
Seorang gadis berlari dengan riang mengelilingi seluruh isi taman. Sesekali gadis itu menghirup dalam-dalam aroma dari bunga daisy yang tumbuh hampir di seluruh sisi taman.
Di tengah sisi taman terdapat sebuah kolam kecil yang di isi oleh beberapa ikan hias kecil berwarna ke emasan. Bunga teratai yang tumbuh di sekitar pinggir kolam juga tidak mau kalah dalam memberikan keindahan untuk taman tersebut.
Sisi ujung taman di bangun sebuah gajebo yang memiliki ukuran yang cukup besar. Untuk mencapai gajebo, gadis itu perlu melewati jalan yang di buat dari batu kecil dan di susun rapi berwarna putih susu.
Sesekali gadis itu berjalan sambil melompat kecil menuju gajebo tersebut. Di tangannya ia memegang sebuket besar bunga daisy yang tadi baru saja ia petik.
"Seint! Kemarilah!" Panggil gadis itu sambil melambaikan tangannya kepada Arion.
Arion menautkan kedua alisnya setelah mendengar panggilan dari Lilian.
Ya, gadis itu adalah Lilian. Sejak tadi Arion memperhatikan Lilian yang sedang bermain di tengah-tengah taman. Gadis itu tampak sangat bahagia lantaran melihat banyaknya bunga daisy yang tumbuh memenuhi seisi taman.
Namun yang membuat Arion heran, Lilian saat ini sedang memakai gaun yang sangat mirip dengan Kerajaan Eropa pada era jaman dahulu. Lilian memakai gaun yang cukup besar dan ribet namun gadis itu terlihat biasa mengenakannya.
Lilian bukan saja berlari menggunakan gaunnya, gadis itu bahkan sampai melompat-lompat kecil. Selain itu Lilian memakai riasan walau sangat tipis di wajahnya. Di kepalanya tidak lupa bersender sebuah mahkota kecil berwarna ungu muda. Tampilan Lilian saat ini mirip dengan seorang Putri dari sebuah kerajaan.
"Seint!! Kemarilah ... Coba cium aroma dari bunga daisy yang baru saja aku petik ini! Aromanya sangat menenangkan." Ujar Lilian dari jauh.
Gadis itu kembali mencium aroma dari buket bunga daisy yang ia pegang. Bibirnya lagi-lagi tertarik keatas lantaran ia sangat menyukai aroma dari bunga itu.
"Apa yang kau lakukan? Tidakkah kau mendengar ku?! Aku memanggil mu sedari tadi!!" Lilian mendumel sendiri lantaran panggilannya tidak di gubris oleh Arion.
Lilian akhirnya memutuskan berjalan mendekati Arion kemudian memberikan buket bunga daisy kepada lelaki itu.
"Cium aromanya ... Sangat menenangkan!" Ucap Lilian dengan mata berbinar.
Arion masih tidak berbicara, otaknya masih merespon kejadian yang saat ini ia alami. ia mengenderkan pandangannya ke seisi taman kemudian berakhir menatap ke arah Lilian yamg masih tersenyum manis kepadanya.
"Sejak kapan gue ada di sini? Dan mengapa Lilian memakai baju seperti ini? Lalu kemana semua orang pergi?" Batin Arion.
"Kamu mikir apaasih? Di suruh nyium aroma bunga saja susah amat!" Gerutu Lilian dengan mulut manyunnya.
"Sejak kapan Lilian menyebut aku-kamu? Bukankah gadis itu masih belum terbiasa?" Arion sedikit menggaruk kepalanya.
Terdengar helaan napas dari mulut Lilian. "Aku nggak peduli kamu lagi mikir apa! Yang jelas berikan aku pendapat tentang aroma bunga ini!" Putus Lilian. Ia mendekatkan buket bunga yang ia pegang ke arah hidung Arion.
Arion dapat mencium aroma khas yang selalu ia cium saat bersama Lilian. Aroma bunga itu sangat mirip dengan aroma bunga daisy yang saat ini ia cium. Tak heran Lilian menyukai bunga itu, saat mencium aromanya semua orang pasti akan merasakan ketenangan.
"Bagaimana?" Tanya Lilian dengan mata berbinar.
"Harum." Jawab Arion singkat.
Senyum di bibir Lilian semakin lebar tat kala mendengar jawaban Arion. "Tentu saja harum! Bunga ini kamu semua yang menanamnya! Jadi ... Kamu aku ijinkan untuk dapat merasakan ketenangan dari aroma bunga ini." Ujar Lilian dengan girang.
"Gu ... Eh A ... Aku?" Tunjuk Arion ke arahnya sendiri.
Lilian langsung menganggukkan kepalanya. "Tentu saja!" Jawabnya kemudian berlari ke tengah taman, " Semua bunga yang ada di sini, kamu semua yang menanamnya!! Lalu setelahnya kau berikan padaku! Lanjutnya.
Lilian kembali berlari-lari kecil mengintari seisi taman. Gadis itu juga terlihar bermain dengan beberapa kupu-kupu yang sedang menghisap madu bunga.
Arion sendiri hanya menatap Lilian dengan diam. Gadis itu terlihat sangat cantik menggunakan gaun itu, suasana taman yang penuh dengan bunga membuat kecantikan Lilian seakan bertambah.
Namun Arion masih saja bingung dengan apa yang di lihatnya saat ini. Bukan hanya Lilian yang memakai pakaian aneh, namun dirinya juga memakai pakaian aneh bagaikan seorang Pangeran yang memiliki kedudukan tinggi.
Di pinggangnya bahkan tersampir sebuah pedang yang cukup berat dan terlihat asli. "Dari mana gue pendapatkan pedang ini?" Batin Arion.
"Seint!!" Tiba-tiba Lilian berteriak memanggil nama tengahnya.
Arion kembali mendongak dan menatap ke tempat Lilian berada. Kedua matanya membulat melihat pemandangan yang di depannya.
Beberapa menit yang lalu Arion mendapati pemandangan langit yang biru dan taman yang indah. Namun secepat kilat pemandangan itu berubah begitu cepat. Langit yang tadi cerah kini beruba menjadi memerah. Api membakar semua bunga yang berada di taman yang tadinya Arion lihat tumbuh subur.
Pemandangan yang Arion lihat saat ini seperti pemandangan yang sering kali ia lihat pada buku sejarah. Kekacauan ada di mana-mana dan kerusakan juga ada di mana-mana.
"Seint!!" Teriak Lilian lagi.
Arion tersentak dari lamunannya setelah mendengar panggilan dari Lilian. Gadis itu terlihat mulai di bakar habis oleh api yang sejak tadi membakar seisi taman.
"Lilian!!" Panggil Arion khawatir.
Arion berlari menuju ke tempat Lilian berada dan berusaha menolong gadis itu.
"Pergilah!! Di sini berbahaya ... Lari sejauh mungkin!! Selamatkan dirimu!!" Terik Lilian dan mengusir Arion dengan gerakan tangan.
"Tidak bisa!! Bagaimana bisa aku meninggalkan mu dalam kondisi seperti ini?!!" Teriak Arion. Ia bahkan tidak sadar berbicara non-formal kepada Lilian.
"Pergilah! Selamatkan dirimu!!" Usir Lilian lagi.
Arion tidak mau mendengarkan Lilian. Sebisa mungkin ia harus menolong gadis itu. Tiba-tiba pemandangan yang Arion lihat berubah begitu saja.
Baru saja Arion melihat Lilian terjebak dalam api namun tiba-tiba saja gadis itu sekarang berada dalam pangkuannya dengan kondisi tubuh yang tidak baik-baik saja.
"Lilian! Apa kau mendengar ku?" Tanya Arion sambil menepuk pelan kedua pipi gadis itu.
Lilian tidak menjawab, gadis itu hanya tersenyum lemah kepada Arion. Seakan gadis itu tidak dapat lagi untuk mengeluarkan suara.
"Bangun, Lilian!! Apa yang sedang terjadi?" Tanya Arion bingung. Napasnya bahkan tersendat melihat kondisi lemah dari Lilian.
"Lilian ... Ku mohon bertahanlah!!" Pinta Arion dengan suara keras.
Lilian kembali tersenyum. "Berjanjilah satu hal kepada ku." Pintanya dengan nada lemah.
"Apa? Jika itu dapat menolong mu ... Maka apapun itu akan aku berikan." Jawab Arion cepat. Tubuhnya bahkan mulai bergetar karena melihat kondisi Lilian yang semakin melemah.
"Berjanjilah kepada ku ... Jika kau akan tetap memilih ku! Di kehidupan ini ataupun kehidupan mendatang." Suara Lilian semakin terdengar melemah.
Lilian tersenyum kecil mendengar janji dari Arion. Perlahan matanya meredup dan akhirnya kedua mata Lilian menutup dengan sempurna.
Cairan bening kini membasahi kedua pipi Arion. "Lilian! Lilian!" Ia menyentak tangan Lilian dengan keras.
Namun tetap saja Lilian tidak dapat memberikan jawaban kepadanya. Napas Arion kembali tercekat, udara yang mengalir ke paru-parunya seakan berhenti. Detak jantungnya bahkan berdetak tidak normal. Tubuh Arion bergetar hebat dan mulutnya tidak henti memanggil nama gadis yang ia cintai itu.
"Lilian, bangunlah!" Pinta Arion.
"Lilian, ku mohon!!"
"Lilian!!"
"Lilianaaaaa!!" Teriak Arion.
Tiba-tiba saja Arion merasa tubuhnya di guncang oleh seseorang. Semakin lama Arion meresa guncangan itu semakin keras. Hingga akhirnya Arion membuka kedua matanya dengan sempurna.
"Ekhmmm ... Ekhmmm ... Ekhmmm." Arion terbatuk dan sesekali menghirup udara banyak-banyak.
Pasokan udara dalam paru-parunya seakan habis sehingga ia harus meraup udara sebanyak mungkin yang bisa ia lakukan. Peluh membasahi seluruh tubuhnya dan tangannya terasa dingin. Arion bahkan masih bisa merasakan bahwa tubuhnya masih bergetar kecil. Sesekali ia memukul dadanya yang terasa begitu nyeri.
"Arion!! Lo baik-baik saja?" Tanya Rein khawatir.
"Perlu gue telpon ambulan?" Tanya Farrel yang sudah siap dengan ponsel di tangannya.
Arion menggelengkan kepalanya dan mengangkat jempol tanda jika ia baik-baik saja. Saat ini Arion, Rein, Farrel dan Mario sedang beristirahat di pinggir lapangan.
Setelah bel pulang berbunyi, Arion memutuskan berlatih strategi baru setelah mengantar Lilian pulang dengan selamat ke rumahnya.
Setelah latihan, Arion memutuskan untuk beristirahat sebentar di pinggir lapangan. Namun rasa kantuk malah menyerang Arion dengan tiba-tiba sehingga lelaki itu memutusakan untuk menutup kedua matanya sebentar dan memanfaatkan tasnya untuk ia jadikan bantal.
Tidak lama terlelap, tubuh Arion malah bergetar dan keringat dingin mulai keluar dari tubuhnya. Ketiga temannya yang duduk tidak jauh darinya langsung panik setelah melihat reaksi alami dari Arion.
Mulut Arion bahkan tidak berhenti memanggil nama Lilian. Karena merasa khawatir, Rein, Mario dan Farrel akhirnya memilih membangunkan Arion dari tidurnya.
"Lo yakin nggak apa-apa?" Tanya Mario dan memberikan sebotol air mineral kepada Arion.
Tanpa pikir panjang Arion langsung meraih air itu dan meminumnya sampai air di dalam botol tandas. "Gue nggak apa-apa." Jawabnya.
"Wajah lo terlihat pucet banget! Apa mungkin gara-gara lo maksain diri buat latihan?! Kita bisa break dulu untuk hari ini ... Lanjutin besok aja." Usul Farrel.
"Gue nggak apa-apa." Jawab Arion lagi.
"Nggak apa-apa bagaimana? Lo berkeringat dingin dan napas lo kagak stabil!! Lo tadi sebenarnya mimpi apaan? Buruk, ya?" Tanya Rein beruntu.
Sejenak Arion terdiam karena memikirkan mimpinya tadi. Lagi-lagi Arion harus memimpikan mimpi itu lagi. Meski Arion sering memimpikan hal itu, namun tetap saja Arion selalu bereaksi yang sama seperti itu. Arion selalu merasa takut jika ia beneran akan ada di posisi seperti dalam mimpinya.
Awalnya Arion hanya menganggapnya sebagai bunga tidur. Namun mimpi itu selalu datang berkali-kali sehingga membuat Arion merasa jika ia pernah ada di posisi dalam mimpinya itu.
Arion sebisa mungkin mengingat masa kecilnya, namun di antara kenangan yang ia lewati belum pernah ia bertemu dengan Lilian. Sehingga membuat Arion sedikit meragukan tentang mimpinya itu.
"Lo seriusan baik-baik aja?" Tanya Mario dan membuat Arion tersadar dari lamunannya.
Arion hanya menganggukkan kepalanya singkat sebagai jawaban.
"Lo mimpi buruk lagi?" Tanya Rein.
Arion menautkan alisnya sambil menatap ke arah Rein. "Lagi?" Batin Arion, "Itu artinya Rein pernah lihat gue mengalami mimpi buruk. " Lanjutnya.
Seakan mengerti dengan tatapan Arion, Rein akhirnya menjelaskan maksud dari ucapannya. "Waktu ngumpul di basement, lo juga melakukan hal yang sama seperti sekarang. Hanya saja waktu itu lo nggak nyebutin nama Lilian. Lo hanya nunjukin tanda-tanda yang sama waktu itu. Bukan cuman sekali ... Namun gue pernah lihat lo yang seperti itu beberapa kali." Jelasnya.
"Lalu kenapa lo nggak bertanya apapun waktu itu?" Tanya Arion.
"Itu karena gue ngerasa lo lagi mimpi buruk aja! Namun kali ini justru berbeda ... Hari ini lo nyebutin nama Lilian secara tidak sengaja. Lo juga terlihat ketakutan saat bangun ... Apakah mimpinya begitu buruk?" Tanya Rein di akhir kalimatnya.
Arion menatap ketiga temannya dengan lama. "Apakah sebelumnya gue pernah kenal Lilian?" Tanyanya.
"Nggak! Seingat gue ... Nggak ada sedikit pun kenangan Lilian dalam ingatan gue selain setelah gadis itu pindah kesini." Jawab Farrel.
"Gue bahkan tau dia adalah Sepupu gue setelah ia menetap di Jakarta. Sisanya nggak ada kenangan Lilian yang gue ingat." Tambah Rein.
"Ada apa memangnya? Apa mimpi yang lo alami selama ini tentang Lilian?" Tanya Mario penasaran.
Arion mengusap wajahnya dengan kasar. "Percaya atau tidak ... Gue selalu mimpiin Lilian sebelum gadis itu datang ke sekolah kita."
Rein, Mario dan Farrel terkejut mendengar ucapan Arion. "Yang bener lo? Kok bisa?" Tannya Farrel.
Arion mengedikkan bahunya. "Gue nggak tau." Jawabnya singkat.
"Apa iya ... Ada memori tentang Lilian yang lo lupain?" Tanya Mario yang semakin penasaran.
"Nggak tau." Jawab Arion.
Ke empatnya kembali terdiam. Mereka semua memaksa ingatannya untuk mengingat Lilian sebelumnya. Namun tidak ada sesikit pun ingatan Lilian yang muncul. Sehingga ke empatnya kembali menafsirkan mimpi Arion hanyalah bunga tidur saja.
"Mungkin saja alasan lo mimpiin dia terus karena khawatir di gangguin sama si Melvin dan teman-temannya. Kadang karena terlalu banyak memikirkan sesuatu, hal itu akan kita bawa sampai alam mimpi. Jadi lo nggak perlu khawatir lagi." Ucap Rein mencoba menenangkan.
"Betul itu ... Capek dan kurang tidur juga menjadi faktor utama untuk memimpikan hal-hal buruk." Tambah Farrel.
"Santai aja ... Nggak perlu terlalu banyak mikir. Lilian juga bisa ngalahin tiga serigala, mana mungkin bisa kalah dengan manusia ecek-ecek macam Melvin." Ucap Mario.
Benar yang di katakan oleh ketiga temannya, namun tetap saja Arion merasa jika mimpi yang selalu ia mimpikan itu adalah sebagian dari kenangannya yang hilang. Namun sekuat apapun Arion mencoba mengingat tetap saja Lilian tidak ada di kehidupan masa lalunya. Jika Lilian sejak lama hadir di hidupnya, maka Arion mungkin tidak akan bersikap sedingin sekarang kepada orang-orang.
_________________