Lilian

Lilian
Lapangan



Lilian sampai di depan kelasnya dengan napas ngos-ngosan. Ia berlari dari kantin sampai ke kelasnya karena takut jikalau Rein akan mengejarnya lantaran kotak bekal yang belum ia bersihkan dan air mineral yang belum ia bayar.


Kedua sudut bibir Lilian tertarik ke atas saat mengingat ekspresi dari Rein sebelum ia berlari meninggalkan Sepupunya itu. "Enak juga punya Saudara laki-laki kayak si Rein ... Bekal di bawain serta minuman yang dibayarin." Gumamnya pelan sambil berjalan memasuki kelasnya.


Baru saja Lilian memasuki kelasnya, Gladis langsung menarik tangan Lilian menuju kursi yang biasanya ia tempati bersama ketiga temannya.


"Ada apa dengan kalian? Ekspresi lo semua pada aneh tau nggak!" Kata Lilian sambil melepaskan tas yang berada di punggungnya.


"Jelasin ke kita semua apa hubungan lo dengan Kak Rama." Ucap Meira to the point.


Lilian menatap ketiga temannya bergantian. "Ohhh gue tahu kenapa ekspresi lo semua kek gini ... Ternyata gara-gara si Rama itu." Ucapnya acuh.


"Jelasin ke kita Lilian! Apa hubungan lo sama Kak Rama?!" Tuntut Gladis yang ingin mendengar jawaban dari Lilian.


"Nggak ada! Memangnya hubungan apa yang perlu gue jelasin dengan si Rama itu ... Kenal juga kagak." Kesal Lilian.


"Jangan bohong! Kalau nggak ada bisa lo jelasin tentang hal ini?" Tanya Laura sambil mengulurkan ponselnya kepada Lilian.


Lilian meraih ponsel milik Laura dan menatap fotonya bersama Rama yang di unggah disalah satu medsos. Ada kata-kata pemanis yang di tuliskan sebagai caption membuat banyak orang salah paham. Terlebih lagi posisi pengambilan foto keduanya yang pas, membuat kecurigaan orang semakin kuat dengan hubungan keduanya.


"Perasaan ini kejadian baru aja terjadi beberapa menit yang lalu ... Kek-nya gue semakin terkenal akhir-akhir ini." Gumam Lilian masih dengan menatap ponsel milik Laura.


"Jadi jelasin ke kita semua, apa hubungan lo dengan Kak Rama?" Tanya Gladis lagi.


Lilian menghela napas pelan kemudian menyerahkan ponsel Laura kepada pemiliknya. "Gosip nggak berfaedah aja lo semua pada percaya. Gue nggak punya hubungan apapun seperti yang ditulis di sana, pertemuan kami itu hanya sebuah ketidak sengajaan saja." Jelas Lilian.


"Maksud lo dengan ketidak sengajaan apa?" Tanya Meira tidak paham.


Lilian kembali menghela napas pelan. "Gue nggak punya hubungan apapun dengan si Rama itu. Masih ingat waktu kita keluar jalan-jalan untuk yang pertama kali?" Tanya Lilian menatap satu persatu ketiga temannya.


Ketiga temannya kompak mengangguk beesamaan. "Ingat ... Yang kita jalan di mall itukan? Tanya Laura memastikan.


Lilian mengangguk cepat. "Nah itu benar! Waktu itu kalian lagi milih aksesoris ... Karena gue nggak terlalu tertarik dengan aksesoris, maka gue coba jalan sekitar toko dan nggak sengaja nemu toko buku yang berada tidak jauh dari toko aksesoris." Katanya sambi mengingat kejadian waktu itu.


"Ohhh gue ingat! Yang pas kita kira Lilian ilang tapi tau-tau ia muncul di salah satu toko buku sebelum kita main permainan di time zone." Kata Meira mengingatkan.


"Terus apa hubungannya dengan lo dan Kak Rama?" Tanya Gladis bingung.


"Hari itu adalah pertemuan pertama kami. Di dalam toko buku kami nggak sengaja ketemu. Waktu itu gue lagi baca salah satu sinopsis dari sebuah novel time travel yang memiliki alur sedih ... Ehhh dia tiba-tiba muncul saat gue lagi berekspresi sedih, sialnya dia nganggap gue cewek yang sedang gagal move on. Ngeselin bangetkan?!" Tanya Lilian di akhir kalimat.


"Ohh begitu ceritanya ..." Jawab ketiga temannya samaan.


"Lalu bagaimana dengan foto yang baru saja diposting ini?" Tanya Laura sambil menunjukkan kembali foto Lilian dan Rama tadi.


"Tadi gue nggak sengaja tabrakan sama si Rama itu waktu ingin berbelok. Gue kesel karena terus di panggil sebagai cewek gagal move on, makanya gue langsung ngasih dia hadiah pukulan bertubi-tubi. Foto itu di ambil saat si Rama itu lagi nahan tangan gue agar tidak terus memukulinya." Jelas Lilian.


"Oh gitu ... Tak kirain lo punya hubungan spesial gitu sama Kak Rama." Ujar Gladis.


"Ya nggaklah ... Kenal juga nggak." Ucap Lilian sewot.


"Kalau ada juga nggak apa-apa kali ... Kak Rama itu adalah salah satu murid teladan dan banyak disukai oleh murid perempuan di Florenzo School tau." Kata Meira.


"Teladan?" Tanya Lilian dengan kening berkerut.


Gladis mengangguk cepat. "Tentu saja ... Kak Rama itu Ketua Osis kita, selain baik dan ramah ... Kak Rama pintar dalam bidang akademik dan beberapa olahraga lainnya. Sebenarnya Kak Rama baru melakukan pertukaran pelajar selama sebulan dan baru saja kembali." Jelas Laura dengan wajah ceria.


Lilian mengingat kembali pertemuannya dengan Rama yang selalu sukses membuatnya selalu merasa kesal. "Nggak salah tuh si Rama kalian puji? Tiap ketemu gue aja bawaannya selalu bikin kesel mulu."


"Alahhh pikiran lo aja kali yang dari awal nggak suka sama Bang Rama ... Oh iya lo juga kalau ngomong yang sopan dikit napa? Gitu-gitu dia adalah senior kita ... Panggil Kakak atau apa kek gitu." Celetuk Kamal yang tiba-tiba muncul ditengah obrolan empat gadis itu.


"Lo kayak jalangkung aja ... Datang tak di undang dan pulang pasti nggak di antar." Ujar Gladis menatap ke arah kamal.


"Sejak kapan kalian berdiri disana? Kek orang mau ngajak ribut aja." Kata Laura menatap ke arah teman-teman sekelasnya yang entah sejak kapan sudah berdiri dan menguping pembicaraan ke empat gadis itu.


"Emang kalian aja yang kepo setelah lihat postingan salah satu akun rahasia di sosmed sekolah? Kita juga penasaran kali ... Secara senior Rama itu adalah senior futsal kami, jadi penjelasan dari pihak Lilian perlu kami dengarkan baik-baik." Jawab Bayu dengan raut wajah yang sengaja di buat-buat.


"Alahhh sok penting banget lo jadi orang ... Emangnya kenapa kalau Lilian punya hubungan sama Kak Rama?" Tanya Gladis.


"Ehhh Dis, lo sebenarnya cantik ... Cuman lo sedikit judes aja, makanya banyak murid lelaki yang nggak berani dekatin lo." Celetuk Kamal tiba-tiba.


"Ehhh kutu beras! Kenapa sekarang malah gue yang lo komentari ... Bodo amat jika nggak ada yang berani dekatin gue ... Buaya-Buaya macam lo itu memang nggak pantes dekat-dekat sama cewek cantik kek gue ini." Kata Gladis dengan nada sombong-nya.


"Yeee dasar kutu kupret! Nyesel gue bilang cantik tadi!" Kesal Kamal


"Udah ... Udah ... Kok jadi kalian berdua sih yang ribut?" Tanya denis sambil menatap Gladis dan Kamal bergantian.


"Dia yang mulai duluan." Kesal Gladis.


"Enak aja." Kesal Kamal.


"Udah ... Udah ... Gue sumpahin berjodoh tau rasa lo berdua." Kesal Bayu yang sejak tadi hanya diam dan menonton keribuatan keduannya.


"Idiiiihhhh." Ucap Gladis dan Kamal samaan.


"Bener lo nggak punya hubungan apa-apa sama si Rama itu?" Tanya Denis lagi.


"Kayaknya kalian pada ngebet banget gue punya hubungan dengan si Rama itu ... Kudu berapa kali gue bilang nggak ada baru kalian ngerti?!" Kesal Lilian.


"Ya nggak apa-apa sih kalau lo punya hubungan dengan Senior Rama. Cuman masalahnya si Rama itu kurang akur sama si Arion." Jelas Kamal.


"Kurang akur kenapa?" Tanya Lilian penasaran.


Kamal mengedikkan bahu tanda tidak tahu. "Entahlah ... Yang gue dengar mereka kurang akur aja." Jelasnya.


Lilian mengangguk pelan, tidak lama setelahnya bel masuk berdering dengan sangat nyaring membuat teman-teman Lilian yang tadi berkumpul kini berpencar untuk mengganti baju seragam sekolah mereka dengan baju olah raga karena jam pertama mereka adalah olah raga.


"Ehhh Lilian tadi Bu Clara tanya sama gue ... Lo udah nyerahin formulir ekstra kurikuler belum?" Tanya Denis sebelum beranjak dari tempatnya.


"Ohh ya udah kalau gitu ... Entar gue lapor sama Bu Clara kalau lo udah serahin formulirnya." Ucap Denis.


"Ok." Kata Lilian sambil memberikan jempolnya kepada Denis.


Setelah kepergian Denis, Lilian dan ketiga temannya pergi menuju toilet untuk mengganti seragam olah raga mereka.


_______________


Terik sinar matahari pagi lumayan menyengat kulit putih yang Lilian miliki. Setelah melakukan pemanasan awal, Lilian dan teman sekelasnya dibebaskan untuk memilih kelompok mereka sendiri untuk dijadikan team dalam permainan bola voli.


Setelah team terbagi menjadi empat kelompok, Pak Bima langsung mengarahkan murid-muridnya untuk bertading dengan teman sekelasnya. Empat kelompok itu terdiri dari dua team murid perempuan dan dua team lainnya terdiri dari murid laki-laki.


Karena Florenzo School memiliki beberapa lapangan voli maka saat ingin bermain pun murid-muridnya tidak perlu berebut lapangan. Permainan pun akhirnya sama-sama dimulai dengan waktu yang sudah ditentukan oleh Pak Bima.


Selang beberapa puluh menit kemudian, murid perempuan mulai kelelahan dan kepanasan. Pak Bima akhirnya mengijinkan murid-muridnya itu agar beristirahat dipinggir lapangan sampai bel pergantian jam berbunyi.


Lilian dan ketiga temannya memilih untuk duduk didekat lapangan yang sekarang sedang berlangsungnya pertandingan voli yang dilakukan oleh teman sekelasnya. Team sebelah kanan di pimpin oleh Denis dan Team sebelah kiri di pimpin oleh Kamal. Kedua Team itu bertanding cukup seru, teman perempuan sekelas Lilian bahkan sudah membentuk beberapa kelompok untuk mendukung jagoannya masing-masing.


Lilian dan Gladis memilih mendukung Team Denis, sedangkan Laura dan Meira memilih Team Kamal. Sorak ramai terdengar memenuhi se-isi lapangan, kehebohan murid kelas X Mia 1 bahkan membuat murid dari kelas lain menengok ke arah sumber kehebohan.


Suara Lilian bahkan sudah mulai serak akibat terlalu lama berteriak menyemangati Team Denis. Hingga akhirnya Team Denis menang tipis dari team Kamal dan hal itu membuat Lilian dan temannya yang ikut mendukung team Denis merasa bahagia.


Setelah pertandingan sesama murid kelasnya selesai, Lilian dan ketiga temannya berniat untuk membeli minuman ke kantin. Namun sebelum Lilian terbangun dari duduknya, sebuah bola meluncur cantik ke arahnya kemudian mengenai punggu Lilian sedikit keras.


"Awww ..." Pekik Lilian kesakitan sambil memegang punggungnya yang terasa sakit.


"Ini siapa sih yang sembarang nendang bola ke arah sini." Ucap Gladis sambil menatap kiri dan kanan mencari pelaku.


Rama berlari dengan cepat menuju ke arah Lilian dan teman-temannya berada. "Sorry ... Sorry ... tadi team kita lagi latihan ... Nggak sengaja nendang bolanya sampai sini. Ada yang kena tidak?" Tanyanya khawatir.


Laura maju selangkah dengan senyum manisnya. "Nggak apa-apa kok Kak. Kami baik-baik saja." Ucapnya kalem.


"Nggak apa-apa bagaimana? Lo sih enak nggak kena bola ... Lah gue yang kenak pastinya sakitlah!!" Kesal Lilian tidak terima mendengar ucapan Laura.


"Lilian ..." Panggil Laura sambil memberi kode agar tidak lagi memperpanjang urusan.


"Apaan? Lo mau gue tumpuk pakai bola atau nggak gue tendang sekalian biar lo tau bagaimana rasa sakitnya?" Kesal Lilian tidak terima.


Laura tidak bisa lagi berkutik mendengar ucapan dari Lilian. Bagaimana pun yang merasakan sakit adalah Lilian karena dia lah yang terkena bola.


"Maaf kalau gitu ... Tadi kita nggak sengaja nendang bola ke arah sini. Lagian kenapa lo harus duduk sekitat sini sih gagal move on" Ucap Rama mengejek.


Lilian mulai emosi mendengar ucapan dari Rama. "Lo niat nggak sih buat minta maaf? Bukannya minta maaf dengar benar malah nambah bikin kesal. Sana ... Sana pergi aja lo dari hadapan gue." Usir Lilian kesal.


"Lo kenapa sih bawaan marah mulu sama gue?" Heran Rama.


"Lo mikir aja sendiri!" Ketus Lilian kemudian berjalan melewati Rama.


Belum beberapa langkah Lilian berjalan, Rama kembali menarik tangan Lilian kemudian menjitak pelan kening Lilian.


"Aww ..." Pekik Lilian sambil memegang keningnya.


"Makanya jadi cewek jangan judes-judes amat." Ujarnya sambil mengejek ke arah Lilian.


"Dasar cowok mulut comberan!!" Kesal Lilian kemudian berniat memukul Rama.


Sebelum tangan Lilian menyentuh lengan Rama, lelaki itu secepatnya berlari untuk menghindari pukulan dari Lilian. Spontan Lilian berlari mengejar Rama dan terjadilah aksi kejar-kejaran antar keduanya.


Ada banyak pasang mata yang menyaksikan aksi kejar-kejaran antara keduanya, hal itu juga tidak luput dari tatapan mata tajam seseorang yang sejak tadi melihat interaksi antar keduanya.


Ia adalah Arion, Niat hati ingin bermain basket untuk menghilangkan rasa kesalnya. Namun saat sampai dilapangan bukannya menghilangkan rasa kesal, Arion malah bertambah kesal saat melihat Rama dan Lilian sedang bermain kejar-kejaran.


Dengan aura dingin yang masih menguar dari dalam tubuhnya, Arion berjalan dan menatap lurus ke arah Lilian berada. Saat Arion sudah berada dekat dengan Lilian, dengan paksa ia menarik tangan gadis itu untuk menghadap ke arahnya.


Napas Lilian masih terdengar ngos-ngosan namun sejenak kening Lilian berkerut menatap ke arah Arion yang tiba-tiba menarik tangannya dan menatapnya dengan tatapan dingin.


"Ini orang ada apa lagi? Perasaan nih tatapan orang kenapa menakutkan?" Batin Lilian.


"Kenapa?" Tanya Lilian sambil menyeka keringat yang membanjiri wajah cantiknya.


"Gue lapar." Jawab Arion dengan raut wajah datar tanpa ada sedikitpun ekspresi.


Lilian memutar bola matanya malas. "Kalau mau makan ya makan aja! Perlu gitu harus lapor gue dulu?" Tanyanya kesal.


Arion menjulurkan tangannya ke arah Lilian. "Uangnya?" Minta Arion.


Lilian membuka mulutnya tidak percaya. "Emangnya gue emaknya lo? Pakai harus kasih lo uang jajan?"


"Lo yang traktir selama seminggu ... Gue ingatin jika lo lupa." Ucap Arion masih tanpa ekpresi.


Kepala Lilian ingin sekali pecah rasanya, belum selesai masalah satu tau-tau muncul masalah lainnya yang membuatnya pusing.


"Ekhhmm ... Sebaiknya gue pergi aja dari pada gangguin lo berdua." Kata Rama setelah sejak tadi hanya diam dan mendengarkan obrolan Lilian dan Arion.


"Pergi aja." Ketus Lilian.


"Pergilah." Ucap Arion dingin.


Sebelumnya Rama tersenyum manis ke arah Lilian lalu kemudian pergi meninggalkan keduannya.


Lilian menghela napas pelan setelah ke pergian Rama. "Ya sudah ayo!" Ajak Lilian pasrah.


Arion menarik sedikit sudut bibirnya setelah mendengar jawaban dari Lilian. Sebenarnya tadi Arion sangat ingin memarahi Lilian, namun setelah menatap langsung kedua bola mata Lilian yang sangat bersinar membuat niatnya ia urungkan.


__________________