
Lilian sebisa mungkin menghindari serangan pisau lipat yang di arahkan oleh Audry ke arahnya secara membabi buta. Untung saja gerakan Audry tidak terlatih sehingga membuat Lilian dapat menghindar dengan mudah di ruangan yang penuh dengan hiasan cafe.
Audry benar-benar marah saat Lilian berhasil menampar kedua pipinya di hadapan semua orang Sehingga membuat gadis itu sangat ingin menundukkan Lilian secepatnya.
Sayangnya kali ini Audry harus berusaha lebih keras lagi lantaran Lilian adalah seorang gadis yang memiliki kemampuan bela diri yang cukup untuk melindungi dirinya sendiri. Pisau lipat yang Audry gunakan untuk menyerang Lilian sejak tadi tidak dapat menggores sedikit pun kulit mulus yang gadis itu miliki.
Audry lebih terlihat seperti orang bodoh yang sedang mengamuk. Amarahnya kian membara lantaran sebesar apapun usaha yang Audry lakukan tetap saja tidak dapat menggores atau melukai Lilian.
"Sini lo!!" Ucap Audry dengan napas ngos-ngsosan.
"Hanya bermodalkan kedudukan yang dimiliki oleh orang lain namun dapat membuat mu menjadi buta dan serakah! Sebaiknya lo cepat meminta maaf secara tulus kepada orang-orang yang pernah lo bully." Kata Lilian menasehati.
"DIEM DEH LO!! JANGAN SOK SUCI!!" Pekik Audry keras kemudian kembali menyerang Lilian.
Tidak ingin membuang waktu lebih lama lagi, Lilian akhirnya menahan sebelah lengan Audry kemudian merampas pisau lipat yang sejak tadi Audry gunakan untuk menyerang ke arah Lilian.
PLAAAKKK ....
Kembali Lilian menampar pipi Audry dengan sangat keras. Sebelah tangan Lilian ia gunakan untuk menarik kerah baju yang Audry kenakan kemudian menariknya secara paksa untuk keluar dari dalam cafe.
"Gue pastikan lo akan menyesal karena telah melakukan hal ini pada gue!" Kesal Audry yang mencoba melepaskan diri dari Lilian.
Sayangnya Lilian memiliki tenaga yang cukup kuat meski ia memiliki tubuh yang mungil. Walaupun sedikit kesulitan namun Lilian berhasil mendorong keluar tubuh Audry dari dalam cafe.
"Gue lebih suka lawan lo dari luar sini." Kata Lilian dengan tatapan tajamnya.
"Ok ... Gue ladenin lo." Ucap Audry yang tidak mau mengalah.
Keduanya sama-sama melangkah maju untuk menyerang satu sama lain. Sebesar apapun Audry berusaha menangkap Lilian namun tetap saja usahanya selalu gagal. Lilian juga sedang menunggu Audry kehabisan tenaga sehingga jika nanti Lilian menyerang, lawannya sudah tidak dapat lagi menghindar darinya.
Tidak lama kemudian, setelah menyerang Lilian secara membabi buta. Audry akhirnya kehabisan tenaga hingga akhirnya terduduk dengan lemas. Lilian menggunakan kesempatan itu untuk mrnyerang Audry, kakinya melangkah maju kemudian Lilian dengan sengaja menginjak kaki Audry dengan sangat keras.
Sebelah kaki Lilian yang bebas ia gunakan untuk menginjak tangan Audry sehingga gadis itu tidak dapat bergerak lagi dan hanya bisa berteriak dengan sangat keras.
"Awww ... Lepasin tangan dan kaki gue!!" Pekik Audry keras kemudian ia memukul kaki Lilian dengan sisa tenaga yang ia miliki.
Lilian hanya tersenyum sinis melihat Audry berada dalam posisi yang sulit. Lilian benar-benar ingin meberi Audry pelajaran yang tidak akan pernah ia lupakan sehingga untuk ke depannya ia akan berpikir dua kali jika ingin membully orang lain.
Audry mulai kehabisan tenaga dalam mengahadapi Lilian. Tangan dan kakinya semakin merasakan kesakitan saat Lilian semakin menekan kedua kakinya itu. Tidak mau mengaku kalah, Audry langsung menggigit kaki Lilian yang menginjak tangannya.
Lilian sedikit meringis saat merasakan kakinya di gigit oleh Audry. Tangan Lilian meraih rambut panjang Audry kemudian menariknya ke belakang dengan keras hingga Audry harus melepaskan gigitannya dan mendongak ke atas menatap wajah cantik Lilian.
"Lo benar-benar tidak mau mengalah rupanya." Ucap Lilian dengan tajam.
***PLAAAAKKK ...
PLAAAKKK ...
PLAAAKK*** ...
Terdengar jelas suara tamparan Lilian yang bigitu keras pada kedua pipi Audry bergantian. Merasa Audry tidak lagi melawan, Lilian akhirnya melepaskan tangannya dari rambut Audry kemudian melepaskan kakinya yang menginjak tangan dan kakinya Audry.
Audry benar-benar tidak dapat lagi melawan Lillian. Tenaganya sudah terkuras habis, belum lagi kedua pipinya yang sejak tadi selalu menjadi sasaran dari tangan Lilian. Tubuh Audry terkulai lemas di atas tanah dan sudah tidak mempunyai tenaga untuk melawan Lilian.
Lilian sendiri mengalihkan pandangannya ke dalam cafe melihat situasi yang di hadapi oleh ketiga temannya. Langkah kakinya kembali memasuki cafe kemudian berjalan mendekat ke arah Gladis dan Sheril yang masih saja menjabak rambut satu sama lain.
Tangan Lilian meraih rambut Sheri kemudian menariknya dengan sangat kencang.
"Awww ... Awww ... Sakit!! Maaamaaa sakiit!" Tangis Sheril pecah saat merasakan rambutnya ditarik paksa oleh seseorang.
Lilian menarik rambut Sheril dengan kencang dan berjalan keluar cafe. Setelah berhasil mengeluarkan Sheril, Lilian langsung mendorong Sheril hingga terjatuh. Tangis Sheril pecah sambil memegang kepalanya yang terasa sangat kesakitan.
Lilian kembali mengalihkan pandanganya ke dalam cafe, terlihat ketiga temannya menggiring dua teman dari Sheril untuk keluar dari dalam cafe tersebut kemudian mereka mendorongnya hingga terjatuh di dekat Sheril dan Audry.
"Beraninya kalian semua melakukan hal ini pada kami! Ingat kalau gue adalah Putri satu-satunya dari Triadi Grup ... Kalian akan mendapatkan hukuman yang setimpal setelah hari ini." Pekik Sheril keras sambil menangis histeris.
"Gue pastiin kalau lo semua bakalan hengkang dari sekolah dan nggak akan ada sekolah yang sudi menerima kalian lagi. Gue ingin masa depan kalian hancur tidak tersisa!" Kata Audry dengan sisa tenaganya.
"Gue tunggu hari itu tiba." Kata Lilian dengan tatapan datar.
"Cabut." Ajak Lilian kepada ketiga temannya.
Setelah mengambil dan membayar pesanan masing-masing, Lilian dan ketiga temannya langsung meninggalkan cafe dan ke empat orang yang masih saja terduduk kesakitan di atas tanah depan cafe.
____________
"Awww ..." Pekik Laura kesakitan saat merasakan rasa panas dari obat merah menyentuh kulit mulusnya.
Selain saling menjambak dengan Naomi, Laura juga saling menyakar satu sama lain. Beruntungnya cakaran Naomi tidak mengenai wajah dari Laura dan hanya mengenai kexua tangannya saja.
"Maafin gue ya teman-teman. Gara-gara gue, kalian jadi sampai luka begini." Kata Lilian merasa bersalah.
"Lo ngomong apasih. Kita ini berteman, tentu saja sebagai teman kita wajib membantu lo." Kata Gladis sambil mengomores kepalanya dengan es.
"Gimana dengan kepala lo? Apa masih sakit?" Tanya Lilian kepada Gladis.
"Masih sih ... Cuman sekarang udah agak mendingan. Tenaga Mak Lampir itu benar-benar nggak ada habisnya ... Kepala gue terasa panas tahu saat dia menarik rambut gue. Beruntung saja Lilian datang dan membantu gue terlepas darinya." Kata Gladis ngeri.
Lilian semakin merasa bersalah dengan kejadian yang harus teman-temannya alamai. Pandangannya kini beralih ke arah Meira yang juga sedang mengobati tangannya.
"Gimana dengan lo meira?" Tanya Lilian.
"Santai ... Hanya ke gores dikit aja kok. Gue selalu berhasil menghindari serangan dari Karin bar-bar itu." Ucapnya sambil tersenyum.
Lilian terlihat menghela napas pelan melihat luka yang di dapatkan oleh ketiga temannya. Saat ini ke empat gadis itu sedang berada di rumahnya Laura untuk mengobati luka masing-masing.
Kedua orang tua dari Laura selalu saja sibuk berkerja dan jarang berada di rumah. Itu alasannya mengapa mereka sekarang memilih berada dirumahnya Laura.
"Lo jangan hanya khawatirin kita. Bagaimana dengan kondisi lo sendiri?" Tanya Gladis.
"Gue nggak apa-apa kok ... Hanya sedikit kesakitan di area kepala. Tadi Kak Audry narik rambut gue kencang banget." Kata Lilian jujur.
"Makasih ya ... Kalian baik banget ama gue." Kata Lilian dengan nada pelan.
"Lilian kita ini bukan hanya sekedar teman ... Namun kita ini adalah sahabat. Dalam persahabatan tidak perlu ada kata terima kasih." Ucap Meira dengan wajah cerianya.
"Betul itu ... Kita ini adalah sahabat." Setuju Laura.
"Sahabat selamanya!" Sorak Gladis dengan senyuman mengembang.
Lilian sangat beruntung bisa menjadi sahabat dari Laura, Gladis, dan Meira. Ketiga temannya itu selalu saja mendukung serta memahami apa yang Lilian inginkan. Senyuman ketiga temannya itu membuat hati Lilian semakin tenang.
"Jika nanti kita di keluarkan dari Florenzo School maka kita harus tetap barengan." Ujar Gladis tiba-tiba.
"Oh iya ... Kita akan mencari sekolah yang tidak ada orang semacam Mak Lampir dan teman-temannya. Kita akan menjalani kehidupan masa remaja yang bahagia dan tenang." Kata Meira dengan senyum mengembang.
"Tapiiii ... Kak Audry bilang kalau kita juga tidak akan bisa di terima dengan mudah oleh sekolah lain." Ucap Laura lesu.
"Kalian semua tenang aja ... Masalah ini berawal dari gue ... Maka gue akan bertanggung jawab atas masalah ini." Kata Lilian dengan raut wajah serius.
"Nggak bisa! Kita semua udah terlibat ... Jadi masalahnya kita tanggung bersama." Tegas Meira.
"Benar itu ... Jika di keluarkan maka kita akan di keluarkan bersama." Kata Laura lagi.
"Benar itu ... Gue setuju sama Meira dan Laura." Ucap Gladis.
Lilian kembali menghela napas pelan, baginya masalah ini disebabkan olehnya maka ia memiliki tanggung jawab untuk melindungi ketiga temannya itu. Lilian tidak ingin masalah yang berasal darinya mempengaruhi masa depan dari ketiga temannya itu. Hingga Lilian berpikir akan ada baiknya jika masalah itu ia tanggung sendiri.
"Kalian semua tenang aja ... Meski gue nggak yakin namun gue akan tetap berusaha agar kita semua tidak di keluarkan." Kata Lilian.
"Bagaimana caranya?" Tanya Gladis.
"Itu masih gue pikirkan namun gue bakal usahain agar kita nggak akan di keluarkan." Kata Lilian dengan raut wajah seriusnya.
"Yang kita singgung adalah Putri tunggal dari pemilik perusahan Triadi Grup. Belum lagi Kak Audry yang memiliki hubungan dengan Ganendra Grup salah satu perusahaan raksasa. Meski perusahan Kak Naomi dan Kak Karin terbilang menengah namun tetap saja dapat mempengaruhi masalah ini." Jelas Laura.
"Kita berada dalam posisi menegah semua ... Untuk melawan mereka setidaknya kita punya satu dukungan dari keluarga yang memiliki kedudukan tinggi." Kata Meira.
"Jika kita mendapat dukungan dari keluarga Arisena apakah posisi kita akan tetap aman?" Tanya Lilian penasaran.
Ketiga teman Lilian kompak menatap Lilian dengan tatapan kaget. "Jangan bilang lo mau minta bantuan dari Kak Rein?" Tanya Meira.
"Keluarga Arisena sangat sulit di dekati ... Mereka tidak akan membantu masalah kita jika tidak ada hubungannya dengan mereka sendiri." Jelas Gladis.
"Jawab saja pertanyaan gue ... Jika mendapat dukungan dari mereka apakah posisi kita akan tetap aman?" Tanya Lilian lagi.
Dengan tatapan ragu Laura menganggukkan kepalanya. "Tentu saja ... Kedudukan dari keluarga Arisena sama dengan kedudukan keluarga Ganendra. Mereka sama-sama dari perusahaan raksasa. Bisnis dan usaha mereka tersebar di semua pelosok negri. Menyinggung mereka sama saja mengantar diri nyawa." Jelasnya.
Lilian langsung berdiri dari duduknya setelah mendengar penjelasan dari Laura. Dengan cepat Lilian maraih tasnya dan berniat segera pulang secepat mungkin.
"Lo mau kemana?" Tanya Meira yang bingung.
"Jangan bilang lo mau minta bantuan dari Kak Rein?" Tanya Laura curiga.
"Gue harus secepatnya pulang ... Masalah ini serahin sama ama gue." Ucap Lilian lalu dengan cepat meninggalkan teman-temannya.
"Lilian ..." Panggilan dari ketiga temannya secafa bergantian.
Lilian sudah tidak dapat mendengar panggilan dari ketiga temannya setelah berhasil keluar dari rumahnnya Laura. Ia melajukan motornya dengan kecepatan tinggi agar secepatnya sampai di rumah.
Dengan tidak sabaran Lilian membunyikan klakson motornya berkali-kali agar penjaga keamanan rumahnya segera membukakannya pintu. Setelah memarkirkan motor matic-nya Lilian langsung berlari dengan tegesa-gesa dan membuka pintu utama rumahnya dengan paksa.
"Bi Marni, Mama sudah pulang?" Tanya Lilian kepada Bi Marni yang berpapasan dengannya.
"Sudah Non ... Sekarang lagi di ruang kekuarga bersama Tuan dan Non Keira." Jawab Bi Marni.
Setelah mendengar jawaban dari Bi Marni, Lilian langsung berlari menuju ruang keluarga untuk menemui Efina, Mama-nya.
"Mama, bantu Lilian." Kata Lilian tanpa basa-basi lagi.
Menurut Lilian masalah yang sedang ia hadapi saat ini cukup rumit, jika hanya melibatkan dirinya saja maka ia tidak akan sekhawatir ini namun masalahnya kali ini harus melibatkan ketiga temannya yang sudah sangat baik kepadanya.
Tatapan mata Efina membulat menatap tampilan Putrinya saat ini. Lilian terlihat kusut dengan rambut acak-acakan. Spontan Efina berdiri dari duduknya dan menghampiri Putrinya itu.
"Apa yang telah terjadi padamu? Mengapa tampilan mu acak-acakan begini?" Tanya Efina khawatir sambil membelai kepala Lilian pelan.
"Aww ..." Pekik Lilian kesakitan.
Efina kembali membulatkan mata sempurna melihat rambut Putrinya yang rontok ditangannya. "Apa yang terjadi Lilian? Mrngapa rambut mu rontok begini? Ada yang telah menyakiti mu?" Tanya Efina beruntun.
Efina sangat panik melihat rambut Putrinya yang rontok, semasa hidupnya Efina membesarkan kedua Putrinya dengan sangat hati-hati. Kedua Putrinya bagaikan cangkang telur yang jika tidak hati-hati merawatnya maka akan pecah.
"Bantu Lilian Mama." Kata Lilian lagi dengan sorot mata sendu.
"Apa? Apa? Yang bisa Mama bantu?" Tanya Efina cepat.
"Biarkan Lilian duduk dulu Mah ... Ia harus lebih tenang dulu agar bisa menceritakan sesuatu yang ia alami." Usul Keira.
Efina langsung menarik tangan Lilian dengan pelan kemudian mendudukkan Putrinya itu di sebelah Rahadian.
"Ceritakan apa yang terjadi?" Tanya Efina pelan sambil mengelus tangan Putrinya pelan.
Lilian menatap Efina, Rahadian dan Keira ragu. Namun ia harus tetap menceritakan kejadian yang sebelumnya ia alamj jika ia masih menginginkan sahabat-sahabatnya tetap pada posisi aman.
______________
Sebenarnya mau UP bab ini tadi malam ... Hanya saja jaringan tidak bisa Author kondisikan, terpaksa UP paginya.
Semoga suka ya ... Jangan lupa tinggalkan jejak untuk menyemangati Author.