
Lilian berjalan dengan malas menuju kantin sekolahnya. Jika bukan karena di paksa oleh ketiga temannya, Lilian tidak akan pernah mau beranjak dari tempat duduknya.
Sesekali Lilian menghela napas berat saat berpapasan dengan beberapa murid lain yang menatapnya dengan tatapan sinis. Jika bukan karena masih memikirkan hal tentang Arion, maka gadis itu akan lebih suka memanasi anak-anak itu.
Langkah kaki Lilian bahkan harus di seret paksa oleh Gladis agar gadis itu mau berjalan cepat supaya mereka mendapatkan meja kosong di kantin.
"Lilian lo ini lambat banget sih ... Kek keong tau nggak!" Sungut Gladis sambil terus melingkari tangannya pada tangan Lilian.
"Gue males banget ke kantin! Kalian aja yang maksa agar gue harus ikut." Ucap Lilian dengan langkah gontainya.
"Lo ini napa sih?! Sejak pagi bawaannya malas mulu ... Lagi PMS kali nih anak!" Ujar Laura dengan tatapan selidiknya.
"Nggak, gue lagi malas aja! Otak gue harus jalan dua kali lipat ini. Bisa nggak, lo semua pada diem?! Kata Lilian dengan kekesalannya.
"Maka dari itu, Lilian! Kalau otak lo lagi mikir dua kali lipat, artinya tubuh lo juga butuh asupan gizi yang lebih! Percuma otak lo jalan dua kali lipat kalau lo aja nggak ngasih dia makan! Lo nggak bakal nemuin solusi yang sekarang lagi lo pikirin!" Jelas Meira.
"Kok lo tau kalau gue lagi nyari solusi?" Tanya Lilian heran ke arah Meira.
"Di kepala lo sangat jelas tercetak kata kalau sekarang lo lagi ada masalah! Cuman lo nya aja yang gengsian nggak mau cerita ke kita." Sahut Meira dengan sedikit sindiran.
"Gue bukannya gensian hanya saja ... Aww!!" Pekik Lilian tidak jadi meneruskan kalimatnya.
Dengan raut wajah kesal, Lilian mendongak dan menatap ke arah seseorang yang baru saja ia tabrak. "Lo nggak punya ..." Mata Lilian membelalak melihat seseorang yang ia tabrak ternyata adalah Arion.
"Ikut gue!" Ajak Arion langsung menarik tangan kanan Lilian.
"Nggak bisa! Gue mau pergi ke kantin bareng temen-temen gue!!" Tungkas Lilian sambil menarik tangannya yang Arion tarik.
"Ikut gue!!" Kata Arion tegas tanpa sanggahan.
Lilian membalikkan badannya dan menatap ke arah ketiga temannya yang masih menatap ke arahnya dengan raut wajah bingung. "Gue ikut dia dulu!!" Kata Lilian sedikit berteriak, "Lo semua makan aja dulu tanpa gue ... Hari ini gue yang teraktir! Makan aja sepuas kalian!!" Lanjutnya.
Terlihat senyum lebar dari ketiga teman Lilian sebelum gadis itu menghilang dari balik tembok. Arion menarik tangan Lilian menuju taman belakang yang sangat jarang di kunjungi banyak orang. Selain jaraknya yang jauh, tempat itu berada di sudut sekolah dan terlihat sedikit menyeramkan.
"Lo ngapain bawa gue ke tempat sepi?" Tanya Lilian yang masih berjalan mengikuti langkah kaki Arion.
"Lo mau macem-macemin gue ya?! Awas aja lo kalau mikir aneh-aneh! Kagak tau aja gue punya jurus yang langsung buat orang meninggal di tempat!" Cerocos Lilian tanpa sedikitpun Arion balas.
Tidak mendapatkan sedikitpun respon dari Arion membuat Lilian semakin kesal. "Lo mau bawa gue kemana sih?! Pegel kaki gue!!" Jerit Lilian sambil menarik paksa tangannya.
Tanpa kata Arion membalikkan badannya kemudian langsung mengangkat tubuh Lilian.
"Ehhh Papan Datar!! Turunin gue! Lo pikir gue karung pakek di angkat kek begini segala?!" Pekik Lilian tidak terima sambil memukul mukul punggung Arion.
Setelah berjalan cukup lama, akhirnya mereka sampai di tempat tujuan. Arion langsung menurunkan Lilian dan dengan jelas Arion melihat wajah gadis itu yang memerah karena marah.
"Lo pikir gue karung?! Harus banget gitu lo ngangkat gue kek gitu?!" Cecar Lilian tidak terima.
Bukannya menjawab, Arion malah menangkup wajah Lilian menggunakkan kedua tangannya kemudian molehkan kepala gadis itu ke arah kanan tempat mereka berdua berdiri.
Pemandangan di depannya membuat mata Lilian berbinar sekaligus terpana. Bagaimana bisa tidak, Arion mengubah taman belakang sekolah yang tampak sangat menyeramkan menjadi taman yang di penuhi dengan bunga daisy dan bunga krisan dengan berbagai warna.
Di tengah taman terdapat sebuah pohon yang memiliki ukuran yang sangat besar. Awalnya pohon itu terlihat menyeramkan namun Arion telah mengubah pohon itu menjadi pohon dengan banyak sekali bunga kecil dari tanaman rambat. Sekitar akar pohon, Arion meletakkan banyak sekali bunga mawar yang tumbuh dengan sangat indah. Di bawah pohon itu juga terdapat sebuah baruga kecil dengan banyak sekali hiasan tanaman gantung di setiap sudut baruga.
Lilian sampai menutup mulutnya karena tidak percaya dengan pemandangan yang saat ini ia lihat. Taman kecil yang begitu indah, di depan taman itu tertulis nama Lilian Gardens yang di pahak dengan kayu jati putih dan di beri sedikit plito warna coklat mengkilap.
Tanpa Lilian sadari, Arion menggenggam tangan kirinya dan membawanya berjalan menelusuri taman yang di khususkan untuknya. Lilian menampakkan kakinya di sepanjang jalan yang memiliki batu krikil kecil berwarna putih sambil menengok ke arah kiri dan kanan jalan.
Lilian masih tidak percaya dengan pemandangan yang saat ini ia lihat. "Kapan dia menyiapkan hal ini semua?" Batin Lilian penasaran.
Berkali-kali Arion membuat Lilian terkejut dengan caranya. Di dalam baruga kecil itu, Arion telah menyiapkan berbagai macam kue kecil dengan berbagai bentuk yang sangat cantik menurut Lilian. Selain kue-kue itu, Arion juga menyiapkan minuman dari bunga kesukakaan Lilian yaitu daisy. Entah ide dari mana yang Arion dapatkan sehingga ia membuat minuman dingin dari bunga daisy.
Dari sekian banyak kue yang Lilian lihat, matanya tidak dapat teralihkan pada sebuah kantong plastik bening yang ukurannya sangat besar. Di dalamnya terisi penuh dengan permen kapas yang berbentuk seperti boneka beruang. Lilian bahkan sampai menggelengkan kepalanya melihat permen kapas yang bisa di bentuk seperti itu.
Dengan semangat, Lilian melepaskan tangannya dari Arion kemudian berjalan mendekati permen kapas itu. "Astagaaaa! Sejak kapan permen kapas bisa di bentuk seperti ini?! Tanya Lilian sedikit tidak percaya.
"Lo suka?" Tanya Ariom dengan senyumnya.
Liian menatap Arion dengan mata berbinar kemudian menganggukan kepalanya dengan semangat. "Suka banget." Namun sedetik kemudian raut wajahnya kembali terlihat sedih.
Melihat perubahan raut wajah dari Lilian membuat Arion menjadi was-was. "Ada apa?" Sambil berjalan mendekat ke arah Lilian.
Lilian menatap sedih ke arah permen kapas yang memiliki ukuran besar di depannya. "Bagaimana cara gue makannya?" Tanyanya dengan nada sedih.
Arion sedikit terkekeh mendengar pertanyaan dari Lilian. "Lo tinggal buka bungkusnya dan makan." Ujar Arion. Tangannya mulai membuka plastik yang di dalamnya terisi permen kapas berbentuk beruang.
Lilian mendorong tangan Arion dengan sedikit kasar kemudian menghalangi permen kapas itu dengan tubuhnya agar Arion tidak dapat membukanya. "Nggak boleh! Bentuknya terlalu imut." Ucapnya dengan raut wajah sedih.
Arion sedikit menggaruk kepalanya yang tidak gatal. "Kita bisa beli lagi nanti. Kalau lo suka, buka aja!" Saran Arion.
Lilian menggeleng pelan. "Nggak boleh! Nanti permen kapas beruangnya jadi sakit." Kata Lilian.
Arion sedikit menghela napas karena bingung dengan sikap Lilian. Gadis itu sangat menyukai permen kapas namun ia tidak bisa memakannya hanya karena bentuknya yang ia bilang imut.
Arion mengambil tempat duduk di dekat Lilian kemudian menggenggam kedua tangan gadis yang berhasil mengisi hatinya yang selama ini kosong.
"Mau gue pesenin yang bentuknya biasa?" Tanya Arion dengan lembut. Sebisa mungkin ia tidak ingin membuat Lilian kembali mendiamkannya.
Lilian menghela napas pelan. "Nggak perlu! Lain kali aja. Kue yang di sana juga banyak." Tunjuknya ke arah tempat kue berjejer.
Kata-kata Lilian terhenti saat merasakan punggung dan perutnya di dekap oleh Arion dari belakang. Napas Arion bahkan terasa hangat di ceruk lehernya. Lilian bahkan dapat merasakan detak jantung Arion yang berdetak sangat cepat seperti jantungnya yang juga berdetak sangat cepat saat ini.
"Jangan marah lagi." Ucap Arion lirih. Kepalanya bahkan ia tenggelamkan pada pundak Lilian.
"Si ... Siapa yang marah?" Tanya Lilian gugup.
"Pagi ini lo terlihat aneh ... Gue nggak suka." Gumam Arion pelan namun masih sangat jelas terdengar oleh Lilian.
"Gue nggak marah kok! Siapa yang bilang?" Decak Lilian tidak terima.
"Pagi tadi, napa lo diem aja? Gue nggak suka lo yang diem ... Gue lebih suka lo yang ceria dan suka ngomelin gue." Ucap Arion lirih.
"Gue lagi nggak marah! Hanya lagi mikir sesuatu aja! Kalian aja yang ganggu, kan jadi kesal! Nggak tau apa otak gue harus berkerja dua kali! Udah mikir tentang pelajaran ... Di tambah lagi harus mikir soal perjodohan lo!" Dengus Lilian sambil memeluk dada.
Arion langsung melepas pelukannya pada Lilian kemudian membalikkan badan gadis itu dengan cepat. "Maksud lo?" Tanya Arion dengan kedua alis yang mengerut.
"Sejak pagi gue lagi mikirin cara buat nyingkirin orang yang akan di jodohkan dengan lo! Jika dia pintar gua harus lebih pintar! Jika dia cantik gue juga nggak kalah cantik! Jika dia mempesona maka gue nggak akan kalah mepesonanya dari dia! Enak aja, gue yang capek buat dapetin lo! Dia datang langsung ngambil lo! Mana rela gue!" Gerutu Lilian tidak karuan.
"Siapa yang bilang?" Tanya Arion dengan sedikit senyuman di bibirnya.
Lilian memanyungkan bibir dan membekap kedua tangannya di depan dada. "Mama! Katanya lo udah di jodohon dari kecil sama Bokap dan Nyokap lo dengan gadis dari keluarga yang memiliki status tinggi! Sejak pagi gue lagi mikirin rencana buat nyingkirin gadis itu dan membuat Bokap, Nyokap lo lebih memilih gue!" Ketus Lilian namun sangat terlihat imut di mata Arion.
"Jadi sejak pagi lo diem karen masalah itu?" Tanya Arion.
"Iyalah ... Nggak tau aja gue lagi mikirin banyak rencana di otak gue ini!" Tunjuk Lilian ke arah kepalanya.
Arion terkekeh pelan melihat raut wajah lucu yang selalu Lilian tampilkan saat marah-marah. "Ohhh ... Jadi apa rencana lo buat nyingkirin tuh cewek?" Tanyanya sambil manggut-manggut.
"Belum ada!" Kesal Lilian dengan wajah masamnya. "Gimana mau buat rencana ... Lo nya bawel banget! Gue diem biar lo cepat diem dan gue lanjut buat mikir rencana. Ehhh malah lo tambah bawel! Biasanya juga dingin dan datar! Sengaja ya biar lo jadi di jodohin dengan gadis itu?" Tuduh Lilian dengan mata melotot ke arah Arion.
Sebisa mungkin Arion menahan tawanya agar tidak membuat Lilian menjadi marah kepadanya. Bagaimana bisa Arion dapat menyimpulkan Lilian sedang marah hanya karena keterdiaman gadis itu. Arion harus mengacukan kedua jempolnya untuk karakter Lilian yang tidak dapat ia tebak dengan mudah.
"Nggaklah! Gue pacaran dengan lo artinya sayang sama lo. Lagian lo sejak pagi diem aja dan langsung pergi begitu aja pas di parkiran." Kata Arion sambil membetulkan rambut Lilian yang terbawa oleh angin.
Lilian tersenyum kecil melihat perlakuan Arion terhadapanya. Terlebih lagi Arion baru saja mengatakan sayang kepadanya dan membuat seakan perutnya di isi oleh jutaan bunga yang bermekaran.
"Gue harus mikir rencana lagi! Kalau harus ladenin temen-temen lo bakalan lama!" Kesal Lilian karena rencananya selalu saja gagal.
"Terus sekarang udah ada rencananya?" Tanya Arion dengan senyum manisnya.
Lilian kembali mengerucutkan mulut dan membuang napas berat. "Anak-anak di kelas selalu gangguin ... Mana bisa buat mikir!" Ketusnya sambil menggerakkan kaki karena kesal.
"Ohhh ..." Kata Arion datar.
Lilian menatap Arion dengan tatapan kesalnya dan memukul dada Arion dengan brutal. "Dasar datar! Senang ... Senangkan lo di jodohin dengan gadis itu." Geram Lilian.
Arion menahan tangan Lilian yang terus memukulinya. "Siapa bilang?" Tanyanya.
"Guelah!" Kesal Lilian sambil berusaha melepaskan tangannya dari pegangan Arion.
Arion mendekatkan wajahnya ke arah wajah Lilian dan membuat gadis itu semakin menjauhi wajahnya dengan mata melotot marah. "Mau apa lo?!" Ketusnya.
"Kata Mama kalau pacaran nggak boleh aneh-aneh!" Marah Lilian.
Arion semakin mendekatkan wajahnya sambil menyeringai kecil ke arah Lilian. "Kalau gue mau lakuin hal aneh-aneh memangnya nggak boleh?" Tanyanya.
"Ten ... Tentu saja nggak boleh!" Gugup Lilian sambil menjauhkan wajahnya.
"Tapi kalau gue mau?" Tanya Arion dengan seringainya.
"Awas aja lo! Gue kasih tau Mama!" Ancamnya.
Arion hanya tersenyum kecil sambil mendekatkan wajahnya lebih dekat lagi. Sontak saja Lilian memejamkan matanya karena tidak sanggup melihat wajah Arion yang berada dekat dengan wajahnya.
"Gue nggak pernah mau nerima perjodohan itu. Mama dan Papa juga nggak maksa gue buat nerima tuh cewek." Bisik Arion tepat di telinga Lilian kemudian menyentil pelan kening Lilian.
"Awww!" Pekik Lilian dengan mata melotot ke arah Arion sambil menyentuh keningnya.
"Lo mikir apaan tadi?" Goda Arion sambil menunjuk curiga ke arah Lilian.
Lilian tampak meneguk ludahnya gugup. "Nggak mikir apa-apaan!" Sanggahnya.
"Kalau nggak mikir apa-apaan, napa harus lapor Mama?" Tanya Arion.
"Itu ... Itu ..." Gugup Lilian. Otaknya seakan kosong sehingga ia tidak dapat lagi untuk menyangkal ucapan Arion.
"Ketauan lo lagi mikir aneh." Goda Arion lagi sambil menoel-noel pipi Lilian.
"Akhhh ..." Pekik Lilian kesal. "Ngggak gitu." Ucapnya masih menyangkal.
"Kalau nggak, napa harus tutup mata?" Tanya Arion yang membuat pipi Lilian memerah.
____________________
Pengen banget UP banyak-banyak. Hanya saja jaringan di tempat Author lagi nggak mendukung. Sayang banget padahal lagi libur dari pekerjaan dunia nyata ðŸ˜ðŸ˜ðŸ˜