
Lilian menatap sayu tampilannya di depan sebuah cermin besar. Matanya berat dan Sesekali Lilian harus menguap karena merasa sangat mengantuk.
Sepulang sekolah tadi tangan Lilian langsung di tarik oleh Efina menuju salon langganannya untuk melalukan perawatan. Ingin sekali Lilian kembali pulang dan merasakan kasur empuknya, namun tatapan tajam dari Efina membuat nyali Lilian seketika menciut.
"Hoooaaaammm ..." Untuk kesekian kalianya Lilian harus menutup mulutnya karena menguap.
"Sayaaang ... Kamu udah cantik begitu loh ... Jangan sampai riasan kamu luntur, ya! Awas aja!" Ancam Efina dengan tatapan tajamnya.
Lilian menghela napas malas. Sepulang sekolah ia sudah merasa sangat lelah dan berniat untuk segera beristirahat, namun entah karena alasan apa Efina memaksanya untuk merias diri ke salon yang menjadi langganan Mama-nya itu.
"Mah ... Kita mau kemana sih? Kenapa juga harus dandan resmi gini?" Tanya Lilian dengan nada malasnya.
"Kita mau menghadiri pesta." Jawab Efina.
Saat ini posisi Lilian sedang menunggu Efina yang sedang di rias oleh pemilik salon. Saat pertama sampai, Efina menginginkan agar Lilian yang pertama di rias. Setelah Lilian selesai dengan riasan dan gaunnya barulah Efina memerintahkan pemilik salon untuk mendadani dirinya sendiri.
"Lilian boleh nggak ikut? Capek baru pulang sekolah langsung kesini." Pinta Lilian dengan raut wajah harap.
Efina menatap Lilian dengan kerutan yang jelas di wajahnya. "Kamu Mama ajak kesini buat dandan agar bisa ikut ke pesta! Kalau kamu nggak ikut ... Mana mungkin Mama harus repot-repot narik kamiu kesini buat di dandani!" Gerutu Efina.
Lagi-lagi Lilian harus mengehela napas pelan. Badannya saat ini terasa remuk, perutnya bahkan mulai keroncongan dan minta segera di isi.
"Pesta apaan sih, Mah? Lilian juga udah mulai lapar ini." Rajuk Lilian dan berharap agar Mama-nya tidak mengikut sertakan dirinya untuk hadir dalam pesta itu.
"Pesta penting! Semua kalangan atas hadir semua ... Malam nanti adalah momen tepat buat kamu untuk mengenal mereka! Sebagai Putrinya Tuan Rahadian ... Tentu saja kamu harus ikut." Gerutu Efina sambil menatap tampilannya di depan cermin.
"Orang tua semua dong! Terus Lilian nanti harus ngapain? Masa iya harus ngekorin Mama terus! Lebih baik Lilian nggak ikut aja ... Yah ... Yah ... Mamaku cantik." Pinta Lilian penuh harap.
Efina membuang napas malas. "Tenang aja! Pesta itu akan di hadiri oleh Putra-Putri mereka juga! Mama yakin di pesta nanti Mama yakin kamu nggak bakalan bosan." Ujar Efina sambil menatap ke arah Lilian melalui cermin.
"Nih ... Makan dulu ini buat ngisi perut kamu. Nanti di pesta bakal banyak hidangan yang tersaji. Jadi untuk sekarang kamu nggak boleh makan banyak-banyak dulu." Jelas Efina sambil menyodorkan nampan yang berisi kudapan dan teh ke arah Lilian.
"Ribet amat sih jadi orang kaya! Makan aja pakek di tahan-tahan! Orang kerja tuh buat nyari banyak uanga Mah ... Lalu uangnya di gunakan buat beli jajan yang di suka! Ini malah makan di tahan-tahan!" Rengek Lilian, namun karena rasa laparnya tetap saja ia memakan kudapan yang di sodorkan oleh Mama-nya tadi.
Efina menghela napas pelan. "Kamu kira Mama tega lihat kamu kelaparan? Kamu dah dandan cantik ... Kalau makan makanan berat sekarang maka dandanan kamu bakalan luntur! Percuma aja Mama bawa kamu kesini!" Ketus Efina.
"Mana ada luntur, Mah! Ini salon mahal nggak bakalan mungkin dandanannya bakal luntur gitu aja!" Sanggah Lilian.
"Tetap nggak bisa!! Pokoknya kamu boleh makan makanan berat jika kita dah sampai di pesta nanti! Di sana kamu nggak perlu jaga image seperti makan pelan-pelan! Makan aja sepuas kamu." Gerutu Efina lagi.
Lilian menatap heran ke arah Efina yang terlihat sibuk dengan gaunnya. "Heran sama pemikiran Mak satu ini ... Nggak boleh makan banyak sebelum pesta namun di bebasin makan banyak di pesta. Ternyata kata bersusah-susah dahulu baru kemudian bersenang-senang itu nyata adanya." Batinnya.
"Kenapa diem? Runtuki Mama dalam hati, ya?!" Tuduh Efina.
"Enggak! Mana ada gitu ..." Sanggah Lilian cepat.
"Ohh ... Kirain." Ujar Efina tanpa melirik ke arah Lilian.
"Mah ... Papa nggak ikut?" Tanya Lilian sambil memakan kudapannya.
"Ikut ... Nanti ketemu di tempat pesta." Jawab Efina.
"Papa nggak dandan dulu?" Gurau Lilian.
Efina langsung menatap tajam ke arah Lilian. "Bawel! Cepat habiskan kudapan mu ... Dah gelap ini." Ketus Efina.
Untuk kesekian kalinya Lilian harus menghela napas. "Perasaan yang lama Mama sendiri! Yang di marahin malah gue ... Punya mak gini amat." Batinnya.
__________________
Lilian menyandarkan punggungnya ke belakang kursi penumpang di dalam mobil milik Mama-nya. Setelah menunggu lama akhirnya Efina selesai dengan dandananya dan sekarang mereka sudah mulai jalan menuju tempat leata di adakan.
Sejenak Lilian menutup kedua matanya untuk menghilangkan rasa lelahnya. Namun baru saja ia mulai kehilangan kesadarannya, Efina malah mengguncang tibuhnya agar tidak ketiduran.
"Jangan dulu tidur, Lilian! Kita sedikit lagi nyampe!" Peringat Efina.
"Lilian ngantuk dan capek, Mah! Belum lagi besok harus ke sekolah." Gerutu Lilian.
"Mama tau ... Itu sebabnya nanti di pesta kita hadirnya bentaran doang. Selesai menyapa rekan bisnis Papa kita langsung pulang." Kata Efina enteng.
Lilian melongo tidak percaya mendengar ucapan Efina. Setelah Lilian harus menghabiskan waktu selama berjam-jam untuk merawat diri di salon dan belum lagi harus menunggu Efina yang sejak tadi ribet dengan gaun pilihannya. Sampai di sana hanya hadir untuk menyapa rekan kerja dari Rahadian dan setelahnya langsung pulang.
"Tau gitu seharusnya tadi gue berontak aja! Dandan berjam-jam hanya untuk nyapa rekan kerja Papa. Sayang banget waktu gue ... Tau gitu mending gue streaming MV BTS aja biar ketujuh bujang menang acara awards." Batin Lilian. Ingin sekali ia berteriak karena merasa telah di manfaatkan oleh Efina.
Sepanjang perjalanan menuju ke tempat pesta Lilian hanya meruntuki kebodohannya dengan menuruti keinginan Mama-nya tanpa bertanya lebih jelas dahulu. Rasa khantuknya bahkan hilang begitu saja dan sekarang ia lebih memilih melihat keluar jendela untuk menghilangkan rasa khantuk serta kekesalannya itu.
Tidak lama setelahnya mobil yang Lilian naiki bersama Mama-nya berhenti di sebuah hotel mewah. Hotel itu di bangun dengan model gaya modern dan tampak sangat mewah dan juga elegan.
Lilian mengikuti Mama-nya untuk menuruni mobil dan melihat suasana sekitar gedung tersebut. Gedung tersebut tampak sepi dari luar namun masih ada beberapa pegawai hotel yang tampaknya sedang menunggu kedatangan tamu.
Pesta malam ini di adakan pada salah satu hotel berbintang. Gedung yang di gunakan untuk pesta adalah gedung yang biasa di sewakan untuk acara-acara penting atau acara pernikahan. Daya tampung gedung tersebut juga sangat besar, ribuan orang yang hadir pun akan sanggup gedung itu tampung saking besarnya.
"Lilian." Panggilan dari Rahadian membuyarkan namunan Lilian tentang gedung di hadapannya itu.
"Ada apa? Kamu terlihat lelah." Ucap Rahadian sambil mengelus pelan kepala Lilian.
"Mah ..." Peringat Rahadian.
"Tukang ngadu." Ketus Efina ke arah Lilian.
"Mah ..." Peringat Rahadian lagi.
"Apasih, Pah! Anak gadis itu emang harus sering ke salon buat perawatan. Lihat aja tampilannya yang sekarang jauh lebih baik dari sebelumnya." Ucap Efina.
"Memang kek gimana tampilan Lilian sebelumnya?" Tanya Rahadian heran.
"Kek anak yang nggak ke urus! Anak seumurannya gini udah pada ngerti perawatan. Lah dia ... Malah sibuk ama novel sama idol korea yang nggak jelasnya itu. Jadi kelihatan nggak ke urus, wajahnya juga kusam dan harus di lakukan perawatan terus." Gerutu Efina tentang Lilian.
"Mah ... Mereka belahan hati, Lilian! Penyemangat, dan panutan untuk Lilian agar bisa sesukses mereka." Sanggah Lilian.
"Alah belahan hati! Kenapa nggak di kejar aja ampe ke Korea sana?! Napa malah kecantol ama Putranya Ganendra?" Celetuk Efina yang sukses membuat Lilian menjadi cemberut.
"BTS hanya akan jadi halu-nya, Lilian! Kagak bisa di gapai dan kagak bisa di raih. Kalau Arion kan bisa ke kejar ... Untungnya dia juga ganteng. Nggak kalah ama Suga Oppa." Ujar Lilian sombong.
Rahadian mulai jengah dengan pembahasan dua wanita yang sangat ia cintai di depannya itu. Jika tidak segera di lerai, maka akan menjadi urusan panjang.
"Dah lah ... Lebih baik kita masuk aja." Ucap Rahadian kemudian menarik salah satu tangan dari masing-masing keduanya.
Di depan sana terlihat banyak sekali lelaki yang memakai jas warna hitam rapi sedang berjaga di depan pintu masuk yang sangat besar. Setelah Lilian mendekat bersama kedua orang tua-nya, orang-orang itu langsung menunduk dan memberikan hormat.
Setelah menyerahkan undangan pesta, barulah Lilian berserta kedua orang tuanya memasuki pintu besar tersebut. Terlihat sudah banyak sekali orang yang sudah sampai disana. Tatapan orang-orang juga tertuju kepada mereka yang baru saja memasuki aula pesta.
Seorang lelaki paruhbaya yang berdiri dekat pintu langsung tersenyum lebar saat melihat kedatangan Rahadian berserta anak istrinya. Lelaki itu pun mendekat bersama dengan seorang wanita yang tampaknya seumuran dengan Efina.
"Selamat datang Pak Rahadian ... Senang rasanya dapat menikmati pesta bersama Bapak dan sekeluarga." Lelaki itu kemudian mengulurkan tangannya untuk menjabat tangan Rahadian.
"Senang juga bisa menikmati pesta bersama Pak Anton dan keluarga." Rahadian membalas ukuran tangan dari Pak Anton. "Kenalin ini anak saya." Lanjut Rahadian memperkenalkan Lilian kepada Pak Anton.
"Senang bertemu dengan, Om dan Tante. Nama saya Lilian." Ucap Lilian memperkenalkan diri dengan senyuman manis.
"Ternyata kecantikan Putri bungsu Pak Rahadian dan Nyonya Efina benar adanya. Selama beberapa hari terakhir saya mendengar rumor kecantikan Putri Anda. Setelah melihatnya langsung, ternyata rumor itu benar adanya." Kata Pak Anton dengan tawa kecil.
"Terima kasih atas pujiannya, Pak Anton! Saya harus melakukan banyak cara agar membuatnya bisa tampil seperti sekarang ini." Kata Efina sedikit menyindir ke arah Lilian. "Oh iya ... Siapa anak di belakang bapak dan Nyonya Ana?" Tanya Efina lagi.
"Oh ... Ini Putra kami, Namanya Dion. Ia baru berumur 12 tahun." Jawab Ibu Ana dengan senyum ngembang.
"Salam kenal Om, Tante." Sapa Dion.
Lilian sudah tidak lagi fokus mendengarkan pembicaraan Rahadian dan rekan kerjanya. Matanya fokus menelusuri seisi aula pesta tersebut. Matanya menangkap wajah-wajah tidak asing yang pernah ia lihat di Florenzo School. Mereka bahkan secara terang-terangan juga ikut ke arah pandangan Lilian.
Mata Lilian akhirnya berhenti ke salah satu sudut aula, di sana ada beberapa orang yang sangat Lilian kenali. Mereka adalah Anin, Sheril, Karin, Naomi, Melvin dan beberapa teman main Melvin.
Tatapan mata mereka juga tertuju kearah tempat Lilian berdiri. Meski jarak mereka terbilang cukup jauh, namun Lilian masih sangat jelas menangkap senyuman manis hang Melvin tujukan kepadanya. Lilian hanya mengabaikan senyuman Melvin tanpa membalas dan hal itu membuat Melvin terlihat kesal.
"Udah nemu orang yang kamu kenal?" Bisik Efina ke arah telinga Lilian.
Lilian menggeleng pelan. "Belum." Jawabnya.
"Kalau gitu di sini aja dulu ... Nungguin orang yang kamu kenal buat gabung." Saran Efina.
Lilian mengangguk pelan tanda setuju dengan ucapan Efina. Ia hanya akan menjawab seperlunya jika di tanya oleh beberapa rekan kerja dari Rahadian, setelahnya ia akan kembali diam dan lebih memilih memperhatikan dekorasi aula pesta tersebut.
Kembali tatapan mata Lilian tidak sengaja bertemu dengan tatapan Melvin yang jauh berbeda dengan tatapan yang ia perlihatkan tadi. Tatapannya kali ini seperti tatapan orang yang sedang marah dan ingin menelan hidup-hidup orang yang membuatnya marah.
Namun lagi-lagi Lilian mengabaikan tatapan Melvin dan lebih milih membuang tatapannya ke arah dekorasi aula. Hingga tidak lama setelahnya seseorang menepuk pelan punggung Lilian dari belakang.
"Lo ternyata di sini rupanya." Ujar Rein dari belakang punggung Lilian.
"Gue cariin sejak tadi juga ... Malah gabung ama orang tua." Ledek Rein.
"Ih apaan sih." Kesal Lilian.
"Tante, Om ... Rein bawa Lilian pergi, ya." Ijin Rein.
"Iya ... Jagain Adek kamu baek-baek, jangan di bawa terlalu jauh dan kasih dia makan." Ejek Efina di akhir kalimatnya.
Lilian hanya mendengus kesal mendengar ejekan dari Efina.
"Om percayakan dia ke kemu." Kata Rahadian.
"Ok ... Om ... Tante. Rein bawa Lilian pergi." Setelah meminta ijin, Rein langsung menarik tangan Lilian menuju salah satu meja yang berada di tengah aula.
Dari jauh Lilian dapat melihat Arion bersama dengan Farrel dan Mario yang sedang duduk saling berhadapan. Sudut bibir Lilian sedikit tertarik ke atas melihat tampilan Arion saat ini. Arion memakai kemeja putih polos dan jas warna biru gelap. Warna jas Arion senada dengan warna baju yang Lilian kenakan saat ini.
Selain itu, Arion terlihat sangat tampan. Bahkan berbeda jauh seperti yang biasa Lilian lihat setiap harinya. Jas yang Arion kenakan saat ini sangat cocok dengan kepribadiannya yang sangat dingin dan cuek dengan sekitar. Bahkan Arion belum menyadari jika Lilian hampir mendekati mejannya.
______________________