Lilian

Lilian
Penolakan Arion



Suasana yang terjadi di lapangan basket saat ini sangat menegangkan, tidak satu pun murid yang mau mengeluarkan suara. Melihat perubahan raut wajah dan penegasan di setiap kata Arion membuat semua murid lebih memilih diam dan tidak berkomentar.


"Sekali lagi, gue tegaskan agar menjauh dari gue sejauh mungkin!! Wajah biasa lo itu kagak pantas bersanding dengan gue!! Lo bukan type dan tidak sedikit pun masuk dalam kategori standar cewek gue!!" Setelah mengatakan hal itu Arion langsung menghempaskan Anin untuk menjauh darinya.


BRUKK ...


Anin tidak perduli sedang ada banyak murid yang melihatnya saat ini. Perasaannya hancur ketika mendengar penolak tegas dari Arion. Tidak ada sedikit pun ruang di hati Arion untuknya dan hal itu sukses membuatnya menjatuhkan cairan bening di kedua pipi-nya.


"Kenapa ... KENAPA BUKAN GUE YANG LO PILIH!! KENAPA HARUS GADIS YANG BARU LO KENAL!! APA KURANGNYA GUE DI BANDINGKAN DIA!! APA?!!" Anin berteriak kencang untuk melepas semua rasa sakit yang ia rasakan saat ini.


Bukannya kasihan, Arion malah melempar senyum mengejek ke arah Anin. "Gue kagak tau kurang-nya lo apa! Namun Nggak ada sedikit pun dari diri lo yang bisa di bandingkan dengan cewek gue!!" Jawab Arion tegas.


"Ohhh gue tau." Anin mulai menghapus air matanya dan menatap Arion dengan seringainya. "Dia udah berikan itu pada, lo?"


"Maksud, lo?" Raut wajah Arion kini semakin mengeras. Kedua tangannya mengepal dengan keras hingga kukunya memutih.


"Apalagi yang bisa di berikan oleh wanita peng**da jika bujan ke..." Ucapan Anin terhenti.


"JAGA UCAPAN, LO!! ATAU GUE ROBEK MULUT LO SEKARANG!!" Arion benar-benar marah mendengar ucapan Anin.


"Jangan sampai kesabaran gue habis!! Tapi kalau lo nekat juga ... Lo bisa jadi cewek pertama yang akan rasain bogeman gue!!" Tatapan mata Arion seakan menusuk ke arah mata Anin.


Sedangkan Anin sendiri tidak dapat lagi berkata sepatah kata pun. Melihat Arion yang marah membuatnya merasa sedikit ketakutan.


Arion memang sering terlihat dingin dan cuek, namun melihat kemarahan Arion adalah hal yang jarang semua orang lihat. Lelaki itu jarang mengekspresikan wajahnya ketika ia sedih atapun senang. Sehingga melihat kemarahan Arion membuat siapa pun takut untuk sekedar mendekat.


"ARION!! HATI LO TERBUAT DARI APA?!! TEGAK LO GINIIN ANIN YANG DAH BERSIKAP BAEK TERHADAP, LO!!" Entah dari arah mana Rama datang. Namun saat ini ia menarik kerah baju Arion dengan kasar lantaran melihat kondisi Anin saat ini.


Arion berbalik menarik kerah baju Rama. "Urusin cewek yang lo suka! Gue nggak tertarik berempati padanya!" Ujarnya dengan dingin.


"Kurang ngajar!!" Rama melayangkan bogemannya ke pipi sebelah kanan Arion.


Arion juga melayangkan bogemannya kepada Rama sehingga perkelahian pun terjadi. Rein, Farrel, Mario dan Anak basket lainnya yang sejak tadi diam kini berusaha melepaskan keduanya.


Teriakan histeris dari murid perempuan membuat suasana lapangan semakin rusuh dan tidak terkendali. Lilian yang sejak tadi memilih diam kini berlari ke tengah lapangan untuk memisahkan Arion dan Rama yang sedang berkelahi.


"Jangan mendekat Lilian, bahaya!!" Teriak Gladis dan berusaha menahan Lilian untuk tidak mendekat ke tempat Arion dan Rama.


"Nggak bisa, Gladis! Gue nggak bisa liat Arion berkelahi!" Kata Lilian dengan raut wajah panik.


"Tapi bahaya jika lo mendekat." Ucap Laura khawatir.


"Gue tau ... Tapi maaf gue nggak bisa tetep jadi penonton!" Lilian langsung berlari semakin mendekat ke arah Arion dan Rama.


Rein dan yang lainnya berusaha melepaskan Arion dan Rama. Namun kemarahan keduanya membuat satu sama lain tidak bisa di lepaskan dengan mudah.


"KAK ARION! LEPASKAN DIA!!" Teriak Lilian dan berusaha menarik tangan Arion.


"Lilian! Apa yang lo lakuin di sini? Berdiri sedikit menjauh atau lo akan kenak pululan nyasar!" Peringat Mario saat melihat Lilian yang ikut bergabung melerai perkelahian Arion.


"Gue nggak bisa tetep diem aja. Perkelahian mereka perlu di lerai." Kata Lilian.


Lilian tidak lagi peduli dengan peringatan Mario dan tetap memilih memisahkan Arion dan Rama.


"Lepasin dia, Kak!" Lilian mencoba menarik tangan Arion namun sayang nya ia harus terjatuh lantaran Rama menarik sebelah tangannya dan menghempaskannya ke atas lantai lapangan.


"Awww!" Pekik Lilian kesakitan.


Wajah Arion kembali mengeras melihat Lilian yang terjatuh. Emosi Arion tersulut hingga ia melayangkan bogeman ke arah Rama dengan membabi buta.


Rama sendiri sudah tidak dapat menahan tenaga Arion yang semakin bertambah. Rama hanya pasrah ketika Arion memukuli wajahnya berkali-kali meski ia sudah terkulai dengan lemas di atas lantai lapangan.


"Kak! Aku mohon!" Lilian memeluk Arion dari belakang untuk meredakan amarah lelaki itu. Benar saja, Arion tidak lagi memukuli Rama.


Napas Arion ngos-ngosan lantaran menghabiskan tenaganya untuk memukuli Rama dengan membabi buta.


"DASAR ANAK-ANAK NAKAL!! APA YANG KALIAN LAKUKAN?!!" Teriak Pak Fadli dan berjalan menuju ke tengah lapangan.


Tidak ada yang mau menjawab satu pun pertanyaan dari Pak Fadli, mereka hanya memilih diam.


"Astagaaa ... Apa yang terjadi di sini?" Tanya Buk Dina yang baru saja datang. "Kalian sadar nggak kalau sekarang ini kalian sedang berada di dalam sekolah?! Di sini tempat kalian untuk belajar dan bukan tempat kalian adu gelut!" Marah Buk Dina.


"Rein apa yang terjadi? Mengapa kalian berkelahi di sekolah?" Tanya Pak Fadli.


"Saya nggak berkelahi kok, Pak." Ucap Rein membela diri.


"Lalu apa namanya? Nggak berkelahi tapi wajah kalian terlihat urakan semua! Apalagi Arion dan Rama! Sangat mengenaskan! Bawa ke ruangan aja semuanya, Pak." Kata Buk Dina.


"Kalian semua yang terlibat segera ke ruangan saya! Dan yang lainnya segera bubar dan kembali ke kelas masing-masing!!" Perintah Pak Fadli dengan wajah garangnya.


Dengan teratur semua murid yang menjadi penonton tadi membubarkan diri. Namun Lilian masih tetap di tempat dan ingin ikut bersama Arion dan yang lainnya.


"Lilian! Sebaiknya kamu juga kembali ke kelas!" Ucap Buk Dina.


"Tapi, Buk." Lilian menatap ke arah Arion dengan sendu.


"Tidak ada tapi tapian ... Sana kembali ke kelas!" Tegas Buk Dina.


Lilian menghela napas pelan dan menatap sedih ke arah Arion. Dengan ragu ia melangkahkan kakinya untuk kembali ke kelasnya.


"Sisa-nya ikut saya!!" Ucap Pak Fadli dan berjalan mendahului.


_____________________


Lilian berjalan mondar-mandir di depan ruangan BK dengan perasaan tidak tenang. Sudah dua jam lamanya ia menunggu Arion keluar dari ruangan itu namun orang yang di tunggu tidak juga keluar.


"Lilian tenanglah ... Gue yakin mereka akan baik-baik aja." Ucap Laura menenangkan Lilian.


"Perasaan gue nggak tenang. Kalian semua lihat kan wajah mereka yang bonyok tadi? Ini hampir dua jam dan Pak Fadli belum juga melepaskan mereka." Ucap Likian khawatir.


"Sebaiknya lo duduk dulu dan nih ... minum dulu agar lo sedikit tenang." Gladis menyodorkan sebotol air mineral kepada Lilian.


Lilian sendiri mengikuti saran dari Gladis dan mengambil tempat duduk di sebelah Meira. Perlahan ia meneguk air yang di berikan oleh Gladis. Namun tetap saja Lilian masih menghawatirkan keadaan Arion yang belum juga keluar dari dalam ruangan.


Mata Lilian terus saja memandangi pintu ruangan yang dua jam lalu tidak pernah terbuka sama sekali. Namun tidak lama setelahnya, pintu yang sejak tadi Lilian pandangi akhirnya terbuka lebar dan menampak kan seseorang yang menjadi sumber perkelahian. Dia adalah Anin, entah sejak kapan gadis itu menangis namun matanya terlihat bengkak dan hampir tidak dapat membuka mata.


Di belakang Anin ada Rama yang selalu setia berada di sampingnya dan di susuli oleh Sheril, Naomi, Karin dan beberapa anak yang tidak Lilian ketahui.


Pandangan mata Lilian sempat terkunci ke arah Anin berada, namun sesaat kemudian Lilian alihkan pandangannya ke arah lain lantaran melihat orang yang sejak tadi ia tunggu menampakkan wajahnya.


"Wajah kamu ..." Cairan bening yang sejak tadi Lilian tahan kini meluncur cantik membasahi kedua pipi Lilian.


"Jangan menangis." Ucap Arion tegas.


Tanpa menunggu respon dari Lilian, Arion menarik tangan gadis itu menuju rooftop. Tempat di mana Geng Andromeda menghabiskan setengah dari waktu mereka saat berada di sekolah.


Rein dan yang lainnya hanya mengekor Arion dan Lilian yang sudah berjalan duluan. Begitu pula dengan ketiga teman Lilian yang juga mengikuti kemana Lilian pergi.


Sesampainya di rooftop, Lilian langsung mengambil kotak obat yang selalu ada di sana. Entah siapa yang menyediakan kotak obat itu Lilian tidak tau dan berterima kasih kepada siapa pun yang menyediakan karena kotak obat itu sangat berguna saat ini.


Pipi kanan Arion sedikit membiru dan ada cairan merah yang keluar dari sudut bibir lelaki itu. Wajah Arion juga terlihat membengkak karena mungkin mendapat beberapa pukulan dari Rama. Namun Lilian bersyukur Arion mendapat luka yang tidak terlalu parah jika di bandingkan sengan Rama yang hampir tidak dapat di kenali lagi wajahnya.


Lilian dengan telaten menuangkan alkohol ke dalam kapas kemudian membantu membersihkan luka yang berada pada wajah Arion.


"Kenapa?" Tanya Arion tiba-tiba.


Lilian menghentikan tangannya yang sedang mengobati luka Arion dan memandang lelaki itu dengan heran. "Kenapa apa?" Tanya Lilian balik dan melanjutkan kegiatannya sebelumnya.


"Kenapa kamu bisa berada di tengah lapangan?" Tanya Arion lebih jelas.


Lilian menghela napas pelan kemudian mengganti kapas baru lagi. "Aku khawatir." Jawabnya tanpa melihat Arion.


"Harusnya kamu nggak masuk, gimana kalau bogeman si bre**sek itu mengenai mu?" Tanya Arion dengan raut wajah datar.


"Tapi nyata-nya nggak kan?" Tanya Lilian yang masih membersihkan luka Arion.


Arion menahan tangan Lilian dan menatap tajam ke arah mata Lilian. "Mungkin sekarang nggak. Tapi bagaimana jika tadi kamu terluka? Kamu bisa jamin semuanya akan baik-baik aja?"


"Iya aku minta maaf. Hanya saja aku nggak bisa liat kamu kek tadi. Aku khawatir dan nggak bisa mikir panjang lagi." Jawab Lilian.


"Berjanjilah tidak akan ada lain kali lagi. Kamu nggak akan nempatin posisi kamu dalam bahaya lagi." Pinta Arion dengan raut wajah serius.


"Kak Arion wajah mu perlu di obati. Lepaskan dulu tangan ku." Lilian mencoba mengalihkan pembicaraan.


"Berjanjilah, Lilian!" Tegas Arion.


"Tapi lepaskan dulu." Pinta Lilian dan menarik tangannya.


"Lilian!" Kali ini nada suara Arion sedikit meninggi.


Lilian akhirnya membuang napas pasrah. "Baiklah ... Aku janji."


"Namun aku nggak janji ketika melihat mu terluka. Aku nggak bisa lihat kamu terluka." Batin Lilian.


Arion akhirnya melepas tangan Lilian dan membiarkan gadis itu mengobati lukanya.


"Aissh ..." Ringis Arion ketika Lilian mulai membersihkan luka di sudut bibirnya.


"Sakit?" Tanya Lilian khawatir.


"Alah ... Paling modus! Sejak tadi di pukul nggak ada tuh rasa sakit. Baru di tekan bentar doang pakai kapas lansgung ringis." Sindir Farrel yang baru saja tiba di rooftop.


"Benar banget! Ampe gue harus kena bogeman nyasar ama nih anak! Tenaga-nya dah kek kuda lagi." Ujar Rein dan menempelkan es batu di pipinya.


"Nih ... Kasih si ba**sat tuh." Rein melempar sekantong es batu yang entah dari mana ia dapatkan ke arah Lilian.


Setelah menangkap kantong yang di berikan oleh Rein, Lilian langsung menempelkan ke bagian wajah Arion yang membengkak.


"Kam**t amat si Rama ... Cinta kok buta! Harusnya bisa milih tuh mana yang baik dan kadarluarsa kek si Kunti!" Kesal Mario dan menjatuhkan tubuhnya ke salah satu sofa yang berada di sana.


"Bener banget tuh ... Apalagi pas tadi keluar dari ruangan! Ingin gue congkel kedua matanya yang menatap sinis ke arah Lilian!" Dengus Gladis yang juga datang bersama kedua temannya mengikuti Rein dan yang lain tadi.


"Sok-sokan pakek drama nangis segala. Emang dasar kagak tau diri aja tuh anak ... Dah di tolak, bikih rusuh pula!" Kesal Farrel.


"Kesel parah gue saat dia bilang kek gini ... Arion harus tanggung jawab. Lahhh dia yang bikin rusuh malah orang lain yang harus tanggung jawab." Kesal Mario.


"Emang benar-benar si Kunti bawaannya bikin kesel mulu. Dah sok-sokan bawa atribut sampah ... Di tolak malah drama." Kesal Laura.


"Terus Pak Fadli bilang apa aja? Kalian nggak di skors kan?" Tanya Lilian akhirnya.


"Nggak." Jawab Arion datar.


"Terus di kasih hukaman apa? Kagak mungkin Pak Fadli ngebiarin kalian gitu aja?" Tanya Lilian dan memandangi Rein, Mario dan Farrel bergantian.


"Di suruh bersihin toilet bagian selatan selama dua minggu." Jawab Farrel dengan raut sedih.


"Haaa? Seriusan? Geng Andromeda di suruh bersihin toilet? Hahahahahahha." Tawa Gladis pecah.


"Ehhh Lilian! Lo punya temen ngeselin amat pengen gue karungin." Ketus Farrel yang tidak terima di tertawakan.


"Isshh enak aja mau karungin anak orang!" Balas Gladis.


Peedebatan antara Farrel dan Gladis berlangsung cukup lama. Namun semua orang lebih memilih mengabaikan kedua-nya dan sibuk dengan kegiatan masing-masing.


"Masih sakit?" Tanya Lilian sambil meniup luka Arion dengan pelan.


"Sedikit." Jawab Arion.


"Gimana kalau nanti kita ke dokter aja?" Usul Lilian.


"Nggak usah ... Ntar juga sembuh sendiri." Jawab Arion.


"Iya juga sih ... Aishhh ke tampanan-nya sedikit berkurang deh. Kagak bisa lagi buat pemer." Ujar Lilian yang pura-pura terlihat sendu.


"Ohhh punya pacar buat pamer?" Tanya Arion dan siap menggelitik Lilian.


"Kalau bisa si pamerin kenapa nggak?" Tanya Lilian dengan senyuman manisnya.


"Oh gitu ..." Arion langsung menggelitik Lilian.


Keduanya tertawa bahagia dan melupakan orang-orang di sekitarnya. Farrel dan Gladis yang tadi sempat adu mulut kini juga berhenti dan memperhatikan kedua orang yang sedang di mabuk cinta.


"Kasmaran aja terus!" Ujar semua orang kompak.


_________________