanku sebelumnya saja..ternyata ini lebih berat." sembari membuang nafas.


"sudahlah jangan berisik jalani saja"


"aku sungguh salut dengan Neri, bagaimana dia bisa betah yaa"


"hus. kalian jangan bicara sembarangan. masih ingin tetap kerja disini tidak."


seketika mereka diam dan melanjutkan pekerjaanya kembali.


sedangkan yang dijaga......


"ah...lelah sekali sekali.." sembari meregakan kedua tangan.


ingin rasanya aku kabur dari situasi sekarang ini. aku masih tidak menyangka akan sejauh ini.


menikah ?. hari ini aku menikah ? ditempat asing ini.


tenang Della tenang.. jalani dulu keadaan sementara ini...kamu pasti bisa menjalani..


tok.tok.tok.


"Nona aku masuk yaa"


Neri sudah datang ?


seketika pintu terbuka. ia masuk dengan beberapa orang "Nona, sudah saatnya"


beberapa orang itu menghampiri Della dan mulai merias.


Acara sakral itu hanya dilakukan dengan dua keluarga saja. tidak mengundang tamu umum. acara dilakukan secara tertutup dan hanya bebrapa orang saja yang diundang, untuk menghindari kejadian-kejadian yang tidak diinginkan seperti sebelumnya atau kejadian yang lebih parah lagi.


pengamanan dilakukan dua kali lipan dari biasanya tapi dengan tersembunyi agar tidak menarik perhatian orang-orang sekitar.


"sudah selesai ?"


"tenanglah nnona sebentar lagi akan selesai"


kenapa lama sekali..aku sudah pegal.


para pelayan itu ahirnya selesai merias tuannya.


"Wah...nona.. anda..terlihat begitu cantik,"


"Iya benar Anda sungguh cantik sekali Nona, pasti suami anda nanti akan sangat terkejut melihat kecantikan nona,"


Della mengangkat satu alisnya.


"Sungguh, Nona percayalah" sembari menghadapkan sebuah cermin.


tangan Della meraih cermin itu, ia sedikit mematung melihat pantulan wajahnya di cermin. ini diriku ?


---


"mari silahkan,"


beberapa orang berbincang-bincang diruangan pesta itu. menikmati hidangan yang tersaji


"Kakak, dimana kakak ipar ? kenapa dia belum keluar juga ?" (Jinhai anak ke 4, adik terahir junjie, seorang adik laki-laki umurnya baru 14 tahun)


"kamu sabarlah, lihatlah kakak pertamamu saja belum menemuinya apalagi kamu" (XiuYing anak ke 3, adik perempuan junjie yang paling handal memanah dari mereka ber4)


Jinhai mendengus "emang apa salahnya jika aku penasaran dengan kakak ipar, denger denger kakak ipar orangnya sangat cantik low dan tidak ada tandinganya"


seketika Xiuying menatap Jinhai tajam (tidak suka dibanding-bandingkan soal kecantikan)


"baiklah baiklah.. kakak yang paling cantik tidak ada tandinganya."


Xiuying melengos sembari bersedekap tangan "baiklah kakakku yang cantik baik hati dan tidak sombong jangan marah lagi ya.. nanti kalo marah cantiknya hilang low."


tak mereda ia malah semakin marah "kamu sengaja ya......" sembari mencubit kedua pili Jinhai. dan jinhai mencubit kedua pipi xiuying.


"Aaa.pipi mulusku, Jinhai !"


"Xiuying, Jinhai apa yang kalian lakukan ?" seketika mereka menoleh bersaman. dengan posisi yang masih sama.


A.ayah !. mereka saling melirik lalu segera melepaskan tanganya masing masing.


"jaga sikap kalian,"


"maaf ayah, kami akan menjaga sikap"


"jangan membuat gaduh, temanilah kakak kalian, "


"Baik ayah.."


seketika Jendral melangkah pergi meninggalkan mereka berdua, xiuying menyenggol lengan Jinhai "lihat gara-gara kamu ayah jadi marah"


"ini bukan salahku juga, kakak duluan yang mencubit kedua pipiku"


"kamu.."


Disisi lalin seseorang sedang memperhatikan mereka.


oh. jadi mereka adalah adik-adik kakak ipar. kenapa mereka begitu kekanakan sekali. apa mereka tidak malu dilihat orang-orang.


Zixin sembari memakan bebrapa kue kering. entah sudah berapa piring ia habiskan sendiri.


"Zixin !"


seketika Zixin menoleh dengan mulut terbuka, tangan memegang kue dan hendak memasukanya kedalam mulut.


"lihat tontonan apa kamu sehingga ku panggil dari dipanggil tidak mendengar ?" pandangan Zian tertuju pada tangan zixin lalu menjalar ke meja dengan beberapa piring kue yang kosong. lalu kemballi lagi menatap Zixin. bocah tengil ini ternyata ada disini kucari kemana-mana malah enak-enakan menghabiskan kue.


seketika Zixin memasukan kuenya kedalam mulut dengan sekali saja hinngga mulutnya penuh dengan kue.


"uudo upu, moumbungko ?"(ada apa memanggilku?)


"Telan dulu makananmu baru berbicara !"


Seketika Zixin menelan paksa makananya. hingga ia hampir tersedak. dengan segera ia meraih gelas dimeja dan meminum isinya. hah..ahirnya lega juga.


"ada apa mencariku ?"


"ikuti aku"


"kema...na.." belum sempat ia menjawab seketika Zian menggeret kerah belakang Zixin "tidak usah banyak tanya ikut saja."


oh..tidak kue ku.....


Zixin memandang melas pada kue-kue di meja..dan ingin meraihnya namun tak samapi. Kueku...


---


"Nona, waktunya sudah sampai.."


Neri membantu Della beranjakk dari korsinya, bebrapa pelayan membukakan pintu kamar


mereka mulai berjalan menuju tempat acara dengan di kawal beberapa pelayan di beslakangnya.


mereka terus berjalan mengiringi sang tokoh utama berjalan dengan elegan bagikan bak seorang putri berjalan dengan anggun.


kakinya terhenti tepat di depan pintu ruang utama. seorang pelayan membukakan pintu


Ceklek....