
Sudah beberapa jam lamanya Lilian mengemasi barang yang ia perlukan nanti saat acara kemah berlangsung. Setelah membujuk Efina selama seharian penuh, barulah gadis itu dapat bernapas lega lantaran karena telah di beri ijin pergi oleh Efina.
Usahanya itu tidak luput dari bantuan yang Rein berikan. Agar Lilian dapat di beri ijin untuk berkemah, ia harus merengek dan mengintilin kemanapun Rein pergi agar lelaki itu mau membantunya untuk membujuk Efina. Dan pada akhirnya cara itupun berhasil.
Meski lelah karena menyiapkan banyak barang, namun rasa lelah Lilian tidak ada apa-apanya di bandingkan dengan rasa senang dalam hatinya. Untuk pertama kalinya, Efina mengijinkannya pergi jauh dari rumah dan menginap selama dua hari di sana.
"Jangan lupa masukan Vitamin dan beberapa obat lainnya yang di perlukan. Tadi Mama tanya-tanya sedikit sama temen, katanya acara kemahnya di adakan di dalam hutan." Kata Efina yang baru saja memasuki kamar Lilian.
Lilian sedikit melirik ke arah Efina sebentar kemudian kembali sibuk dengan barang bawaannya. "Udah kok Mah ... Acara kemahnya memang di adakan di dalam hutan! Namun pihak sekolah telah mengkonfirmasi kalau hutannya aman kok. Masih ada beberapa pemukiman sekitarnya jadi Mama nggak perlu khawatir." Jelas Lilian sambil memasuki beberapa baju dalam tas bawaannya.
"Nanti kalau ada apa-apa langsung telpon Mama sama Papa, ya! Jangan main atau pergi sendirian selama acara kemah berlangsung. Namanya juga hutan, ya pasti bahaya! Mau sudah di konfirmasi aman atau tidak tetap aja hutan!" Gerutu Efina. Namun tangannya tetao bergerak membantu anak bungsunya itu berkemas.
"Iya Mah ... Lilian nggak akan pisah dengan yang lain." Jawab Lilian untuk menenangkan ke khawatiran Mamanya.
"Nginapnya selama berapa hari?" Tanya Efina.
"Dua malam aja kok Mah." Jawab Lilian.
"Kenapa harus dua hari sih!" Gerutu Efina kembali, "Kalau Stady tour sih nggak apa-apa nginap selama dua hari! Setidaknya tidurnya di hotel, lah kalau ini tidurnya di hutan." Lanjutnya.
"Atau Mama batalin aja ijin persetuajuannya?" Tanya Efina dengan tatapan lurus ke arah Lilian.
"Ihhh Mamaaaah." Rengek Lilian tidak terima.
Seharian penuh Lilian telah membujuk Mama-nya dengan bantuan Rein, namun setelah di beri ijin Efina kembali meragukan keputusannya.
"Formulirnya udah Lilian serahin ke Bu Clara ... Masa iya mau di batalin lagi." Rengek Lilian. Ia pun berjalan mendekati tempat duduk Mama-nya.
"Ya ... Nggak apa-apa. Mama bisa bilang kalau kamu lagi sakit dan nggak bisa untuk ikut pergi." Kata Efina.
"Tapi kan Lilian baik-baik aja ... Formulirnya juga udah di serahin dan nama Lilian juga udah terdaftar. Masa iya batalin di tengah jalan! Kan, Lilian juga mau ikut ... Kak Rein juga udah janji mau ngejagain Lilian selama di sana." Rajuk Lilian dengan wajah sedihnya.
"Mama tau di sana ada Rein, cuman ada yang bisa jamin nggak kalau nggak ada hewan buas di sana? Kalau tiba-tiba muncul hewan buas, Rein juga pasti ikut lari." Kata Efina.
"Mamaaaaah." Rengek Lilian sambil menggoyangkan tangan Mama-nya pelan.
"Udahlah Mah ... Ijinin aja. Lagian formulirnya juga udah di serahin." Kata Rahadian dari arah pintu kamar Lilian.
Efina dan Lilian spontan menatap ke arah pintu kamar.
"Tapi kan Pah ..." Ucap Efian ragu.
"Udahlah Mah ... Biarkan Lilian menikmati masa remajanya. Lagian semua barangnya udah di siapkan, tinggal Lilian berangkat aja. Rein juga udah janji bakalan jagain Lilian selama acara kemah berlangsung." Kata Rahadian dengan segelas kopi di tangannya dan mengambil tempat duduk di dekat Lilian.
Terdengar helaan napas keluar dari mut Efian. "Masalahnya Lilian kemah-nya di hutan ini loh Pah." Sanggah Efina.
"Ya ... Namanya juga orang mau kemah, tidurnya di hutan. Kalau tidurnya di hotel, namanya liburan." Kekeh Rahadian.
"Terus bagaimana kalau di sana ada hewan buas?" Tanya Efina dengan mata melotot ke arah Rahadian.
"Ya jangan mikir negatif dulu. Kalau pihak sekolah udah nentuin lokasinya dimana, otomatis mereka udah pastiin tempatnga aman! Kalau nggak aman, ya nggak mungkin anak-anak di bawa kesana." Jelas Rahadian.
"Tuh, Papa aja ngijinin." Kata Lilian dengan bibir manyun-nya.
Efina membuang napas berat. "Mama nggak pernah bisa menang kalau kalian berdua udah jadi satu team kek gini." Ujarnya sambil mendekap kedua tangan di depan dada.
Akhirnya Lilian dapat tersenyum lebar mendengar ucapan dari Efina. "Makasih ya, Mah. Lilian sayaaang sama Mama." Kata Lilia. denga manja. Kedua tangannya memeluk erat tubuh Efina dari samping.
"Lah Papa juga nggak di peluk nih?" Tanya Rahadian.
Lilian melepas sebelah tangannya dari Efina kemudian memeluk Rahadian dengan tangannya itu. "Lilian sayang Mama dan Papa!" Ujarnya sambil tersenyum senang.
Efina dan Rahadian membalas pelukan dari Lilian. Ketiganya terlihat seperti keluarga yang sangat bahagia. Meski Rahadian memiliki harta yang cukup namun ia bersama dengan Efina membesarkan kedua Putrinya dengan penuh kesederhanaan. Sehingga keduanya tumbuh menjadi gadis yang sama-sama memiliki pribadi yang baik.
"Oh iya, semua barangnya udah ada semua nih?" Tanya Rahadian setelah Lilian melepas pelukannya.
"Udah kok Pah. Lilian tinggal berangkat aja besok." Jawab Lilian.
"Jam berapa berangkatnya? Biar besok Mama buatkan bekal." Kata Efina.
"Katanya sih jam setengah tujuh kita semua udah harus pada kumpul." Jawab Lilian.
"Oh kalau gitu kamu sebaiknya cepat istirahat biar besok nggak telat! Udah makan malam kan?" Tanya Rahadian.
"Udah Kok Pah." Jawab Lilian.
"Syukurlah." Kata Rahadian.
"Ya udah lebih baik kamu istirahat aja dulu. Capek jugakan seharian belajar dan sibuk ngemasin barang bawaan kamu." Kata Efina sambil mengelus pelan kepala Lilian.
"Iya, Mah." Jawab Lilian.
"Ayok Pah." Ajak Efina.
Setelahnya, Rahadian dan Efina keluar dari dalam kamar Lilian. Sedangkan Lilian sendiri kembali mengemasi barang-barannya yang tersisa.
Tidak lama kemudian Lilian selesai dengan barang bawaannya kemudian kakinya melangkan menuju ranjang king size -nya. Tubuh Lilian terasa pegal semua karena selama seharian penuh Lilian harus membujuk Mamanya dan dengan waktu yang tersisa ia harus mengemasi barang bawaannya.
Hari di mana Denis menyerahkan formulir kepadanya, ia tidak langsung meminta ijin kepada Efina lantaran Mama-nya itu selalu saja merubah keputusan di tengah jalan. Contohnya seperti tadi, namun beruntungnya Rahadian datang di saat yang tepat sehingga Lilian tetap mendapatkan ijin pergi.
Lilian bahkan harus meminta bantuan kepada Arion untuk mengumpulkan formulirnya kepada Bu Clara. Meski sudah telat, namun Arion tetap memastikan kekasihnya itu agar dapat ikut dalam acara kemah tahunan yang di selenggarakan oleh pihak sekolah.
"Sungguh melelahkan." Gumam Lilian pelan kemudian mulai menutup kedua matanya dengan perlahan.
Baru saja Lilian ingin mengistirahatkan tubuhnya yang terasa pegal, ponselnya berdering tiada henti menandakan banyak sekali notif yang masuk.
Dengan terpaksa Lilian kembali membuka kedua matanya dan membuang napas berat. "Astagaaaa ... Kapan gue bisa istrahat." Ujarnya frustasi.
Lilian meraba di sekitar ranjangnya untuk mencari di mana terakhir kali ia menyimpan ponselnya. Setelah tidak lama mencari, gadis itu dapat menemukan ponselnya dari bunyi ponselnya itu.
"Notif apaan sih? Kok banyak bener." Gumamnya dengan mengerutkan kening.
Tangannya dengan lihai membuka salah satu aplikasi yang lagi ngehits dan sontak saja Lilian terbangun dari tempat tidurnya karena kaget melihat salah satu postingan yang menandai dirinya.
Arion_Alpenseint_G
(Send a picture)
*Bayangin sendiri aja*
My girls @Lilian_Caroline_R
❤️157.34 Lainya menyukai
122.34 Mengomentari postingan
@Rein_Azzam_A. Jagain baek-baek
@Sheril_Calista_T Cantikan gue kemana-mana
@Mario_P Cieee udah main posting-pasingan aja nih 😁
@Gladis sahabat gue @Lilian_Caroline_R ❤️
@Laura Langgeng terus kalian berdua. Jadi terharu gue @Lilian_Caroline_R
@Farrel Batu dah cair 😂
@Fans_Club_Arion Patah hati sejuta umat 😭
@Pinjam_Dana_Online Butuh dana cepat? Klik profil dan kami memprosesnya dengan cepat.
@Arions_Club Butuh jasa santet online 😭
@Santet_Online Kami hadir untuk anda semua.
@Pecinta_Lilian Bidadari gue 😭
@Tukang _Gosip Di bajak pasti.
@Halalin_Adek_Bang Nggak suka banget gue lihatnya
@Arion_Lilian So sweet banget
@Meira PJ jangan lupa @Lilian_Caroline_M
Lilian lagi-lagi harus mengembuskan panas berat melihat salah satu postingan dari Arion. Bagaimana tidak, dalam postingan itu terlihat Lilian yang duduk menyamping sambil tersenyum cerah ke arah kue-kue yang Arion sediakan. Entah sejak kapan Arion mengambil gambarnya namun hal itu tidak bisa Lilian terima.
"Enak saja si Papan Datar! Seharusnya gue yang posting duluan! Ini semua gara-gara masalah ijin kemah. Kan, gue jadi lupa!" Runtuk Lilian sendiri tidak terima.
Jari-jari lentiknya menyelusuri beberapa kontak yang tersimpan dalam ponselnya. Tujuan utamanya yaitu mencari nomor seseorang yang telah lancang memposting wajahnya tanpa seijinnya.
Belum saja Lilian mendapatkan nomor Arion, panggilam masuk dari seseorang membuat Lilian harus mengerutkan kening karena tidak mengenali nama yang tertara di ponselnya.
"My Boy?" Gumam Lilian membaca nama di layar ponselnya.
"Sejak kapan gue nyimpen nomor seseorang dengan nama aneh kek gini?" Ucap Lilian bingung.
Sedetik kemudian mata Lilian membulat saat mengingat jika sehari sebelumnya Arion meminjam ponselnya dengan dalih ingin melihat hasil gambar yang di ambil oleh Lilian.
Sontak saja dengan gerakan cepat Lilian menekan tombol hijau kemudian menempelkan benda pipih itu di telinga kirinya.
"Ehh Papan Datar! Sejak kapan gue ijinin lo buat ngotak ngatik ponsel gue?" Cecar Lilian langsung tanpa mendengar sapaan dari Arion di sebrang sana.
"Bilang hallo atau apa dulu kek ... Ini malah marah-marah aja."Kekeh Arion di sebrang sana.
"Kagak ada hallo, halo, ya! Ini gue lagi marah." Geram Lilian.
"Jangan marah-marah sayang, ntar cepat tua. Mau?" Tanya Arion dengan senyuman. Meski Lilian tidak dapat melihatnya.
Blushhhh ...
Pipi Lilian langsung memerah mendengar panggilan sayang dari Arion. Tadinya Lilian sangat ingin memaki Arion habis-habisan namun setelah mendengar panggilan dari Arion, hatinya menjadi menghangat dan kata-kata makian yang siap ia luncurkan menjadi tersendat di tenggorokan.
"Napa diem? Lagi merona ya? Ushhh Pengen deh nyubit pipi gemoy-nya." Goda Arion.
Pipi Lilian semakin memerah, kata-kata Arion sungguh membuat Lilian menjadi kehilangan kata.
"Ihh apaan sih ... Siapa yang merona?" Tanya Lilian tidak ingin mengaku.
"Ohhh nggak ada? Kalau gitu video call ayok!" Ajak Arion.
"Nggak bisa!" Tolak Lilian cepat.
"Napa?" Tanya Arion.
"Mama bilang suruh istirahat cepat, nggak boleh tidur kemalaman! Biar nggak telat besok." Kata Lilian mencari alasan.
"Wahhh sayang banget, padahal gue lagi kangen banget" Ucap Arion dengan nada sedih yang sengaja ia buat.
"Nggak usah kangen-kangenan deh! Sekarang jelasin ke gue, napa lo ngeposting foto gue di akun lo?" Tanya Lilian setelah sadar.
"Masa iya pacar nggak boleh kangen-kangenan?" Tanya Arion dengan nada sedihnya. "Gue ngosting karena gue mau." Lanjutnya.
"Enak aja. Nggak boleh ngeposting tanpa ijin gue!" Pekik Lilian sedikit tertahan karena takut di dengar oleh Efina.
"Napa? Lo nggak suka? Fotonya bagus kok. Cantik di setiap sisi manapun." Puji Arion.
Bohong jika Lilian tidak tersenyum mendengar ucapan dari Arion. Entah dari mana lelaki itu belajar mengombal seperti itu.
"Harusnya gue yang ngeposting duluan. Tapi udsh keduluan." Ucap Lilian sambil menahan senyumnya.
"Lo kan cantik, mau ngepos foto beberapa kali dengan latar yang sama pun orang nggak tetao bakalan suka. Tapi mending kagak usah deh, ngar banyak yang mau sama pecar gue." Kata Arion.
"Ihh apaansih ... Makin kesini mulutnya makin manis aja. Sejak kapan pintar ngerayu cewek?" Tanya Lilian dengan senyum kecilnya.
"Entahlah ... Tapi cuman ke lo aja gue gininya." Jawab Arion.
"Alaaah bohong! Mana ada mulut manis yang terdengar terlatih gitu baru ngerasain rayu cewek." Tunding Lilian sambil membarinkan kembali tubuhnya seperti semula.
"Beneran ini ... Kagak bohong! Hanya ke lo aja." Ucap Arion meyakinkan Lilian.
"Iyain aja deh ... Oh iya satu lagi, Sejak kapan nama lo di ganti denga My Boy di ponsel gue? Perasaan kemarin nggak gitu." Kata Lilian sambil tersenyum.
"Ya emang gue ganti. Kalau lo My Girl, tentu aja gue kebalikannya." Jawab Arion.
"Ihhh apaan sih ... Nggak geli apa?" Tanya Lilian memastikan.
"Napa harus geli? Lo pacar gue dan di mana letak salahnya?" Tanya Arion.
"Ya nggak ada memang. Hanya aja, karakter lo kan dingin dan cuek. lucu aja gitu kalau lo harus ngelakuin hal kek gitu." Kata Lilian.
"Tapi lo suka kan?" Tanya Arion.
"Su .. Ka." Jawab Lilian.
Obrolan keduanya pun berlanjut sampai larut malam. Keduanya membahas hal-hal kecil sampai hal-hal tidak penting untuk di bahas. Namun keduanya sama-sama menyukai saat momen kebersamaan mereka saat ini, meski hanya bisa berkomunikasi lewat panggilan telepon namun keduanya merasa itu saja sudah cukup. Entah siapa yang duluan tertidur namun keduanya sama-sama tidak ada yang memutuskan telepon. Keduanya tertidur dengan sangat nyeyak hingga tidak sempat mematikan sambungan telepon masing-masing.
Tidur Lilian bahkan sangat lelap di bandingkan dengan hari-hari biasanya. Ia merasa terlindungi meski Arion hanya menemani lewat panggilan telepon.
_______________
Author nggak nemu gambar yang pas buat karakter Lilian, intinya sosok Lilian sama persis kek di cover. Author awalnya juga kaget lihat gambar itu, makanya langsung Author ganti covernya.
Namun terserah kalian mau gambarin sosok Lilian kek gimana. Bagaimana nyaman kalian aja. Atau kalau bisa kalian juga bisa saranin Author untuk karakter Lilian dan Arion agar selanjutnya Author bisa lebih mendalami karakter keduanya.