
Lilian sampai disekolah lebih awal dari hari pertama saat ia masuk sekolah. Sepanjang jalan ada banyak sekali murid yang menatapnya dengan tatapan aneh namun Lilian seakan tidak peduli dan lebih mengabaikan tatapan mereka.
Semakin lama Lilian berjalan, semakin banyak murid yang menatap ke arahnya sambil berbisik-bisik, bahkan di antara para murid itu ada yang sampai berbicara secara terang-terangan mengenai kejadian kemarin saat dikantin.
"Kok ada ya cewek yang mukanya setebal gitu ... Kalau gue jadi dia yang pastinya gue nggak bakalan nunjukin wajah di depan umun kek gitu!"
"Benar banget ... Udah meluk orang sembarang ehhh dengan muka tebalnya dia dengan soknya nunjukin wajah udiknya itu."
"Ya maklum saja ... Cewek mu***an kek gitu mana punya malu."
"Palingan dia cuman numpang tenar doang!"
"Gue harap tuh cewek bakalan dikasih hukuman berat sama Arion."
Banyak sekali umpatan-umpatan lain yang Lilian dengar namun ia masih tidak mau meladenin mereka semua. Semalaman Lilian memutuskan akan memperkuat mentalnya untuk menghadapai semua masalah yang akan datang kepadanya.
Umpatan-umpatan seperti itu bukan masalah bagi Lilian, namun jika mereka sudah mulai main fisik kepadanya maka ia tidak akan ragu untuk melawan.
Lilian terus saja berjalan tanpa menghiraukan orang-orang yang menghinanya. Saat posisi Lilian berada tidak jauh lagi dari kelasnya, beberapa Siswi yang mengenakan pakaian ketat datang untuk menghadangnya.
"Ehh lo yang namanya Lilian kan?" Tanya Sheril menunjuk tepat ke arah wajah Lilian.
Lilian hanya menatapnya dengan acuh kemudian berniat berjalan melewati ketiga Siswi tersebut namun niatnya terhenti ketika Sheril menarik tangannya dengan keras.
"Lo berani juga suma gue ya? Lo nggak tau gue ini siapa?" Tanya Sheril dengan raut wajah marahnya.
"Lo nggak tau diri banget ya! Sheril lagi ngomong sama lo, main nyelonong aja." Ujar Karin dengan bersedekap dada.
Lilian menghela lapas kasar. "Gue nggak punya masalah dengan Kakak semua dan gue nggak kenal kalian! Jadi jangan sok akrab sama gue!" Kata Lilian dengan nada acuh tak acuhnya.
"Kurang ajar nih anak! lo tau nggak selama ini nggak ada orang yang berani nyari masalah sama gue!" Ketus Sheril mulai meninggikan suaranya.
Semua murid mulai berkumpul hanya ingin menyaksikan Sheril dan teman-temannya memberi pelajaran kepada Lilian.
"Gue nggak tau dan ada masalah apa lo sama gue?" Tanya Lilian tak kalah ketusnya.
"Lo nyolot ya jadi anak .... Posisi lo di sini adalah anak baru dan kalau lo masih mau hidup tenang selama belajar disini maka lo harus ngikutin aturan dari kami!" Kata Naomi sambil menunjuk ke arah Lilian.
Lilian mengangkat sebelah alisnya kemudian bersedekap dada. "Di sekolah ini gue hanya menaati peraturan sekolah dan untuk peraturan lainnya ..." Ucap Lilian gantung sambil menengok kanan dan kiri. "Gue rasa tidak ada kewajiban sama sekali untuk menataatinya."
Dada Sheril mulai kembang kempis menahan marah. "Lo jadi adik kelas nggak ada sopan-sopannya sama Kakak kelas! Kayaknya lo perlu dikasih pelajaran awal ... Baru lo tau aturan Senior dan Junior!" Sheril mulai memberi intruksi kepada kedua temannya untuk menahan kedua tangan Lilian.
Lilian tidak bergerak dari tempatnya dan tidak memberontak saat Karin dan Naomi memegang kedua tangannya. Sedangkan Sheril sudah tersenyum sinis melihat Lilian tidak memiliki pilihan lain selain diam.
"Sepertinya lo mulai paham dengan aturan kami ... Namun masalahnya lo udah terlanjur buat gue kesal pagi-pagi gini. Terima hukuman lo untuk menebus kesalahan yang telah lo perbuat!" Ucap Sheri sambil memainkan rambut Lilian.
Bukannya takut, Lilian malah tersenyum mengejek ke arah Sheril. "Aturan ya? Memangnya kesalahan apa yang telah gue perbuat?" Tanyanya dengan menatap tajam ke arah Sheril.
Hati Sheril bergemuruh melihat tatapan tajam dari Lilian namun ia masih mempertahankan wajah angkuhnya. "Lo masih bertanya tentang kesalahan lo?" Tanyanya dengan nada pelan kemudian menatap kedua temannya untuk menjelaskan.
"Kesalahan pertama lo adalah telah lancang merayu Arion yang jelas-jelas hanya milik Sheril." Kata Naomi yang masih memegang tangan Lilian.
"Dan kesalahan kedua lo adalah membuat Sheril marah pagi ini." Lanjut Karin.
Lilian masih tidak melawan meski tangannya mulai memerah karena dipegang kuat oleh kedua tangan Sheril. "Sejak kapan Kak Arion punya pacar? Menurut informasi yang gue dapat, Kak Arion belum memiliki pasangan dan semasih ia belum menentukan siapa pasangannya maka semua orang berhak menyuakainya." Kata Lilian santai.
Emosi Sheril mulai tidak terkendali, ia kemudian mengangkat tangannya berniat menampar Lilian. "Lancang! Gue peringatin lo ya ... Mulai sekarang jauhin Arion dan jangan pernah bermimpi untuk mendekatinya."
Sebelum tangan Sheril menyentuh pipi mulus Lilian. Gadis itu menghempaskan kedua teman Sheril dan menahan tangan Sheril. "Gue peringatkan ... Jika lo berani nyentuh gue maka lo bakalan gue balas dua kali lipat dari yang lo lakuin terhadap gue! Orang macam lo tidak pantas gue hormati!"
Lilian menghempaskan tangan Sheril kuat sehingga gadis itu terdorong ke belakang hingga terjatuh. Lilian kemudian menatap ke sekelilingnya, sudah banyak sekali murid yang menyaksikan keributan itu dan hampur semuanya merekam kejadian tersebut.
"Itu semua juga berlaku kepada kalian! Sebelum kalian mau mencari masalah sama gue ... mending di pikir-pikir dulu!" Ucapan Lilian membuat semua orang bungkan dan tidak berani bersuara.
Lilian kembali menghela napas pelan dan berjalan meninggalkan semua orang.
"Tunggu saja pembalasan dari gue." Teriak Sheril dengan penuh amarah.
Tatapan mata Lilian juga mengisyaratkan jika ada yang berani mencari masalah dengannya maka orang itu harus menanggung perbuatannya.
Sheril semakin marah mengingat Lilian tidak dapat dia kendalikan seperti Siswi-Siswi yang sebelumnya ia tindas. Sheril harus merencanakan hal-hal lain secara matang agar membuat Lilian takut kepadanya.
Sedangkan Lilian sendiri berjalan dengan kesal menuju kelasnya. Padahal dari rumah Lilian sudah menyiapkan banyak rencana untuk mendekati Arion namun mood Lilian memburuk dikarenakan keributan yang dibuat oleh Sheril kepadanya.
Lilian memasuki kelasnya dan menaruh ranselnya dengan asal. Ia perlu menenangkan diri sebentar agar emosinya kembali stabil seperti sebelumnya.
"Tidak tahu aja gue udah pernah ada di posisi hidup dan mati ... Luka gores, luka dalam atau luka apapun udah pernah gue rasain semua. Di posisi hampir matipun pernah, tidak tahu aja otot gue ini udah dilatih Kak Zheyan dan Asgar mati-matian ... Serangan kecil seperti itu nggak bakalan mempan sama gue. Berani mencari masalah sama gue, akan gue keluarin jurus-jurus pedang yang gue bisa." Gumam Lilian sendiri sambil bersedekap dada.
Tidak lama kemudian ketiga teman Lilian datang dengan napas ngos-ngosan dan berlari mendekat ke arah Lilian.
"Kenapa lo semua? Ekspresi lo pada kek dikejar anjing." Kata Lilian dengan raut wajah yang sudah tenang.
"Lo ... Ta ... tadi di sam ... perin Kak Sheril?" Tanya Gladis putus-putus.
"Minum dulu nih ... Ngomong sampai nggak jelas gitu." Lilian menyerahkan sebotol air mineral yang ia bawa dari rumah kepada Gladis.
Ketiga teman Lilian berebut mengambil air ditangan Lilian dan meminumnya bergantian.
"Kalian ini kenapa sih?" Tanya Lilian heran.
"Aduh Lilian nggak penting ada apa dengan kami sekarang! Yang terpenting ceritain ke kita semua kejadian tadi ... Benar Kak Sheril sama teman-temannya tadi nyamperin lo?" Tanya Laura dengan sekali tarikan napas.
"Cepet benar omongan lo kayak rapper." Heran Lilian.
"Jawab Lilian!!" Ucap ketiga teman Lilian kompak.
Lilian menghela napas pelan. "Iya. Tadi mereka samperin gue, tapi sekarang nggak apa-apa kok mereka udah gue beresin." Kata Lilian tenang tanpa beban.
"Yang jelas dikit napa cerita lo? Singkat banget ..." Kesal Laura.
Lilian kembali menghela napas. "Tadi Kak Sheril bareng dua temannya nyariin gue ... Mereka niatnya mau mengingatkan gue buat jauhin Kak Arion tapi gue nggak terima dan nggak mau ngikutin aturan nggak jelas mereka. Singkat cerita kedua temannya pegangin kedua tangan gue, makanya mereh kayak gini." Tunjuk Lilian ke arah tangannya yang memerah.
Ketiga teman Lilian kompak menatap ke arah tangan Lilian yang memerah.
"Udah di obatin belum?" Tanya Meira sambil memeriksa tangan Lilian.
"Belum. Ntar aja sekalian nanti juga jam olahraga." Jawab Lilian.
"Ya ampun Lilian ... Ini seharusnya cepat dikompres biar nggak memar. Warnanya sangat kontras dengan kulit lo yang putih." Khawatir Gladis.
"Nggak apa-apa ini nggak sakit kok." Lilian mencubit kecil tangannya yang memerah.
Ketiga teman Lilian membulatkan mata sempurna melihat kelakuan aneh Lilian.
"Nih anak bar-bar amat ... Tangan memerah bukannya diobatin malah dicubit, heran deh gue." Ujar Laura tak habis pikir dengan kelakuan Lilian.
"Eehh tapi entar dulu ... Bagaimana ceritanya lo bisa lepas dari Geng Mak Lampir? Tuh anak kalau udah ngajak ribut gitu pasti nggak gampang lepasin orang?!" Tanya Meira penasaran.
Lilian menatap ketiga temannya yang meminta jawaban. "Kak Sheril hampir nampar gue ... Tidak tau aja gue punya tenaga extra, dengan mudah gue hempas kedua temannya dan menangkap tangan Kak Sheril. Sebelum pergi gue juga udah peringatkan anak lain agar jangan cari masalah ama gue." Jelas Lilian.
Ketiga teman Lilian hanya melongo mendengar cerita Lilian. Tidak lama kemudian ketiganya kompak menepuk tangan mereka.
"Keren lo Lilian ... Bisa lakuin hal kek gitu." Puji Gladis.
"Tubuh sekecil ini tapi bisa lakuin hal kayak giti? Salut gue." Ucap Meira yang masih menepuk tangannya.
"Ahhhh udahlah ... Nggak usah dibahas. Bentar lagi bel, mendingan ganti baju olahraga saja sekarang. Ayok!" Ajak Lilian yang sudah berdiri dari duduknya.
Ketiga teman Lilian kompak menganggukkan kepala dan berjalan bersama menuju loket mereka masing-masing untuk mengambil seragam olahraganya.
_____________