Lilian

Lilian
Arion dan Melvin



Suasana kelas X Ipa 1 tampak sepi, di dalamnya hanya menyisahkan Lilian, Gladis, Meira dan Laura yang tampak sibuk menghias atribut yang akan mereka gunakan untuk mendukung team basket sekolahnya.


Ke empat gadis itu sejak bel istirahat berbunyi langsung sibuk dengan pekerjaannya masing-masing. Lilian bertugas menghias sebuah papan nama, Gladis bertugas membuat huruf dari kertas karton, Meira bertugas membuat hiasan untuk pinggiran papan nama dan Laura bertugas untuk menghias terompet.


Sejak tadi ke empat gadis itu hanya fokus dengan tugas masing-masing tanpa berbicara sedikitpun pada satu sama lain.


"Sungguh keterlaluan jika mereka kalah! Gue bahkan udah relain jam makan siang gue untuk membuat atribut ini!" Gerutu Gladis memecahkan keheningan.


Terdengar helaan napas dari Laura setelah ia berhasil menghias terompet yang akan mereka gunakan. "Capek banget gue!" Ia kemudian berdiri dari duduknya dan merentangkan kedua tangannya.


"Bisa abis sekolah kita di ledek sama si Melvin gesrek itu! Apa lagi sekolah kita kan kagak pernah akur sama tuh sekolahannya mereka." Sahut Meira. Matanya masih fokus menghias pinggiran papa nama bersama Lilian.


"Bener banget dah tuh! Ganteng sih ganteng ... Cuman tuh orang idupnya kek kagak ada bahagianya sama sekali! Tiap hari kerjaanya nyari masalah! Apalagi sama Geng Andromeda-nya kita." Gumam Gladis.


"Gue penasaran ... Sebenarnya si Melvin itu kenapa sih? Kok gue lihat, dia kagak suka banget gitu sama Kak Arion." Ucap Lilian heran. Ia kemudian memandangi wajah teman-temannya satu per satu.


Gladis membuang napas kasar. "Apalagi kalau bukan cewek!" Ketusnya.


Lilian membulatkan mata sempurna mendengar ucapan Gladis. "Cewek?"


Gladis mengangguk mantap. "Jadi ceritanya dulu si Melvin punya sepupu cewek. Nah sepupunya itu suka sama Kak Arion ... Dengar kabar tuh cewek dulunya di tolak sama Kak Arion. Terus sepupunya itu sakit hati ... Di ceritain deh ke si Melvin itu ... Nah di situlah mereka mulai berselisih."Jelasnya.


Lilian mengangguk pelan. "Lah ... Perasaan orang kan kagak bisa di paksa! Kalau tuh cewek suka sama Kak Arion seharusnya dia berjuang untuk mendapatkan hatinya! Bukan malah memprovokasi keduanya." Terdengar helaan napas keluar dari mulut Lilian.


"Kek lo gitu?" Tanya Laura sambil menaik turunkan alisnya untuk menggoda Lilian.


"Iyalah." Jawab Lilian mengakui.


Meira menghela napas pelan. "Lilian ... Lo terlalu polos sayang! Tentu aja tuh cewek udah berjuang, cuman emang hati Kak Arion aja yang batu! Gue aja sampai sekarang masih heran dan kagak percaya aja sama hubungan lo dan Kak Arion."


"Kagak percaya kenapa? Jangan bilang lo mikir kalau kita berdua hanya setingan?" Tuduh Lilian.


"Enggaklah!" Ketus Meira, "Gue hanya heran aja ... Kok bisa hati Kak Arion yang batu itu bisa lo luluhin! Dari dulu sampai sekarang kagak ada loh cewek yang mampu buat dia luluh. Karena lo ... Gue bisa lihat banyak ekspresi dari Kak Arion." Kata Meira masih tidak habis pikir.


Lilian tersenyum kecil medengar ucapan Meira. "Kagak tau aja kalau gue udah dari dulu bisa menaklukan hati tuh si datar! Kalau jaman dulu bisa maka jaman sekarang akan gue paksa untuk bisa! Dia kan udah janji bakal tetap milih gue di kehidupan manapun." Batin Lilian.


"Woee!! napa lo senyum-senyum sendiri?" Laura mengagetkan Lilian dari lamunannya.


"Enggak ... Enggak apa-apa." Kata Lilian dengan senyum canggung. "Oh iya ... Ceritain lebih jelas dong tentang hubungan Melvin sama Kak Arion." Pinta Lilian.


Gladis kembali menerawang masa lalunya. Di mana dia, Laura dan Meira satu sekolah dengan Melvin dan Arion waktu SMP. Bedanya Gladis dan kedua temannya berada di kelas yang sama sedangkan Melvin dan Arion adalah Kakak Kelasnya.


Seperti sekarang, Arion memiliki banyak sekali penggemar. Baik itu dari kaum hawa maupun dari kaum adam yang mengagumi tentang prestasi-prestasi Arion. Arion dan Melvin memang sejak dari dulu tidak saling dekat bahkan hampir tidak saling mengenal.


Melvin mengenal Arion hanya karena sepupunya itu selalu menceritakan tentang Arion. Sedangkan Arion sendiri tidak mengenal Melvin dan tidak pernah peduli dengan sekitarnya.


Setiap hari Arion mendapatkan banyak hadiah, entah di simpan di atas meja ataupun di simpan di dalam lokernya yang selalu jebol. Di dalam tumpukan hadiah itu juga terdapat hadiah yang sepupu Melvin berikan. Namun sayangnya Arion tidak pernah membuka hadiah-hadiah itu atau bahkan menyentuh isinya.


Tiap kali Arion selalu memberikan hadiah-hadiah itu kepada tukang bersih-bersih di sekolahnya dulu. Kegiatan itu bahkan Arion lakukan sampai sekarang. Hingga suatu hari seorang gadis cantik memberanikan diri untuk menyatakan cintanya kepada Arion di depan umum. Namun Arion tetaplah Arion yang tidak peduli dengan sekitarnya, bukannya menerima atau menolak, Arion malah memilih diam dan pergi meninggalkan gadis itu dengan rasa malu.


Usaha gadis itu bahkan tidak berhenti sampai di situ meski sudah di tolak. Gadis itu setiap hari membawakan Arion bekal ke sekolah bahkan mengikuti Arion kemanapun lelaki itu pergi. Namun semakin lama Arion mulai tidak suka dengan keberadaan gadis itu yang menurutnya pengganggu.


Dengan lantang akhirnya Arion menolak gadis itu dan menyuruhnya agar menjauh dari kehidupannya. Tentu saja gadis itu merasa sakit hati dan akhirnya bertindak nekat. Pada siang hari dan matahari lagi panas-panasnya, gadis itu kembali mengungkapkan perasaannya kepada Arion di tengah lapangan. Ia mengancam jika Arion tidak menerima cintanya maka gadis itu tidak akan bergerak sedikitpun dari tempatnya.


Namun jawaban Arion masih sama. Jika sebelumnya Arion memilih diam dan pergi, kali ini Arion menolak gadis itu dengan tegas di hadapan banyak orang. Gadis itu kembali mengancam setelah mendengar jawaban dari Arion, ia tidak akan pernah bergerak sesikitpun dari tempanya jika Arion masih menolaknya. Mendengar ancaman gadis itu, Arion malah pergi meinggalkan gadis itu dan tidak peduli lagi dengan nasibnya.


Hingga ke esokan harinya, saat Arion baru sampai di depan gerbang sekolah, Melvin datang dan tiba-tiba memukul Arion. Tentu saja Arion tidak tinggal diam. Keduanya berkelahi dengan hebat sampai para guru datang untuk memisahkan keduanya.


Perselisihan itu tidak berhenti sampai di situ. Tiap hari Melvin selalu membuat masalah dengan Arion sehingga membuatnya tertinggal kelas satu kali dari Arion. Perselisihan keduanya berlanjut sampai mereka memasuki SMA.


"Dengar kabar, setelah hari itu ... si ceweknya langsung pindah ke luar negri dan sampai sekarang nggak ada kabarnya." Ucap Gladis mengakhiri ceritanya.


Lilian mengangguk singkat. "Siapa nama cewek itu? Perasaan dari tadi lo nggak ada sebutin nama tuh cewek?" Tanya Lilian heran.


"Namanya Anindya! Dia adalah Putri salah satu keluarga besar Anderson! Salah satu perusahaan besar di Indonesia." Laura menekan setiap kata-katanya.


"Kenapa dia ke luar negri?" Tanya Lilian masih penasaran.


Ketiga temannya sama-sama mengedikkan bahu tanta tidak tahu. "Entahlah! Setelah hari itu, gue nggak dengar kabar apapun darinya." Kata Meira.


"Eh dengar-dengar nih ... Dia sengaja keluar negri buat nenangin pikiran. Setelah di tolak sama Kak Arion, dia sedikit depresi gitu." Bisik Laura namun masih bisa di dengar oleh ketiga temannya.


"Hussh ... Jangan asal ngomong lo! Ntar di dengar sama pengikutnya Melvin! Lo ntar jadi incaran!" Ucap Gladis mengingatkan.


"Iya ... Iya." Jawab Laura.


"Emangnya kenapa sih dengan si Melvin?" Tanya Lilian dengan sedikit raut wajah tidak suka.


"Lo kalau ketemu sama tuh orang ... Mending jauh-jauh aja! Apalagi lo kan pacarnya Kak Arion, tentu aja lo bakal jadi incaran!" Peringat Gladis dengan tampang seriusnya.


Lilian mendekatkan tubuhnya agar lebih dekat lagi dengan ketiga temannya. "Sebenarnya gue udah dua kali terlibat sama tuh orang! Terakhir kali ... Motor gue di bawa pergi." Bisiknya.


Lilian mengangguk mantap. "Serius ... Motor gue ampe di pajang di sosmed dan di jadikan sayembara! Gila banget tuh orang!" Kesal Lilia. jika mengingat kelakuan Melvin.


"Pantesan gue kayak kenal tuh motor! Ternyata punya, Lo?" Tanya Laura heboh.


"Iya ... Syukur-syukur tuh motor bisa di ambil kembali sama Kak Arion! Kalau nggak? Tau sendiri seposesif apa Nyokap gue." Ujar Lilian.


"Gila banget tuh orang! Lo ampe di jadiin sasaran! Stres kali tuh orang." Ucap Meira.


"Terus apa rencana lo sekarang? Si Melvin udah mulai narik lo aja dalam urusan masa lalunya." Tanya Laura.


"Entahlah ... Jujur gue nggak ada rencana apapun. Sampai sekarang gue masih di kawal sama tuh empat cowok! Soalnya dari kemarin si Melvin itu berada di dekat jalan menuju ke rumah gue. Jadinya kalau mau kemana-mana gue harus ngambil jalan lain." Jawab Lilian.


"Benar-benar gila tuh orang! Sampai segitunya mau balas ke Kak Arion." Ucap Meira sambil menggelengkan kepalanya.


"Terus kalau mau kemana-mana harus di kawal sama Kak Arion, Kak Rein, Kak Mario Dan Farrel gitu?" Tanya Gladis heboh.


"Mau nggak mau ya gitu." Jawab Lilian.


Lilian kambali mengingat kejadian tadi pagi sebelum ia berangkat sekolah. Saat mau sarapan, Lilian di kagetkan oleh kehadiran ke empat lelaki itu yang sudah duduk antengnya di depan meja makan. Ke empatnya meyakinkan Efina agar untuk beberapa hari ke depan Lilian akan mereka kawal dari rumah ke sekolah dan begitupun saat pulang sekolah.


Awalnya Efina menolak, namun setelah Rein memberikan alasan mengapa ke empatnya harus mengawal Lilian, tanpa pikir panjang Efina langsung menyetujui usulan ke empat lelaki itu.


Rein mengatakan jika Lilian di incar oleh Geng Motor yang selalu nongkrong di pinggir jalan menuju rumahnya. Efina tidak begitu saja percaya, namun beberapa kali ia lewat jalan itu, Efina melihat beberapa anak muda yang duduk di atas motor dan terlihat sedang menunggu seseorang. Hingga akhirnya Efina setuju jika ke empat lelaki itu akan mengawal Lilian selama gadis itu berada di luar rumah.


"Oh iya ... Ini kelas kenapa hening amat? Tumbenan amat nih anak-anak pada keluar semua." Ujar Meira yang memecah kehingan.


"Kantin kali." Sahut Laura.


"Oh iya ... Lo pada kagak ada yang mau ke kantin gitu?" Tanya Meira bingung. "Dis ... Tumben lo betah di kelas?" Lanjutnya.


"Rasa lapar gue ilang! Sibuk gue buat ngurusin ini semua." Tunjuk Gladis ke arah atribut di depannya.


"Alaaahh ... Sok-sokan sibuk lo! Kayak kita aja nggak ikut buat beginian." Sindir Laura.


"Lo berdua bawel amat! Ke kantin aja lo berdua kalau mau! Gue masih mau ngerjain ini semua." Ketus Gladis.


"Iya ... Iya ..." Ucap Laura yang ikut kesal, "Lilian ... Lo kagak mau nitip apa gitu? Minum atau roti ..." Tawarnya.


"Gue nitip minum sama roti ya. Maaf kagak bisa ikut gue ... Masih nanggung buat di tinggal ini semua" Kata Lilian sambil mengeluarkan uang seratus ribuan di kantongnya.


"Nggak apa-apa kok." Ucap Laura, "Lo ikut gue ke kantin kan?" Tanya Laura ke arah Meira.


"Iya dong ... Belajar plush bikin atribut itu bikin laper! Masa iya gue tetap di sini." Kata Meira sedikit menyindir Gladis yang terlihat sibuk dengan pekerjaannya.


"Beliin gue yang sama kek Lilian, ya!" Ujar Gladis tanpa melihat ke arah kedua temannya.


"Yee! Tadi katanya lo nggak laper!" Ucap Laura dan melempar gulungan pita ke arah Gladis.


"Tadinya nggak lapar! Cuman dengar kata makanan, jadi lapar gue! Salahnya kalian juga!" Ketus Gladis.


"Lah kok jadi salahnya kita?" Tanya Meira.


"Iyalah ... Ngomongin makanan di depan gue!" Jawab Gladis.


Laura dan Meira tidak tahu lagi bagaimana harus menghadapi Gladis. Sebesar apapun usaha keduanya untuk berdebat dengan Gladis, keduanya tidak akan pernah menang melawannya.


Lilian sendiri hanya menggelengkan kepalanya pelan melihat kelakuan aneh dari teman-temannya. Namun Lilian sangat beruntung karena dapat bergabung dengan ketiga temannya. Mereka berteman dengan tulus kepada Lilian. Ketiganya bahkan selalu menjadi yang terdepan untuk membela Lilian jika gadis itu berada dalam masalah.


"Ya udah ... Mana uang lo?" Tanya Meira dan mengulurkan tangannya ke arah Gladis.


"Pakek uang Lilian." Jawab Gladis enteng tanpa menengok ke arah ketiga temannya.


"Bagus banget lo ya ... Udah minta di beliin makan, suruh teman pula yang bayarin makanan!" Ketus Meira.


"Nggak apa-apa kok! Habisin aja uangnya ... Ntar kita makan bareng di sini." Kata Lilian.


"Tuh kan ... Lilian aja nggak apa-apa! Lo berdua aja yang sewot ama gue! Seharusnya lo berdua bersyukur ... Berkat gue, lo berdua juga ikut di jajanin ama Lilian." Gerutu Gladis.


"Lo emang kagak tau diri banget jadi teman, ya! Sini lo ... Sini!" Tantang Laura dengan raut wajah marah yang di buat-buat.


"Udahlah ... Kagak usah urusin orang yang labil ... Mending kita ke kantin aja." Ucap Meira dan menarik tangan Laura untuk keluar kelas.


"Sini lo berdua! Lo bilang gue labil ... Gue pites sekalian!" Teriak Gladis ke arah kedua temannya yang sudah menghilang dari balik pintu.


Lilian kembali terkekeh kecil melihat kelakuan teman-temannya. Meski sering seperti itu, namun ke empatnya sungguh sangat menyayangi satu sama lain. Kedekatan mereka mungkin bisa Lilian jabarkan sebagai saudara. Berada di dekat ketiga temannya membuat Lilian merasa nyaman dan bisa menjadi dirinya sendiri.


_____________________