
Lilian mengerjapkan mata berkali-kali mendengar pertanyaan yang keluar dari mulut Arion. Entah apa yang telah terjadi selama ia tidak sadarkan diri sehingga sekarang lelaki itu menanyakan tentang Seint.
"Selain tuli, lo kayaknya juga bisu." Ucap Arion dengan nada dinginnya.
Lilian membuang muka kesal sambil bersedekap dada. "Ngapain Kakak tanya-tanya? Kepo banget!"
Arion menghela napas pelan kemudian mulai menyalakan mesin mobilnya. Setelah berhasil keluar dari bangunan tersebut, Arion hanya mengendarai mobilnya dengan kecepatam sedang.
Selama perjalanan Arion dan Lilian hanya diam tidak ada yang mau bersuara. Arion yang selalu tidak banyak bicara dan Lilian yang larut dengan pikirannya sendiri sehingga tercipta suasana canggung yang berkepanjangan.
"Lampu merah di depan belok kiri." Kata Lilian meberi petunjuk arah kepada Arion.
Arion tidak menjawab, ia hanya membawa mobilnya sesuai dengan arahan yang Lilian berikan.
"Di depan ada pertigaan, Kakak nanti lurus saja." Kata Lilian memberi petunjuk lagi.
Arion masih tetap diam tidak menjawab, Setelah beberapa waktu mereka akhirnya sampai didepan gerbang rumah Lilian. Arion hanya melirik sebentar suasana rumah Lilian, setelahnya ia hanya mengarahkan pandangannya lurus ke depan.
"Kakak nggak mau mampir dulu?" Tanya Lilian pelan.
"Nggak." Jawab Arion singkat.
"Kalau gitu terima kasih karena udah nganterin gue." Kata Lilian tulus kemudian ia beranjak ingin keluar dari mobil Arion.
Lilian kembali duduk kemudian ia menatap Arion dengan ragu. "Kalau gue bilang Seint itu adalah Kakak ... Percaya tidak?"
Arion mengangkat sebelah alisnya dan menatap Lilian dengan datar. "Nggak." Jawabnya singkat.
Lilian menggigit bibirnya pelan setelah melihat reaksi dari Arion. "Seint memang lo." Gumamnya pelan.
Arion kembali memandang lurus ke depan. "Gue nggak suka!" Ujarnya dingin.
Lilian menatap Arion dengan raut wajah bingung. "Maksudnya?"
"Seint memang nama tengah gue ... Namun gue nggak suka orang asing seperti lo memanggil nama tengah gue sembarangan." Kata Arion penuh dengan nada dinginnya.
Arion memang tidak mengenal Lilian sama sekali namun gadis itu begitu lancang memanggilnya dengan nama tengah. Meski ia merasa kasihan dengan gadis itu hari ini, namun hal itu tidak membuatnya merasa dekat dengan gadis itu.
"Lo bilang gue orang asing?" Tanya Lilian mulai meninggikan suaranya.
"Iya." Jawab Arion singkat tanpa mau memandang ke arah Lilian.
"Kalau ada orang yang sedang berbicara dengan lo jangan memandang ke arah lain. Itu tidak sopan namanya!!" Lilian selalu saja harus menahan kekesalannya saat harus berhadapan dengan Arion.
Arion hanya menatap Lilian dengan acuh. "Lalu?"
Ekspresi itu benar-benar membuat Lilian marah, tangan Lilian refleks ingin memukul kepala Arion agar ia dapat mengingat Lilian kembali. Namun sebelum tangan Lilian sampai, Arion dengan sigap menangkapnya dan menghempaskannya pelan.
"Jangan pikir karena gue bersikap baik hari ini, lo bisa seenaknya sama gue?" Tatapan mata Arion benar-benar dingin dan menusuk.
"Gue peringatkan kepada lo, jauhin gue!" Nada peringatan yang Arion katakan benar-benar terdengan serius.
Lilian meremas tangan yang Arion hempaskan tadi dengan kuat, matanya juga ikut menatap Arion dengan tatapan dinginnya. "Lo pikir gue akan takut denga tatapan dingin lo? Dengarkan ucapan gue baik-baik ... Mulai hari ini gue akan mengikuti kemanapun Alpenseint pergi. Jika lo menginginkan gue menjauh maka gue akan mendekat, jika lo menginginkan gue pergi maka gue akan semakin mendekat namun jika gue memutuskan untuk pergi maka lo tidak akan punya hak untuk melarang gue pergi. Nikmatin kebebasan lo hari ini karena mulai besok kebebasan lo hanya milik gue!" Ucapan Lilian terdengar jauh lebih serius dengan nada penuh tekanan disetiap kata-katanya.
Sebelum Lilian benar-benar keluar dari mobil Arion, ia kembali membalikkan badannya dan menatap ke arah Arion yang menatapnya dengan tatapan tajamnya. "Seint hanya milik Lilian ... Itu adalah janji lo. Sekarang gue datang menagih janji. Sampai bertemu besok Seint." Lilian menutup pintu mobil Arion dengan sangat keras kemudian ia berjalan memasuki pagar rumahnya tanpa menengok ke belakang tepat dimana mobil Arion berada.
Arion sendiri hanya menatap punggung Lilian yang berjalan semakin menjauh darinya. Tatapan mata Lilian selalu terlihat ceria namun hari ini Arion melihat sisi lain dari gadis itu yang berbeda. Tatapan matanya seakan mengintimidasi tatapan dari Arion, kata-kata yang keluar dari mulutnya bahkan memperingati Arion jika ia adalah miliknya dan jika Arion melanggar maka gadis itu akan datang dan menanganinya.
"Psykopat." Gumam Arion pelan kemudian ia menjalankan mobilnya untuk pergi meninggalkan tempat itu.
_________________
Setelah selesai memberi penjelasan kepada kedua orang tuannya, Lilian akhirnya di ijinkan untuk makan malam bersama keluarga. Awalnya Efina merasa sangat khawatir dengan keberadaan Lilian, siang tadi pihak sekolah Lilian mengabarkan jika Lilian sedang tidak berada disekolahnya sejak pagi.
Efina dengan panik menelpon Suaminya Rahadian agar segera pulang dan mencari keberadaan Lilian. Lilian baru beberapa hari di Jakarta, pastinya gadis itu tidak mengetahui jalan dengan detail. Terlebih lagi, selama Efina dan keluarga berpindah tempat, mereka baru pertama kali tinggal bersama kedua anaknya di Jakarta.
Efina beberapakali menelpon ke ponsel anaknya namun sayang ponselnya ia tinggal dan berakhir ditangan temannya. Efina hanya bisa menunggu kabar dari Putrinya atau kabar dari Suaminya yang sekarang tengah mencari.
Sebelum hari mulai gelap, Lilian pulang sendiri dengan kondisi baik-baik saja dan hal itu membuat kedua orang tua dan Kakanya merasa lega. Setelah menjelaskan semua kejadian yang ia alami hari ini, Efina dan Rahadian akhirnya dapat bernapas lega dan menyuruh Lilian agar secepatnya membersihakan diri dan segera turun untuk makan malam bersama.
Setelah Lilian selesai makan malam bersama keluarganya, di sinilah Lilian berada. Duduk disebuah kursi yang berada di balkon kamarnya. Lilian mengenakan baju tidur polos berwarna biru serta selimut yang membungkus badannya tengah menatap lurus ke atas langit yang penuh dengan bintang.
Ia ingat dulu saat ia melakukan perjalan waktu, setiap malam ia selalu menatap ke arah langit dan melihat bintang. Dulu bintang yang ia lihat memenuhi seluruh langit malam dan bersinar sangat terang, meski bintang yang sekarang ia lihat sangat banyak namun jumlahnya tidak bisa menyaingi bintang yang dulu ia lihat.
"Bintang-bintang itu mungkin mirip dengan Seint ... Dulu sangat hangat namun sekarang begitu dingin. Ya ... Meski awalnya ia bersikap dingin namun sikapnya dulu tidak sedingin sekarang. Tatapan matanya begitu dingin dan tajam namun entah mengapa aku selalu merasa tatapan mata itu tetap sama seperti dulu." Gumam Lilian pelan yang masih terus menatap ke atas langit.
"Aku tidak menyalahkan Seint mengapa dia melupakan ku sekarang ... Aku yang melakukan time travel sehingga aku dapat mengingat orang-orang pada masa lalu ku. Sedangkan Seint terlahir kembali meski dengan nama yang hampir sama dan jiwa yang sama, namun ingatannya pasti ingatan baru. Mana mungkin ia dapat mengingat ku." Lilian mulai mengangkat lututnya diatas kursi dan memluknya dengan sangat erat.
"Namun kau pernah berjanji Seint ... Kamu bilang dimasa lalu atau masa depan hanya aku yang ada dihatimu dan hanya aku yang berhak atas dirimu ... Meski sekarang kamu tidak mengingat janji itu namun masih ada aku yang mengingatnya ... Aku akan menagih janji mu Seint." Ucap Lilian menguatkan dirinya sendiri.
Lilian merasa udara malam semakin dingin, setelah lama mencurahkan isi hatinya Lilian kembali masuk ke dalam kamarnya dan berbaring terlentang diatas ranjang besarnya.
"Mulai besok aku akan menagih janji mu Seint." Gumannya pelan.
Lilian menutup matanya dengan perlahan, tidak lama kemudian rasa kantuk menyerang hingga akhirnya Lilian terlelap dengan sangat tenang.
_______________
Pagi hari Lilian terbangun dengan tubuh yang sangat segar. Seperti biasa Lilian mengenakan seragam sekolahnya dengan rambut yang ia gerai. Setelah memeriksa tampilannya disebuah cermin Lilian akhirnya berjalan turun menuju meja makan, disana sudah ada Efina dan Rahadian yang sudah menduduki salah satu kursi.
"Pagi Papa ... Pagi Mama." Sapa Lilian kemudian menarik salah satu kursi meja makan.
"Selamat pagi sayang." Sapa keduanya balik.
Lilian mengambil beberapa roti yang berada didepannya dan mengoleskannya dengan selai coklat.
"Kakak kemana Mah?" Tanya Lilian kemudian memasukan roti ke dalam mulutnya.
"Sudah berangkat duluan ... Katanya ada tugas penting yang harus segera ia selesaikan." Jawab Efina.
Lilian mengangguk pelan kemudian kembali memakan sarapannya. Lilian sesekali mencuri pandang ke arah Efina dan Rahadian bergantian.
"Ada apa Lilian? Ada yang ingin kamu bicarakan?" Tanya Rahadian tanpa menatap wajah Putrinya namun ia dapat memahami apa yang Lilian inginkan.
Lilian hanya menyunggingkan senyum canggung kemudian menatap kedua orang tuanya ragu.
"Katakan saja." Ucap Rahadian lagi.
Lilian meneguk ludah susah namun ia harus memberanikan diri untuk berbicara. "Mah ... Pah ... Boleh tidak mulai hari ini Lilian berangkat sendiri?" Tanya Lilian pelan.
Efina menatap Lilian bingung. "Bukannya dari kemari kamu berangkatnya sendiri?" Tanya Efina.
Lilian menggeleng pelan. "Maksud Lilian tanpa supir mah ... Lilian ingin berangkat sendiri dengan mot ..." Belum sempat Lilian menyelsaikan ucapannya Efina langsung menyimpan sendoknya dengan keras.
"Jika kamu ingin kembali mengendarai motor maka jawabannya tidak Lilian!" Tegas Efina dengan raut wajah peringatan.
"Tapi mah ..." Lilian berusaha merayu Efina dan Rahadian.
"Tidak Lilian ... Kamu pernah kecelakaan hanya dengan megendarai sepeda mu. Mama tidak bisa percaya lagi dengan kendaraan roda dua. Kamu berangkat dengan mobil mu sendiri dan di antar oleh Pak supir." Tegas Efina.
Lilian hanya pasrah mendengar jawaban dari Efina. "Ya sudah kalau begitu Lilian berangkat sekolah dulu." Ucapnya lesu kemudian berdiri untuk mencium tangan kedua orang tuanya.
Setelah mencium tangan Efina, Lilian berjalan mendekati Rahadian untuk mencium tangannya.
"Kamu begitu ingin mengendarai motor ke sekolah?" Tanya Rahadian yang membuat mata Lilian kembali berbinar.
"Pah ..." Efina mulai was-was.
"Mah ... Biarkan Lilian merasakan kebebasan di masa remajanya ... Mama sendiri yang bilang jika Lilian bangun maka akan memberi dunia yang Lilian inginkan. Inilah keinginan Putri mu .." Jelas Rahadian pelan dan hati-hati.
Efina masih ragu dengan keputusan suaminya namun ia juga tidak tega setelah melihat binar bahagia dimata Lilian.
"Lilian pasti bisa menjaga dirinya ... Kecelakaan itu hanya ketidak sengajaan. Lilian kita sudah kembali biarkan dia menjalani kebebasannya." Rahadian kembali memberi pengertian kepada Istrinya.
Efina menghela napas pelan kemudian menatap Lilian. "Baiklah ... Tapi kamu harus berjanji kepada Mama agar selalu berhati-hati. Jangan sampai terluka ataupun sakit."
"Lilian janji." Ucapnya dengan senyum lebar.
"Hari ini berangkat dulu dengan supir mu ... Papa akan memilihkan motor yang aman untuk mu." Ucap Rahadian.
"Tapi motor yang ..." Kata Lilian gantung.
Rahadian tersenyum kecil. "Motor itu buat Bi Marni ke pasar ... Nanti Papa beli yang baru untuk mu."
"Ya sudah ... Lilian berangkat dulu ya." Ucap Lilian dengan raut wajah bahagia.
Setelah berpamitan pergi, Lilian akhirnya berangkat ke sekolah di antar oleh supirnya.
____________