Lilian

Lilian
Arion Vs Lilian



Lilian akhirnya dapat bernapas lega setelah selesai mendengarkan perdebatan antara Arion dan ketiga temannya perihal siapa yang akan membayar belanjaan. Keempatnya sama-sama ngotot ingin membayar dengan alasan barang-barang yang di pilih oleh Lilian adalah sebagian besar adalah pilihan dari mereka sendiri.


Tidak mau semakin pusing, Lilian akhirnya menyuruh penjaga toko tersebut untuk membagi hasil belanjaan Lilian sama besarnya kepada setiap orang. Sehingga pada akhirnya barang-barang yang Lilian perlukan untuk kebutuhan Citto di bayar oleh ke empat lelaki tersebut dengan sama besar.


"Nah gitu kan adil." Ujar Lilian bangga. "Nggak nyangka aja Citto dapat banyak hadiah dari ..." Kata-kata Lilian menggantung ingin menyebut sebutan yang cocok untuk ke empat lelaki di depannya.


"Gue bapaknya." Ucap Arion tiba-tiba yang membuat Lilian dan yang lain terkejut.


"Sejak kapan lo jadi bapaknya? Perasaan lo dingin banget hadi orang tapi napa hari ini lo terlihat lebih banyak ngomong? Gue baru nyadar." Ujar Mario setelah menyadari perubahan dari Arion.


"Betul tuh ... Pake ngaku-ngaku jadi bapaknya Citto lagi." Kata Rein tidak terima.


"Gue nemuin tuh kucing bareng dia." Tunjuk Arion ke arah Lilian dengan wajah datarnya. "Kalau dia mak-nya berarti gue Bapaknya." Putusnya.


Ketiga teman Arion tentu saja tidak menyangka jika Arion akan mengatakan hal-hal seperti itu. Selama mereka mengenal Arion, lelaki itu cenderung diam dan tidak banyak ngomong. Namun semenjak Arion mengenal Lilian, lelaki itu sedikit demi sedikit mulai membuka diri. Misalnya seperti saat ini, Arion tanpa ragu mengatakan jikalau ia adalah Bapak dari Citto dan Lilian Ibu dari Citto.


"Gue setuju." Ucap Lilian dan membuat Arion tidak dapat menahan senyumnya.


"Bisa ya lo senyum hanya karena di akui menjadi bapaknya kucing?" Tanya Farrel tidak habis pikir.


"Kalau dia bapaknya, lalu gue apanya Citto?" Tanya Rein yang tidak mau mengalah dari Arion.


"Pamannya." Jawab Lilian polos.


"Stop ... Stop ... Stop ... Kalian aneh tau nggak. Masa rebut jadi Bapak atau Paman buat kucing?" Tanya Farrel yang tidak terima.


"Diem deh lo, nggak usah ngebacot kalau kagak mau." Ucao Mario kepada Farrel. "Kalau mereka Bapak dan Paman, lah gue apanya?" Tanya Mario dengan wajah serius.


Lilian tampak berpikir lalu tersenyum cerah. "Karena Kak Mario temannya Kak Rein maka Kakak adalah Pamanya Citto juga." Jawabnya.


"STOP! Please ... Sadar dari kenyataan. Tolong jangan jadi aneh." Kesal Farrel mencak-mencak sendiri.


Farrel semakin frustasi mendengar percakapan ketiga temannya dengan Lilian. Baru kali ini Farrel merasa menjadi orang waras diantara ketiga temannya.


"Nggak usah berdebat. Siapa Bapak dan Paman ... Lebih baik ke time zone." Usul Arion dan langsung menarik tangan Lilian.


Rein ikut mengejar Lilian dan Arion yang sudah berjalam sedikit menjauh. Setelah Rein berhasil menyamai langkah keduanya, Arion malah menarik tangan Lilian dan menjauhkannya dari Rein.


"Lo kenapa sih?" Tanya Rein tidak terima saat Arion menarik tangan Lilian yang sebelumnya berjalan di sampingnya kini berpindah ke samping kiri Arion.


"Nggak usah dekat-dekat." Ucap Arion datar.


"Kenapa?" Kali ini bukan Rein yang bertanya, melainkan Lilian.


"Nggak ada kenapa napa." Jawab Arion cuek.


Lilian mendengus pelan kemudian menghempas tangan Arion dari tangannya kemudian mengubah posisinya menjadi samping Rein. "Kalo gitu gue jalan bareng Kak Rein aja." Kata Lilian sambil memeluk erat tangan kiri Rein.


Rein akhirnya dapat bersikap sombong di depan Arion setelah Lilian memilihnya. "Memang harusnya kek gini. Lo kan adek gue ... Jadi harus selalu dekat dengan Abangnya." Sindir Rein dengan ekor mata sedikit melirik ke arah Arion.


Arion menatap malas ke arah Rein yang dengan terang-terangan menyidirnya. Belum lagi Arion harus menahan kekesalannya saat Lilian memilih berjalan bersama Rein di bandingkan dengannya.


"Tenang aja Bro ... Jika dia adalah jodoh mu maka ia tidak akan pergi jauh." Ucap Mario memberi semangat kepada Arion yang terlihat malas.


"Lagian cuman saudaraan. Nggak perlu kesal." Ucap Farrel sambil menepuk bahu Arion pelan.


Mata Arion masih saja melirik ke arah Lilian yang bergelanjut manja pada Rein. Meski mereka saudaraan namun tetap saja Arion merasa tidak suka melihat kedekatan antara keduannya.


"Buaknnya saudaraan masih bisa nikah ya? Kecuali saudara kandung nggak bisa." Celetuk Mario tiba-tiba.


Arion langsung berhenti sejenak kemudian menatap Mario dengan tatapan mematikan. Sedangkan Mario sendiri menyesal telah mengatakan sesuatu yang seharusnya tidak memancing kemarahan Arion.


"Gue nggak maksud ..." Ucap Mario terhenti saat Arion malah kembali melangkah dan meninggalkannya berdua dengan Farrel.


"Mulut lo bisa di rem dikit nggak? Jangan bangunin singa yang lagi tidur. Atau mencoba melelehkan kutub utara, ntar lo sendiri yang tenggelam oleh airnya." Kata Farrel memperingati.


"Sorry ... Gue nggak sengaja." Ucap Mario sambil memukul pelan bibirnya.


"Udah ayok, mereka udah mulai jauh." Ajak Farrel.


Keduanya langsung mengejar Rein, Lilian, dan Arion yang sudah berjalan memasuki area permainan.


Di sana ada banyak sekali permainan yang di sediakan. Mulai dari permainan yang di sediakan untuk anak kecil sampai permainan yang bisa dimainkan oleh orang dewasa.


Mata Lilian berbinar melihat banyak sekali boneka didalam mesin permainan capit kemudian ia menarik tangan Rein untuk memaikan permainan itu. "Gue mau boneka itu." Tunjuk Lilian pada sebuah boneka yang berwarna kuning dan bermata satu.


"Minions?" Tanya Rein memastikan.


Lilian mengangguk cepat. "Iya, gue suka banget dengan *Minion*s. Menangkan untuk gue." Harap Lilian.


Rein mengusap pelan kepala Lilian. "Ok." Ucapnya.


Arion semakin memanas melihat kedekatan Rein dan Lilian. Terlebih lagi tadi ia mendengar Mario mengatakan jikalau keduanya bisa saja menikah karena statusnya masih sepupuan.


Yang membuat Arion semakin kalut adalah warna mata dari Rein dan Lilian benar-benar sangat mirip. Bisa saja kedua orang tua Lilian ingin menjodohkan keduanya agar menghindari perebuatan ahli waris antara kedua pihak.


Arion semakin kesal melihat Lilian tersenyum bahagia saat Rein berhasil mendapatkan boneka yang ia sukai setelah dua kali gagal.


"Gue bisa ngasih boneka itu beserta pabriknya." Kata Arion dengan raut wajah dinginnya.


Lilian hanya menatap Arion acuh kemudian kembali menarik tangan Rein menjauh dan memilih permainan lainnya. Kesabaran Arion benar-benar habis dibuat oleh Lilian. Dengan langkah pasti Arion kembali menarik tangan Lilian sehingga keduanya saling menatap satu sama lain.


"Gue bisa berikan apapun yang lo ingankan." Kata Arion dengan raut wajah serius.


Lilian melepaskan tangannya dari Arion dengan sedikit kasar. "Gue nggak butuh apapun." Jawabnya kemudian kembali meninggalkan Arion sendiri.


"Sabar Bro ... Cewek emang gitu ... Bilangnya nggak pekaan ... Lalu jika ditanya apa yang mereka inginkan pasti jawabannya nggak ada." Ucap Mario yang tiba-tiba mulncul dari arah belakang Arion.


"Biasanya kalau cewek jawab gitu pasti lagi ngodein sesuatu ... Cuman mereka gengsi aja buat ngasih tau." Kata Farrel menambahkan.


Arion menatap tajam kearah Lilian dan Rein yang terlihat sangat dekat.


"Jangan cuman di lihatin aja ... Samperin ayok." Ajak Mario kemudian menarik lengan Arion untuk mengikutinya.


Ario, Farrel dan Mario, berhenti tepat di samping Lilian dan Rein yang sedang asik bermain memasukan bola ke dalam ring. Lilian tampak sangat menikmati permainanya tanpa memyadari bahwa sejak tadi Arion telah menatapnya dengan diam.


"Gimana kalau kita main games balapan mobil?" Usul Farrel.


Rein mengangguk setuju dengan usulan yang di berikan Farrel. "Boleh ..." Lalu tatapannya beralih kearah Lilian yang berdiri tepat di sampinganya. "Gimana?" Tanyanya.


Lilian menggeleng pelan. "Gue nggak terlalu mahir buat ngendarain mobil." Jawabnya Lilian.


"Aduh Lilian ... Itu hanya permainan mobil. Lo nggak perlu ngendarain mobil beneran." Jelas Farrel.


Lilian menunduk murung. "Tetap saja." Jawabnya pelan.


"Atau gini aja ... Kita mainnya pasangan. Gue bareng Arion dan Rein bareng Farrel. Liliannya di bagian penyemangat, gimana?" Usul Mario.


"Bagus juga sih ..." Ujar Rein. "Gimana?" Tanyanya lagi kearah Lilian.


"Baiklah." Ucap Lilian setuju.


Kelimanya langsung menuju ke permainan yang di maksud. Setelah masing-masing orang sudah berdiri di tempat duduknya, Lilia. langsung berdiri di dekat Rein untuk menyemangatinya.


"Semangak Kak Rein dan Kak Farrel." Ucap Lilian heboh.


Lilian tidak menjawab dan membuang muka ke arah lain. "Semangat Kak Mario." Ucapnya tanpa menyebut nama Arion.


Permainanpun dimulai, Lilian dengan hebohnya memberi semangat pada team Rein dan Farrel, membuat orang-orang yang juga berada di area permainan ikut menatap ke arah mereka. Sebagian pengunjung malah berkumpul dan menyoraki team yang menjadi favorit mereka.


Suasana semakin heboh, tat kala kedua team sama-sama tidak ada yang mau mengalah. Sorakan demi sorakan bahkan menggema di tempat tersebut. Hingga akhirnya permainan di menangkan oleh team Arion dan Mario dengan skor 3-2. Perbedaan kemengannya sangat tipis sehingga membuat banyak orang harus berteriak heboh melihat hasil akhirnya.


_____________________


Setelah puas bermain di time zone, kelima muda mudi itu akhirnya beristirahat sejenak untuk mengisi perut mereka yang kosong setelah lama bermain disana. Mereka memilih tempat makan cepat saji dan memesan beberapa menu yang mereka inginkan.


Sebagai team yang kalah, maka Rein dan Farrel bertanggung jawab untuk membayar semua makanan yang mereka pesan. Selama menunggu pesanan datang, kelima remaja itu kembali membahas suasana yang mereka ciptakan selama bermain di time zone tadi.


"Kalian lihat tadi? Sebagian besar pengunjung di sana tadi malah berkumpul dan memberikan kita dukungan." Ujar Mario dengan kekehan kecil.


"Benar banget ... Gue bahkan sempat nggak fokus saking hebohnya." Kata Farrel.


"Sama. Awalnya gue denger cuman suaranya Lilian namun lama-lama suara di belakang gue semakin banyak." Kata Rein.


"Gileee ... Gue nggak nyangka bisa sampai se famous ini." Ujar Farrel dengan nada sombong.


Rein mempar selembar tisu bekasnya ke arah Farrel. "PD amat loh ..." Ujarnya dengan kekehan kecil.


"Lah ... Memang kenyataannya." Kata Farrel.


"Terserah lo aja." Ujar Rein.


Berbeda dengan ketiga orang yang terlihat berdebat. Arion dan Lilian tampak diam dan sesekali saling menatap satu sama lain. Jika Arion menatap Lilian tanpa mengalihkan pandangannya, Lilian malah berpura-pura tidak peduli dan membuang wajah ke arah lain.


Asik dengan kegiatan masing-masing, tiba-tiba ponsel Lilian berdering dan menampilkan nama sesorang yang ia sayangi di layar ponselnya.


...Mama Calling .......


"Siapa?" Tanya Rein yang sudah mengalihkan pandangannya ke arah Lilian.


"Mama." Jawab Lilian.


"Angkat aja." Kata Rein.


Lilian mengangguk palan kemudian menekan tombol hijau di ponselnya.


"Hallo." Sapa Lilian setelah menempelkan bwnda pipih itu di dekat telinganya.


"Sayang ... Kenapa belum pulang? Ini udah malam loh." Ucap Efina khawatir.


"Ini mau makan dulu mah ... Abis itu langsung pulang." Jawab Lilian.


"Lilian bareng siapa saja? Terus pulangnya nanti gimana?" Tanya Efina beruntun.


"Ini Lilian bareng Kak Rein dan teman-temannya. Mama nggak perlu khawatir, Lilian aman kok." Kata Lilian menenangkan Efina.


"Oh baguslah kalau gitu." Kata Efina tenang.


"Oh iya. Barang belanjaan Lilian udah nyampai belum? Tadi katanya langsung di kirim ke rumah." Tanya Lilian memastikan.


"Udah kok ... Ini makanya Mama nelpon. Barangnya udah datang namun kamunya yang nggak ada. Mama sempat khawatir namun karena ada Rein disana jadi Mama sedikit lebih tenang. Bisa kamu kasih ponselnya ke Rein? Mama mau ngomong." Pinta Efina.


Lilian menatap kearah Rein dan memberikan ponselnya. "Mama katanya mau ngomong." Ucapnya.


Rein mengangguk pelan kemudian mengambil alih ponsel Lilian. "Hallo ... Tante, Ini Rein." Sapanya.


"Hallo Rein ... Tante sedikit tenang kalo kamu bareng Lilian. Kalau bisa ntar juga di antar pulang ya sayang ... Tante Khawatir kalau Lilian pulang sendiri. Jakarta kan besar dan Tante takut kalo Lilian kesasar atau kenapa napa di jalan." Ucap Efina khawatir.


"Tante nggak perlu khawatir ... Rein bakal nganter Lilian, biar perlu sampai kamarnya Lilian deh." Gurau Rein sambil terkekeh kecil.


Efina juga ikut terkekeh kecil mendengar gurauan dari Rein. "Kamu bisa aja. Ya sudah ... Tante nggak mau ganggu lagi ... Setelah selesai makan langsung pulang ya." Kata Efina.


"Siap Tante." Ucap Rein semangat.


Setelahnya Efina langsung menutup telepon. Rein juga kembali menyerahkan ponsel Lilian.


"Mama ngomong apa?" Tanya Lilian penasaran.


"Nggak ada ... Hanya nyuruh gue jagain lo sampai rumah dengan selamat." Jawab Rein.


Liliab henya menggangguk pelan dan tidak lama kemudian makanan pesanan mereka datang. Mereka akhirnya menyatap makanan masing-masing dan terdengar obrolan kecil dari Farrel dan Mario di meja tersebut.


Setelah menghabiskan makanannya, Lilian ijin sebentar ke toilet untuk mencuci tangan dan memperbaiki tampilannya. Tidak lama kemudian Lilian keluar dari dalam toilet dan berniat berjalan kembali menuju mejanya.


Namun tiba-tiba tangannya ditarik oleh Arion dan menghimpit Lilian ke tembok yang membatasi toilet wanita dan pria.


"Lo ... Lo mau apa?" Tanya Lilian gugup dan berusaha menghindari tatapan tajam dari Arion.


"Menurut lo?" Tanya Arion dengan nada dinginnya.


Lilian semakin gugup di buatnya. Lilian bahkan kesusahan bernapas saat Arion memperpendek jarak antara keduanya. Arion menahan Lilian dengan kedua tangan yang ia letakkan di samping kiri dan kanan Lilian.


"Lo ... Lo ... Mau apa? Sedikit menjauh ... Orang bakal mikir aneh-aneh melihat posisi kita yang sekarang." Kata Lilian dengan nada gugup.


"Gue nggak peduli." Kata Arion dingin.


"Tapi gue peduli." Kata Lilian tanpa menatap kearah mata Arion.


"Tatap gue." Titah Arion dengan nada tegasnya.


Lilian dengan ragu menatap ke arah mata Arion yang terlihat menatapnya dengan tatapan tajam. Lilian merasa tatapan Arion mirip predator dan Lilian adalah mangsanya.


"Napa lo ngehindar dari gue?" Tanya Arion dengan dingin.


"Gue nggak ngehindar dari lo." Ucap Lilian gugup.


"Gue nggak suka lo dekat dengan Rein." Kata Arion dengan dingin.


"Dia adalah saudara gue." Jawab Lilian.


"Tetap aja ... Gue nggak suka." Ucap Arion semakin dingin.


"Napa lo nggak suka?" Tanya Lilian memastikan.


Arion tampak berpikir sebentar kemudian kembali menatap Lilian dengan tajam. "Nggak ada alasan." Jawabnya.


Lilian tersenyum sinis. "Kalau gitu lo nggak punya hak buat ngelarang gue. Sekarang lepasin gue ... Gue harus pulang." Kata Lilian sambil berusaha mendorong dada Arion untuk melepaskannya.


Usaha Lilian hanya sia-sia, jangankan untuk melepasnya, bergerak pun tidak. "Lepasin gue ... Gue harus pulang!" Kesal Lilian.


"Apakah gue harus punya hak dulu agar bisa ngelerang lo dekat dengan orang lain?" Tanya Arion serius.


"Te ... Tentu saja." Ucap Lilian gugup dan menatap kearah lain.


"Kalau gitu mulai sekarang lo adalah pacar gue." Ucap Arion tanpa bantahan.


___________________