
Arion dan Lilian semakin memasuki hutan lebih dalam lagi. Hutan itu memang terlihat menyeramkan dari luar, namun saat memasuki hutan itu keadaan di dalam sungguh berbeda dengan tampilan luar hutan.
Di sepanjang jalan terdapat banyak pohon yang tumbuh secara alami. Ada banyak tumbuhan rambat yang tumbuh di sekitar wilayah hutan itu membuat udara sekitar hutan menjadi semakin dingin dari udara di luar hutan.
Lilian mengusap dan meniup kedua tangannya agar rasa dingin yang ia rasakan sedikit berkurang. Melihat Lilian yang kedinginan Arion pun langsung melepas jaket yang sejak tadi ia kenakan dan memakaikan jaket itu pada tubuh Lilian.
"Makasih." Ucap Lilian dengan senyum ngembang.
"Hmm ..." Gumam Arion pelan tanpa melihat ke arah Lilian.
"Lo juga bisa sweet kek gini. Gue pikir lo hanya si papan datar yang tidak peduli dengan lingkungan sekitar." Ucap Lilian.
"Lo mau gue ambil kembali jaketnya?" Tanya Arion datar.
Lilian sedikit menghindar dari Arion agar lelaki itu tidak mengambil jaket yang sebelumnya lelaki itu berikan. "Enak aja ... Sebagai lelaki itu lo harus mengalah terhadap wanita."
"Makanya jangan bawel." Ucap Arion dingin.
Lilian mendengus pelan. "Pantasan aja udara disini terasa dingin, kutub utara udah pindah kesini soalnya." Batin Lilian sambil menatap kesal ke arah Arion.
Lilian melangkahkan kakinya mengikuti kemana langkah Arion pergi. Entah apa yang dipikirkan oleh Arion dengan membawa Lilian ikut bersamaanya saat ini. Meski memang Lilian tidak merasa takut, namun sebagai seorang perempuan sudah seharusnya Lilian merasa was-was.
"Kita mau kemana sih sebenarnya? Sejak tadi kita hanya berjalan lurus dan mengambil gambar seperlunya aja. Lo nggak ada sedikitpun punya niat jelasin ke gue kemana kita akan pergi?" Tanya Lilian.
"Lo akan tahu sebentar lagi." Jawab Arion.
Lilian kembali menghela napas pelan. "Selalu saja jawabannya seperti itu." Kesal Lilian sambil berjalan menghentakkan kakinya.
Tidak lama Lilian berjalan, terdengar suara tidak jauh dari tempat mereka berdiri. Semakin melangkah, suara itu semakin terasa dekat dati pendengaran Lilian.
"Seint." Panggil Lilian mencoba dengan nama tengahnya.
Karena tidak terbiasa mendengar orang lain memanggil dengan nama tengahnya, Arion sedikit merasa aneh saat Lilian memanggilnya dengan nama tersebut.
"Hmmm." Gumam Arion sedikit canggung.
"Rasanya sedikit aneh ... Lain kali gue manggil lo Seint saat waktu tertentu aja deh." Putus Lilias.
"Terserah." Jawab Arion datar.
"Oh iya ... Lo dengar suara nggak?" Tanya Lilian sambil menatap serius kearah Lilian.
"Suara apa?" Tanya Arion.
"Suara air gitu. Semakin kesini suaranya semakin terasa dekat." Guman Lilian sambil fokus dengan pendengarannya.
"Tempat yang kita tuju sebentar lagi sampai." Kata Arion dan kembali menarik tangan Lilian untuk berjalan cepat
Semakin lama suara yang Lilian dengar semakin jelas. Hingga akhirnya Arion dan Lilian sampai ke tempat yang mereka tuju. Mata Lilian berbinar melihat pemandangan yang ada di depan matanya.
Pemandangan sebuah air terjun yang tidak terlalu tinggi dan memiliki tiga tingkatan. Di setiap tingkatan memiliki tempat yang menampung air, mirip dengan sebuah kolam yang di buat khusus. Tingkat pertama memiliki panjang dan berdiameter lebih kecil dibandingkan tingkat ke dua dan ketiga. Semakin kebawah maka panjang dan diameter kolam itu semakin besar.
Lilian tidak dapat menyembunyikan rasa takjubnya melihat pemandangan air terjun di depannya itu. Sekitar air terjun terdapat batu-batu kecil yang sudah tumbuhi oleh lumut. Meski tempat itu tidak terawat namun kebersihan dan keindahan tempat itu tidak dapat diragukan lagi.
Lilian berlari kecil mendekati air terjun tersebut dan ia sedikit berjongkok karena penasaran ingin menyentuh air disana. Senyum Lilian semakin mengembar merasakan sensasi dingin pada tangannya saat menyentuh air tersebut.
"Tempat ini sangat indah ... Bagaimana bisa lo menemukan tempat sebagus ini?" Tanya Lilian tanpa memandang kearah Arin dan sibuk bermain dengan air.
"Tahun lalu Papa bangun Vila di dekat sini. Secara tidak sengaja gue menemukan tempat ini." Kata Arion sambil memotret Lilian yang bermain air diam-diam.
"Rugi banget gue kalau nggak jadi kesini. Rasa capek karena menempuh perjalanan hampir tiga jam terbayar setelah melihat pandangan ini." Kata Lilian senang sambil mencipratkan air ke kana dan ke kiri.
Lilian begitu menyukai pemandang itu, ia juga tidak peduli dengan udara dingin di sekitarnya. "Kira-kira di tempat nih ada ikan nggak ya?" Gumam Lilian sendiri.
Tidak mau membuang waktu lagi, Lilian langsung melepas sepatunya kemudian memasuki air tersebut.
"Hati-hati licin." Peringat Arion
Lilian menunjukkan jari jempolnya tanda ia mengerti. Lilian sibuk dengan kegiatannya sedangkan Arion sibuk memotret Lilian yang terlihat sangat bersemangat.
Arion langsung mengarahkan kameranya kearah lain ketika Lilian tiba-tiba berbalik dan menatapnya.
"Kak Arion ... Fotoin gue disini!" Teriak Lilian agar suaranya terdengar oleh Arion.
Arion kembali mengarahkan kameranya ke arah Lilian dan kembali mengambil gambar gadis itu dengan berbagai pose. Arion tidak dapat lagi menahan senyumnya melihat foto lucu dari Lilian. Gadis itu terlihat lebih menggemaskan jika sedang dalam keadaan senang seperti saat ini.
"Lain kali kita balik kesini lagi, ya. Tapi jangan hanya berdua, gue juga mau ngajak teman-teman gue kesini." Kata Lilian sambil terus bermain air.
"Terserah." Jawab Arion dengan senyuman.
Arion mencari sesuatu untuk di jadikan alas untuk ia duduki. Lelaki itu hanya membuat alasan Lilian harus menemaninya mengambil gambar pada hari liburnya. Namun yang sebenarnya terjadi adalah Arion sengaja membuat alasan agar Lilian mau mengikutinya ke tempat yang sekarang ia duduki.
Arion menatap lekat wajah Lilian yang terasa tidak begitu asing baginya. Pertama kali bertemu dengan Lilian, Arion merasa sudah bertemu dang mengenal Lilian. Hanya saja semakin besar usahanya untuk mengingat Lilian namun tetap saja tidak pernah ada memory tentang Lilian di ingatannya.
Arion bahkan pernah bertanya kepada Elisa, apakah sebelumnya Arion pernah mengalami kecelakaan dan mengalami amnesia. Namun jawaban Elisa mebuat Arion kembali berpikir dengan keras dimana ia bertemu dengan Lilian.
Rasa penasaran itu semakin berkembang tat kala tiap malam ia selalu memimpikan Lilian dan memanggilnya dengan nama Seint. Ketika tadi Lilian memanggilnya dengan Seint tiba-tiba Arion merasakan perasaan yang berbeda. Terdengar asing namun entah mengapa Arion menyukai nama itu.
Sempat merasa kecewa ketika Lilian mengatakan akan kembali memanggilnya dengan nama yang biasa orang panggil. Namun rasa itu kembali menghilang ketika Lilian kembali mengatakan akan memanggil nama tengahnya di waktu tertentu saja. Perasaan yang Arion rasakan begitu asing namun ia menyukainya.
Terdengar suara langkah kaki mendekat kearah Arion saat ia melamunkan tentang Lilian. Arion langsung tersadar saat Lilian memegang lengan kirinya dengan wajah yang sangat serius.
"Semak-semak disana tadi bergerak sendiri." Tunjuk Lilian kearah tumbuhan rambat yang tumbuh tidak jauh dari tempat Lilian bermain tadi.
"Lo takut?" Tanya Arion sambil mengamati perubahan raut wajah Lilian yang serius.
"Kita tinggal lari." Jawab Arion santai.
Lilian menatap kesal kearah Arion. "Emangnya lo pikir dengan lari hewan buas nggak akan ngejar kita? Tentu aja mereka akan langsung nyerang kita." Kesalnya.
"Lalu menurut lo kita harus ngapain!" Tanya Arion.
"Sebaiknya kita cari sesuatu yang bisa kita jadiin senjata aja dulu." Saran Lilian.
Lilian mengambil sebuah ranting yang terlihat runcing kemudian berjalan mendekati semak-semak yang bergerak.
"Lo mau kemana?" Tanya Arion melihat Lilian tanpa rasa takut mendekati semak yang bergerak.
"Ah ... Lo ngagetin aja! Tentu aja mau periksa tuh semak. Penasaran gue." Kata Lilian santai.
Arion kembali menarik tangan Lilian sehingga menghadap ke arahnya. "Lo udah gila? Bagaimana kalo tu hewan buas seperti yang lo bilang? Lo mau di jadiin makan siang hewan itu, gitu?" Tanya Arion tak habis pikir dengan kelakuan Lilian.
"Mana ada orang yang mau di jadiin makan siang hewan buas! Gue hanya mau mastiin kenapa semak itu gerak-gerak." Jawab Lilian santai.
"Nggak bisa! Lo tunggu disini, biar gue yang memeriksa." Pinta Arion.
"Nggak bisa gitu dong ... Gue juga harus ikut. kalo seandainya tu hewan buas, maka kita barengan lawannya. Berdua akan lebih baik ketimbang sendiri." Jelas Lilian.
"Tetap saja nggak boleh. Kaki lo terlalu kecil, ntar kalau lari bakalan lama. Mending gue aja yang kesana, jika gue bilang lari maka lo harus segera lari." Perintah Arion.
"Nggam mau ... Kita pokoknya kesana bareng." Ngotot Lilian kemudian memeluk lengan Arion dengan sangat erat.
Arion mengehela napas pelan melihat Lilian yang keras kepala. "Baiklah." Pasrahnya.
Arion dan Lilian berjalan mendekat kearah semak yang sejak tadi bergerak dengan sendiri. Selain Lilian yang memegang ranting pohon yang runcing, Arion juga mengambil sepotong kayu untuk ia jadikan sebagai senjata.
Semak-semak itu semakin lama semakin bergetar hebat. Entah apa yang berada di balik semak itu, jika Arion pikir kembali selama ia kesini sendiri tidak ada hal-hal yang berbahaya terjadi kepadanya. Namun setelah ia membawa Lilian entah mengapa hal aneh itu terjadi dengan sendirinya, sungguh kebetulan yang pas.
Dengan langkah hati-hati Arion dan Lilian bergerak mendekati semak tersebut. Hingga tiba-tiba muncul seekor hewan kecil berwarna putih bersih. Arion sedikit kaget karena kemunculan hewan kecil yang tiba-tiba itu, sedangkan Lilian hanya berdiri diam mematung.
Air mata Lilian seakan tidak bisa di tahan kemudian jatuh dengan sendirinya membasahi kedua pipinya.
"Ada apa? Lo terluka?"Tanya Arion heran.
Lilian tidak menjawab melainkan berlari dengan kencang mendekati hewan kecil itu. "Citto." Panggilnya kemudian memeluk erat hewan itu dengan sangat erat.
"Aku merindukan mu." Ucap Lilian sambil mencium bulu-bulu halus milik hewan kecil tersebut.
Meong ...
Seakan mengerti dengan perasan yang Lilian rasakan saat ini.
Lilian melepaskan pelukannya dan menatap lama wajah Citto yang sedikit berbeda. "Kemana tanduk mu? Kenapa menghilang?" Tanya Lilian dengan linangan air mata.
Meong ... Meong ... Meong ... Kucing kecil berwarna putih bersih tersebut seakan mengerti dengan ucapan Lilian.
Keduanya saling melepas rindu dan mebuat Arion yang sejak tadi memperhatikan interaksi keduanya menjadi bingung. Bagaimana bisa Lilian terlihat akrab dengan kucing cantik yang baru ia lihat. Terlebih lagi kucing itu adalah kucing liar, bukannya lari kucing itu malah seperti menempel kepada Lilian.
"Lo kenal kucing itu?" Tanya Arion yang berdiri di samping Lilian.
Lilian mengangguk cepat. "Sangat kenal." Ujarnya dengan air mata mengalir.
Arion langsung berjongkok dan menghapus air mata Lilian. "Bagaimana bisa lo kenal kucing nih? Bukannya lo baru sekali kesini?" Tanyanya penasaran.
"Ini kucing gue yang hilang, namanya Citto." Jawab Lilian sambil sesegukan.
Arion semakin bingung dibuatnya. "Bagaimana bisa kucing lo yang hilang bisa kesini." Tanyanya lagi.
"Entah." Jawab Lilian sambil mengelus bulu halus Citto. "Entah sejak kapan ia udah ada disini ... Tau gitu dah dari lama gue kesini buat jemput dia." Ujar Lilian. "Citto terlihat kurus dan tidak terawat." Lanjutnya.
"Ya sudah, lebih baik kita segera ke vila aja. Lo juga bisa bersihin kucing ini." Saran Arion.
"Namanya Citto." Kata Lilian sambil menatap Arion dengan sendu.
"Iya ... Namanya Citto." Kata Arion.
Meong ...
Binar mata pada kucing tersebut membuat Arion spontan menjulurkan tangannya dan ikut mengusap bulu halus milik Citto.
Sepanjang perjalanan kembali ke mobil, Lilian sibuk mengajak kucing yang berada di pelukkan-nya berbicara. Lilian bahkan menceritakan hal-hal luxu yang ia alamj kepada kucing tersebut. Yang lebih membuat Arion heran, kucing itu seakan mengerti dengan ucapan Lilian, setiap kali Lilian berbicara kucing itu akan tetap diam dan akan bersuara ketika Lilian bertanya.
Keduanya memang terlihat seperti akrab dan lama mengenal. Lilian sebagai Tuannya dan kucing itu sebagai hewan peliharaan Lilian yang setia. Anehnya Lilian baru pertama kali berkunjung ke Desa Nuri, itupun di ajak oleh Arion, namun mengapa hewan peliharaan Lilian bisa berada di tempat yang jauh dari kota. Terlebih lagi kehidupan Lilian yang selalu berpindah-pindah tempat membuat Arion semakin pusing memikirkannya.
Mungkin saja hewan itu secara tidak sengaja kesasar dan menaiki mobil yang membawanya jauh dari Lilian. Namun mengapa kucing itu malah muncul di tempat yang sangat jarang sekali orang temui. Arion sudah beberapa kali mengunjungi tempat itu namun tidak sekalipun bertemu dengan kucing tersebut. Sedangkan Lilian baru pertama kali ke tempat itu namun kucingnya langsung mengenali Tuannya.
"Apakah sehebat itu insting keduanya." Batin Arion sambil sesekali menatap kearah Lilian yang sejak tadi bercerita.
Di dalam mobil pun Lilian masih dengan perasaan senangnya menceritakan segala hal. Termasuk bertemu dengan Arion dan bagaimana bisa mereka kembali dekat hingga akhirnya membawa keduanya untuk menginjungi tempat mereka bertemu dengan Citto tadi.
Arion memijit keningnya dengan pelan melihat keanehan yang baru saja ia alami. "Ingin sekali rasanya tidak percaya ... Namun kejadian itu terjadi begitu saja didepan gue." Batin Arion.
"Gue mungkin berpikir terlalu jauh ... Hewan peliharaan yang setia tentu saja bakal ngenalin Tuannya dengan sangat mudah." Batin Arion lagi.
Arion akhirnya kembali fokus menyetir menuju vilanya berada.
__________________