Lilian

Lilian
Keluarga Arisena



Bukan hanya dada Lilian yang terasa sesak, namun ada seseorang yang hatinya jauh lebih sakit darinya yaitu Efina. Ibu mana yang kuat mendengar anak yang selama ini ia besarkan dengan banyak kasih sayang dimaki di depannya sendiri. Benar, Keira memang bukan Putri kandungannya.


Saat kecil Efina mengangkat Keira sebagai Putri karena merasa kasihan dengan tubuh ringkihnya sedang berbaring lemah di trotoar jalan. Meski saat itu Efina baru menikah dengan Rahadian namun rasa ke Ibuannya tiba-tiba muncul melihat Keira. Karena merasa cocok dan memiliki ikatan batin dengan Keira, Efina akhirnya mengangkat Keira menjadi Putri pertamanya.


Meski Keira adalah Putri angkatnya namun Efina tidak terima jika ada orang lain yang mengatakan jikalau Keira hanyalah anak pungut. Efina membesarkan dan menyayangi Keira sama besar dengan kasih sayang yang diberikan kepada Lilian. Itu sebabnya kedua Putrinya sangat menyayangi satu sama lain.


Keira selalu menjadi sosok anak pertama yang akan selalu menjaga adiknya, terlebih lagi Keira tumbuh menjadi anak yang sangat baik dan sopan kepada Efina dan Rahadian. Bagi keduanya tidak ada kata anak angkat dan anak kandung bagi kedua Putrinya. Yang mereka tahu jikalau keduanya adalah Putri yang harus selalu mereka lindungi.


Rahadian pun merasa tidak terima jikalau ada orang yang menyebut Keira sebagai anak angkatnya. "Keira adalah anak kami Pah ... Siapapun tidak bisa mengubah fakta itu." Ucap Rahadian tegas.


"Dia memang Putri mu namun bukan Cucu ku!! Keturunan Arisena!!" Ucap Papa Efina.


"Dia tidak membutuhkan marga Arisena!! Kedua Putri ku tidak harus menyandang marga Arisena dibelakang namanya!! Mereka masih memiliki sosok Ayah yang akan selalu melindungi mereka dan memenuhi kebutuhan mereka!!" Efina berteriak nyalang setelah mendengar ucapan Papanya.


"Kalian mungkin tidak membutuhkannya namun tidak untuk Cucu ku!!" Kata Papa Efina tegas.


Efina langsung menarik tangan Lilian ke dekatnya dan memegang tangan Putrinya dengan sangat erat. "Dia adalah Putri ku! Aku yang telah melahirkan serta membesarkannya sendiri dengan kedua tangan ku ... Meski aku harus kembali terusir dan selamanya tidak di anggap sebagai anak ... Aku tidak akan pernah melepaskan Putri ku." Air mata Efina akhirnya membasahi kedua pipinya.


"EFINA!!" Suara Papa Efina menggema diseluruh ruang keluarga.


"Cukup Pah! Mereka adalah Istri dan Anak ku! Siapapun itu termasuk Papa tidak berhak mengambilnya dari ku!" Kata Rahadian tegas.


"Diam kau Rahadian! Kau selama ini telah membawa pergi adik ku dan menyembunyikan keberadaannya ... Hari ini bukannya datang untuk minta maaf kau malah membuat semuanya tambah runyam." Kali ini Abraham yang mengeluarkan suara.


Abraham adalah anak kedua dari Mahatama Arisena (Kakek Lilian), Sejak tadi ia hanya diam dan mendengarkan. Namun Abraham baru bersuara setelah Rahadian mengatakan kepemilikannya sendiri terhadap Efina dan Lilian.


"Apanya yang runyam Bang?" Tanya Efina menatap langsung mata Abraham. "Jika kalian lupa maka akan aku ingatkan kembali!! Hari itu ... Sehari setelah hari pernikahan ku, kami datang meminta restu ... Namun apa yang terjadi pada hari itu? Kalian malah memukul Suami ku dan mengatakan aku bukanlah anggota dari keluarga besar Arisena!!" Efina meluapkan semua emosi yang selama ini ia simpan di dalam hatinya.


Tubuh Efina bergetar lalu matanya menatap kesamping Putrinya yang entah sejak kapan sudah menangis. Hati Efina ikut merasakan sakit melihat keadaan Putrinya sekarang. Niatnya Efina akan berbicara baik-baik kepada Papanya namun diluar dugaan Tama malah membahas tentang Keira yang membuat suasana menjadi tidak terkendali.


Bukan hal ini yang di inginkan oleh Rahadian dan Efina. Keduanya sangat ingin berbicara pelan-pelan kepada Putrinya mengenai asal-usul mereka. Namun semuanya sudah tidak terkendali, Rahadian dan Efiana merasa takut dengan keadaan mental Lilian sekarang. Putrinya masih terlalu kecil jika harus menerima semua tekanan dari keluarganya.


Zoya, Ibu dari Rein dapat memahami perasaan yang dirasakan oleh Efina saat ini. Untuk itu Zoya menyuruh anaknya Rein agar membawa Lilian pergi sedikit menjauh.


"Rein bawa Lilian pergi melihat mension ini!" Ucap Zoya dengan memberi kode kepada Putranya itu.


"Kenapa Lilian harus pergi? Biarkan ia tetap di sini dan melihat semua kejadian ini ... Cepat ataupun lambat Lilian akan mengetahui jikalau dalam darahnya mengalir darah Arisena." Ucap Tama sinis.


"Pah ... Biarkan Lilian pergi! Masalah ini tidak perlu melibatkan mereka. Biarkan Rahadian dan Efina sendiri yang menjelaskannya kepada Lilian nanti ... Mereka masih kecil dan belum paham dengan situasi saat ini." Ucap Hans, Ayah dari Rein.


Tama tidak lagi membantah, Ia membiarkan Lilian serta saudaranya yang lain untuk meninggalkan mereka di ruang keluarga. Anak-anak itu tidak perlu mendapatkan banyak tekanan lagi dan sebaiknya mereka pergi.


Setelah menerima persetujuan dari banyak orang, Rein dan dua anak lelaki lain membawa Lilian agar pergi menjauh. Biarkan para orang tua menyelesaikan masalah yang sudah sejak lama belum terselesaikan.


________________


Keluarga Arisena


Kepala keluarga atau orang tertua keluarga Arisena saat ini adalah Mahatama (Kakek Lilian), ia memiliki seorang Istri bernama Marina (Nenek Lilian). Keduanya memiliki ketiga anak, dua anak laki-laki dan seorang anak perempuan.


Anak pertama bernama Hans Arisena dan memiliki Istri bernama Zoya Arisena. Keduanya memiliki seorang anak laki-laki yang bernama Rein. Anak kedua bernama Abraham dan memiliki istri bernama Calista, keduanya memiliki anak laki-laki kembar bernama Daren dan Diran yang umurnya masih empat belas tahun. Anak ketiga adalah Efina Arisena, Putri satu-satunya yang di miliki oleh keluarga Arisena.


Sejak kecil Efina sangat di sayang oleh kedua orang tua serta kedua Kakaknya. Efina hanya tinggal menyebut apa yang ia inginkan maka kedua orang tua serta kedua Kakaknya akan berusaha memenuhinya.


Terlahir sebagai satu-satunya anak perempuan membuat Efina sangat manja. Dari ketiga anak Mahatama hanya Hans saja yang menurunkan warna mata khas keturuanan Arisena dan hal itu pula yang membuatnya diangkat menjadi penerus keluarga Arisena selanjutnya.


Hans diangkat sebagai penerus keluarga bukan berarti kedua adiknya tidak mendapat apa-apa dari usaha keluarga. Adik keduanya Abraham mengelolah semua cabang hotel milik keluarga Arisena baik itu dalam negri maupun luar negri. Hak itu diberikan berdasarkan pertimbangan serta keahlinya dalam mengelola perhotelan.


Efina sendiri sangat menyukai dunia kuliner, sejak kecil ia sangat suka bermain masak-masak. Rasa suka itu tumbuh menjadi kebiasaan sehingga Efina memiliki bakat dalam dunia kuliner. Itu sebabnya Efina mendapat hak untuk mengelolah semua restaurant yang dimiliki oleh keluarga Arisena.


Pada saat awal-awal kehamilan Zoya, Istri Abang pertama Efina selalu saja ngidam makanan jajanan pasar sehingga Efina lah yang selalu memenuhi permintaannya itu.


Hingga suatu hari, saat Efina sedang mencari makanan yang di ingkan oleh Zoya, ia secara tidak sengaja bertemu dengan Rahadian yang saat itu sedang berkerja paruh waktu disalah satu toko yang lumayan besar.


Awal pertama bertemu, Efina langsung jatuh hati kepada Rahadian. Bukan saja ahli dalam menangani pelanggan, namun Rahadian menyempatkan waktu luangnya untuk belajar. Mulai saat itu, Efina selalu saja pergi ke pasar dengan alasan mencari makanan yang diinginkan oleh Zoya.


Efina kala itu masih menyandang gelar mahasiswa tingkat akhir sama seperti Rahadian yang juga sebentar lagi akan meninggalkan gelar itu dan muncul gelar baru dibelakang namanya.


Karena tampilan Efina yang cantik dan sangat baik, Rahadian pun juga langsung jatuh hati kepadanya. Hubungan mereka pun berubah seiring berjalan waktu dari penjaga toko dan pembeli menjadi teman dan berlanjut menjadi kekasih.


Hari-hari yang keduanya lewati sangat indah hingga hari dimana mereka berdua sama-sama wisudah dikampus yang berbeda. Efina kuliah di salah satu kampus elit sedangkan Rahadian kuliah di salah satu kampus negri biasa dengan bantuan beasiswa.


Setelah keduanya selesai wisudah, Rahadian melamar pekerjaan dengan nilai terbaik yang ia dapatkan ke salah satu perusahaan besar yaitu Ganendra grup dan langsung diterima sebagai karyawan magang selama tiga bulan.


Karena paras Rahadian yang tampan, banyak sekali para wanita yang berusaha mendekatinya dan hal itu selalu saja membuat Efina merasa sangat cemburu. Efina selalu meminta kepada Rahadian agar ia segera melamarnya kepada Papanya Tama, namun Rahadian selalu saja merasa kecil. Efina terlahir dari keluarga yang memiliki status sosial tinggi sedangkan ia hanyalah seorang anak yang harus berjuang hidup sendiri setelah kematian kedua orang tuanya.


Hal itu membuat Efina marah dan memutuskan untuk tidak menemui Rahadian selama seminggu. Karena Rahadian sangat mencintai Efina, ia akhirnya menyetujui keinginan kekasihnya itu. Namun apa yang menjadi kekhawatiran Rahadian terjadi.


Tama Papa dari Efina sangat menentang keras hubungan keduanya. Tama merasa jikalau Putrinya terlahir dengan banyak bergelimangan harta serta memiliki karakter manja, bagaimana bisa Rahadian memenuhi kebutuhan Putrinya itu. Rahadian hanyalah seorang karyawan magang dan tidak memiliki apapun untuk dijadikan alasan untuk Tama menerimanya sebagai menantu.


Tama merasa jikalau Rahadian hanya memanfaatkan Putrinya untuk menaikan statusnya. Hari dimana Rahadian pertama kali menemui Tama, ia langsung di usir dan tidak di ijinkan memasuki mension-nya lagi. Hal itu membuat Efina mengurung diri di kamar dan tidak ingin makan apapun.


Meski tubuh Efina sudah sangat lemah, namun Tama masih pada keputusan awalnya. Efina akhirnya memberanikan diri kabur dari mension-nya dan pergi mencari keberadaan Rahadian.


Setelah bertemu, Efina memaksa Rahadian untuk segera menikahinya karena menurut Efina Papanya akan merestui hubungan keduanya jikalau mereka sudah terlanjur menikah.


Agar tidak ada orang yang mengganggu keduanya dalam melangsungkan acara pernikahan, keduanya sepakat agar menikah dengan bantuan beberapa saksi dari teman Efina dan Rahadian. Hingga kata sah mengikat keduanya menjadi sepasang suami dan istri.


Sehari setelah pernikahannya, Efina dan Rahadian bersama menuju mension keluarga Arisena. Namun sebelum keduanya memasuki halaman mension, beberapa pelayan keluarga Arisena keluar dan melempar semua barang-barang dari Efina.


Tama mengusir Efina pergi menjauhi keluargannya dan akan mencabut haknya sebagai anak dari keluarga Arisena. Tama begitu marah saat mengetahui Efina pergi memilih laki-laki yang baru ia kenal ketimbang keluarga yang selama ini membesarkannya dengan penuh kasih sayang.


Tama bahkan memukul Rahadian sampai lelaki itu tidak lagi bergerak. Efina baru merasakan dunianya telah runtuh setelah Tama dengan sangat tegas mengusirnya langsung dan tidak lagi menganggapnya sebai anak lagi.


Dengan penuh linangan air mata, Efina pergi bersama Rahadian setelah Suaminya itu sadar. Efina bahkan tidak mengambil satupun barang yang tadi pelayannya bawa keluar, Efina merasa tidak pantas lagi memakai barang-barang hasil dari orang yang sudah tidak lagi menganggapnya ada.


Setelah hari itu, Efina hanya duduk terdiam tanpa berbicara sepatah kata pun pada Rahadian setiap harinya. Sesekali ia menangis tanpa bersuara agar Rahadian tidak lagi menghawatirkannya. Namun Rahadian selalu saja mengetahui apa yang dirasakan oleh Efina, sehingga Rahadian berjanji dalam hatinya akan membuat Efina bahagia dan tidak merasa kekurangan sedikit pun kasih sayang.


Setelah sebulan magang, Rahadian dipindahkan kerja di Kota lain sehingga membuatnya harus membawa Efina bersamanya. Diperjalanan ke Kota itu, Efina menemukan Keira sedang terbaring tidak berdaya disebuah trotoar pinggir jalan. Efina merasa Keira mirip dengannya namun Efina masih memiliki Rahadian disampingnya sedangkan Keira tidak memiliki siapapun di dekatnya. Efina akhirnya memutuskan untuk membawa Keira pergi bersamanya setelah ia mendapat persetujuan dari Rahadian.


Sedangkan ditempat lain, Tama menyesal telah mengusir Putrinya pergi setelah ia melihat ada banyak sekali kenangan yang Putrinya itu tinggalkan. Hati Tama bagai teriris pisau melihat barang-barang yang sengaja ia pilih tidak ada satupun yang Efina bawa.


Tama sengaja menyuruh pelayan membawa barang-barang mahal milik Efina dan melemparnya didepan Putrinya itu. Tama berharap Putrinya menjual barang-barang itu dan uangnya bisa ia bangun usaha sebagai modal awalnya. Namun ekspetasi tidak sesuai dengan realita. Jangankan untuk menjualnya, membawa pun tidak.


Tama akhirnya memutuskan untuk mencari kembali keberadaan Putrinya. Ia akan dengan senang hati menerima Rahadian masuk ke dalam keluarganya asal Efina bahagia. Namun pencariannya tidak membuahkan hasil, setiap tempat atau setiap sudut wilayah Jakarta sudah Tama telusuri namun belum juga ada kabar tentang Putrinya itu.


Tama bahkan sampai tidak makan berhari-hari karena merasa bersalah telah mengusir Putrinya pergi. Kedua Abang Efina juga ikut membantu pencarian namun keberadaan Efina masih saja belum ditemukan.


Setiap tahun mereka selalu mendapat informasi tentang keberadaan Efina namun mereka selalu datang terlambat dikarenakan Efina selalu saja pindah setelah mereka datang. Efina bahkan selalu pergi tanpa meninggalkan jejak sehingga membuat pencariannya menjadi susah.


Belasan tahun pun lewat, Tama beserta keluaga Arisena masih saja mencari keberadaan Efina namun tidak ada satupun petunjuk yang mengarah kepada pencarian mereka. Sehingga suatu hari sebuah rumah sakit yang letaknya di Bandung menginformasikan pasien atas nama Lilian Caroline Rahadian sedang dirawat disana.


Dengan langkah cepat Tama langsung mengerahkan team pencarian untuk mengecek kebenarannya. Tama akhirnya mendapat laporan jikalau pasien itu adalah Cucunya anak dari Efina. Namun selain informasi tentang Lilian, informasi tentang Keira pun ikut bersama berkas tentang Lilian.


Tama sangat ingin menemui Efina namun kabar lain datang lagi dari informan milik Tama yang mengatakan jikalau Efina akan kembali pindah ke Jakarta dan akan menetap disana. Tama akhirnya harus kembali menunggu sampai Putrinya itu benar-benar kembali pulang setelah belasan tahun pergi.


_______________________