
Lilian menatap lekat pantulan dirinya di sebuah cermin besar. Sorot matanya menajam serta kedua tangannya mengepal sangat kuat. Lilian kembali teringat kejadian beberapa hari yang lalu saat ia pergi menghampiri Arion ke kelasnya.
Rasa kesal dan marah bercampur aduk jika Lilian kembali teringat akan kejadian hari itu.
"Dasar Batu! Datar! Dia pikir dia siapa?! Pangeran?!" Kesal Lilian sendiri dan menjatuhkan bokongnya di atas salah satu kursi di sana.
"Sok mau pamer! Lihat aja nanti, Gue atau dia yang bakalan panas sendiri." Lilian membulatkan tekad dalam hati.
Untuk yang kesekian kalinya Lilian kembali mengingat kejadian di mana ia pergi melabrak Arion. Kesal, tentu saja Lilian masih kesal jika harus mengingat hari itu.
****Flashback On****
"Lo." Tunjuk Lilian dengan raut wajah marahnya. "Jual diri?!" Lanjutnya.
Arion langsung mengerutkan kening mendengar ucapan Lilian.
"Jawab!" Ucap Lilian tak sabaran.
"Maksudnya?" Arion balik bertanya karena tidak mengerti dengan ucapan Lilian.
"Lo." Tunjuk Lilian. "Mau ngapain pas acara festival nanti?" Tanyanya.
"Aku-kamu, Lilian." Arion kembali ke mode tatapan tajamnya.
Sebelumnya Lilian dan Arion telah sepakat mengunakan Aku-Kamu saat berbicara. Namun karena rasa kesal Lilian tanpa sadar menggunakan Lo-Gue kepada Arion.
Sedangkan Lilian sendiri ingin sekali menyangkal dan bersikap bodoh amat saat melihat tatapan tajam dari Arion. Namun hati Lilian sedikit bergetar saat tatapan Arion semakin menajam tanda ia tidak menyukai panggilan Lilian kepadanya.
"Terserah apalah itu ... Bodoh amat! Jelaskan kamu mau ngapain pas acara festival?" Lilian kembali mengulang pertanyaannya.
"Mau foto-fotoan lah ... Ngapa emang?" Bukan Arion yang menjawab melainkan Rein.
Lilian menggeser tubuhnya ke arah tempat Rein berdiri. Tatapan Lilian seakan ingin memakan Rein hidup-hidup.
"Napa, lo? Ta ... tapan lo ngeri amat." Rein sedikit bergidik ngeri melihat tatapan Lilian.
"Lo juga?" Tanya Lilian.
"Semuaaaa ... Kita bakal adain sesi foto gitu ... Bagi yang mau ya bayar." Jawab Rein dengan enteng.
Lilian kembali menghadap ke tempat Arion. "Lo juga?" Tanyanya tak sabaran.
Arion ragu ingin menjawab saat melihat tatapan tajam Lilian saat ini. Jika Lilian sedang bersikap seperti ini artinya gadis itu tidak bisa lagi di pancing atau amarahnya akan meledak kapan saja.
"Iya ... Tokoh utamanya dia." Jawab Farrel dari arah belakang punggung Lilian.
Emosi Lilian semakin meningkat mendengar ucapan dari Farrel. "Tokoh utama?" Ia menekan setiap katanya.
"Ialah ... Pendapatan kami tentu aja akan meningkat pesat. modal cuman berdiri depan camera doang." Kata Rein.
"Tidak bisa!!" Habis sudah kesabaran Lilian.
"Kamu." Tunjuk Lilian ke arah Arion. "Nggak bisa ikut gabung." Tegasnya.
"Ehhh ... Kagak boleh gitu dong! Ini acara festival, kita berhak mau ngapain aja selama bisa dapetin penghasilan. Mana boleh larang-larang." Ketus Rein yang tidak terima.
"Dia pacar gue. Mana boleh di jual-jual." Kesal Lilian.
"Mana ada di jual. Cuman foto doang. Di luar lo emang pacarnya, tapi di sini dia adalah bagian dari kelas kami." Ngotot Rein yang tidak mau mengalah dengan adik sepupunya itu.
"Bener?" Tanya Lilian yang mencoba memastikan jawaban dari Arion.
Arion ragu mau menjawab apa, namun melihat amarah Lilian saat ini akan lebih baik ia tidak terlibat dengan rencana teman-temannya saat ini.
"Bener lah ... Udah lo kagak usah ngompor lagi. Susah-susah kita ngebujukin tuh si batu! Kalo lo mau, bayar aja waktunya dia seharian selama acara festival berlangsung." Saran Farrel yang membuat Lilian semakin kesal.
Lilian mencoba menormalkan pernapasannya saat ini. Arion sejak tadi hanya diam dan itu berarti lelaki itu setuju dengan ucapan teman-temannya.
"Lilian ... Nggak kek gitu ..." Mario mencoba menjelaskan kepada Lilian.
Lilian menahan Mario agar tidak mendekat ke arahnya. "Gue dah ngerti ... Ok nggak apa-apa ... Silahkan lakuain hal yang kalian inginkan. Itu semua hak lo semua ... Gue juga bisa ngelakuin hal apa aja nanti pas acara festival berlangsung." Putusnya.
Lilian sudah tidak mau mendengar penjelasan apapun lagi. Amarahnya saat ini hanya perlu tersalurkan kepada hal lain. Untuk itu Lilian lebih memilih untuk pergi meninggalkan kelas Arion tanpa mau mendengar panggilan dari ke empat lelaki itu.
"Lilian ..." Panggil Arion dan berusaha mengejar Lilian.
Rein dan Farrel dengan sigap mencegah Arion agar tidak mengejar Lilian pergi. Jika sekarang mereka berdua membiarkan Arion pergi maka sia-sia usaha mereka semua selama beberapa hari untuk membujuk Arion.
Flashback Off
Untuk kesekian kalinya Lilian menghela napas panjang. Di raihnya ponsel yang selama beberapa hari ini sengaja ia matikan. Jari lentik Lilian menekan tombol on-off pada ponselnya.
Tidak lama setelah Lilian menyalakan ponselnya terdengar ada banyak sekali notif yang masuk. Beberapa di antaranya adalah notif pesan chat grup dari kelasnya yang sudah beberapa hari tidak pernah Lilian buka.
"Gilaaaa ... Anak-anak nih pada chat apaan aja beberapa hari nih? Chat grup ampe ribuan ... Gilaaaa." Ujar Lilian yang fokus ke ponselnya.
Tangan Lilian beralih ke beberapa chat yang sangat ia kenali. Di antaranya adalah chat dari Arion yang jumlahnya lumayan banyak. Beberapa chat lagi ada dari Rein, Farrel dan Mario. Karena masih kesal dengan kejadian beberapa hari lalu, Lilian akhirnya memutuskan untuk tidak membuka semua chat itu.
"Bodoh amat gue ... Chat aja yang banyak. Gue kagak peduli." Kesal Lilian sambil menatap layar ponselnya.
"Aitdaaaah ... Nih bocah! Gue cariin dari tadi malah nangkring di sini." Gerutu Gladis yang baru saja datang.
Lilian saat ini sedang berada di salah satu ruangan yang mereka jadikan sebagai ruang ganti. Acara festival di mulai hari ini dan semua anak-anak kelas X Mia 1 tengah sibuk mempersiapkan diri masing-masing setelah selesai dengan stand mereka.
"Ya ampuuunn!!" Mata Gladis melotot dengan mulut yang terbuka lebar.
"Napa sih, lo?" Tanya Lilian heran.
"Anjiiiir ... Teman gue ... Lo cantik banget sumpah." Gladis benar-benar terpana dengan tampilan Lilian saat ini.
Beberapa hari yang lalu, Meira membuatkan Lilian gaun khusus yang sesuai dengan warna mata Lilian yang terbilang langka. Gaun yang di berikan oleh Meira adalah gaun yang di desain polos namun di berikan beberapa hiasan mutiara di beberapa bagian seperti pinggang leher, tangan dan bagian bawah gaun.
Warna gaunnya berwarna silver dengan beberapa ukiran bunga kecil berwarna gold. Rambut Lilian di biarkan terurai dan beberapa anak rambut bagian depan sengaja di buat kepangan kecil dan di beri sedikit hiasan rambut sebagai pemanis.
Make up yang Lilian gunakan adalah make up natural yang belum pernah orang coba pada jaman modern. Meski Lilian tidak terlalu tertarik dengan make up pada jaman kuno namun tetap saja ia masih ingat cara Rossa mendadaninya dengan senatural mungkin.
"Lo make up sendiri?" Tanya Gladis yang tak ada habisnya.
Lilian hanya mengangguk kecil sebagai jawaban.
"Setelah festival selesai ... Gue kagak mau tau. Lo harus ngajarin gue." Maksa Gladis. "Gue dah temenan cukup lama ama lo dan baru kali ini gue tau kalo lo jago dandan. Pantesan aja kagak mau di dandani ama orang lain. Tau gini tadi mending gue minta tolong ama lo yang dandani." Cerocos Gladis yang tidak Lilian ketahui kapan akan berhenti.
"Lo bisa diem kagak sih? Pusing gue ..." Ucap Lilian jujur.
"Janji dulu ... Setelah festival selesai, lo bakal ngajarin gue!" Pinta Gladis dengan raut wajah yang sengaja ia buat imut.
"Iya ... Iya ..." Pasrah Lilian akhirnya.
Gladis bersorak dengan girang mendengar jawaban dari Lilian.
"Oh iya ... Semuanya dah pada siap. Tinggal lo aja yang belum ada. Kan jadi lupa tujuan gue tadi. Lo sih ... Bikin gue pangling." Gladis malah menyalahkan Lilian.
Sedangkan Lilian sudah memaklumi karakter Gladis yang seperti itu. Ia lebih memilih berdiri dari duduknya sambil merapikan gaun yang sedikit kusut.
"Sumpah ... Jangankan orang laen ... Gue yakin Kak Arion bakalan pangling kalo lihat tampilan lo saat ini." Gladis masih memuji tampilan Lilian.
Mendengar nama Arion kembali membuat Lilian mengingat kejadian yang sangat ingin ia lupakan dalam beberapa hari ini.
"Kagak usah sebut sebut nama dia deh ... Kesel lagi gue dengernya." Kesal Lilian.
"Lo masih marah, ya? Anjiirrr ... Nih dah beberapa hari loh Lilian. Kagak kangen atau gimana gitu ama Kak Arion?" Tanya Gladis.
"Kagak ada yang namanya kangen! Yang ada gue kesel." Ketus Lilian.
"Bagus dong kalo lo masih marah." Ujar Gladis girang.
Lilian menatap heran ke arah Gladis. "Napa?"
"Lo bisa bales dendam dengan cara yang sama seperti yang mereka lakuin ama lo beberapa hari yang lalu. Kan mereka ngejualin foto-foto mereka ... Nah lo bisa lakuin hal yang sama." Saran Gladis dengan mata berbinar.
"Lihat tampang lo sekarang." Gladis mengubah posisi Lilian kembali menghadap ke arah cermin yang berada di depan Lilian.
"Lo setiap hari emang cantik ... Tapi ada saatnya cewek akan terlihat berbeda saat ada sentuhan make up di wajahnya seperti lo yang saat ini. Cara lo make up nggak pernah gue temuin di salon dan di chanel youtube mana pun. Artinya lo tampil beda dengan gaya lo sendiri. Jangankan Kak Arion ... Gue yang cewek aja ngerasa gimana gitu saat melihat lo. Warna mata dan gaun yang di berikan si kampret Meira bahkan ngedukung banget tampilan lo saat ini." Gladis mulai mengomporo Lilian.
Anehnya Lilian yang biasanya tidak akan mudah terhasut kali ini ia lebih setuju dengan pendapat yang Gladis ucapkan.
"Lo benar juga." Ucap Lilian sambil nganguk-ngangguk.
"Ya udah ... Tunggu apa lagi? Ayo kita keluar sekarang! Biarkan mereka menikmati pembelasan dendam lo kali ini." Ucap Gladis dengan menggebu-gebu.
Lilian menggangguk cepat kemudian mulai melangkahkan kakinya untuk keluar ruang ganti bersama dengan Gladis.
_________________________