Lilian

Lilian
Hukuman mulai di jalankan



Lilian melepas helm di kepalanya setelah ia memarkirkan motornya di tempat biasa. Suasana parkiran tampak sepi tidak seperti hari-hari biasanya. Sebelum bel masuk berbunyi, biasanya ada sebagian murid yang memilih duduk disekitaran parkir hanya untuk berkumpul dengan teman-temanya dari kelas lain atau hanya ingin berbagi gosip bagi murid perempuan.


Namun kali ini suasana parkir tampak sepi dan tidak satupun murid yang terlihat disana.


"Tumben nih tempat parkir kosong. Apa bel masuk sudah berbunyi?" Gumam Lilian sambil memeriksa jam yang ada di ponselnya.


"Masih dua puluh menit kok." Heran Lilian kemudian menyimpan helm-nya.


"Lilian!" Panggil Meira sedikit berteriak dan berlari kearah Lilian berada.


"Ada apa lo? Pagi-pagi lari kek gitu ... Lihat setan ya?" Tanya Lilian becanda.


"Bentar ... Bentar ... Gue napas dulu." Kata Meira sambil menstabilkan napasnya yang ngos-ngosan.


"Lilian!!" Kembali dari arah lain, Gladis dan Laura memanggil Lilian sambil berlari mendekat kearah Lilian dan Meira berada.


"Lo bertiga pada kenapa sih? Pagi- pagi udah olah raga aj." Kata Lilian heran.


"Ada kejadian hot sepanjang masa tau." Kata Naomi setelah berhasil mengatur napasnya dengan normal.


"Lo bertiga lari sampai ngos ngosan begini cuman mau ngegosip?" Tanya Lilian heran.


"Alaahhh ntar lo juga bakal ikut heboh dengar gosip ini." Kata Gladis.


"Mang apaan gosipnya?" Tanya Lilian penasaran.


"Ada dua gosip penting sih." Ujar Laura.


"Ya udah apaan aja gosipnya? Bikin penasaran orang aja ... Bisa nggak langsung ke inti? Otak gue udah buntu dan nggak bisa mikir banyak." Ucap Lilian dramatis.


"Lo tau nggak semua anak-anak Florenzo School pergi?" Tanya Gladis dengan raut wajah serius.


Lilian menggeleng pelan. "Mana gue tau ... Gue kan baru dateng ... Masa iya gue langsung tau. Kalian pikir gue cenayang?" Tanya Lilian.


"Ya udah sekarang kita kasih tau. Semua anak Florenzo School pada kumpul di depan koridor toilet kelas sepuluh tau." Kata Laura dengan raut wajah heboh.


"Ngapain mereka ngumpul di sana? Masa iya rebutan mau masuk ke toilet?" Tanya Lilian heran.


"Ishhh lo bisa diem dulu nggak sih? Dengenerin kita cerita dulu ... Nggak biasanya lo cerewet kek gini, ketularan Gladis pasti ini." Tuduh Meira.


"Enak aja ... Lilian dah begitu dari dulu ... Can nggak kelihatan aja." Kata Gladis membela diri.


"Ini napa kalian berdua yang jadi ribut sih? Udah gue aja yang cerita." Kesal Laura, kemudian beralih menatap ke arah Lilian. "Mereka ngumpul mau ngelihat Kak Audry dan yang lainnya di hukum. Selama ini mereka selalu *ngebull*y orang ... Nggak tau aja hari ini dan sebulan ke depan mereka bakal ngerasain penderitaan orang yang pernah mereka bully." Jelas Laura.


"Nggak sampai itu aja ... Sekolah nggak tanggung-tanggung ngasih hukuman buat mereka. Selain bersihin sekolah, mereka juga make kalung yang di gantung di depan dada dengan tulisan kami lagi di hukum, di tulis besar-besar lagi." Jelas Gladis yang tidak mau kalah heboh dengan Laura.


Lilian tampak terkejut mendengar informasi yang ia baru dapatkan dari ketiga tamannya. "Seriusan?" Tanyanya tidak percaya.


"Serius ... Makanya nih tempat parkir ampe kosong begini. Anak-anak lebih milih lihat mereka di hukum dari pada lihat jejeran motor yang di parkir." Jelas Laura.


"Udah gitu, kayaknya murid yang pernah mereka bully saat ini lagi merencanakan balas dendam." Kata Gladis heboh.


"Masa?" Tanya Lilian tidak percaya.


"Lo belum lihat aja gimana kondisi mereka sekarang ... Sejak pagi buta mereka ngebersihin sekolah dan masih stay di tempat yang sama gara-gara tempatnya selalu aja kotor meski udah di bersihin." Kata Meira.


"Kok gue jadi kasihan ya." Ucap Lilian sambil ngebayangin kondisi Audry dengan teman-temannya.


"Kalau misalnya kondisi itu masih tetap berlangsung ... Apa tidak akan memacu kondisi Kak Audry semakin memburuk?" Tanya Laura.


Mata Lilian, Gladis dan Meira membelalak mendengar pertanyaan dari Laura. Tentu saja hal itu akan berpengaruh terhadap penyakit mental yang sekarang Audry derita. PTSD adalah penyakit yang muncul akibat seorang penderita mengalami tekanan yang begitu hebat sehingga mengguncang jiwanya. Penderita PTSD tidak bisa mendapatkan tekanan terus menerus karena akan mempengaruhi kondisi penderita.


Hal itu takutnya akan membuat penderita PTSD menjadi kehilangan kendali dan tidak lagi dapat membenarkan hal baik ataupun buruk. Jika tidak dapat menyalurkan kemarahannya kepada orang lain, maka penderita PTSD cenderung akan menyakiti dirinya sendiri untuk melampiaskan kemarahannya sekaligus sebagai obat penenang bagi penderitanya.


"Gawat! Lebih baik kita kesana aja." Ajak Lilian dan langsung berlari meninggalkan ketiga temannya.


"Tunggu Lilian!!" Teriak katiga teman Lilian samaan lalu berlari mengejar Lilian.


Benar yang di ceritakan oleh ketiga teman Lilian. Koridor di dekat toilet kelas sepuluh sudah terisi oleh banyak sekali murid yang datang hanya sekedar melihat Audry dan teman-temannya di hukum. Hampir seluruh murid Florenzo School berkumpul di sana sehingga membuat tempat itu menjadi sesak dan di penuhi oleh banyak orang.


Lilian kesusahan mencari jalan menembus orang-orang itu. Sesekali Liliab berjalan ke kiri dan kanan hanya untuk mencari jalan agar ia bisa menerobos murid-murid itu hingga ia sampai ke tempay Audry dan ketiga temannya berada.


"Gimana?" Tanya Gladis yang baru saja sampai dan berdiri di samping Lilian bersama dua temannya yang lain.


Lilian menggeleng pelan. "Masih nggak bisa lewat ... Orang-orang ini terlalu banyak. Kalau maksa masuk yang ada kita yang mati ke jepit." Ucap Lilian yang masih mencari cara untuk membelah kerumunan.


"Dampak orang-orang itu begitu besar rupanya. Denger mereka di hukum aja semua orang pada ngumpul semua. Padahal ini baru hari pertama loh." Kata Laura yang juga ikut membantu Lilian mencari jalan untuk masuk.


"Mereka itu Famous wajar saja dampak nya bisa sebesar ini ... Selama ini mereka selalu menjaga citra, kalau begini trus mereka merasa citra mereka telah rusak dan bisa berpengaruh dengan psikis mereka." Kata Meira.


"Kenapa nggak di biarin aja sih? Mereka juga perlu ngerasain bagaimana rasanya jadi orang yang pernah mereka bully. Kalau kek gini mah mereka juga pasti nggak bakal berani ngelawan semua murid dari tiga angkatan ini." Kata Gladis.


"Kalau gitu apa bedanya mereka dengan Kak Audry dan teman-temannya? Kejahatan itu nggak meski di balas dengan kejahatan juga. Kalau begini caranya mereka sama aja dong nggak ada bedanya. Sama-sama jahat." Jelas Lilian.


Gladis menganggukkan kepalanya paham mendengar penjelasan dari Lilian.


"Semua orang juga tidak ingin di cap dengan sebutan jahat, namun ada kalanya menjadi jahat itu adalah sebuah pilihan untuk melindungi diri kita sendiri atau bersembunyi di balik kelemahan yang kita punya. Namun kalau kita masih memiliki pilihan lain maka apa salahnya mencoba mengambil pilihan yang jauh lebih baik itu." Jelas Lilian lagi.


Gladis kembali menganggukkan kepalanya lagi kemudian dia memiliki sebuah ide agar nurid lain memberikan mereka berempat jalan.


"AWAS ADA AIR PANAS MAU LEWAT ... MINGGIR ... MINGGIR KASIH KAMI LEWAT. AWAS ... AWAS AIR PANAS!!" Teriak Gladis menggelegar.


Ide Gladis sangat efektif terhadap murid-murid itu. Setelah Gladis berteriak heboh, satu persatu murid akhirnya bergeser ke samping sehingga muncul sedikit jalan untuk Lilian dan ketiga temannya untuk lewat.


Lilian dan ketiga teman-temannya langsung berjalan maju dan berhenti ketika jarak ke empatnya sudah sangat dekat dengan Audry dan ketiga temannya. Terlihat Audry sedang membersihakan lantai tanpa mengangkat wajahnya kedepan, gadis itu terlihat sibuk dengan pekerjaan dan tidak merespon sama sekali orang-orang yang disekitarnya.


Mata Sheril akhirnya menubruk tepat ke arah mata Lilian. "Ini semua gara-gara lo ya! Lo tunggu aja balasan apa yang akan gue lakukan setelah ini! Lo akan menyesal karena telah berurusan dengan gue!!" Pekiknya dengan keras kearah Lilian dan teman-temannya.


"Senang lo semua lihat kita kek gini? Awas ya lo semua gue balas satu-satu." Ancam Sheri sambil menunjuk ke semua orange menggunakan sapu yang ia pegang.


"Huuuuu ..." Sorakan demi sorakan terdengar dari semua murid yang sedang berkumpul.


Meski Sheril sudah melayangkan ancaman sejak tadi namun tidak sedikit murid yang menganggap ancaman Sheril sebagai angin lalu. Mana mungkin Sheril dapat mengingat orang-orang yang saat ini sedang berkumpul. Sheril akan merasa rugi sendiri jika ia ngotot untuk melawan, saat ini semua murid Florenzo School sedang bersatu untuk melawannya.


Bunyi bel masuk akhirnya berdering dengan keras. Satu persatu murid yang sedang berkumpul meninggalkan tempat itu dan kembali ke kelas mereka masing-masing. Hingga akhirnya menyisakan Lilian dan ketiga temannya dan beberapa murid lainnya yang masih berada di sana.


Mata Lilian tidak sengaja menangkap keberadaan Geng Andromeda berada. Tidak jauh dari tempat Lilian berada ke empat lelaki itu sedang berdiri dengan menyandarkan punggung mereka ke tembok dan berniat ingin pergi meninggalkan tempat itu.


"Kakak!" Panggil Lilian keras.


Lilian berlari meninggalkan ketiga temannya dan mendekat ke arah Geng Andromeda berada.


"Apa?" Tanya Arion cuek.


"Gue nggak manggil lo kok. Lo bisa pergi duluan ... Gue ada perlu sama Kak Rein soalnya." Kata Lilian polos.


Arion menatap tajam kearah Lilian dan menatap tidak suka ke arah Rein. Rein sendiri lebih memilih membuang muka dari Arion dan memilih menatap ke arah Lilian. Sedangkan kedua teman Arion jangan di tanya lagi sedang apa, keduanya pasti sedang menertawakan Arion yang salah paham dengan mengira Lilian memanggilnya ternyata bukan.


"Ada apa?" Tanya Rein.


"Dulu lo pernah kasih gue satu permintaan buat di kabulin." Ujar Lilian sambil menunjukan jari telunjuknya ke arah Rein.


"Ya betul, lo udah nentuin mau minta apa?" Tanya Rein lagi.


Lilian menggangguk senang. "Pulang sekolah lo mau kemana?" Tanyanya.


Rein tampak berpikir sebentar kemudian menggeleng pelan. "Nggak ada kayaknya. Ada memangnya?" Tanyanya.


"Pulang sekolah temenin gue beli barang-barang kebutuhan Citto ... Dia harus punya kandang dan barang-barang lain. Gue bingung mau ngajak siapa. Jadi teringat sama janji lo yang dulu." Kata Lilian dengan riang.


"Ok. Pulang sekolah kita ngedate seharian." Kata Rein dengan senyum ngembang.


"Nggak bisaa!!" Kata Arion tiba-tiba dengan suara keras. "Rein harus nyusun gambar yang kita ambil kemaril buat acara sekolah yang akan datang." Ucap Arion dengan datar.


"Ehh Bro ... Gue dah ngerjain dari semalam kalau lo lupa. Lo sendiri yang bilang harus secepatnya jadi." Jelas Rein sambil menepuk bahu Arion pelan.


"Lo harus ngasih keterangan di setiap gambar agar lebih jelas." Kata Arion lagi.


"Udah kok ... Malah gue udah kasih notenya juga." Kata Rein.


Arion kehabisan kata-kata lagi untuk menghentikan Rein dan Lilian perdua. Meski mereka berdua adalah sepupuan namun entah mengapa Arion merasa tidak terima jika Lilian lebih memilih Rein untuk diajak keluar bareng.


"Terus gimana?" Tanya Lilian menatap ke arah Rein.


"Lo tenang aja ... Pulang sekolah kita langsung pergi bareng." Kata Rein sambil mengelus kepala Lilian pelan.


Arion menatap Lilian dan Rein dengan tatapan tajamnya. Suasana di sekitar mereka pun terasa dingin dan mencekam.


"Kok tiba-tiba jadi dingin ya?" Tanya Lilian polos.


"Bener ... Mungkin karena sebentar lagi mau masuk musim hujan, jadi dingin." Ujar Rein.


"Gue ikut." Ucap Arion tiba-tiba sehingga semua mata beralih menatap kearahnya.


"Mau ikut kemana lo?" Tanya Farrel nggak paham ucapan Arion.


"Gue ikut nyari kandang Citto." Katanya sambil membuang muka ke arah lain dan tidak mau menatap kearah teman-temannya.


"Ehh lo jangan ngaco ... Lo sendiri yang bilang lagi sibuk dan harus segera selesaiin semuanya." Kata Mario memperingati.


"Tinggal sedikit aja ... Ntar malam juga kelar." Ucapnya dengan dingin.


"Ada angin apa lo mau ikut kita? Tumben banget lo mau ikut ... Kita mau nyarinkandang buat Citto woe .." Jelas Rein.


"Gue tau ... Gue juga yang nemuin Citto kemarin. Jadi gue punya tanggung jawab terhadapnya." Jawab Arion santai.


Lilian melongo tidak percaya mendengar ucapan Arion. Sungguh Lilian tidak menyangka jika Arion akan mengatakan hal itu di depan banyak orang.


"Tanggung jawab apaan lo?" Tanya Farrel.


"Karena gue juga ikut andil dalam menemukan tuh kucing. Jika gue nggak ngajak dia kesana mana mungkin dia dapat ketemu lagi dengan Citto." Jelas Arion panjang.


Sungguh teman-teman Arion tidak bisa percaya dengan sifat Arion yang sekarang. Tumben sekali Arion peduli dengan seekor kucing yang baru ia lihat kemarin.


"Salut gue ama si Citto ... Tuh kucing dapat numbuhin rasa tanggung jawab si Arion." Gumam Farrel tidak.


"Ok. Pulang sekolah kita langsung berangkat." Ucap Arion kemudian meninggalkan semua orang begitu saja.


"Kek nya tuh anak lagi sakit." Gumam Mario pelan. "Woee tungguin kita!" Teriaknya lagi kemudian pergi mengejar Arion.


"Balik ke kelas lo gih ... Ntar kita ketemu lagi." Ucap Arion kemudian kembali mengacak rambut Lilian pelan.


"Jangan di acak ... Berantakan lagi." Kesal Lilian sambil merapikan rambutnya lagi. "Dah ... Gue pergi ya." Kata Lilia kemudian pergi bersama ketiga temannya.


Setelah kepergian Lilian, Rein pun ikut mengejar Arion dan Mario yang sudah melangkah jauh bersama dengan Farrel. Sedangkan di tempat yang tidak jauh dari mereka tadi, ada seseorang yang harus menahan marah melihat kedekatan antara Lilian dan Rein. Ia adalah Audry, dari tempatnya ia sudah memperhatikan keduanya sejak tadi. Tidak terasa, kain pel yang ia remas sejak tadi patah menjadi dua karena merasa kesal melihat Lilian dan Rein yang semakin dekat.


________________