Lilian

Lilian
Kemarahan Efina



Setelah meninggalkan Jakarta selama tiga hari dua malam, Semua murid Florenzo School kembali pulang menggunakan bus yang terakhir kali mereka naiki. Masih sama dengan dua hari yang lalu, Liliah masih duduk berdua dengan Arion di kursi yang sama. Keduanya memilih kursi urutan ketiga samping kiri bus.


Selama perjalanan Lilian hanya tertidur. Tidak peduli dengan suara bising yang di hasilkan oleh teman-temannya, gadis itu masih tetap menutup kedua matanya.


Sesekali ia menggeliat dalam tidurnya untuk mencari tempat ternyaman. Namun gadis itu kembi tertidur setelah Arion menepuk-nepuk punggungnya dengan pelan.


Setelah perjalanan yang menghabiskan waktu selama berjam-jam, semua murid Florenzo School langsung bersorak dengan riang sertelah bus yang mereka tumpangi telah sampai di depan halaman utama sekolah.


Arion menepuk pelan pipi Lilian untuk membangunkan gadis itu. "Hei ... Kita udah sampai." Ucapnya.


Bukannya bangun, Lilian malah semakin mempererat pelukannya pada boneka shooky yang ia bawa.


"Lilian ... Kita udah sampai. Mau pulang tidak?" Tanya Arion.


Lilian akhirnya membuka kedua matanya lalu kemudian mengubah posisi yang tadi bersandar di bahu Arion menjadi terduduk.


"Sampai?" Tanya Lilian dengan suara serak.


"Hmmm ..." Gumam Arion.


"Kalian berdua masih mau di sini?" Tanya Farrel yang sejak tadi duduk di belakang kursi keduanya.


Sesaat setelah mobil berhenti, semua murid di dalam bus langsung berbondong-bondong untuk menuruni bus. Hingga akhirnya tersisa Arion, Lilian dan Farrel saja. Sedangkan Rein dan Mario sudah turun duluan untuk membantu mengeluarkan barang-barang milik Lilian dari bagasi bus.


"Turun kok." Jawab Lilian yang masih dengan suara seraknya.


"Ya udah, ayok!" Ajak Farrel yang terlebih dahulu berjalan untuk menuruni bus.


Lilian berdiri dengan hati-hati lantaran luka yang ada pada tubuhnya masih terasa sakit. Saat ia ingin melagkah menuju pintu bus, Arion langsung mengangkat tubuhnya.


"Turunin gue!" Pinta Lilian dengan raut wajah memerah.


"Kenapa?" Tanya Arion datar.


"Ya ... Karena di sini masih banyak orang." Jawab Lilian dengan menutup wajahnya.


"Terus?" Tanya Arion lagi.


Lilian hanya terdiam, ingin menjawab namun ia bingung harus menjawab apa kepada Arion.


"Lo adalah pacar gue! Sudah sewajarnya gue peduli terhadap lo! Apalagi dengan kondisi lo yang saat ini." Kata Arion.


Pipi Lilian semakin memerah malu. Ia bahkan harus bersembunyi pada dada bidang Arion agar orang lain tidak dapat melihat dirinya yang saat ini sedang merona.


Semua pandangan murid juga beralih ke arah Arion da Lilian. Sejak hari pertama kemah tahunan, kedua orang itu selalu saja menjadi pusat perhatian. Sampai hari terakhir pun keduanya masih mencuri perhatian banyak orang.


Tidak sedikit murid yang selalu mengabadikan momen kebersamaan keduanya. Bahkan keduanya sudah memiliki penggemar yang cukup banyak. Salah satu akun media sosial yang beratas namakan penggemar keduanya selalu lancar mengunggah tentang kebersamaan Arion dan Lilian. Respon dari banyak orang pun berbeda-beda, ada yang suka dengan hubungan keduanya namun ada pula yang tidak suka. Namun hal itu tidak menjadikan keduanya kehilangan penggemar.


"Lilian! Mama lo jemput." Ucap Rein yang datang dengan napas ngos-ngosan. Tatapan matanya menyorotkan raut wajah khawatir.


"Mama?" Tanya Lilian panik. Kali ini Lilian tidak bisa meminta bantuan kepada siapun lagi. Kondisi tubuhnya penuh dengan luka goresan, sehingga ia tidak akan pernah bisa mendapatkan alasan yang tepat.


"Iya dan sekarang ..." Ucapan Rein terjeda.


"Lilian!" Panggil seorang wanita paruh bayah dengan nada khawatirnya.


Tidak jauh dari tempat Arion, Lilian dan Rein berdiri, Efina datang dengan sedikit berlari mendekati Arion yang masih menggendong Lilian dalam dekapannya.


Cairan bening kembali keluar dari kedua mata Efina yang membengkak. Wajahnya bahkan tidak bisa di katakan baik. Entah dari kapan Efina menangis, namun Lilian bisa memastikan jika Mama-nya itu menangis dalan kurung waktu yang lama.


"Li ... Lian." Panggil Efina dengan napas tercekat.


Efina bahkan sangat sulit untuk bernapas setelah melihat kondisi langsung Putrinya. Pagi tadi, pihak sekolah menghubungi dirinya lantaran ingin memberitahukan tentang kondisi terakhir Putrinya. Dengan tubuh bergetar Efina berjalan mendekati Putrinya lalu kemudian mengusap palan rambut Lilian dengan sayang.


"Kenapa sayang? Kenapa kondisi mu seburuk ini? Apa yang telah terjadi di sana? Ceritakan langsung kepada Mama!" Tuntut Efina dengan bibir yang bergetar.


"Mah ... Lilian nggak apa-apa." Jawab Lilian.


"Bagaimana bisa baik-baik saja?! Lihat kondisi mu ini, Lilian! Hampir semua tubuh mu penuh dengan luka! Kamu bilang ke Mama kalau kamu nggak akan terluka! Tapi apa yang terjadi sekarang?!" Cerca Efina tidak terima.


Hal inilah yang Efina takutkan terjadi kepada Putri-Putrinya. Efina takut membiarkan Lilian dan Keira pergi jauh darinya. Ia tidak bisa menjamin jika kedua Putrinya akan baik-baik saja tanpa pengawasan darinya.


"Rein! Kamu kan udah janji ama Tante bakalan jagain dia! Tapi kenapa dia harus pulang dengan kondisi seluruh tubuh penuh dengan luka?" Tanya Efina dengan tatapan meminta jawaban dari Rein.


"Maafkan Rein, Tante! Rein nggak bisa jagain Lilian dengan benar." Kepala Rein menunduk, ia tidak berani menatap langsung ke arah mata Efina yang menatapnya dengan kecewa.


"Mah ... Ini semua salah Lilian sendiri! Kak Rein nggak tau apa-apa! Lilian yang terlalu keras kepala." Kata Lilian.


Efina menarik napasnya dalam-dalam untuk mengontrol perasaannya saat ini. "Itu sebabnya Mama tidak pernah mengijinkan kamu pergi, Lilian!! Kamu terlalu bodoh, keras kepala ngeyel, dan tidak mau mendengarkan orang lain!! Lihat kondisi mu saat ini! Apa dengan begini kamu sudah merasa sangat senang?! Apa hal ini yang ingin kamu mau lakukan selama ini?! Ingin membuat diri mu terluka? Begitu, Lilian?!" Efina tidak dapat lagi menahan amarahnya. Ia merasa telah lalai menjaga Lilian, jika seandainya ia lebih berusaha lagi untuk mencegah Lilian pergi, maka gadis itu saat ini tidak akan terluka.


"Tante ... Sebaiknya kita pulang dulu. Di sini banyak orang, akan tidak baik jika Tente memarahinya saat ini." ucap Arion memberikan saran.


Efina menengok ke arah kiri dan kanan dari tempatnya berdiri. Sudah banyak sekali orang yang melayangkan tatapan kearah mereka, baik itu dari murid, sampai orang tua murid pun saat ini tengah menatap ke arah mereka.


"Bisa bantu Tente bawa dia masuk ke mobil?" Tanya Efina ke arah Arion.


"Bisa." Jawabnya singkat.


Arion langsung berjalan mengikuti Efina menuju mobilnya berada. Di sana sudah ada Pak Supir yang sejak tadi telah menunggu kedatangan Tuannya.


Efina membuka pintu mobil bagian belakang agar Arion dapat membantu Lilian memasuki mobilnya.


"Tente ... Bisakah kami ikut?" Tanya Rein setelah memasukan barang-barang Lilian kedalam bagasi mobil.


"Sebaiknya kalian pulang dan istirahat! Lilian juga butuh istirahat. Kalian tidak ingin kondisinya semakin memburuk, kan?" Tanya Efina dan bersiap memasuki mobil.


"Tapi, Tante!" Ucap Arion.


Arion dan Rein sama-sama mengehela napas pelan dan pasrah saja dengan keputusan Efina.


"Baik, Tante. Hati-hati di jalan dan tetap kabarin Rein tentang kondisi Lilian, ya!" Pinta Rein.


Efina hanya mengangguk singkat. "Terima kasih atas bantuan kalian berdua." Setelahnya ia beralih menatap punggung Pak Supir. "Jalan, Pak!" Titahnya.


Arion dan Rein sama-sama mengangguk kemudian mobil yang di naiki oleh Lilian dan Efina pun bergerak menjauh meninggalkan Arion dan Rein yang masih berdiri menatap ke arah mobil itu pergi.


"Lo mau kemana?" Tanya Rein melihat Arion juga berjalan menjauh.


"Mau ngurusin si Sheril." Jawab Arion datar tanpa menoleh ke arah Rein.


Rein sendiri hanya tersenyum kecil melihat punggung Arion yang semakin menjauh.


_________________________


Efina berjalan mondar mandir menunggu dokter yang biasa berkerja dengannya sampai. Di jalan tadi, Efina telah menghubingi dokter Andra untuk segera ke rumahnya dan memeriksa kondisi tubuh Lilian. Namun setelah lama menunggu, Dokter itu tidak kunjung sampai.


"Tenanglah, Mah! Duduk dan minumlah dulu agar kamu lebih tenang." Pinta Rahadian.


Sejak tadi Efina hanya berjalan mondar mandir menunggu kedatangan Dokter Andra.


"Mana bisa Mama duduk dengan tenang! Papa tadi lihat sendiri bagaimana kondisi Lilian!" Marah Efina.


"Papa, tau. Hanya saja Lilian pasti udah dapat perawatan saat di tempat kemah. Lukanya juga masih baru, jadi wajar aja terlihat parah." Ucap Rahadian mencoba menenangkan Efina.


"Papa ini gimana sih! Bukanya khawatir dengan kondisi anaknya!" Pekik Efina dan menatap kesal kearah Rahadian.


"Siapa bilang Papa nggak khawatir dengan kondisi, Lilian?" Tanya Rahadian dengan nada lembut. "Papa, khawatir kok. Hanya saja, Papa nggak ingin Mama terusan panik dan membuat kondisi tubuh mu memburuk. Terus siapa yang bakal merawat, Lilian?" Lanjutnya.


"Ohhh ... Kalau Mama sakit ... Papa nggak akan rawat anak kita gitu maksud, Papa?" Tanya Efina dengan tatapan nyalangnya.


"Bukan ... Bukan gitu maksud, Papa." Sanggah Rahadian.


"Lalu apa maksudnya? Kalau Papa nggak mau ngurusin anak-anak, ya sudah! Biar Mama aja yang ngurus mereka! Kejadian ini juga terjadi karena Papa yang telah mengijinkan Lilian pergi! Kalau seandainya saat itu Lilian nggak jadi pergi, maka kejadian ini nggak akan terjadi." Efina mulai menyalahkan Rahadian.


Rahadian mengusap wajahnya menggunakan kedua tanggannya. Ia tahu, jika Efina sudah menyalahkan orang lain, itu tandanya ia sedang marah besar.


"Mah ... Maksud Papa nggak gitu." Ujar Keira dengan membawa segelas ari di tangannya.


"Maksud Papa baik. Papa nggak mau Mama sakit. Cukup Lilian aja yang sekarang sakit, Mama jangan." Keira mencoba membatu menjelaskan maksud Rahadian kepada Mama-nya.


"Mama minum dulu biar lebih tenang." Keira memberikan air yang ia bawa kepada Efina.


Meski ragu, Efina tetap mengambil air itu kemudian meminumnya sampai setengah gelas.


"Duduk dulu Mah." Keira membawa Efina ke salah satu sofa.


Rahadian hanya menatap Keira dengan takjup. Efina akan cepat luluh atau tenang jika ia sudah berhadapan dengan kedua Putrinya.


"Maksud Papa, saat di tempat kemah ... Adek pasti udah dapat perawatan. Apalagi Lilian bersekolah di Florenzo School, sekolah yang di juluki dengan sebutan number one. Semua fasilitas di sana sangat lengkap. Pastinya nggak sulit bagi mereka untuk merekrut Dokter terkenal untuk berada di tempat kemah. Dan jangan lupakan pewaris mana aja yang hadir di acara kemah tahunan itu. Dokter yang pergi menemani acara itu pasti bukan Fokter kaleng-kaleng." Jelas Keira panjang.


Efina hanya terdiam. Ia akui, jika ia sedikit lebih tenang setelah meminum air yang di berikan oleh Keira. Terlebih lagi penjelasan Keira yang terdengar sangat logis, tidak mungkin sekolah bergengsi itu membiarkan salah satu muridnya tidak mendapatkan haknya sebagai murid.


Pihak sekolah pasti telah memberikan Lilian perawatan yang bagus. Namun meski begitu, sebagai seorang Ibu tetap saja Efina masih sangat mengkhawatirkan kondisi Lilian.


"Maaf Bu, saya telat. Di jalan saya kejebak macet panjang karena pohon tumbang." Jelas Dokter Andra.


Efina kembali bangun dari duduknya. "Nggak apa-apa Dok. Silahkan langsung cek kondisi Lilian aja." Efina berjalan dengan tergesa-gesa menuju kamar Lilian.


Gadis itu ternyata sedang tertidur pulas di atas ranjang king size miliknya. Dengan hati-hati, Efina menyampirkan selimut yang membalut tubuh Lilian agar Dokter Andra dapat memeriksanya.


Tidak lama setelahnya Dokter Andra selesai memeriksa kondisi tubuh Lilian. Efina, Keira dan Rahadian yang sejak tadi berdiri tidak jauh dari tempat Lilian berbaring menatap Dokter Andra dengan tatapan khawatir.


"Bagaimana kondisinya, Dok?" Tanya Efina takut.


Dikter Andra tersenyum lembut setelah mendengar pertanyaan Efina. "Anak Ibu ... Baik-baik aja. Lukanya juga udah mendapatkan perawatan yang baik. Jika saya tidak salah perkirakan, luka pada seluruh ubuh Lilian akan segera sembuh. Luka itu hanyalah luka goresan, nggak terlalu dalam kok." Jelasnya.


"Dokter ... Anak saya adalah seorang gadis. Apakah luka-luka itu akan segera memudar?" Tanya Efina memastikan.


"Tentu saja, Bu. Luka itu hanya luka kecil. Ada saleb yang saya lihat pada lukanya Lilian. Jadi saya tidak perlu meresepkan saleb itu lagi." Jelas Dokter Andra.


"Lalu mengapa Lilian banyak tertidur? Sepupunya bilang, sepanjang jalan juga Lilian tertidur dalam bus." Kata Efina.


"Itu hal yang wajar, Bu. Salah satu obat yang Lilian minum adalah obat penghilang rasa sakit. Efek samping dari pengguna obat itu pasti banyak tertidur. Kalian tidak perlu merasa khawatir karena kondisi Lilian baik-bain saja." Jelas Dokter Andra yang langsung membuat perasaan Efina tenang.


"Kalau nggak ada pertanyaan lagi, saya ijin pamit pergi." Kata Dokter Andra.


"Oh iya ... Terima kasih ya, Dokter." Ucap Efina tulus.


"Silahkan ...Saya antar." Tawar Rahadian.


Dokter Andra hanya mengangguk pelan dan tersenyum kecil ke arah Efina dab Keira. Setelahnya Dokter Andra pergi di antar oleh Rahadian.


"Syukurlah Lilian tidak apa-apa." Ucap Efina yang lansung duduk di dekat Lilian berbaring.


"Iya, Mah." Ucap Keira yang juga ikut lega.


"Mama tidak akan bisa tenang melihat kalian berdua terluka. Jadi Mama minta kalian bisa menjaga diri saat di luaran sana." Pinta Efina.


"Iya, Mah. Keira janji akan jaga diri saat sedang di luar ... Adek juga pasti akan melakukan hal yang sama kok." Ucap Keira dan memeluk tubuh Efina dari samping.


____________________