Lilian

Lilian
Lilian beraksi



Awalnya semua pandangan fokus kearah para murid yang sedang memainkan permainan tebak kata. Kemunculan Lilian dan Audry yang tiba-tiba membuat semua pasang mata beralih menatap ke arah kedua gadis cantik itu.


"Lilian!" Panggil Arion


"Audry!" Panggil Rein.


Kedua gadis itu spontan menoleh kaarah sumber suara, dimana Arion dan Rein sudah bangun dari tempat duduknya kemudian berjalan mendekati keduanya.


"Apa yang kalian lakukan di sini?" Tanya Arion. Tentu saja ia masih mengkhawatirkan kondisi Lilian dan Audry. Terakhir kali, kondisi kedua gadis itu sedang dalam kondisi yang tidak baik.


"Bukannya kalian berdua seharusnya masih di dalam tenda dan beristirahat?" Tanya Rein dengan raut wajah khawatir.


"Kita berdua dah baik-baik aja kok." Jawab Audry dengan ketenangannya. Karakter Audry sebenarnya hampir mirip dengan Arion, cuek dan terkesan tidak peduli dengan sekitarnya. Namun Audry selalu bersikap agresif di depan orang yang ia tandai sebagai miliknya. Sifat itu muncul di akbitkan kondisi mental Audry yang kadang kurang stabil.


"Betul! Bosan juga kita hanya duduk di dalam tenda sedangkan di luar tenda orang-orang sedang bersenang-senang." Kata Lilian cepat.


"Tapi kondisi kalian ..." Ucap Rein tertahan.


"Kami baik-baik aja." Ucap Audry dengan nada dingin.


Semua murid masih dengan senang hati menonton perdebatan antara ke empat murid itu. Tidak ada yang mau mengeluarkan suara barang seorang pun, semuanya lebih memilih diam dan menikmati tontonan itu.


"Apa yang kalian lakukan? Tidak bisakah kalian lihat kalau murid-murid lain sedang memainkan permainan?" Tiba-tiba Pak Fadli datang dari arah lain dengan tatapan garangnya.


"Maaf Pak, kita nggak maksud buat hentiin permainannya. Hanya saja kami pengen ikut bergabung dengan yang lain." Jawab Lilian dengan perasaan bersalahnya.


Pak Fadli menautkan kedua alisnya. "Bukannya kalian berdua sedang demam? Arion dan Rein tadi minta ijin agar kalian berdua tidak perlu ikut dalam kegiatan malam." Paparnya.


Lilian dan Audry saling berpandangan satu sama lain setelah mendengar ucapan dari Pak Fadli. "Tadi memang kondisi kami sedang tidak baik-baik aja, Pak. Namun setelah minum obat kondisi kami udah kembali membaik kok, Pak." Jelas Lilian.


"Angin malam tidak baik untuk kalian berdua! Sebaiknya kalian kembali ke tenda dan jaga kondisi." Kata Pak Fadli.


"Kami udah baik-baik aja kok, Pak! Percuma juga kami kembali ke tenda, ujung-ujungnya kami juga nggak akan bisa istirahat karena suara berisik dari luar." Jawab Audry dengan raut wajah tanpa ekspresi.


Pak Fadli terdiam sebentar, ia mencoba menimang keputusannya setelah mendengarkan ucapan dari Audry.


"Biarkan saja mereka ikut bergabung, Pak. Jika kondisi mereka kembali memburuk, maka saya sendiri yang akan memaksa keduanya untuk kembali ke tenda." Kata Arion. Tatapannya seolah menajam kearah Lilian dan Audry berada.


Pak fadli menghela napas pelan. "Baiklah. Saya serahkan mereka berdua ke kalian." Putusnya.


Setelahnya Pak Fadli kembali ke tempat dan memulai kembali permainan yang sebelumnya terjeda. Lilian sendiri sudah ditarik oleh Arion menuju tempat duduknya yang terakhir. Di belakangnya di ikuti oleh Rein dan Audry yang sedang berjalan berdampingan menuju tempat yang sama.


Posisi duduk mereka saat ini yaitu kedua gadis itu duduk di tengan dan di himpit oleh Arion dan Rein. Sedangkan sebelah kanan Rein ada Mario dan Farrel yang sudah menggeser posisi duduknya.


Permainan pun kembali di lanjutkan oleh pasangan yang terakhir tampil. Lilian yang baru saja hadir terlihat sangat antusias dengan permainan yang di mainkan oleh beberapa pasangan yang sejak tadi tampil menghibur semua orang. Saking antusiasnya, ia memilih mengangkat tangannya sendiri agar pasangan yang berhasil menebak lima kata munujukknya sebagai pemain yang akan meneruskan permainan.


Laura adalah sahabat Lilian yang kebetulan tampil bersama dengan Denis kala itu langsung menunjuk Lilian sebagai pemain selanjutnya. Suasana semakin heboh tat kala Lilian menarik tangan Arion sebagai pasangan mainnya. Sejak dari tadi banyak sekali murid yang ingin menunjuk laki-laki itu, namun tatapan tajam nan dingin dari Arion membuat murid lain harus mengurungkan niat.


Beda halnya dengan Lilian yang tidak peduli dengan tatapan tajam dari Arion. Lilian malah semakin menarik tangan Arion agar membuat lelaki itu lebih cepat bergerak maju bersamanya.


"Ayo Kak Arion! Nanti kita di gantikan dengan pasangan lain!" Pekik Lilian dan menarik paksa tangan Arion agar bangun dari duduknya.


Arion sebisa mungkin tidak ingin bergerak dari duduknya dan memilih mencari alasan. "Pasangan gue adalah Rein." Jawabnya cepat.


Lilian menatap kesal ke arah Arion dan menghempaskan tangan lelaki itu dengan kasar. "Gue cari pasangan lain aja!" Ketusnya. Matanya mulai menelusuri para murid yang duduk melingkar dan matanya jatuh kearah Rama yang juga sedang menatapnya dengan senyuman.


Baru saja Lilian ingin melangkah untuk mendekati Rama dan mengajaknya bermain bersama, tangannya terlebih dahulu di tarik mundur oleh Arion dari belakang.


"Mau apa, lo?" Tanya Arion dengan tampang datar.


"Mau cari pasangan main." Jawab Lilian polos.


"Siapa yang mau lo ajak? Rama?" Tanya Arion dingin.


Lilian baru ingat jikalau hubungan Arion dan Rama kurang baik. Namun karena hal itu Lilian akhirnya mempunyai ide agar Arion mau mengikuti keinginannya.


"Iya. Lo kan nggak mau." Jawab Lilian cuek.


Tanpa kata Arion langsung menarik tangan Lilian menuju tengah linkaran para murid di dekat api unggun yang masih menyala. "Mau juga kan lo." Girang Lilian dalam hati.


Suara tepuk tangan dan sorak sorai terdengar jelas untuk Lilian dan Arion. Siapa yang akan menyangka jika Arion dalam acara tahunan kali ini akan memainkan permainan itu bersama dengan Lilian.


"Napa senyum-senyum? Mau main atau kagak?" Ketus Arion dengan raut wajah datar.


"Ikhlas atau kagak sih? Kalau nggak, lebih baik gue cari yang lain aja!" Lilian pura-pura terlihat marah.


"Ikhlas kok." Jawab Arion sambil tersenyum manis.


Teriakan dari para murid perempuan memenuhi tempat kemah malam itu. Bagaimana tidak, Arion malah memarkan senyumannya di hadapan banyak orang. Meski suasana agak sedikit temaram karena hanya mengandalkan cahaya api sebagai penerangan, namun hampir semua murid menjadi saksi kalau Arion sedang tersenyum kearah Lilian.


"Ya ampun ... Gue kagak nyangka kalau nih orang di hadapan gue adalah cowok gue!" Girang Lilian dalam hati.


Arion menatap Lilian lama kemudian menunjuk ke arah dadanya berada.


"Hati?" Tebak Lilian.


Suara riuh kembali terdengar, Arion melakukan gerakan itu benar-benar tanpa sedikitpun ekspresi. Namun anehnya Lilian malah mengetahui maksud dari Arion.


Permainan dilanjutkan dengan kata kunci kedua. Kata selanjutnya yang harus lilian trbak adalah kata sayang. Arion kembali menatap lama kearah mata Lilian kemudian mulai mengangkat tangan kirinya menyisakan jari jempol yang berdiri. Arion kemudian menggunakan sebelah tangannya untuk menutupi jari jempol, gerakannya seperti seseorang yang sedang memeluk. Arion kemudian meletakkan kedua tangannya di depan dada.


Lilian terlihat serius memperhatikan setiap gerakan yang Arion lakukan. "Sayang!" Tebaknya.


Lagi-lagi suara riuh kembali terdengar. Apalagi kata kunci kedua adalah kata yang cukup membuat murid lain tersenyim sendiri. Lilian mengucapkan kata itu seakan ia sedang memanggil Arion dengan sebutan itu.


Hingga permainan berlanjut ke kata kunci ketiga. Namun sebelum kata selanjutnya di perlihatkan, suara lolongan dari beberapa serigala terdengar tidak jauh dari tempat mereka berada. Semua murid perempuan berteriak ketakutan setelah mendengar suara lolongan itu.


"SEMUANYA HARAP TENANG!" Cepat, Rama sebagai Ketua Osis menenangkan suara riuh yang sedang berlangsung.


"Semuanya berdiri di tempat dan jangan ada yang memencar atau keluar dari lingkaran!!" Terdengar intruksi dari Pak Fadli dan beberapa guru lainnya yang ikut menenangkan suasana.


"Pegang tongkat kalian dan berdiri saling membelakangi! Biarkan murid perempuan berdiri di belakang!!" Pekik Rama dengan suara keras.


Murid perempuan langsung bergerak dan berdiri di belakang murid laki-laki yang sudah memegang tongkat untuk di jadikan senjata jika seandainya serigala itu datang mendekat.


Arion memegang tangan Lilian dengan erat agar gadis itu tidak pergi jauh darinya. Arion berdiri di depan Lilian dengan satu tangannya memegang sebuah tongkat yang panjangnya sekitar satu meter.


Suara lolongan dari serigala kembali terdengar. Suara itu semakin lama semakin terasa mendekat. Tidak lama setelahnya, muncul dari arah selatan rombongan serigala yang rata-rata memiliki tubuh yang cukup besar.


Melihat banyaknya serigala yang muncul membuat murid perempuan semakin ketakutan. Beberapa di antaranya bahkan sudah menangis dan meminta ingin pulang saja dari tempat itu.


Lilian sendiri tidak merasa takut hanya saja ia merasa sedikit heran. Yang ia ketahui tentang serigala adalah hewan itu akan menjauhi suara bising dan cenderung akan menghindari tempat yang berasap. Sedangkan tempat itu di kelilingi banyak asap akibat dari api unggun yang mereka nyalakan.


Lilian kembali teringat dengan makanan yang sebelumnya belum sempat ia makan. "Ahhh ... Serigala itu datang kesini mungkin karena bau makanan tadi ... Hutan sebelah selatan sedang gundul dan sebagian serigala tidak memiliki tempat untuk mencari buruan. Mereka hidup sesuai wilayah maka dari itu mereka datang mendekat setelah indra penciumannya mencium baum makanan dari arah sini." Ia mencoba memikirkan berbagai macam kemungkinan datangnya rombongan serigala itu.


Lilian menghitung berapa banyak serigala yang datang. Agar jumlah mereka tidak akan kalah dengan jumlah serigala-serigala itu. Ada dua belas ekor serigala berbadan besar yang muncul di hadapan mereka dan sedang menatap kearah kumpulan murid yang sedang berdiri melingkar.


Arion semakin mempererat pegangannya pada tangan Lilian agar gadis itu tidak merasa ketakutan seperti murid perempuan lainnya. Sedangkan Pak Fadli mulai mengarakan murid-muridnya untuk bersuara bising untuk menakuti serigala-serigala itu.


Bukannya takut, serigala-serigala itu semakin mendekat. Mengusirnya dengan cara seperti itu mungkin sudah terbiasa bagi rombongan serigala, sehingga mereka tidak merasa takut dan pergi dari tempat itu.


"Pegang tongkat kalian dengan erat! Kita harus tetap siaga jika seandainya mereka melawan!!" Teriak Rama memberi intruksi kepada teman-temannya.


Serigala-serigala itu semakin melolong dengan sangat keras membuat murid perempuan semakin ketakutan, sebagian bahkan sudah terduduk dengan lemas di atas tanah.


Pak Fadli dan para rekan Guru lainnya sudah tidak memiliki pilihan lain lagi selain harus melawan dan mengusir rombongan serigla itu.


"Semuanya tenang! Pegang erat tongkat kalian! Murid laki-laki ayo lawan serigala-serigala itu dan usir mereka pergi!!" Teriak Pak Fadli.


Arion langsung menyerahkan tongkat lain kepada Lilian untuk berjaga-jaga. "Pegang dengan erat dan jangan beranjak sedikitpun dari sini." Kata Arion dengan tatapan khawatirnya.


Lilian mengangguk patuh setelahnya Arion mulai bergerak maju bersama dengan murid-murid lainnya untuk mengusir rombongan serigala.


Semua murid laki-laki sedikit demi sedikit berhasil memukul mundur rombongan serigala itu sehingga membuat sedikit kelegaan bagi murid perempuan. Namun perasaan itu hanya dapat mereka rasakan sebentar saja lantaran rombongan serigala semakin agresif dan bergerak secara brutal.


Sebagian besar murid laki-laki memilih mundur karena takut terkena serangan serigala yang agresif itu. Sedangkan Arion, Rein, Farrel, Mario, Rama, dan anak-anak lainnya yang masih tersisa memilih bertahan untuk melawan serigala.


Tekanan yang di berikan oleh serigala semakin besar. Hingga tiga ekor seriga lolos keluar dari formasi yang di buat oleh Pak Fadli dan rekan Guru lainnya. Tiga ekor serigala itu berlari kencang kearah murid perempuan berada, sehingga suasana semakin panik. Terdengar suara teriakan kencang dari murid perempuan setelah melihat tiga ekor serigala itu semakin mendekat.


Lilian sendiri memegang erat tongkat yang di berikan oleh Arion kemudian berlari kencang untuk melawan tiga seriga itu. Mata Arion membulat melihat Lilian yang berlari untuk melawan ketiga serigala itu.


"Lilian!!" Pekik Semua orang dengan kencang.


Gladis, Laura dan Meira sudah menangis dengan histeris milihat Lilian yang berlari maju. Sedangkan Lilian sendiri tetap fokus dengan pandangannya kearah ketiga serigala itu berada.


Seekor serigala sudah melompat dan siap menerjang tubuh kecil milik Lilian, namun gadis itu dengan cepat memutar tubuhnya ke samping dan menggunakan kesempatan untuk memukul serigala itu dengan sangat keras.


PAAAAKKKK ...


Suara keras jatuhnya tubuh seekor serigala di atas tanah. Lilian tidak ingin membuang waktunya, kaki kecilnya bergerak dengan lincah menghindari serangan dua ekor serigala. Sebelah tangannya sudah memegang batu yang berukuran segenggam tangannya kemudian melemparnya tepat mengenai sebelah kanan mata salah satu serigala.


Suara lolongan kesakitan dari serigala itu membuat salah satu serigala di dekat Lilian semakin ingin menyerang gadis itu. Dengan gerakan agresif, serigala itu mencoba mengecoh pergerakan Lilian. Namun Lilian adalah manusia yang memiliki akan dan memiliki kecerdasan yang sudah banyak di akui oleh banyak orang.


Sifat Agresif serigala sudah Lilian hapal betul di kepalanya. Saat serigala ingin menyerang Lilian kearah sebelah kanan, gadis itu sudah bergerak cepat kemudian memukul dengan keras kaki kanan depan serigala itu dengan tongkat yang sejak tadi ia pegang.


Setalah memastikan serigala itu terjatuh, Lilian cepat-cepat berbalik dan melompat diatas punggung serigala itu dan kembali memukul serigala lain yang ingin menyerangnya.


PAAKKKK ....


Kembali terdengar suara keras menghantam di atas tanah.


_______________________