Lilian

Lilian
Permainan



Arion mengepalkan kedua tangannya dengan sangat erat. Ia tidak lahan lagi dengan kesalah pahaman yang terjadi antaranya dan juga Rein terus berlanjut. Rein dengan emosinya yang menggebu-gebu akan selalu salah paham terhadapnya jika tidak secepatnya ia selesaikan.


"Rekaman suara itu memang benar adalah percakapan antara gue dan Audry! Hanya saja bukan seperti yang lo pikirin saat ini!" Kata Arion dengan rahang yang mulai mengeras.


"Lalu seperti apa?" Tanya Rein masih dengan emosinya.


"Rekaman itu di ambil pada saat Audry sedang melakukan teraphy hipnotis. Audry mengatakan hal itu secara tidak sadar! Rekaman itu di ambil sehari setelah Audry dan Lilian bermasalah saat di cafe yang membuatnya harus di hukum membersihan sekolah selama sebulan. Gue di arahin oleh Dokter Rio agar mengikuti alur pembicaraan dari Audry! Hanya cara itu yang bisa menenangkan kondisi mental Audry yang semaki tertekan saat itu!" Jelas Arion dengan sekali tarikan napas.


Rein mulai sedikit tenang mendengar penjelasan dari Arion. Namun tetap saja Rein belum sepenuhnya yakin dengan penjelasan temannya itu. "Apa buktinyan kalau saat itu kalian berdua sedang melakukan proses teraphy?" Tanyanya.


Arion mengeluarkan ponsel dari sakunya kemudian mengetikkan sesuatu di atasnya. Tidak lama setelahnya, terdengar suara notifikasi pesan masuk dari ponsel milik Arion.


"Nih." Arion memberikan ponselnya kepada Rein.


Di dalam ponsel Arion, terputar sebuah video yang memperlihatkan Audry yang sedang berbaring di atas sebuah sofa santai. Ada sebuah alat yang terpasang di kepalanya, alat itulah yang menunjukkan emosi yang Audry rasakan saat itu.


Di samping kanan tempat Audry berbaring, terlihat ada seorang dokter yang memantau perkembangan emosi dari Audry. Sedangkan samping kiri Audry terlihat dua orang yang menemaninya, mereka adalah Arion dan Mamanya. Sebagian isi dari video itu memutarkan sesuai isi rekaman suara itu.


Rein menatap Arion dengan canggung setelah vidoe itu selesai terputar. "Maaf." Ucapnya.


"Gue bilang juga apa? Dengerin dia dulu ... Wajah dingin dan muka datar gitu mana bisa mainin hati cewek!" Celetuk Farrel yang memecah kecanggungan antara Arion dan Rein.


"Respon Rein mungkin wajar setelah mendengar rekaman suara itu. Hanya saja lain kalo lo harud dengerin penjelasan irang dulu." Ujar Mario sambil menepuk pelan bahu Rein.


"Oh iya ... Kira-kira si Nenek Lampir dapet rekaman suaranya dari mana? Pinter amat dia buat orang salah paham! Ama pelajaran aja ia begonya ketulungan." Ucap Farrel dengan kekehan kecil.


"Wahh ... Parang emang tuh orang." Tambah Mario.


Rein masih merasa bersalah karena telah menuduh Arion, ingin rasanya ia pergi mencari keberadaan Sheril dan menghukum gadis itu dengan setimpal.


"Maaf." Ucap Rein lagi. Meski canggung tapi tetap saja ia harus mengucapkan kata maaf kepada Arion.


"Nggak apa-apa." Jawab Arion. Ada kelegaan setelah kesalah pahaman antara keduanya selesai.


"Lain kali kalo marah mending lo mikir dua kali dulu ye ... Muka lo sumpah sadis, anjiirrr!" Ucap Farrel sambil menunjukkan ekspresi ketakutan yang sengaja ia buat.


Mario terkekeh pelan. "Lihat tangan gue." Ia menunjukkan tangannya yang sedikit bergetar. "Tangan gue ampe bergetar karena kuat nahan dia."


Suara tawa Farrel pecah, ia sampai harus memegang perutnya.


"Ketawa aja lo berdua sepuasnya!" Kesal Rein.


Arion yang sejak tadi hanya diam kini akhirnya mengeluarkan suara. "Penyakit Audry kambuh apa gara-gara lo?" Tanyanya dengan raut wajah datar.


Rein menatap Arion dengan kening mengerut. "Kapan penyakitnya kambuh?" Tanyanya dengan raut wajah khawatir.


"Tadi. Lilian terluka karena nahan dia agar nggak nyakitin diri sendiri." Jawab Arion.


Rein membulatkan mata, baru menyadari jika sejak tadi ia sedang mencari keberadaan Lilian. Tanpa banyak bertanya lagi, Rein langsung bergegas menuju kearah tempat Lilian berada.


_____________________


Malam semakin larut, namun Audry dan Lilian sudah terlelap sejak dari tadi. Saat Rein datang memeriksa, Lilian dan Audry sudah terlelap dengan luka di tangan mereka masing-masing. Tidak ingin mengganggu istirahat kedua gadis itu, Rein dan Arion harus memutar akal untuk mencari alasan agar kedua gadis itu bisa di ijinkan untuk tidak mengikuti kegiatan malam acara kemah tahunan.


Setelah mendapat ijin dari para Guru, Arion dan ketiga temannya harus meninggalkan kedua gadis itu untuk tetap beristirahat di dalam tenda untuk pemulihan kondisi masing-masing.


Sedangkan di luar tenda, semua murid di kumpulkan di satu tempat yang cukup luas. Mereka semua duduk melingkari api unggun yang menyala di tengahnya. Dalam kegiatan tersebut, semua murid akan melakukan beberapa permainan. Salah satunya adalah permainan tebak kata seperti yang saat ini sedang mereka mainkan.


Aturan dalam permainan itu adalah Pemain terdiri dari dua orang, satu orang memperagakan kata kunci dan satu orang sebagai penebak. Ada lima kata yang harus di tebak dalam permainan. Orang yang memperagakan dengan gerakan tubuh tidak boleh bersuara, yang boleh bersuara hanyalah bagi si penebak saja. Permainan itu di mainkan dengan waktu yang sudah di tentukan oleh pihak kepanitiaan yang bertanggung jawab. Jika kedua pemain itu berhasil menjawab semua kata kunci, maka keduanya berhak menujuk pasangan lain untuk memainkan kembali permainan yang sama. Namun jika dua pemain itu tidak bisa menjawab setidaknya empat kata kunci, maka kedua pemain itu di anggap kalah dan akan mendapat hukuman.


Untuk pemilihan pasangan dalam permainan, semua murid berhak memilih siapa saja sebagai pasangan dalam permainan. Itu sebabnya suasana yang tadinya tenang, sekarang berubah menjadi riuh lantaran kepanitiaan telah memberikan ijin kepada para murid untuk memilih pasangannya masing-masing setelah aturan permainan selesai di umumkan.


Jika semua murid sedang sibuk mencari pasangan masing-masing, beda halnya dengan Arion, Rein, Mario dan Farrel yang tampak cuek dan tidak peduli dengan permainan itu. Agar tidak di repotkan oleh pihak kepanitiaan, keempatnya sepakat untuk membentuk team masing-masing. Arion berpasangan dengan Farrel sedangkan Rein berpasangan dengan Mario.


Keempatnya hanya duduk diam di tempat dan menunggu murid lain selesai memilih pasangannya masing-masing.


"Arion lo mau nggak jadi pasangan main gue?" Tanya Sheril dengan senyum mengembangnya. Di belakangnya ada Naomi dan Karin yang selalu setia menemaninya kemanapun.


Arion menatap ketiga gadis di depannya dengan malas. "Meski semua orang di dunia mati, gue tetap nggak akan milih lo!" Ucapnya tajam.


Kesalah pahaman yang di sebabkan oleh gadis itu masih terputar bagai kaset rusak di kepala Arion. Dalam hati ia sudah berjanji akan melakukan hal lain yang akan membuat gadis itu membayar ipas perbuatannya tadi. Jika kesalah pahaman tadi terus berlanjut maka bukan hanya Lilian yang akan pergi darinya. Rein selaku sahabatnya sejak kecil juga akan pergi menutuskan hubungan dengannya.


"Lo kasar amat sih! Sheril kan mintanya baik-baik, kalau nggak mau ya udah." Ketus Naomi dari arah belakang Sheril.


"Orang kek dia memang pantes di kasarin!" Ujar Rein yang tiba-tiba muncul dari belakang tubuh Arion.


Mata Sheril memebelalak sempurna melihat Rein yang muncul di belakang Arion. "Lo." Tunjuknya dengan raut panik.


"Napa? Lo bingung kenapa kita berdua masih baekan? Nggak saling adu jotos seperti yang lo kira?" Tanya Rein dengan tatapan dinginnya.


"Lo pantesnya nggak tinggal di dunia manusia! Pantesnya tinggal bareng ular di rawah-rawah gitu. Secara lo kan ratunya ular, jadi nggak pantes ada di sini." Kata Farrel tajam.


"Jaga ucapan lo, ya! Kita juga punya hati, denger kalian ngomong kasar gitu ... Hati kita juga sakit!" Geram Karin tidak terima.


"Ohhh ... Masih punya hati ya? Gue kira udah pada busuk!" Ejek Mario dengan nada sedikit meninggi.


"Sheril! Lebih baik kita pergi aja! Tetap di sini hanya akan buat kita malu! Lihat sekitar, orang-orang udah pada natap kearah kita." Usul Naomi dengan sedikit berbisik kepada Sheril.


"Pergi aja lo bertiga! Sakit mata gue lihat kalian!" Kesal Rein.


"Santai dong!! Kita juga nggak mau lebih lama lagi di sini!" Kelakar Karin yang tidak terima di usir.


"Sana jauh-jauh! Biar perlu jangan muncul di hadapan kita lagi!" Usir Farrel lagi.


"Rein! Lo nggak percaya dengan rekaman yang gue kirim tadi?" Tanya Sheril. Ia harap masih ada harapan untuknya menjauhkan Lilian dengan Arion.


Sheril berpikir jika Rein menyukai Lilian. Hal itu dapat ia simpulkan karena Rein selalu saja datang dan melindungi Lilian dalam kondisi apapun. Rein juga terlihat sangat perhatian jika berada di dekat Lilian. Itu sebabnya Sheril ingin membuat hubungan Rein dan Arion merenggang karena Lilian, namun tidak ia sangka bahwa Rein tidak mempercayainya.


"Percaya. Saking percayanya ... gue nemuin kebusukan lo disana!" Rahang Rein terlihat mengeras karena menahan marah.


"Apa maksud lo? Gue nemuin rekaman suara itu sendiri di ponsel Audry." Kata Sheril gelagapan.


"Pergi atau gue ngasih lo hukumannya sekarang?! Muak gue lihat lo berdiri tepat di depan gue!" Usir Arion. Terlihat jelas Arion benar-benar marah pada Sheril.


Tidak ingin membuat Arion lebih marah lagi, Sheril akhirnya memutuskan pergi meninggalkan Arion dan teman-temannya.


"Sana pergi! Tebelin dulu tuh muka!" Pekik Farrel yang masih mampu di dengan oleh Sheril.


Murid-murid disekitanya menatap bingung kearah Arion dan yang lainnya. Ingin sekali mereka mendekat dan mendengarkan pembahasan Arion dan Sheril namun rasa takut mereka jauh lebih besar dari rasa penasarannya.


Setelah kepanitiaan selesai memberi waktu untuk para murid mencari pasangan. Kini saatnya permainan di mulai. Para panitia memutuskan pasangan yang pertama main adalah pasangan yang di pilih secara random.


Pasangan terpilih itu berasal dari kelas Lilian, mereka adalah Kemal dan Gladis yang memilih menjadi pasangan dalam permainan itu. Kemal sebagai pemberi intruksi gerakan sedang Gladis sebagai penebak.


Kata kunci pertama yang harus Gladis tebak adalah pisang. Kemal langsung melompat-lompat memperagakan gerakan yang mirip dengan monyet.


"Monyet?" Tebak Gladis.


Sontak saja semua murid tertawa terbahak-bahak melihat kelucuan antara Gladis dsn Kemal.


Kemal langsung menggelengkan kepalanya. Ia kemudian memperagakan monyet yang sedang memakan pisang.


"Monyet makan pisanga?" Tebak Gladis lagi.


Suara tawa dari para murid kembali pecah. Lagi, Kemal memperagakan seseorang yang sedang memetik pisang dan mengupasnya.


"Pisang?" Tebak Gladis.


Sorak sorai kembali riuh saat Gladis menjawabnya dengan benar. Permainan di lanjutkan dengan kata kunci lainnya. Sebelum waktu habis, Kemal dan Gladis berhasil menebak lima kata yang di sediakan oleh kepanitiaan sehingga mereka bebas dari hukuman dan berhak menunjuk siapapun pasangan selanjutnya yang akan memainkan permainan itu.


Ingin sekali Gladis menunjuk kearah Arion, ia begitu penasaran bagaimana reaksi Arion jika seandainya ia menjadi intruksi gerakan. Namun tatapan dingin dan tak acuh dari Arion membuat Gladis harus memendam dalam-dalam keinginannya itu.


Sehingga Kemal dan Gladis setuju menujuk pasangan lain sebagai pasangan yang akan bermain berikutnya. Pasangan yang bermain selanjutnya tidak kalah seru dengan pemain pertama. Permainan itu terus di lanjutkan dengan beberapa pasangan lainnya, ada yang yang berhasil dan ada pula pasangan yang gagal dan harus menerima hukuman.


Sedangkan di tempat yang tidak jauh dari tempat permainan itu di langsungkan. Lilian menggeliat dari tidurnya karena merasa terusik dengan suara bising dari luar tenda. Matanya mengerjap menyesuaikan cahaya yang masuk dalam penglihatannya.


Lilian menoleh kearah samping dan menemukan Audry yang entah sejak kapan sudah terbangun dan sekarang lagi terduduk dengan menyandarkan punggungya menggunakan beberapa barang miliki Arion dan yang lainnya.


"Lo juga terbangun karena suara bising dari arah luar?" Tanya Audry dengan tatapan mengarah tepat di kedua mata Lilian.


Lilian menggangguk pelan. "Ya." Jawabnya dengan suara serak.


"Maaf dan terima kasih." Ucap Audry tulus.


"Untuk?" Tanya Lilian masih dengan suara seraknya.


"Maaf udah buat lo terluka dan terima kasih karena udah nolongin gue." Kata Audry dengan tulus.


Lilian tersenyum lembut kearah Audry. "Nggak apa-apa kok dan bukan gue yang udah nolong lo. Kak Arion datang tepat waktu buat nolongin lo." Jelasnya.


Audry terkekeh pelan. "Tetap aja lo yang udah nolongin gue dengan cara menghentikan aksi nekad yang gue lakuin." Ucapnya kecut.


Lilian mengehela napas pelan. " Ya udah, gue terima ucapan terima kasih lo." Jswabnya.


Audry tersenyum kecil dengan ucapan Lilian. Terdengar suara sorak sorai kembali dari luar tenda. Keduanya sejenak sama-sama terdiam namun memikirkan hal yang sama dalam pikirannya.


"Lo mau keluar dan lihat apa yang anak-anak itu lakukan?" Tanya Audry. Pandanganya mengarah kearah pintu keluar tenda.


"Bolehkah?" Tanya Lilian.


"Jika lo mau." Jawab Audry dengan senyum lembutnya.


Lilian mengangguk cepat kemudian terbangun dari tidurannya. Kedua gadis itu meraih jaket dengan asal untuk menutupi luka di tangannya masing-masing. Lilian memakai jaket Arion yang berwarna hitam dan memiliki ukuran cukup besar di tubuhnya, sedangkan Audry memilih jaket yang sering ia lihat di pakai oleh Rein.


Keduanya sama-sama berjalan berdampingan menuju sumber suara berada. Di sana murid-murid lain masih memainkan permainan yang sama sehingga suara tawa akibat gerakan si pemberi intruksi membuat suasana sangat ramai.


Lilian dan Audry tiba-tiba muncul dan membuat semua pandangan mengarah kepada mereka. Tidak terkecuali dengan Arion, Rein, Farrel, dan Mario yang terkejut melihat keduanya muncul dengan tiba-tiba.


"Lilian!" Panggil Arion.


"Audry!" Panggil Rein.


_________________________