Lilian

Lilian
Sisi Lain Arion



Lilian bersama dengan ke empat anggota Geng Andromeda kembali memasuki aula pesta. Meski sempat terjadi beberapa keributan namun penyelenggara acara tersebut berhasil menenangkan suasana sehingga acara pesta bisa dilanjutkan kembali.


Lilian berserta anggota Geng Andromeda mengambil tempat duduk yang berada dekat dengan jendela besar aula tersebut. Lilian tidak ingin menempati meja yang sebelumnya Arion dan yang lainnya tempati lantaran meja itu berada di tengah aula pesta. Lilian tidak ingin menjadi pusat perhartian orang-orang jika harus memilih meja itu lagi.


Setelah menduduki kursinya, tanpa menengok ke kanan dan kiri Lilian langsung memasukan kue yang terhidang di atas meja ke dalam mulutnya. Rasa lapar yang ia tahan sejak sepulang sekolah membuat Lilian tidak lagi memperdulikan suasana disekitarnya.


"Pelan-pelan ... Makanan itu tidak akan lari kemana pun." Tegur Arion, tangannya terulur membersihkan sisa makanan yang berada di sekitar bibir Lilian.


Lilian sendiri masih fokus dengan makanannya dan mengabaikan teguran dari Arion. Mengisi perutnya yang kosong adalah tujuan Lilian saat ini.


"Lo kagak makan dari kapan? Napsu amat ..." Tanya Rein heran.


Lilian hanya menatap Rein sekilas kemudian kembali sibuk dengan makanan yang ada di hadapannya.


"Gile nih anak ... Lo laper atau gimana sih?" Tanya Mario yang ikut heran.


Lilian menatap Arion, Rein, Mario, dan Farrel satu persatu dengan mulut yang penuh dengan kue. "Twoadi awku nnggak ... Ekhm ... Ekhmm." Ia terbatuk lantaran berbicara dengan mulut yang penuh dengan makanan.


Arion dengan gesit meraih minuman di dekatnya dan memberikannya pada Lilian.


Satu teguk ... Dua teguk ... Tiga teguk ...


"Akhhhh ... Leganya." Ucap Lilian sambil mengupas dada.


"Abisin dulu makanan yang ada di mulut ... baru ngomong." Tegur Arion dengan raut wajah sesikit kesal.


Lilian menghela napas kasar. "Lagian semuanya bawel banget! Kagak tau aja gue laper sejak sepulang sekolah!" Sambil menatap kesal ke arah Rein.


"Kenapa nggak makan?" Tanya Arion datar.


"Nggak di bolehin Mama ..." Ucap Lilian lesu. "Tadinya lagi dandan ... Mama bilang kalau makan make up nya bakalan luntur." Lanjutnya.


Rein menepuk jidak karena baru teringat sesuatu. "Oh iya ... Lupa! Tadi Tante suruh kasih lo makan." Matanya bahkan melebar.


"Napa lo sejak tadi hanya diem aja?!" Tanya Arion dengan nada sedikit meninggi ke arah Rein.


"Apasih? Biasa aja dong ... Namanya juga gue lupa! Mana keingat gue sejak tadi ... Keburu nih anak beranten sama si Kunti." Tunjuk Rein ke arah Lilian.


"Bener juga ... Gara-gara si Macan Tutul nih. Jadi lupa ama laper." Ucap Lilian.


"Etdah ... Si Anin sekarang dah banyak nama." Ucap Farrel sambil cengengesan.


Arion mengambil beberapa hidangan yang berada di dekatnya kemudian menyimpannya tepat di hadapan Lilian. "Mau hidangan lain?"


"Nggak usah ... Ini udah banyak kok." Jawab Lilian jujur.


Obrolan mereka akhirnya terus berlanjut sampai pesta berakhir. Meski sempat ada beberapa insiden namun pesta berakhir seperti yang sudah di rencanakan dari awal.


__________________


Lilian berlari sedikit tergesa menuju kelasnya berada. Karena pesta tadi malam selesai tengah malam membuat Lilian jadi bangun sedikit terlambat dari hari biasanya.


"Gawat ... Gawat ... Bisa di ceramahin ama si Gladis nih." Gerutu Lilian sendiri.


Lilian semakin mempercepat lari-nya agar ia bisa cepat sampai ke kelasnya berada. Hari ini adalah piket Lilian, Gladis dan beberapa anak lainya. Itu sebabnya ia harus secepat mungkin sampai di kelasnya agar Gladis tidak mengomelinya karena datang telat.


Baru saja Lilian ingin memasuki kelasnya, suara nyaring khas dari Gladis membuat penghuni seisi kelas harus menutup kupingnya masing-masing.


"LILIAAAAANNNN! LO TAU NGGAK INI DAH JAM BERAPA?" Tanya Gladis dengan suara melengkingnya.


Spontan Lilian berhenti di depan pintu kelas dengan senyum canggungnya. "Sorry ... Gue telat." Ucapnya ragu


Gladis berjalan mendekati Lilian dengan berkacak pinggang layaknya orang yang sedang marah besar. "Napa lo telat?" Tanyanya dengan raut wajah marah yang di buat-buat.


Lilian menghena napas pelan. "Gue telat bangun ... Ini pun dah berusaha cepat nyampainya. Dari parkir kesini gue harus lari maraton." Jawabnya.


Gladis mengerutkan kening bingung. "Lo bawa motor sendiri?" Tanyanya.


Lilian mengangguk pelan sebagai jawabannya.


"Di ijinin?" Tanya Gladis lagi.


"Ya ... Mau gimana lagi? Gue telat ... Kagak sempatlah nungguin Kak Arion." Jawab Lilian.


"Artinya Kak Arion juga telat?" Tanya Meira yang tiba-tiba datang dari arah belakang punggung Gladis.


Lilian kembali mengangguk. "Semalam ada acara pesta gitu ... Pulangnya agak malam jadi telat bangun deh." Jawabnya.


"What? Seriusan? Lo ke pesta berdua dengan Kak Arion gitu?" Tanya Gladis heboh.


Lilian menatap Gladis dengan malas. "Bukan cuman berdua ... Kak Rein, Kak Farrel dan Kak Mario juga ada. Papa dan Mama berserta keluarga yang lain juga ada." Jawabnya.


"Kok kita kagak tau?" Tanya Laura yang juga sejak tadi berdiri di dekat Gladis dan Meira.


"Entah ... Gue juga baru tau saat pulang sekolah. Mama tiba-tiba narik gue ke salon buat dandan. Ehhhh dah lah .... Gue mau piket." Ujar Lilian.


"Dah selesai ... Kalau nungguin lo kapan kelar kita nyapunya." Ketus Gladis.


"Ohhh ... Gladis ku sayang ... Lo emang teman gue yang baek." Ucap Lilian sambil memeluk Gladis.


"Apaan sih ... Jauh-jauh lo." Usir Gladis.


Tidak lama bel masuk pun berbunyi. Semua murid Florenzo School memasuki kelas masing-masing dengan teratur untuk belajar.


_______________________


"Capek banget gue, sumpah." Ujar Gladis dengan merenggangkan tangannya ke atas.


Bel istirahat telah berbunyi sejak tadi, namun ke empat gadis itu masih tetap berada di dalam kelas lantaran sedang menunggu Laura selesai mencatat di bukunya.


"Hari ini kalian mau makan apaan?" Tanya Meira dengan mata yang masih tertuju ke arah ponselnya.


Baru saja Lilian ingin menjawab, suara gebrakan meja dari Meira membuat Lilian, Laura dan Gladis menatap gadis itu dengan kesal.


"Lo mau ngetes jantung kita aman apa nggak? Kira-kira dong kalau mau ngeberak meja!!" Ketus Gladis.


"Tauuu ... Untung gue kagak ada penyakit jantungan!!" Setuju Laura yang juga ikut kesal.


"Husshh ... Diem deh lo pada! Kagak penting lo pada jantungan atau kagak! Sekarang yang terpenting ada berita yang lagi hot banget nih." Meira menunjukkan layar ponselnya ke arah ketiga temannya yang masih menatapnya kesal.


"Berita apaan? Layar Hp lo aja mati!" Ketus Gladis.


Meira kembali memeriksa ponselnya dan benar saja layar ponselnya menghitam karena telah terkunci.


"Astagaaa lagi hot-hot nya juga pakek ke kunci nih Hp!" Gerutu Meira.


"Berita apaan emang?" Tanya Lilian yang sejak tadi hanya diam.


"Si Kunti ama pacar, lo." Ucap Meira sambil menunjukkan layar ponselnya kembali.


Anindya dari kelas sebelas sedang mengutarakan isi hatinya kepada Arion. Bagi yang penasaran yuk merapat ke lapangan basket sekarang juga.


Emosi Lilian mulai tersulut, tanpa sadar ia mengepalkan kedua tangannya setelah membaca salah satu story dari murid Florenzo School.


"Emang dasar cabe! Dah tau Kak Arion pacarnya, Lilian! Masih aja kega**lan." Kesal Gladis yang tidak terima.


"Kalau gitu ngapa kita masih di sini?! Ayok cepetan ke lapangan!" Ajak Laura tergesa sambil memasukan bukunya dalam tas dengan asal.


"Ya udah ... Ayok! Ayok!" Ujar Gladis.


Ke empat gadis itu segera berjalan dengan tergesa menuju tempat yang telah di tulis oleh salah satu murid tadi.


Sesampainya ke empat gadis itu ternyata lapangan basket sudah full oleh para murid lainnya yang juga ingin menyaksikan momen pernyataan cinta dari Anin.


"Lah ... Gimana dong, tempatnya dah penuh. Kita mau masuk lewat mana?" Tanya Laura sambil celingak celinguk ke kanan dan kiri untuk mencari celah.


"Tabrak aja udah! Kagak ada waktu lagi kita!" Kata Gladis kemudian menarik tangan Lilian untuk mengikutinya.


Gladis yang memimpin jalan, tidak kenal perempuan atau lelaki gadis itu tetap menabrak siapa saja yang menghalangi jalannya. Meski sedikit susah dan harus di teriaki oleh murid lain namun ke empat gadis itu berhasil berada di posisi terdepan dari murid-murid itu.


Pemandangan di depan sana membuat mata Lilian menajam. Banyak sekali hiasan serba warna pink dan beberapa hiasan yang mendukung Anin untuk menyatakan cinta pada Arion.


Lilian tidak ingin langsung mendekat ke tempat Anin dan Arion berada. Ia ingin menyaksikan bagaimana Arion mengatasi gadis itu sendiri, karen selama ini Arion selalu tetap diam walau Anin selalu menempel dimana pun Arion berada.


"Ehh ... Lilian! Lo kagak mau mendekat atau gimana gitu? Secara kan Kak Arion pacar, lo! Masa iya lo hanya nontonin mereka berdua aja?" Tanya Gladis yang sudah tidak tahan dengan kelakuan Anin.


"Betul tuh, Lilian! Kalau lo butuh tenaga ...Kita-kita siap jadi tameng lo kok." Setuju Meira.


"Ayok, Lilian! Masa iya lo hanya jadi penonton." Ujar Laura yang ikut greget.


"Untuk sekarang nggak! Gue penasaran gimana Kak Arion bakal nyikapin tuh orang." Jawab Lilian. Pandangannya tidak pernah lepas ke arah kedua orang yang saling berhadapan.


Disana Anin terlihat sangat bersemangat dengan senyuman manis yang terukir di bibirnya. Ditangannya ia memegang buket bunga mawar merah yang berukuran sangat besar. Sedangkan di sekitarnya ada beberapa murid yang membantu memegang balon serta beberapa hiasan lainnya.


Terlihat juga di sana ada Naomi, Karin dan Sheril yang juga ikut membantu Anin dalam menyatakan perasaannya tersebut.


Sedangkan di depan Anin terlihat Arion yang sedang menatapnya dengan ogah-ogahan. Di belakang Arion ada Rein, Farrel, Mario dan anak basket lain yang terlihat bingung dengan kedatangan Anin berserta teman-temannya.


"Arion ... Kita udah lama kenal dan lo pasti udah tau gimana perasaan gue ke lo. Sejak pertama mengenal lo, hati gue udah memilih lo untuk menjadi pasangan gue yang sempurna." Kata Anin dengan senyuman yang tidak pernah luntur di bibirnya.


"Gue tau perasaan lo saat ini lagi bimbang. Antara lo yang belum sadar tentang perasaan lo ke gue dan perasaan lo yang lagi terjebak oleh gadis yang baru aja lo kenal. Gue ngerti dan bakalan nuntun lo ke perasaan lo yang sesungguhnya. Jadi ... Lo mau nggak bareng sama gue untuk mengerti perasaan lo yang sesungguhnya?" Tanya Anin dengan malu-malu.


Teriakan riuh dari penonton menggema di seluruh lapangan basket. Namun teriakan-teriakan itu tidak berlangsung lama lantaran Arion akan segera memberi jawababnya.


"Perasaan yang sesungguhnya?" Tanya Arion tanpa ekspresi di wajahnya.


Anin mengangguk dengan cepat mendengar pertanyaan dari Arion. "Gue tau lo nggak mungkin sayang ke gadis yang baru lo kenal. Lo hanya terjebak oleh perasaan lo sendiri dan gue ngerti itu. Untuk itu gue menyatakan perasaan gue hari ini agar lo sadar ... Bahwa yang lo sayang adalah gue dan bukan Lilian." Ucapnya tegas.


Suasana semakin hening dan tidak satu pun yang mau mengeluarkan suara. Namun keheningan itu pecah lantaran Arion yang tiba-tiba saja tertawa.


Bukan tertawa yang membuat wajah tampannya semakin mempesona, melainkan tawa yang membuat buluk kuduk orang yang mendengar meremang. Tawa yang mungkin tidak pernah orang ingin lihat, wajah tampan Arion sekita berubah menjadi masam dan tatapan matanya menajam.


Raut wajah Arion yang sekarang menampakan jika ia berada pada mode waspada. Arion melangkahkan kakinya beberapa langkah ke depan dan mendekat lebih dekat lagi ke tempat Anin berdiri.


Tangan Arion terangkat dan ia mengelus pelan pipi kiri Anin. Hal itu membuat Anin yang sempat takut kini menjadi semakin yakin jika Arion juga menyukainya.


Namun perasaan yang di rasakan oleh Anin tidak berlangsung lama lantaran Arion yang tiba-tiba mencekam wajah Anin dengan sengat keras dan membuat gadis itu memekik kesakitan.


"Arion sakit!!" Bunga yang sejak tadi Anin pegang terjatuh ke atas lantai lapangan dan ia berusaha mungkin untuk melepas cengkraman tangan Arion.


"Lepaskan dia Arion! Anin kesakitan!" Pekik Sheril yang berusaha mendekat untuk membantu melepaskan tangan Arion.


Langkah Sheril terhenti saat tatapan mata Arion menajam ke arahnya. Tatapan mata itu seakan mengisyaratkan seperti tatapan ingin membunuh seseorang. Sehingga Sheril tidak melanjutkan langkahnya dan memilih untuk tetap diam di tempatnya.


Setelah memastikan Sheril tidak lagi mendekat. Tatapan mata Arion kembali menatap ke arah Anin yang masih saja berusaha melepaskan diri dari cengkraman tangan Arion.


"Dengar kata gue baik-baik dan simpen di otak kecil lo untuk selamanya!" Arion menekan setiap kata-katanya.


Nada suara Arion sangat jelas terdengar bahwa saat ini ia sedang marah. Tidak ada yang berani mendekat untuk membantu melepaskan Anin dari tangan Arion. Aura lelaki itu saat ini benar-benar kelam dan tidak satu pun orang yang berani mendekat termasuk ke tiga temannya sendiri.


"Lo bilang apa tadi? Perasaan yang sesungguhnya?" Tanya Arion dengan raut wajah datarnya.


"Tau apa lo tentang perasaang gue?! Arion semakin mengeraskan cengkramannya. "Selama ini gue diem itu karena gue masih memberikan lo kesempatan buat menjauh dari gue! Namun kayaknya dengan diemnya gue membuat lo merasa di atas angin." Nada suara Arion benar-benar terdengat berat.


"Lo pikir gue suka sama, lo?!" Arion terlihat tersenyum mengejek ke arah Anin.


"Tidak ada satu pun yang ada pada diri lo yang membuat gue tertarik! TIDAK SATU PUN!!"Arion menekan kata-kata terakhirnya. " Simpen baik-baik di otak lo kata-kata gue ini!! Gue nggak tertarik sedikit pun pada, lo! Lo idup atau mati pun gue kagak peduli! Berhenti gangguin gue semasih gue masih memiliki rasa empati terhadap idup lo yang nggak guna itu!!"


__________________________