
Beberapa kali terdengar helanaan napas kasar yang keluar dari mulut Lilian. Bagaimana tidak, sejak tadi Arion terus-terusan mengejek Lilian lantaran karena gadis itu salah paham dengan kelakuan kekasihnya itu.
Lilian bahkan meruntuki kelakuan aneh Arion dalam hatinya. Sifat dingin dan cuek pemuda itu entah hilang kemana jika ia selalu bersama dengan Lilian. Tak habis-habisnya Arion meledek Lilian hanya karena gadis itu mengira jika Arion akan menciumnya.
Tawanya bahkan terdengar sangat lepas sampai lelaki itu harus berguling ke kanan dan kiri sambil memegang perutnya yang mulai kram karena tidak henti-hetinya menertawakan Lilian.
"Puas?!!" Sungut Lilian kesal. Pandangannya seakan ingin memakan Arion hidup-hidup.
"Baiklah ... Baiklah. Gue berhenti." Ucap Arion kembali duduk dengan posisi semula.
"Puas ketawanya hari ini?" Cibir Lilian, masih dengan tatapan menghunus kearah Arion.
"Ekhmmm." Dehemnya pelan untuk menormalkan kembali raut wajahnya.
"Gue baru tau, kalau es batu bisa ketawa terbahak-bahak! Di tambah guling-guling kagak jelas." Sindir Lilian dengan tatapan tajamnya.
"Emang lo pikir gue bukan manusia?" Tanya Arion enteng. Ekspresi wajahnya sudah kembali normal seperti biasanya.
"Baru nyadar ya kalau lo manusia? Biasanya kan selalu jadi es batu atau nggak papan datar!" Ledek Lilian.
"Ohhh ... Lo suka gue yang kek gitu?" Tanya Arion sambil mendekatkan diri kearah tempat Lilian duduk.
"Syukur tampan! Kalau kagak udah gue buang lo ke laut! Biar sekalian lo di makan monster laut sana!" Gerutu Lilian dalam hati
"Napa diem aja? Kagak suka ya gue yang kek gini?" Tanya Arion lagi.
"Dua-duanya biasa aja." Ujar Lilian sombong. Ia bahkan membuang wajahnya kearah pohon.
"Pohonnya lebih tampan dari gue ya?" Arion masih menggoda Lilian.
Sebisa mungkin Lilian menahan senyumnya, kali ini ia tidak ingin kalah dari Arion. Sejak status keduanya berubah, bukan hanya Lilian saja yang terlihat aktif namun Arion selalu saja menunjukkan karakter lain yang tidak pernah ia tampilkan kepada orang lain. Lilian sebenarnya tidak terkejut dengan perubahan sifat Arion dari yang dingin menjadi hangat. Itu di sebabkan pada masa lalunya Arion juga memperlakukan hal yang sama seperti yang ia lakukan saat ini pada Lilian.
Hanya saja Lilian tetap bersemu merah tiap kali Arion menggodanya. Baik itu pada masa lalunya bahkan sampai masa sekarang. Lelaki itu tetap memiliki banyak cara agar Lilian tidak bisa marah dengannya berlama-lama.
"Memang ... Pohonnya jauh lebih indah dari lo." Ketus Lilian dengan raut wajah malas.
"Kenapa nggak pacaran dengan pohon aja?" Tanya Arion.
Lilian semakin kesal di buatnya, tanpa aba-aba gadis itu langsung menyerang Arion dengan pukulan bertubi-tubi. Habis sudah kesabaran yang di miliki oleh Lilian, entah sejak kapan Arion berubah menjadi lelaki ngeselin di mata Lilian.
"Aura kecantikkan lo nambah kalo lagi marah." Rayu Arion dengan senyum yang mengembang indah di wajah tampannya.
"Lo sejak kapan pintar ngegombal gini?" Tanya Lilian heran. Semakin hari jika di perhatikan, mulut Arion semakin manis dan pintar menggoda Lilian.
"Sejak lo hafir di hidup gue." Jawabnya dengan mengerlingkan mata ke arah Lilian.
"Sumpah lo kek anak alay tau nggak!" Ucap Lilian ngeri.
"Biar! Hanya ke lo dong gue kek gini." Kata Arion sambil membenarkan rambut Lilian. "Gue harap hubungan kita akan terus kek gini! Meski ada banyak rintangan ke depannya gue ingin lo janji sama gue akan tetap terus bertahan dalam keadaan apapun." Kata Arion dengan raut wajah serius.
Lilian terdiam sebentar melihat perubahan ekspresi dari Arion yang tiba-tiba. Entah keburuntungan Lilian atau tidak, namun hari ini Arion mengeluarkan bayak ekspresi yang jarang sekali orang lain lihat.
"Ini suasana-nya napa jadi serius gini?" Tanya Lilian. Matanya menatap lurus kearah mata Arion yang terlihat menatapnya dengan banyak harapan.
"Lo mau janjikan? Bakal selalu ada di samping gue? Tidak peduli masalah apa yang akan kita hadapi ke depannya. Kita akan tetap berjuang bersama." Kata Arion dengan lembut dan penuh harap.
Lilian seakan terbius dengan tatapan Arion, kepalanya spontan saja mengangguk mengiyakan ucapan Arion.
"Gue suka semua hal yang ada pada diri lo. Terkecuali kalau lo diem atau marah. Kek ada yang beda aja gitu." Ucap Arion.
"Kalau marah ya bujuklah." Decak Lilian.
"Bujuk kek sekarang ini?" Tanya Arion sambil mengalihkan pandangannya di sekitar taman yang baru ia buat.
Lilian baru tersadar akan satu hal. Sejak tadi ia sangat ingin menayakan perihal taman yang baru saja ia lihat saat ini. Setahu Lilian, tempat ini dulu memang bersih meski jarang sekali orang yang datang untuk berkunjung. Posisi pohon yang berada tepat di samping baruga itu membuat banyak murid enggan untuk berkunjung.
Pohon itu terlihat menyeramkan di tambah lagi ada banyak cerita aneh tentang pohon itu yang menyebar. Namun yang sebenarnya tidak ada masalah dengan pohon itu, karena letak pohonnya yang berada jauh dari halaman utama sekolah membuat banyak murid mulai mengarang sendiri cerita tentang pohon itu. Terlebih lagi taman yang saat ini Arion dan Lilian kunjungi berada jauh dari gedung sekolah.
"Ngomong-ngomong ... Kalau nggak salah, nih taman sebelumnya nggak sebagus ini. Gue pernah kesini cuman kagak sering, tapi seingat gue kagak ada tuh bunga-bunga kek gini dan baruga ini." Tunjuk Lilian ke baruga tempat ia duduki, "Yang ada cuman pohon besar itu." Tunjuknya lagi ke arah pohon.
"Memang." Ucap Arion singkat.
"Terus kapan taman ini di perbagus?" Tanya Lilian masih penasaran.
"Tadi." Jawan Arion lagi.
Lilian membulatkan mata sempurna mendengar jawaban dari Arion. "Tadi?" Tanya Lilian dengan kedua alis yang saling bertautan. "Tadi kapan? Lalu di mana para pekerjanya?" Ia menolehkan kepalanya ke arah kiri dan kanan.
"Udah pada pergi. Taman ini gue buat khusus buat lo. Gue kira tadi lo lagi ngambek ... Jadi gue putusin buat ngasih lo taman ini agar lo nggak ngambek lagi." Jelas Arion sambil menyenderkan punggungnya ke belakang tiang baruga.
"Seriusan? Taman ini buat gue? Tapi inikan masih di wilayah sekolah, mana bisa gue nikmatinya sendirian." Kata Lilian masih tidak percaya.
"Lo nggak perlu khawatir, masalah itu udah gue beresin. Lo tinggal nikmatin aja nih taman sesuka hati lo. Mulai hari ini dan seterusnya lo bebas kesini kapan aja. Akan ada tukang kebun juga yang akan merawat nih taman jadi lo nggak perlu lagi repot masalah ngurus taman doang." Jelas Arion sambil menutup mata.
Lilian tersenyum senang sambil menepuk tangan dengan gembira. "Hebat bener pacar gue ... Tanpa gue minta langsung di kasih taman. Lain kali kalau gue minta emas dan berlian di kasih juga kagak?" Candanya.
Arion membuka matanya dan menatap dalam ke arah mata Lilian. "Lo belajar matre dari mana?" Tanyanya heran.
"Dari lo lah ..." Tunjuk Lilian ke arah Arion. "Lo selalu ngasih gue sesuatu yang nggak bisa gue bayangin sebelumnya. Misalnya kek taman ini, biaya pembuatan dan perawatannya pasti nggak murah. Kali aja kalau lain kali gue minta emas atau berlian lo kasih." Kata Lilian asal.
"Pintar ngitung juga?" Tanya Arion sambil mengusap pelan kepala Lilian.
"Iyalah ... Kan, anak Ipa. Masalah hitung menghitung, serahin aja ke gue." Kata Lilian sombong.
Arion terkekeh kecil melihat tingkah Lilian, semua yang di lakukan gadis itu entah hal kecil atau besar selalu saja membuatnya selalu memandang Lilian dengan tatapan berbeda. Gadis itu selalu bersikap spesial di matanya, apapun yang di lakukan gadis itu selalu terlihat menggemaskan.
"Oh iya ... Kemana cewek yang di jodohin dengan lo?" Tanya Lilian kembali mengungkit tentang perjodohan Arion.
"Luar negri." Jawab Arion singkat.
"Sekolah?" Tanya Lilian lagi.
"Napa lo nggak nerima perjodohan dengan cewek itu?" Tanya Lilian penasaran.
"Nggak tertarik." Ucap Arion dengan raut datar.
"Terus bagaimana dengan Bokap dan Nyokap lo?" Tanya Lilian tak habisnya.
"Nggak akan maksa kalau gue nggak suka ... Jikapun maksa gue tetap nggak akan suka." Jawab Arion dengan jujur.
"Napa? Apakah dia kurang cantik?" Tanya Likian memancing.
"Dia cantik." Jawab Arion.
"Dia bodoh?" Tanya Lilian sedikit ragu.
Arion tampak berpikir sebentar. "Pintar ... Julukannya sebagai ratu fashion."
"Style-nya bagus?" Tanya Lilian yang semakin penasaran.
"Bisa di bilang begitu ... Dia juga seorang model." Jawab Arion.
Mata Lilian melotot mendengar jawaban dari Arion. "Lalu napa lo nggak suka?" Tanyanya kesal.
"Karena gue sukanya lo." Jawab Arion enteng.
Blushh ...
Pipi Lilian kembali merona merah mendengar ucapan dari Arion.
"Udahlah kagak usah bahas tuh cewek. Intinya gue suka sama lo. Udah nggak usah tanya-tanya lagi." Kata Arion kembali memejamkan mata lagi.
"Tapi masih ada yang perlu gue tanyain." Kata Lilian sambil menarik pelan tangan Arion.
"Kalau tentang tuh cewek gue males." Ucap Arion dengan cuek.
"Bukan dia ... Tapi Melvin." Kata Lilian yang sontak saja membuat kedua mata Arion kembali terbuka.
"Kenapa dengannya?" Tanya Arion tidak suka.
"Kata temen-temen dia ngepost foto motor gue, bakal ada imbalan besar bagi siapapun yang nemuin pemiliknya. Gitu caption-nya kata teman-teman." Adu Lilian.
"Untuk masalah motornya, lo nggak perlu khawatir. Sekarang tuh motor udah kita amanin, mungkin bentar lagi motornya bakal di kirim ke rumah lo. Hanya saja saat ini jangan dulu pake tuh motor ke sekolah atau kemanapun. Bahaya aja." Jelas Arion dengan tatapan serius.
"Si Melvin itu napa harus nyari gue?" Tanya Lilian ragu.
"Entahlah ... Untuk sekarang, lo gue antar jemput kemana pun agar nggak lagi di gangguin sama tuh orang. Oh ya sampai kapan lo mau ngajak gue ngomong?" Tanya Arion di akhir kalimat.
"Napa? Lo bakal jadi bisuan karena banyak ngomong?" Tanya Lilian dengan tatapan kesalnya.
"Tuh semua gue siapin bukan untuk pajangan." Tunjuk Arion ke arah kue-kue yang tadi Lilian lihat.
"Oh iya." Kata Lilian baru sadar. "Lo sih ngajak gue ngomong mulu." Tuduhnya.
Arion hanya mengehela napas pelan. "Sepertinya ke depannya gue harus banyak sabar." Gumamnya sepelan mungkin.
Lilian tidak mendengar ucapan Arion karena ia sibuk memotret kue-kuenya. Hingga akhirnya ia memaksa Arion untuk borpose seperti yang ia inginkan.
__________________
Lilian bersenandung kecil sambil melangkah dengan riang setelah memutuskan berpisah dengan Arion. Setelah menghabiskan waktu cukup lama dengan Arion, Lilian akhirnya kembali ke kelasnya setelah memastikan Bu Rita keluar dari dalam kelasnya.
Dua jam lamanya Lilian harus membolos karena ulah Arion yang menariknya pergi. Jika Wali Kelasnya Bu Clara menelpon ke rumah, entah alasan apa yang Lilian harus berikan kepada Mamanya lantaran harus membolos selama itu. Terlebih lagi Efina hafal betul ekpresi Lilian saat gadis itu harus berbohong. Saat ini Lilian masih mengharapkan keajaiban agar Bu Clara tidak memberitahukan persoalan bolosnya kepada Efina.
"Ehhh Lilian! Kemana aja lo sejak tadi? Enak betul lo ngebolos selama berjam-jam. Napa nggak ngajak gue sekalian?" Celetuk Kemal tiba-tiba saat melihat Lilian mulai memasuki kelasnya.
"Diem deh lo!" Ketusnya ke arah kemal. "Tadi gue nggak niat bolos cuman ya sudah lah." Ucap Lilian santai dengan raut wajah berseri-seri.
"Gue heran ama lo ... Ketus tapi kok kek orang lagi seneng ya?" Heran Gladis saat melihat Lilian sudah duduk dengan nyaman di kursinya.
"Biasa aja tuh." Ucap Lilian sambil tersenyum kecil.
"Biasa apaan? Tapi pagi terlihat judes! Sekarang senyum-senyum sendiri. Lo nggak sakitkan?" Tanya Laura sambil menempelkan punggung tangannya ke kening Lilian.
"Gue nggak apa-apa kok." Kata Lilian sambil menjauhkan tangan Laura dari keningnya.
"Di bawa kemana aja lo sama Kak Arion? Di lihat-lihat dari raut wajahnya keknya di bawa ke tempat yang dia suka." Tebak Meira.
"Ada deh ... Ntar juga kalian tau." Ucap Lilian sambil tersenyum cerah.
"Alah pakek main rahasiaan-rahasiaan segala." Kesal Laura.
"Biarin." Ujar Lilian cuek.
Denis datang dengan beberapa lembar kertas di tangannya kemudian memberikannya sebagian kepada Lilian.
"Nih formulir pendaftaran kemah dan persetujuan orang tua. Tadi lo ngilang entah kemana, jadi nggak sempet ngasih. Lo isi dulu formulinya dan minta tanda tangan ke orang tua lo, besok kumpulkan lagi ke gue." Jelas Denis.
"Kemah?" Tanya Lilian bingung.
Denis mengangguk pelan. "Ho oh ... Sekolah kita selalu ngadain kemah untuk tiap tahunnya. Kali ini kita bakal kemah agak lumayan jauh dari Kota Jakarta. Dengar-dengar sih di pedesaan gitu, terus nginap selama dua malam. Makanya perlu tanda tangan persetuan orang tua." Jelas Denis lagi.
"Oh gitu. Thanks ya." Kata Lilian dengan senyuman.
"Ok ... Kalau masih ada hal lain yang perlu lo tanyain, tanya aja ke teman-teman lo." Tunjuk denis kearah tiga teman Lilian. "Tadi udah gue jelasin secara detail soalnya." Lanjutnya.
Lilian hanya mengangguk dan Denis pun pergi setelah meyerahkan formulir kepada Lilian. Akan ada banyak pertanyaan yang akan Lilian tanyakan kepada ketiga temannya terkait masalah kemah. Karena Efina akan bersikap ptotektif jika Lilian berada jauh dari pengawasannya.
Lilian butuh banyak penjelasan agar dapat di berikan ijin pergi oleh Efina. Jika tidak maka Lilian akan melalui tahun ini seperti tahun-tahun yang pernah ia lalui, yaitu tetap selalu berada di dalam rumah.
___________________