
Rooftoop Sekolah
Setelah insiden yang terjadi dikantin sekolah, Arion melangkahkan kakinya menuju tempat tertinggi di Florenzo School. Tempat itu adalah tempat berkumpulnya Geng Andromeda untuk menenangkan diri dari hiruk piruk sekolah.
Selain tempatnya yang tenang, rooftoop sekolah memiliki pemandangan yang sangat indah, dari atas sana Geng Andromeda dapat melihat banyak aktifitas yang dilakukan oleh para murid dan dari atas sana juga mereka mendapatkan ketenangan dari sejuknya angin yang selalu menerpa wajah.
Florenzo School memiliki bangunan tiga lantai, Lantai pertama di isi oleh murid kelas X, lantai ke dua di isi oleh murid kelas XI dan lantai ke tiga di isi oleh murid kelas XII. Masig-masing lantai memiliki kantin tersendiri namun kebanyakan murid memilih ke lantai paling bawah karena letaknya dekat dengan lapangan.
Ruang kepala sekolah serta para guru lainnya berada di bangunan gedung tersendiri namun bangunannya masih terhubung dengan bangunan lainnya. Perpustakaan ada dilantai pertama dengan gedung tersendiri, begitu pula dengan ruangan musik, tempat renang, laboratorium, serta ruangan lainnya.
Florenzo School juga menyiapkan lift agar para murid yang dari lantai atas tidak kelelahan jikalau harus ke lantai dasar hanya untuk ke perpustakaan atau berolahraga ke lapangan.
Kembali pada Arion yang sekarang tengah berbaring pada sebuah kursi khusus, sebelah tangannya ia gunukan untuk menutupi wajahnya sedangkan sebelah tangannya lagi ia gunakan sebagai bantal.
Ketiga temannya saling bertatapan satu sama lain melihat Arion yang berbaring tanpa bergerak sedikitpun dari pembaringannya.
"Lo yakin nggak kenal sama tuh cewek? Kelihatan dari tatapan matanya ... Tuh cewek kayak udah kenal lo lama deh." Mario yang pertama kali memberanikan diri untuk bertanya pada Arion.
Ketiganya menunggu reaksi dari Arion namun cowok itu sama sekali tidak peduli dengan pertanyaan Mario, bergerakpun tidak.
"Apa mungkin tuh cewek salah orang ya?" Tanya Farrel sambil mengingat masa lalunya.
"Kita dari kecil udah barengan, kalaupun Arion kenal tuh cewek otomatis kita juga pasti kenal dong." Ujar Rein sambil menatap ke arah Arion yang masih tidak bergerak sedikitpun.
"Benar yang lo bilang ... Oh iya kalau tidak salah denger nih ya, tadi tuh cewek manggil Arion dengan nama Seint." Ucap Mario sambi mengingat kembali kejadian di kantin tadi.
"Bener banget tuh! Sebelum tuh cewek pergi ... Kayaknya dia mengatakan sesuatu." Ketiganya kembali menatap kearah Arion yang tidak bergerak dari tempatnya.
"Kalian sadar nggak sih ... Kalau mata tuh cewek mirip banget sama matanya Rein?" Tanya Farrel sambil menatap ke arah Rein. "Gue pikir hanya keturunan Arisena doang yang memiliki warna mata yang begitu, ternyata ada orang yang bukan dari Arisena yang memiliki warna mata yang sama." Lanjutnya.
"Oh iya juga ya ... Apa mungkin karena pencahayaan?" Bukankah di Indonesia hanya marga Arisena saja yang memiliki warna mata yang seperti itu?" Tanya Mario beruntun.
Rein mengedikkan bahu tanda tidak tahu. "Entahlah ... Gue juga baru pertama kali lihat tuh cewek. Agak aneh memang sih cuman tuh cewek bikin gue penasaran." Ujar Rein.
Farrel mengangguk pelan. "Bagaimana kalau kita cari informasi tentang tuh cewek?"
Sebelum kedua temannya menjawab, Arion bergerak dari pembaringannya dan duduk menghadap ke arah Farrel.
"Berisik." Ketusnya dengan raut wajah dingin.
"Sans aja dong Bang ... Mending lo kembali tiduran aja." Celetuk Farrel.
Arion menyandarkan punggungnya ke sandaran kursi sambil mengingat kembali wajah Lilian. "Dia manggil gue dengan sebutan King Alpenseint Balaz." Kata Arion tiba-tiba yang langsung ditatap oleh ketiga temannya.
"Seriusan? Apa mungkin tuh cewek salah orang?" Heran Mario setelah mendengar ucapan Arion.
"Seperti biasa, hanya cewek yang numpang caper saja." Ujarnya lalu berdiri dari tempat duduknya.
"Mau kemana lagi? Capek gue ngikutin lo terus." Kesal Farrel.
"Kelas. Bel udah bunyi." Ucapnya langsung berjalan meninggalkan ketiga temannya.
_____________________
Gladis, Laura, dan Meira masih belum berani mengeluarkan sepatah katapun saat mereka sudah kembali kel kelas. Lilian masih dengan aura kekesalannya sehingga membuat ketiga temannya mengurungkan niat mereka untuk bertanya.
Meira adalah gadis yang tidak bisa diam saja melihat temannya dalam kondisi seperti ini, setelah mengumpulkan keberanian Meira akhirnya bersuara untuk yang pertama kali.
"Lilian lo baik-baik sajakan?" Tanya Meira hati-hati takut menyinggung Lilian.
Lilian sedari tadi diam untuk menenangkan diri, ia tahu teman-temannya pasti sangat penasaran dengan hal yang ia lakukan tadi. Jika bukan karena Bimo yang memanggilnya, Lilian tidak akan tahu jika Arion adalah Seint.
"Lilian." Cicit Gladis pelan.
Lilian kembali menghela napas pelan kemudian menatap ketiga teman-temannya bergantian. "Gue baik-baik saja." Ucapnya.
Meira tersenyum setelah mendapat jawaban dari Lilian. "Syukurlah kalau begitu."
"Siapa nama cowok yang gue peluk tadi?" Tanya Lilian yang langsung mendapat tatapan bingung dari teman-temannya namun mereka masih tetap mau menjawabnya.
"Kak Arion. Lebih jelasnya Arion Alpenseint Ganendra." Jawab Gladis sambil memperhatiakan ekspresi Lilian.
"Jadi namanya Arion. Nama tengahnya mirip, namun sekarang marganya berbeda." Batin Lilian.
"Kak Arion mirip dengan orang yang kamu suka?" Tanya Laura hati-hati.
"Bukan hanya mirip ... Namun dia adalah orang yang gue cari." Jawaban Lilian membuat ketiga temannya menjadi semakin penasaran dengannya.
Ingin sekali ketiganya menanyakan lagi namun bel sekolah sudah berbunyi dan Guru yang mengajarpun telah datang. Mereka hanya menyimpan rasa penasarannya masing-masing dalam diam.
__________
Sepulang sekolah, Lilian melepas sepatu dan menaruh ranselnya diatas meja belajar. Sebelum memasuki kamar mandi untuk membersihakan diri, Lilian mengecek notif diponselnya setelah itu melemparnya dengan asal diatas ranjang King Size miliknya.
Setelah membersihkan diri, Lilian berbaring di atas ranjangnya dan tidak lama kemudian rasa kantuk mulai menyerang hingga akhirnya Lilian terlelap.
Pukul 18:07 Lilian menggeliat dari tidurnya dan membuka mata dengan sempurna. Ia meraih segelas air yang berada di atas nakas dan meminumnya sampai tandas. Setelah menyimpan kembali gelas yang sudah kosong, Lilian mencari keberadaan benda pipih yang sebelumnya ia lempar dengan asal.
Setelah beberapa menit mencari, akhirnya Lilian menemukan benda pipih itu berada dipojokan ranjang milik Lilian. Tangannya dengan lihai membuka pasword dan melihat banyak sekali notif diponselnya.
...Cecannya Florenzo School...
Laura~
Hai gays gays ... Udah pada lihat tranding topik Florenzo School belum?
Meira~
Udah ... Anjiirrr Lilian jadi tranding topik dong.
Gladis~
Foto Lilian yang lagi meluk Kak Arion udah menyebar luas ke seluruh sekolah. Kayaknya hidup Lilian nggak bakalan tenang lagi deh untuk kedepannya.
Laura~
Lilian pasti jadi bahan bulying nanti. Satu angkatan mungkin masih bisa diatasi namun kalau senior-senior bar-bar itu nyari Lilian gimana dong?!.
Gladis~
Ya mau nggak mau harus dihadapinlah. Kita sekarang udah jadi temannya Lilian, otomatis kita juga harus bantuin Lilian keluar dari masalah.
Meira~
Gladis bener ... Cuman ngeri aja ntar kalau senior bar-bar itu datang nyari Lilian. Apalagi si Mak Lampir ... Beeeuhhh lo pada pasti taukan bagaimana sejarah tuh anak?
Laura~
Kalau Lilian nggak salah ngapain takut? Semua orang juga pada suka sama Kak Arion jadi wajar saja kalau Lilian juga suka.
Meira~
Yang lo ucapin emang benar ... Tapi bagaimana kalau Lilian nanti bermasalah dengan Ayahnya si Mak Lampir? Lilian baru saja pindah masa iya Lilian harus pindah lagi.
Gladis~
Untuk sekarang jangan khawatirin masalah yang belum terjadi. Cukup siaga saja jika mereka datang mencari Lilian.
Lilian memijit kening pelan membaca notif dari teman-temannya. Ponselnya tidak berhenti bergetar menandakan banyak sekali obrolan teman-temannya dari Grup Chat.
Laura~
Gladis~
Tidur kali.
Meira~
Kebok banget tuh anak, jam segini masih tidur aja.
Laura~
Lilian.
Gladis~
(2)
Meira~
(3)
Lilian akhirnya menggerakkan jarinya untuk mengetik.
^^^Lilian~^^^
^^^Ya.^^^
Gladis~
Udah baca berita Florenzo School belum? lo jadi trending topik tahu.
Laura~
Beritanya udah gempar banget tahu. Mulai besok lo harus hati-hati ke sekolah.
^^^Lilian~^^^
^^^Oh ya? Separah itu?^^^
Meira~
Dari dulu jika ada yang dekat sama Kak Arion, si Mak Lampir pasti selalu berusaha nyakitin orang itu.
Gladis~
Tapi lo tenang aja. Karena lo sekarang bagian dari kita, apa yang menjadi masalah lo maka akan akan kita selesain bersama.
Laura~
Kita akan selalu bersama lo kok.
Meira~
Masalah lo akan menjadi masalah kita juga.
Hati Lilian menghangat membaca chat dari teman-temannya, selama ini ia belum pernah punya teman dekat. Lilian baru merasakannya saat ia kembali ke masa lalunya dan bertemu dengan Fania dan Violet. Sekarang Lilian mendapatkan perasaan yang seperti keduanya lewat ketiga temannya sekarang.
^^^Lilian~^^^
^^^Terima kasih ya kalian sudah selalu ada buat gue.^^^
Meira~
Lo udah jadi bagian dari kita. Wajar saja jika kami selalu ada buat lo.
Laura~
Benar kata Meira.
Gladis~
Benar kata Meira.
Lilian kembali tersenyum melihat reaksi ketiga temannya. Setelahnya terdengar suara ketukan pintu dari luar kamar Lilian.
"Non ... Non udah bangun?" Panghil Bi Marni.
"Iya Bibi. Ada Apa?" Jawab Lilian dari dalam kamar.
"Nyonya bilang waktunya makan malam. Tuan dan Non Keira sudah ada dimeja makan." Kata Bi Marni.
"Baik Bi ... Lilian bentar lagi turun." Jawab Lilian.
Setelahnya Lilian kembali menatap ponselnya dan kembali mengetik.
^^^Lilian~^^^
^^^Kita lanjut nanti lagi ya! Nyokap gue udah manggil buat makan malam.^^^
Gladis~
Ok.
Meira~
Ok.
Laura~
Ok.
Lilian kembali menyimpan ponselnya dengan asal kemudian berjalan keluar kamar dan menuju meja makan. Terlihat Rahadian sudah duduk ditempatnya bersama Efina dan Keira.
Lilian menarik salah satu kursi dan menduduki kursi tersebut.
"Bagaimana dengan sekolah pertama mu hari ini?" Tanya Rahadian.
"Baik Pah." Jawab Lilian singkat.
"Nyaman disana?" Tanya Rahadian lagi.
Lilian mengangguk pelan. "Untuk hari ini nyaman Pah, Lilian juga udah punya tiga teman yang baik sama Lilian." Jawabnya dengan mata berbinar.
"Baguslah kalau kamu nyaman." Ucap Rahadian senang.
"Mama juga bilang apa ... Lilian anak yang cepat beradaptasi dengan lingkungan sekitar. Lain kali Papa tidak perlu terlalu menghawatirkannya." Ucap Efina sambil menyendok makanan untuk Lilian.
Rahadian hanya menggangguk pelan dengan senyuman yang tidak pernah lepas dari bibirnya.
"Belajar yang rajin ya dek!" Ujar Keira sambil menepuk kepala Lilian pelan.
Lilian mengangguk senang kemudian mereka makan malam bersama.
______________