
Matahari belum menampakkan sinarnya namun suasana di halaman utama Florenzo School sudah sangat ramai. Ada banyak sekali murid yang sudah berkumpul dan sedang menunggu pengumuman selanjutnya terkait dengan acara kemah tahunan yang sedang mereka laksanakan.
Sedangkan Lilian baru sampai di depan sekolahnya dengan di antar oleh kedua orang tuanya. Sebelum Lilian turun dari mobil Rahadian dan berkumpul dengan teman-temannya yang lain, gadis itu mengecek satu persatu barang-barang yang sudah ia persiapkan sebelumnya.
"Jangan sampai ada yang tertinggal ya, sayang! Kamu kemahnya di dalam hutan, akan sangat sulit mendapatkan barang yang kamu butuhkan kalau tertinggal nantinya." Peringat Rahadian. Tubuhnya ia putar ke belakang untuk melihat Putri Bungsunya.
"Ini Pah lagi Lilian cek. Di rumah juga udah di cek tadi. Sekarang hanya mau lebih memastikannya saja." Jawab Lilian tanpa melihat kearah lawan bicaranya karena sedang fokus mengecek barang-barang bawaannya.
"Napa nggak pakek koper aja sih? Kalau pakai koper bakalan banyak ruang untuk barang-barang kamu." Kali ini Efina yang bersuara. Tangannya ikut bergerak mengecek barang bawaan Putrinya.
"Nggak perlu, Mah! Lilian pergi dua hari aja, itupun perginya di hutan ... Kalau Lilian bawa koper bakalan ribet! Cukup pakai ransel aja kok, semua barangnya juga udah muat semua." Kata Lilian setelah memastikan barang bawaannya.
"Mama nggak perlu khawatir. Tas Lilian itu udah di desain khusus untuk orang yang berkemah. Barang bawaannya juga pasti udah di kondisikan." Ucap Rahadian menenangkan Efina.
Efina menghela napas pelan. "Ya udah kalau gitu. Ingat pesan Mama sebelumnya untuk selalu pakai pakaian yang udah Mama pilihin. Jangan kemana-mana sendirian dan jangan asal makan makanan." Kembali Efina mengingatkan beberapa hal kepada Lilian.
"Iya Mah." Jawab Lilian. Ia kemudian menurunin mobil Papa-nya dan menyampirkan tas di punggungnya. Tidak lupa pula ia membawa boneka Shooky yang selalu menjadi favorite-nya.
"Dah Mah ... Pah." Lilian melambaikan tangan kepada kedua orang tuanya kemudian berjalan masuk menuju tempat berkumpulnya murid-murid lain.
Lilian berjalan dengan terengah-engah lantaran beban tas yang ada di punggungnya. Meski Lilian hanya membawa barang yang paling ia butuhkan namun tetap saja Lilian merasa beban di punggungnya terasa berat.
"Lilian!!" Panggil Gladis dengan suara toa-nya.
Tiga gadis yang selalu menemani Lilian selama di sekolah berlari menuju ke arahnya dengan barang bawaan di tangan mereka masing-masing.
"Lo baru nyampe?" Tanya Laura dengan napas ngos-ngosan.
Lilian mengangguk pelan dan matanya tertuju ke arah barang bawaan yang di bawa oleh Gladis. Gadis itu menggeret sebuah koper besar berwarna pink menggunakan tangan kirinya dan menentang tas yang berukuran sedang di tangan kanannya. Tidak lupa pula dengan tas selempang kecil yang bergantungan di lehernya.
"Lo mau kemana bawa barang sebanyak itu?" Tanya Lilian dengan kening mengerut ke arah Gladis.
"Tau tuh Gladis! Gue aja ampe heran lihat barang bawaannya. Kek orang mau jalan-jalan ke luar Negri aja." Sahut Meira.
"Eitsss ... Kalian nggak tau aja kalau barang yang gue bawa saat ini adalah barang-barang yang paling gue butuhkan!" Cerotos Gladis dengan mata melotot.
"Sebanyak itu?" Tanya Laura tak habis pikir.
"Iyalah ... Meski gue berada di dalam hutan namun gue tetap harus merawat tubuh dan wajah gue agar tetap selalu cantik!" Kata Gladis.
Lilian menghela napas pelan mendengar jawaban dari Gladis. "Ya sudah terserah dia aja. Toh juga dia sendiri nanti yang kerepotan." Ujarnya.
"Yeeee ... Kalian juga harus bantuin gue! Temen macam apaan lo pada kalau nggak mau bantuin temen yang lagi kesusahan?" Cerca Gladis.
"Ehhh ... Manusia idup! Lo sendiri yang nyusahin diri lo sendiri! Napa nggak lo tinggal aja barang-barang yang nggak terlalu lo butuhin? Lagian di hutan mana sempat lo perawatan! Kita bakal sibuk dengan beberapa rangkaian kegiatan yang akan kita laksanakan. Bukannya perawatan yang ada ntar lo di culik sama penunggu hutan!" Ketus Laura.
"Ini semua barang yang gue butuhkan. Sangat ... Sangat ... Sangat gue butuhkan!" Kata Gladis dengan menekan setiap katanya.
"Ah ... Terserah lo aja!" Kata Meira akhirnya.
Tidak jauh dari ke empat gadis itu berdiri, Denis datang dengan beberapa kertas yang ada di tangannya.
"Kalian berempat di sini rupanya. Gue cariin dari tadi juga." Terdengar nada lelah yang keluar dari mulut Denis.
"Napa memangnya?" Tanya Laura.
"Gue harus ngabsen kalian satu persatu dulu ... Biar ntar pas di lokasi kemah kita tau berapa jumlah murid dari kelas kita yang ngikut! Karena kalian berempat ada di sini maka lengkap sudah semua anggota dari kelas kita!" Jawab Denis kemudian menandai nama ke empat gadis itu.
"Ya udah ayok kita langsung kesana." Tunjuk Denis ke tempat para murid lainnya berkumpul. "Mobil udah siap semua, tinggal nunggu komando dari Bang Rama selaku Ketua Osis aja." Lanjutnya.
"Ya udah ayok kita jalan." Setuju Laura.
"Eh Denis! Bantuin gue napa bawain koper gue!" Kata Gladis sambil menyerahkan kopernya ke arah Denis.
"Etdah! Ribet amat hidup lo! Bawa barang sebanyak ini, lo kira mau jalan kemana?" Gerutu Denis melihat barang bawaan Gladis.
"Udah ah ... Nggak usah bawel deh lo! Ini bawain aja koper gue." Kata Gladis dan memaksa Denis membawa kopernya.
Denis akhirnya pasrah dan membantu Gladis membawakan kopernya. Mereka berjalan menuju renteten bus yang terparkir dengan rapi. Jenis bus-nya hampir sama semua, satu bus di isi oleh dua kelas yang telah di atur oleh para Guru sebelumnya.
Lilian dan yang lainnya ikut bergabung dengan murid lain dari kelasnya menunggu penguman selanjutnya. Sejak tadi Lilian menengok ke arah kiri dan kanan hanya untuk mencari Arion atau tiga temannya yang lain. Namun sejak tadi mencari, tidak ada satupun dari ke empat orang itu yang Lilian lihat.
"Mereka kemana ya?" Batin Lilian.
Pencarian Lilian terhenti saat sebuah suara mengumumkan agar mereka merapat ke sumber suara untuk mendengarkan pengarahan yang akan di berikan oleh Gurunya.
Di depan sana, Lilian melihat beberapa Guru yang ia kenal dan juga Rama sebagai Ketua Osis sedang berdiri tepat di samping Pak Bram selaku Kepala Sekolah Fronzo School. Pak Bram menggenggam sebuah mic untuk ia jadikan sebagai pengeras suara.
Setelah semua murid berkumpul di tempat yang di arahkan, Pak Bram mulai memberikan beberapa patah kata pembuka untuk acara kemah tahunan yang sebentar lagi resmi di laksanakan.
"Selain itu, kalian juga harus menjaga hutan itu agar tetap bersih dan jangan pernah berpikir untuk mencemarinya dengan sampah-sampah yang kalian bawa! Buang sampah di tempatnya dan tetap selalu mencintai alam! Karena tujuan kemah tahunan ini bukan hanya menyatukan murid satu dengan murid lainnya, namun kemah ini juga bertujuan agar kalian bisa lebih mencintai alam sekitar dengan cara merawatnya. Mungkin hanya itu yang bisa saya sampaikan, untuk lebih jelasnya akan di jelaskan oleh Pak Fadli atau oleh Rama selaku Ketua Osis. Namun sebelumnya, saya buka acara kemah tahunan ini secara resmi." Kata Pak Bram dengan tegas kemudian menutup pidato singkatnya.
Setelah Pak Bram menyelesaikan pidato singkatnya, Pak Fadli selaku penanggung jawab acara mengambil alih mic dari Pak Bram yang langsung pergi meninggalkan tempat itu untuk mengurus hal lainnya sebagai Kepala Sekolah.
"Ok, Anak-anak selain yang di sampaikan oleh Pak Kepala Sekolah, ada beberapa hal yang perlu saya sampaikan kepada kalian semua sebelum kita berangkat." Kata Pak Fadli sambil melempar pandanganya ke arah para murid yang sejak tadi berdiri rapi.
"Yang pertama adalah mengenai pembagian kelompok perjalanan kalian sudah kami atur dan akan di bagikan oleh Rama. Nanti semua Ketua Kelas setelah ini agar sekiranya menghubungi Rama untuk informasi bus mana yang akan membawa kalian ke acara kemah nanti. Untuk kelompok kecilnya akan di bagikan oleh Rama selaku Ketua Osis nanti jikalau kita sudah sampai di tempat. Adapun beberapa rangkaian kegiatan yang akan kita laksanakan nanti di sana namun untuk jadwalnya akan kami bagikan kepada Ketua Kelas masing-masing." Jelas Pak Fadli panjang.
"Sampai sini ada yang mau di tanyakan?" Tanya Fadli.
"Nggak, Pak!" Jawab semua murid dengan serentak.
Setelah pengumuman yang di sampaikan oleh Pak Fadli, semua murid kembali membubarkan diri dan duduk sekitar bus yang berjejer untuk menunggu Ketua Kelas masing-masing yang menginformasikan bus mana yang akan mereka tempati.
Lilian sendiri menunggu Denis kembali dengan perasaan gelisah. Beberapa kali ia mencoba mencari keberadaan Arion namun tetap saja ia tidak menemukan lelaki itu.
"Masa iya mereka berangkatnya pisah?" Batin Lilian yang masih menengok ke arah kiri dan kanan.
"Woee! Lo nyari siapa sih dari tadi?" Tanya Laura yang mengagetkan Lilian.
"Ishhh ... Lo ngagetin gue aja tau nggak! Syukur-syukur gue nggak jantungan! Kalau gue mati muda gimana?" Kesal Lilian dengan tatapan kesalnya.
"Lo sensian amat! Sorry ... Gue nggak maksud buat ngagetin lo. Lagian lo napa kek gelisah gitu?" Tanya Laura.
Lilian membuang napas berat. "Gue cari Kak Arion, sejak tadi kok gue nggak lihat ya?" Tanya Lilian dengan milut mengerucut.
"Please deh Lilian ... Gue bukan Kak Arion, jangan nunjukin tampang lucu lo itu. Gemes sendiri gue jadinya." Ujar Laura yang merasa gemas sendiri melihat wajah manyun Lilian.
"Apaan sih?" Ucap Lilian sensi.
"Etdah ... Baru di tinggal pacar sebentar aja lo udah galau akut gini." Ledek Gladis dengan kekehan kecilnya. "Kak Arion beserta anggota Geng Andromeda lainnya tiap tahun berangkatnya pisah. Mana mau mereka dempetan dengan murid lain. Kalau ada yang enak ngapain susah-susah?" Kata Gladis.
"Dasar Papan Datar! Kak Rein juga ... Napa nggak bilang-bilang kalau berangkatnya pisah! Kesel ndiri gue jadinya." RuntuknLilian dalam hati.
"Udahlah nggak usah manyun! Bareng teman sekelas juga seru kok, tau sendiri anak di kelas modelannya kek gimana? Suasana mendung pun bakalan berubah cerah ama tuh anak-anak." Bujuk Meira.
"Gue nggak ada pilihan lain." Ucap Lilian lemes.
Denis datang setelah mendapat nomor bus yang akan membawanya beserta teman sekelas ke tempat tujuan mereka.
"Semuanya ngumpul!" Panggil Denis dengan suara sedikit meninggi.
Semua murid kelas X Ipa 1 pun berkumpul dan mendengarkan informasi yang di bawakan oleh Denis.
"Kita dapat nomer bus yang ke sembilan ... Angkut semua barang bawaan kalian dan taroh di bus yang gue sebutkan tadi." Jelas Denis.
Dengan teratur murid dari X Ipa 1 membawa barang bawaannya menuju mobil yang tadi Denis sebutkan. Jarak mereka berkumpul dengan bus yang Denis sebutkan tadi sedikit jauh membuat Gladis yang membawa barang cukup banyak kewalahan. Tidak henti-hentinya sepanjang perjalanan menuju bus, Gladis mengomel tidak jelas karena tidak ada satupun dari temannya yang mau membantunya membawa sebagian barangnya.
Mereka semua sibuk dengan barang bawaan masing-masing sehingga Gladis harus pasrah menggeret barang-barangnya sendiri. Sedangkan Lilian sendiri masih dengan wajah manyun-nya karena tidak dapat menemukan Arion di manapun. Setelah menyimpan barang bawaannya di bagasi bus, Lilian memasuki bus-nya dengan lemas.
Lilian memilih kursi ke empat sebelah kiri dari depan di dekat jendela. Wajahnya ia buang ke luar jendela dengan setia memeluk boneka Shook**y di pelukannya.
"Lilian gue duduk dengan lo ya?" Terdengar suara Gladis dari arah samping kursi Lilian.
"Hmmm." Gumam Lilian malas tanpa menengok ke arah Gladis.
Lilian merogoh ponsel di saku jaketnya dan tidak menemukan satu notifpun dari Arion. Hal itu sukses membuat mood Lilian semakin memburuk. Dengan perasaan kesal Lilian memasang hadset di telinganya dan memutar lagu Butter dari boyband korea kesukaannya BTS untuk meredamkan kekesalannya terhadap Arion.
Lilian mengikuti beberapa lirik dari lagu yang ia putar sambil memejamkan kedua matanya. Dapat Lilian rasakan bus yang sedang ia naiki mulai bergerak maju.
"Sepertinya busnya mulai jala**n." Batin Lilian.
Masih dengan menutup matanya Lilian menikmati lirik demi lirik lagu yang terputar. Tidak lama bus bergerak, Lilian merasakan bahu kanannya terasa berat karena tertindih oleh sesuatu.
"Gladis singkirin kepala lo, berat tau nggak! Lo kan juga bawa boneka, gunain itu sebagai bantal!" Ketus Lilian sambil menggoyangkan bahu kanannya namun masih menutup kedua mata.
Bukannya memindahkan kepalanya, Gladis malah mencari tempat teraman di sandaran bahu Lilian. "Gue getok kepala lo lama-lama!" Ancam Lilian.
Namun orang yang di ancam tidak peduli dan tidak memperdulikan ucapan Lilian sama sekali.
Dengan kesal Lilian mendorong orang yang di anggap Gladis agar menjauh darinua "Gladis gue bilang singkirin ..." Ucapan Lilian terhenti lantatan pupil matanya harus bertabrakan dengan pupil mata seseorang yang sejak tadi ia cari.
"Kak Arion." Panggil Lilian dengan kening mengerut.
___________________