
Lilian akhirnya dapat bernapas dengan sangat lega setelah memasuki kamarnya. Untung saja Efina tidak mengetahui kejadian sebelum ia sampai di rumahnya. Lilian hanya menjalaskan jika di jalan terjadi macet yang berkepanjangan sehingga membuatnya sedikit terlambat untuk pulang.
Setelah melepas sepatu dan menyimpan ransel-nya diatas meja, Lilian melangkahkan kakinya menuju kamar mandi. Setelah melewati hari yang sangat melelahkan, Lilian hanya ingin mengguyur seluruh tubuhnya dibawah sower dan berharap semua lelahnya juga ikut terbawa oleh air itu.
Setelah cukup lama mengguyur tubuhnya, Lilian akhirnya keluar dari kamar mandi dengan baju tidur yang melekat dibadannya lalu menghempaskan tubuhnya diatas ranjang king size miliknya. Lilian hanya ingin mengistirahatkan tubuh serta pikirannya setelah melewati hari yang begitu panjang. Matanya perlahan menutup kemudian tidak lama setelahnya Lilian tertidur dengan sangat lelap.
_____________
Pagi yang sangat cerah secerah suasana hati Lilian saat ini. Lilian terbangun dengan tubuh fresh dan tanpa beban pikiran apapun. Lilian memutusakan mengawali hari senin dengan banyak berpikir positif agar bisa beraktifitas seharian dengan lancar.
Lilian menutup pintu kamarnya dan bersiap turun untuk menemui kedua orang tuanya. Ia bahkan bersenandung kecil selama menuruni tangga dan langsung menghampiri meja makan tempat kedua orang tuanya berada.
"Selamat pagi Papa ... Mama." Sapa Lilian riang.
"Hari ini kamu terlihat ceria banget. Ada sesuatu yang terjadi?" Tanya Rahadian ke arah Lilian yang mulai duduk di kursinya.
Lilian mengerucutkan mulutnya setelah mendengar kata Rahadian. "Memangnya harus ada sesuatu dulu baru bisa ceria?"
Rahadian tersenyum kecil mendengar ucapan Lilian. "Ya tidak juga ... Cuman Papa lihat akhir-akhir ini kamu sedikit berbeda." Ucapnya sambil menyesap kopi paginya.
"Apanya yang berbeda? Lilian masih sama dengan yang kemarin-kemarin aja kok! Lilian hanya ingin menebar keceriaan supaya orang-orang disekitar Lilian tertular." Kata Lilian semangat.
Rahadian mengangguk pelan. "Ohh begitu ... Papa kira karena kamu sudah punya pacar." Kata Rahadian santai.
Lilian yang baru saja memakan rotinya tersedak karena mendengar ucapan dari Rahadian. Efina yang berjarak dekat dengan Lilian segera memberi Putrinya itu minum.
"Kalau makan itu pelan-pelan." Ucap Efina khawatir sambil menepuk pelan punggung Lilian.
Lilian baru bernapas lega setelah menghabiskan hampir setengah dari gelas minumannya kemudian ia menatap kesal ke arah Rahadian. "Papa apa-apaan sih ... Lilian mana punya pacar!" Kesalnya.
"Lah kalau nggak punya kenapa sampai bisa tersedak? Jangan-jangan kamu sekarang ..." Rahadian menggantung kalimatnya kemudian menatap Lilian dengan tatapan aneh.
"Ihhh Papaaaaaa ..." Ucap Lilian kesal.
"Papa jangan goda Lilian terus ... Lihat mukanya sekarang memerah entah karena apa." Lilian pikir Efina akan membelanya namun ternyata Efina malah ikut menggodanya.
"Ihhhh Mamaaaaa ..." Ucap Lilian kesal.
Niatnya Lilian akan menjalani harinya dengan lebih baik dari hari kemarin namun kedua orang tuanya malah menjadi orang pertama yang menggodanya dipagi hari begini.
Kedua orang tua Lilian sendiri sangat suka menggoda Putrinya itu. Baru pertama kali mereka melihat rona merah di wajah Putrinya setelah lama tinggal bersama. Ada raut bahagia yang mereka tangkap disana, entah apa yang telah ia lewati selama pindah ke Jakarta namun yang bisa mereka simpulkan adalah saat ini Putrinya sedang bahagia dan hal itu membuat keduanya bahagia.
"Hari ini pulang jam berapa sayang?" Tanya Efina sambil menatap ke arah Lilian.
"Seperti biasa jam 3. Memangnya kenapa?" Tanya Lilian.
Efina menatap ke arah Rahadian terlebih dahulu sebelum ia kembali menatap ke arah Lilian. "Hari ini kita punya acara penting ... Jika sekolah mu selesai, cepatlah pulang!" Kata Efina dengan nada lembut.
Lilian mengangguk pelan. "Baiklah ... Sarapan Lilian udah habis, lebih baik Lilian berangkat ke sekolah agar tidak telat." Ucapnya kemudian ia berjalan mencium tangan kedua orang tuanya.
"Hati-hati ya sayang." Ucap kedua orang tua Lilian.
Lilian mengangguk pelan kemudian berjalan menuju garasi tempat motornya terparkir. Tidak lama kemudian Lilian akhirnya menjalankan motornya dan ia pun segera berangkat menuju sekolahnya.
_________________
Setelah memarkirkan motornya ditempat khusus untuk motor, Lilian melangkahkan kakinya menuju kelasnya berada. Sepanjang perjalannya, Lilian mendapati banyak sekali Murid yang berkumpul dan sepertinya sedang membahas sesuatu.
Tidak ingin kepo dengan aktifitas murid-murid itu, Lilian akhirnya memutuskan untuk terus melangkahkan kakinya menuju kelasnya. Terdengar suara heboh dari dalam kelas Lilian yang tidak biasanya seperti itu. Karena penasaran, Lilian mempercepat langkah kakinya dan memasuki kelasnya.
Begitu kaki Lilian memasuki kelasnya, Gladis langsung menarik tangan Lilian menuju kursi dan kedua temannya yang lain berada.
"Kalian semua kenapa sih? Heboh banget ... Suaranya sampai terdengar diluar kelas." Ucap Lilian bingung.
"Eeeiitttssss gimana nggak heboh ... Florenzo Scholl lagi memanas." Kata Gladis heboh, lengakap dengan ekspresinya.
"Memanas?" Tanya Lilian bingung.
Ketiga teman Lilian kompak mengangguk. "Lo tau nggak?" Tanya Laura dengan raut wajah serius.
"Enggak." Ucap Lilian sambil menggelengkan kepalanya.
Meira menepuk pelan lengan Lilian karena kesal. "Lo jangan jawab dulu ... Cukup dengarkan cerita kita dulu." Ucapnya dan di angguki oleh Gladis dan Laura.
Lilian mengehela napas pelan melihat kelakuan ketiga temannya. "Perasaan tadi mereka nanya." Batinnya.
"Kemarin Kak Arion sama anak-anak lain dari Florenzo School tawuran dengan anak dari SMA Tunas Harapan! Katanya sih tawurannya lumanyan ricuh sehingga membuat pihak berwajib turun tangan langsung untuk menangani tawuran itu." Cerita Meira dengan raut wajah serius.
"Dengar kabar anak Florenzo School berhasil memukul mundur pihak lawan. Memang sejak lama sekolah kita dan SMA Tunas Harapan dari dulu nggak pernah akur. Dengar-dengan SMA Tunas Harapan duluan yang memukul anak dari sekolahan kita kemudian mengajak duel." Kali ini Gladis yang heboh bercerita.
"Polisi berhasil menangkap beberapa anak dari SMA Tunas Harapan sedangkan anak dari sekolahan kita berhasil kabur berkat strategi dari Kak Arion. Seluruh sekolah kita sedang heboh membicarakan itu." Kata Laura.
Lilian mendengarkan cerita dari ketiga temannya dengan diam tanpa kata dan ekspresi. Padahal ketiga temannya menantikan ekspresi kaget dari Lilian hingga beberapa waktu menunggu, Lilian masih diam dan menatap ketiga temannya tanpa ekspresi.
"Lo kok diem aja sih?" Kesal Gladis akhirnya.
"Lahhh kalian sendiri yang minta gue agar tetap diam." Ucap Lilian menatap ketiga temannya bergantian.
"Ya nggak gitu juga ... Sebagai orang yang suka dengan Kak Arion, seharusnya lo kaget dan khawatir dengannya setelah mendengar berita ini!" Kata Laura yang juga ikut kesal melihat Likian yang tanpa ekspresi.
"Kak Arion bisa jaga dirinya baik-baik! Memimpin tawuran aja bisa, apalagi jaga diri ... Kalian sendiri yang bilang berkat strategi dari Kak Arion anak-anak sekolahan kita nggak ketangkep." Kata Lilian santai.
Gladis memukul tangan Lilian sedikit keras karena gemas melihat Lilian yang begitu santai.
"Awww sakit Dis ..." Lilian mengusap tangan yang Gladis pukul.
"Lagian lo bikin kesel aja ... Kita-kita belum tahu bagaimana kondisi Kak Arion dan ketiga temannya! Anak lain yang ikut tawuran kemarin udah pada datang sedangkan ke empat anggota dari Geng Andromeda belum datang satu pun! Masa iya lo nggak ada rada khawatirnya sedikit pun!" Kesal Gladis.
"Ya mungkin saja mereka terlambat bangun. Kalau Kak Arion baik-baik saja tapi gue nggak tahu dengan ketiga temannya yang lain." Kata Lilian yang langsung diplototi oleh ketiga temannya.
Lilian mengerjapkan matanya sejenak mencari jawaban yang tepat untuk ia berikan kepada ketiga temannya. "Kemarin saat perjalanan pulang, gue lewatin tempat kejadian tawuran ... Tempat itu memang sangat kacau, gue awal ngira itu bekas orang demo, eh ternyata bekas tawuran mereka." Jelasnya.
"Terus bagaimana ceritanya lo tahu kalau Kak Arion baik-baik saja?" Tanya Gladis dengan raut wajah serius.
Lilian menatap ketiga temannya bergantian, ekpresi ketiganya menuntut Lilian agar segera menceritakan semua yang kemarin ia lihat. "Mama gue nelpon terus suruh cepat pulang ... Gue hanya tahu satu jalan aja buat pulang ke arah rumah gue, yaitu dijalan mawar ... Ehhh nggak tahunya tuh jalan malah di blokade ama tuh si Geng ... Geng Tiger kalau nddak salah." Jelas Lilian sambil mengingat kejadian kemarin.
"What? Lo ketemu Geng Tiger? Melvin?" Tanya Laura hoboh, suaranya bahkan terdengar sangat nyaring memenuhi ruangan kelas mereka.
Lilian menggangguk cepat. "Iya benar ... Motor gue ditahan cuman Kak Arion datang dan nyelamatin gue dari mereka." Kata Likian mengakhiri cerita.
"Gila ... Gila ... Gila, lo nggak di apa-apain kan sama si Melvin? Dengar kabar itu orang sangat sadis bahkan sama cewek ... Tampang doang ganteng namun kelakuan minus! Nggak doyan gue ama yang begituan." Ucap Meira sambil memeluk tubuhnya merinding.
"Gue sih nggak di apa-apain karena Kak Arion datang lebih cepat buat nolong gue." Ucap Lilian.
"Terus bagaimana kondisi Kak Arion terakhir kali lo lihat?" Tanya Denis yang ternyata sejak tadi ikut nimbrung mendengarkan cerita Lilian.
"Sejak kapan lo semua ada disana?" Tanya Lilian heran melihat hampir seluruh teman sekelasnya sejak tadi duduk dibelakangnya dan mendengarkan cerita darinya.
"Bukan saat lo tanya itu ... Selanjutnya apa yang terjadi dan bagaima keadaan Kak Arion?" Tanya Salsa teman sekelas Lilian.
"Terakhir gue lihat keadaanya baik-baik saja. Tapi untuk kejadian selanjutnya gue udah nggak tahu, karena setelah mengantar gue pulang dia pun pergi." Jawab Lilian.
"Lo di antar sampai rumah?" Tanya teman Mira teman sekelas Lilian.
Belum sempat Lilian menjawab, bel tanda masuk berbunyi sangat keras dan membuat murid lain segera membubarkan diri dan duduk di kursi masing-masing. Tidak lama setelahnya Bu Marisa datang dan menagih tugas yang terakhir kali ia berikan.
___________
Setelah bel istirahat berbunyi, Lilian dan ketiga temannya langsung menuju kantin untuk mengisi perut mereka. Belajar hitungan selama beberapa jam membuat tenaga mereka terkuras banyak. Sama seperti hari-hari sebelumnnya, Lilian masih menyukai dan memesan mi ayam buatan Bu Emi dengan jus alpukat sebagai minumannya. Sedangkan ketiga temannya memesan bakso dan minuman yang sama dengan milik Lilian.
Terdengar suara riuh tidak jauh dari tempat Lilian dan ketiga temannya berada. Bisa dipastikan suara itu berasal dari murid perempuan yang mengagumi anggota dari Geng Andromeda. Tidak lama setelahnya, muncul ke empat lelaki yang selalu menjadi soroton sedang berjalan memasuki kantin. Ke empatnya berjalan menuju meja yang selalu mereka duduki sambil bercanda ria satu sama lain.
"Lilian Kak Arion tuh." Bisik Gladis sambil menunjuk ke arah Geng Andromeda dengan menggunakan ekor matanya.
"Gue dah lihat kok." Kata Lilian sambil meminum jus alpukatnya.
"Lo nggak ada niat buat ngucapin terima kasih atau apalah gitu setelah dia tolongin?" Tanya Laura dengan nada pelan hampir seperti berbisik.
"Kemarin gue udah ngucapin terima kasih kok." Kata Lilian sambil menatap ke arah Arion yang sedang memainkan ponsel ditangannya.
"Ohhh gue kira lo bakal ..." Ucapan Meira terhenti melihat Lilian yang sudah berdiri dari duduknya. "Lo mau kemana?" Tanyanya.
"Kemarin gue hanya ngucapin dan hari ini gue harus memberikan sesuatu sebagai ucapan terima kasih." Kata Lilian dengan senyum yang terus mengembang di bibirnya.
Ketiga teman Lilian melongo melihat kelakuan ajaib dari Lilian. Ada-ada saja kelakuan yang gadis itu tunjukan dan selalu berhasil membuat ketiga temannya selalu menggelengkan kepala.
Lilian melangkahkan kakinya menuju tempat minuman dan mengambil sebotol minuman dingin disana. Lilian bahkan memilih beberapa cemilan yang ia masukan kedalam kresek yang berukuran sedang, setelah selesai membayar Lilian melangkahkan kakinya menuju Geng Andromeda berada.
"Minuman ini khusus gue beliin buat lo sebagai ucapan terima kasih gue karena udah nolongin gue kemarin." Kata Lilian sambil menggeser sebotol minuman dingin rasa jeruk ke arah Arion.
Lilian bahkan mengambil salah satu kursi kemudian menariknya ke dekat Arion dan menduduki kursi tersebut.
"Gue bolehkan duduk disini sebentar?" Tanya Lilian sambil menatap Rein, Farrel, dan Mario bergantian.
"Boleh saja asal ..." Ucap Mario menggantung sambil melirik ke arah Arion.
"Asal diijinkan oleh Arion." Lanjut Farrel meneruskan ucapan Mario.
Lilian mengalihkan pandangannya ke arah Arion yang masih saja sibuk dengan ponselnya dan tidak melirik minuman yang Lilian berikan tadi sedikitpun.
"Gue bolehkan duduk disini sebentar?" Tanya Lilian namun Arion tidak sekalipun menjawab atau meliriknya.
Dengan kesal Lilian menarik sebelah tangan Arion dan sukses membuat lelaki itu menatapnya dengan tatapan tajam.
"Gue udah biasa di tatap seperti itu ... Nggak bakalan takut sedikitpun." Ucap Lilian sambil melempar senyuman ke arah Arion.
Arion hanya menatapnya malas. "Mau apa lo kesini?" Tanyanya akhirnya.
"Mau ngantar ini sebagai ucapan terima kasih untuk kemarin." Tunjuk Lilian ke arah minuman dan cemilan yang ia bawa.
"Nggak butuh! Nggak lapar dan nggak haus." Ucap Arion dingin.
Lilian mendengus kesal. "Kalau nggak lapar simpan buat nanti aja tapi harus minum sekarang."
"Nggak!" Kata Arion disertai tatapan tajamnya.
"Harus!" Kata Lilian ngotot.
"Kenapa?" Tanya Aron lagi.
"Sebagai tanda kalau lo menerima niat baik gue." Jawab Lilian.
"Nggak perlu. Bawa pergi!" Katanya dingin.
Lilian menghela napas pelan, seperti biasa Lilian harus mempunyai kesabaran dan tenaga lebih jika berhadapan dengan Arion. "Minum tidak!"
"Nggak!" Arion masih tetap dengan pendiriannya.
"Kalua tidak ..." Lilian menatap aneh ke arah Arion seraya mendekatkan wajahnya ke arah Arion.
"Mau apa lo?" Tanya Arion mulai was-was.
Lilian tidak menjawab melainkan lebih mendekatkan wajahnya ke arah Arion. Ketiga teman Arion serta orang yang berada di kantin ikut menahan napas melihat kelanjutan yang akan Lilian lakukan.
____________________