
Arion sejak tadi tidak pernah mengalihkan pandangannya ke arah lain. Kedua bola mata itu tetap fokus menatap seorang gadis yang sejak tadi duduk diam di dekat Rein.
Beberapa waktu yang lalu, Arion begitu kaget melihat Rein yang dengan terang-terangan menggenggam erat tangan Lilian di depan banyak orang. Rein bahkan tidak membiarkan gadis itu berada jauh darinya, seakan Lilian adalah barang yang sangat langka dan mahal yang harus setiap saat Rein jaga.
Hari ini adalah hari pertemuan besar antar murid dari berbagai sekolah yang berada di wilayah Jakarta. Setiap setahun sekali mereka selalu mengadakan acara-acara besar secara random setiap tahunnya. Setiap pertemuan, mereka akan mengadakan kompetisi dengan hadiah yang cukup besar pada tiap kali acara itu di adakan. Misalnya seperti hari ini, setelah memungut suara terbanyak, balapan antar sekolah menjadi pilihan terbanyak yang di pilih oleh semua murid.
Sebelumnya kompetisi itu telah di umumkan dari seminggu yang lalu agar setiap peserta yang sudah mendaftarkan diri dapat mempersiapkan diri. Sama seperti tahun-tahun sebelumnya jikalau Arion sama sekali tidak berniat untuk ikut andil dalam kompetisi itu, Rein akan selalu maju menjadi perwakilan dari Geng Andromeda untuk mengikuti kompetisi tersebut.
Sejak tadi anggota Geng Andromeda beserta teman-teman lain dari Florenzo School yang ikut bergabung dalam acara tersebut sibuk mempersiapkan strategi agar Rein dapat menang. Meski Rein adalah orang yang memiliki skill bagus namun ia tetap menerima pendapat dari orang lain.
Arion yang sejak tadi hanya duduk diam berjalan mendekat ke arah teman-temannya sedang berkumpul. "Hari ini gue yang maju." Ucapnya dengan nada datar.
Semua orang kompak berbalik dan melongo tidak percaya mendengar ucapan Arion barusan.
"Lo yang maju? Gue nggak salah dengarkan?" Tanya Mario memastikan.
"Hmmm." Gumam Arion pelan namun matanya tertuju ke arah Lilian.
"Tunggu ... Tunggu ... Kenapa tiba-tiba kali ini lo mau maju?" Tanya Rein penasaran.
Arion tetap tidak mengalihkan pandangannya ke arah Lilian. "Pengen aja." Ucapnya masih dengan nada datarnya.
Seorang gadis tiba-tiba datang dan langsung memeluk Arion dari belakang. "Gue senang banget akhirnya lo mau juga ikut kompetisi ini ... Kita bisa melakukannya bersama dan gue yakin kita pasti menang." Ucap Sheril senang.
Lilian yang sejak tadi hanya diam langsung bangun dari duduknya kemudian melepas tangan Sheril yang melingkar di pinggang Arion.
"Nggak bisa!" Ketus Lilian kemudian menarik tangan Arion agar berada di dekatnya.
Semua orang bertambah bingung dengan kelakuan Lilian. Baru saja Lilian terlihat dekat dengan Rein namun sekarang ia terlihat tidak suka jika Sheril mendekati Arion.
"Ehhh emangnya lo siapa? Lo bukannya datang bareng Rein? Jangan kega**lan ya jadi cewek ... Masa satu cowok nggak bisa muasin lo?" Kata Sheril mulai marah saat melihat Lilian yang menggenggam erat tangan Arion.
"Gue emang datang bareng Kak Rein ... Namun bukan berarti lo juga bisa bareng dia." Ucap Lilian sambil menatap ke arah Arion yang juga menatapnya heran.
Sebenarnya sejak tadi Lilian sudah menyadari kalau Arion selalu menatap ke arahnya dengan tajam namun ia berpura-pura bertingkah jikalau dia tidak menyadarinya sama sekali. Lilian memang terlihat cuek dan selalu merasa kesal tiap kali di dekat Arion, namun ia tidak bisa membohongi perasaannya sendiri jikalau ia memang masih mencintai Arion.
Maka dari itu saat ia melihat Sheril tiba-tiba datang dan langsung memeluk Arion membuat Lilian merasa cemburu. Lilian tidak rela melihat Arion berpelukan dengan wanita lain meski yang terjadi orang lain lah yang memeluknya.
"Emangnya lo siapa-nya Arion? Lo nggak punya hak buat larang gue buat ikut kompetisi itu." Kata Sheril dengan dada yang mulai naik turun karena marah.
"Memangnya harus jadi siapa-siapanya dulu baru bisa ngelarang?" Kata Lilian tidak mau mengalah.
"Lilian ..." Panggil Rein ragu. "Lo kayaknya juga nggak bisa ikut deh." Lanjutnya.
Lilian mengalihkan pandangannya ke arah Rein. "Kenapa nggak bisa?" Tanyanya.
"Gue udah janji sama Nyokap lo buat selalu jagain lo. Kalau lo kenapa-kenapa ntar gue yang di jadiin sate sama Tante Efina." Kata Rein serius.
"Tuh dengerin kata cowok lo." Ejek Sheril merasa sudah menang dari Lilian.
Lilian membuang napas kasar. "Dia bukan cowok gue! Kak Rein adalah ..." Kata-kata Lilian terhenti saat seseorang yang sejak tadi hanya diam mengeluarkan suaranya.
"Gue bareng Lilian." Kata Arion masih dengan tampang datarnya.
Semua orang yang berada disana kembali membulatkan matanya mendengar ucapan Arion. Sungguh mereka tidak menyangka Arion memilih Lilian secara langsung untuk di jadikan sebagai pasangan kompetisi nya.
"Tapi Arion ..." Ucap Sheril tidak terima.
Arion sendiri sudah tidak ingin mendengar kata-kata apapun dari semua orang. Ia kemudian menarik tangan Lilian dan berjalan menjauh dari semua orang. Sedangkan Rein harus mengacak rambutnya frustasi mendengar keputusan dari keduanya.
Dengan langkah cepat ketiga anggota Geng Andromeda berjalan mengikuti Arion dan Lilian yang sudah berjalan menjauh.
_____________
Rein sejak tadi tidak henti-hentinya berjalan mondar-mandir di depan Lilian, Arion, Mario dan Farrel. Sejak mendengar Arion memilih Lilian untuk di jadikan pasangan kompetisi, hati Rein tidak tenang memikirkan keselamatan Lilian untuk kedepannya. Meski Rein percaya jika Arion bisa menjaga Lilian namun hatinya tetap saja tidak merasa tenang.
"Lo bisa duduk nggak sih? Pusing gue lihat lo mondar-mandir dari tadi!" Kesal Farrel.
"Gue nggak bisa duduk tenang seperti lo semua! Gue ijin sama Nyokap nya baik-baik, sampai sini malah di ajak balapan." Pekik Rein tidak terima.
"APA??" Pekik Lilian tiba-tiba.
Ke empat Laki-laki itu spontan menatap ke arah Lilian.
"Kenapa lo terlihat kek kaget gitu?! Bukannya lo sendiri tadi yang mau?" Tanya Mario sambil menatap Lilian bingung.
"Lo semua nggak ada yang ngasih tau kalau kompetisi-nya adalah balapan!" Kesal Lilian dan mulai khawatir tentang masa depannya.
"Dasar bodoh!! Sejak tadi lo duduk disamping gue nggak dengar kita lagi bahas apaaan?" Tanya Rein kesal.
"Mana sempat gue dengerin lo semua bahas apaan ... Otak gue cuman fokus ke arah Arion yang sejak awal natap gue dengan tatapan tajamnya." Jujur Lilian.
"Lo salahin gue?" Tanya Arion tidak suka.
"Tentu saja!" Ketus Lilian.
"Lo sendiri yang mau." Kata Arion dingin.
Rein kembali mengacak rambutnya frustasi, bagaimana tidak? Rahadian dan Efina begitu menyayangi Lilian, jika keduanya mengetahui Lilian akan ikut balapan dengan Arion maka tamatlah kehidupan Rein.
"Sepertinya tidak terlambat buat ganti pasangan kompetisi." Kata Rein tiba-tiba.
"Nggak bisa!" Arion langsung menolak usulan dari Rein.
"Arion mengertilah ... Lilian belum pernah ikut lomba balapan. Gue nggak mau ngambil resiko besar dengan melibatkan Lilian di dalamnya. Dengan waktu yang tersisa, gue bisa cariin pasangan yang cocok buat lo." Kembali Rein membujuk Arion.
"Arion sebaiknya lo ganti pasangan saja." Usul Farrel yang setuju dengan ucapan Rein.
"Apa kalian ngeraguin gue?" Tanya Arion dengan aura dinginnya.
"Bukan ... Bukan maksud kita meragukan kemapuan lo, namun kali ini lo nggak balapan sendiri saja ... Lilian akan jadi pasangan lo, sementara lihat dia." Tunjuk Rein ke arah Lilian yang tampak dengan wajah pucatnya sedang terduduk diam.
"Lilian terlihat jelas sangat ketakutan ... Jika lo nggak bisa lepasin dia maka biarkan gue yang akan maju untuk kompetisi. Dari dulu bukannya gue yang selalu maju buat wakilin anggota kita? Mengapa hari ini lo tiba-tiba mengajukan diri buat ikutan maju?" Tanya Rein bingung.
Arion menatap lama ke arah wajah Lilian yang terlihat ketakutan. "Lo nggak percaya kepada gue?" Tanya Arion kepada Lilian.
Lilian menatap langsung ke arah mata Arion, dari tatapan mata itu terlihat jelas rasa melindungi seperti yang selalu Lilian lihat dari tatapan mata Seint. Entah mengapa mulut Lilian tiba-tiba menggumamkan sesuatu yang menambah rasa ke khawatiran Saudaranya yaitu Rein.
"Gue percaya dengan lo." Ucap Lilian tanpa mengalihkan pandangannya ke arah mata Arion.
Sedikit bibir Arion tertarik mendengar ucapan dari Lilian. Entah mengapa, Arion merasa senang hanya karena Lilian menaruh kepercayaan kepadanya. Hal itu membuat Arion semakin bersemangat mengikuti kompetisi itu.
_______________
Suara deru motor terdengar memekikan telinga bagi siapa saja yang mendengarnya. Sudah ada banyak sekali deretan motor yang tersusun rapi dan bersedia menancap gas untuk merebutkan posisi pertama.
Rein tetap saja mengkhawatirkan kondisi Lilian meski ia telah memasang banyak sekali pengaman ditubuh adik sepupunya itu. Hati Rein masih tidak bisa tenang meski kedua temannya yang lain terus saja membuatnya untuk tetap tenang.
Lilian sendiri sangat merasa ketakutan, seumur hidupnya ia belum pernah merasakan ikut balapan. Jangankan ikut balapan langsung seperti sekarang, menonton balapan motor saja Lilian belum pernah merasakannya.
Tangan kecil Lilian terulur untuk melingkarkannya dipinggang milik Arion. Matanya ia pejamkan tatkala mendengar suara deru motor yang semakin keras. Terdengar suara seseorang wanita sedang membacakan peraturan selama kompetisi berlangsung, namun Lilian sudah tidak lagi mampu membuka matanya hanya sekedar melihat sosok wanita itu.
Jantung Lilian berdegup sangat kencang saat seorang wanita selesai menghitung dan membiarkan para pembalap agar merebut posisi mereka masing-masing. Tangan Lilian semakin kencang memeluk tubuh Arion saat motor yang ia naiki bersama Arion sudah mulai bergerak maju.
Tiupan angin kencang menerpa wajah cantik milik Lilian. "Buka mata lo! Gue yakin lo pasti suka!! Teriak Arion agar dapat di dengar oleh Lilian di belakangnya.
Lilian masih saja memejamkan matanya tidak berani untuk membuka mata seperti yang di perintahkan oleh Arion.
"Buka saja mata lo! Percyalah sama gue ... Semua akan baik-baik saja! Teriak Arion lagi.
Perlahan Lilian memberanikan diri untuk membuka kedua matanya. Hal pertama yang ia lihat adalah punggung kokoh milik Arion. Lilian memberanikan diri untuk menegakkan badannya tanpa melonggarkan pelukannya pada pinggang Arion.
Tubuh keduanya bergerak sesuai pergerakan motor yang dikendarai oleh Arion dengan laju yang sangat cepat. Ada banyak sekali motor yang berusaha menyalip posisi Arion dan Lilian namun pergerakan Arion jauh lebih lincah untuk menahan pemotor lain menyalip motor keduanya
Senyuman Lilian tiba-tiba terbit begitu saja di bibir kecil miliknya. Meski motor yang ia naiki melaju dengan yang sangat cepat, namun Lilian menyukai hal ini. Lilian merasa seperti menaiki kuda yang berlari dengan kecepatan penuh pada masa lalunya. Terlebih lagi Lilian sedang bersama dengan Arion, orang yang selalu ia cintai.
Lilian berteriak kencang saking bahagianya, tidak ada lagi rasa takut yang sejak tadi ia rasakan. Laju motor Arion bukan lagi menjadi kendala bagi Lilian, ia bahkan sempat-sempatnya menyemangati Arion agar motor keduanya tidak tersalip motor lain.
"Apakah lo senang? Tanya Arion dengan berteriak kencang.
"Gue senang." Teriak Lilian dengan senyum cerah di bibirnya.
"Pegangan yang erat, gue akan menambah laju motornya." Teriak Arion.
Lilian kembali merapatkan tubuhnya ke arah punggung kokoh milik Arion. Lilian merasakan kenyamanan saat bersandar disana, begitu lembut dan juga menenangkan. Arion sendiri tidak bisa untuk tidak tersenyum. Ada perasaan aneh yang menyeruak dari dalam hatinya.
Arion juga merasakan hal yang sama dengan Lilian saat gadis itu mempererat pelukannya. Arion seperti merasa tidak asing dengan pelukan itu, begitu hangat dan menenangkan. Arion merasa pelukan itu sebagai sumber penyemangatnya.
Dengar gerakan gesit serta skill yang Arion miliki, ia berhasil melaju kencang meninggalkan pemotor lain dibelakangnya hingga sampai ke garis finish dengan posisi pertama.
Lilian langsung berteriak senang saat menyadari ia telah sampai ke garis finish dengan aman tanpa kekurangan satu apapun. Tanpa aba-aba Lilian langsung turun dari motor Arion dan memeluk Arion dari arah samping dengan sangat erat.
"Kita menang." Ucap Lilian senang tanpa melepas pelukannya pada Arion.
Arion sendiri baru pertama kali merasakan kebahagian seperti yang ia rasakan saat ini. Arion sudah memenangkan puluhan bahkan ratusan kali dalam lomba balap motor namun ia tidak pernah merasa sesenang ini.
"Lo suka?" Tanya Arion masih dalam pelukan Lilian.
"Gue suka banget ... Gue merasa seperti terbang dengan kecepatan penuh. Rasanya sangat menyenangkan." Kata Lilian senang.
Keduanya masih saja berpelukan dengan sangat lama. Rein, Mario dan Farrel yang sejak tadi menghawatirkan keduanya merasa hanya mengkhawatirkan seseorang dengan sia-sia.
"Percuma gue khawatirin lo ... Tau-taunya lo sangat menikmatinya." Kesal Rein yang sejak tadi hanya menonton aksi antara Lilian dan Arion.
Spontan Lilian melepas pelukannya pada tubuh Arion dan membuang wajahnya ke arah lain tanpa melihat lawan bicaranya karena malu.
"Si ... Si ... Siapa sangka sa ... Saat di ... di atas motor ternyata sangat menyenangkan." Ucap Lilian terputus-putus.
"Tentu saja sangat menyenangkan ... Selama diatas motor, lo terus saja berpelukan mesra dengan Arion. Setelah balapan pun masih berpelukan." Ucap Rein.
"A ... Apaan sih." Ucap Lilian gugup.
Arion yang sejak tadi hanya diam akhirnya menghembuskan napas kasar. "Bisa tidak kalian datang agak sedikit lama?" Ketusnya tidak senang.
Semua orang membukatkan mata tidak oercaya mendengar ucapan Arion. "Apa lo bilang? Ulang sekali lagi!" Pinta Farrel tidak yakin.
Arion hanya membuang muka malas. Ia segera menuruni motor miliknya dan melepas helm yang masih terpasang dikepalanya. "Ikut gue." Ucapnya lalu menarik tangan Lilian menjauh dari semua orang.
Ketiga teman Arion serta anak-anak dari Florenzo Scholl membuka mulut tidak percaya melihat kelakuan aneh dari Arion.
"Kenapa tuh orang? Apa tadi gue salah dengar?" Gumam Mario sambil menggaruk kepalanya yang tidak gatal.
"Sepertinya nggak ..." Kata Farrel.
"Apa jangan-jangan Arion selama ini suka dengan Lilian?" Tanya Rein penasaran.
Kedua temannya hanya mengedikkan bahu tanda tidak tahu. Setelah kepergian Arion dan Lilian, teman-temannya yang lain langsung merayakan kemenangan yang di raih oleh Arion dan Lilian.
___________