
Empat orang anak lelaki duduk berjejer di sebuah sofa panjang dengan luka memar di wajah masing-masing. Mereka adalah Arion, Rein, Farel dan Mario. Setelah berhasil melarikan diri dari kejaran para Polisi, ke empatnya lansung berangkat menuju kediaman Lilian untuk melihat kondisi gadis itu.
Sedangkan Lilian sendiri tengah duduk dengan kepala menduduk di salah satu sofa single yang berada dekat dengan ke empat lelaki itu. Di depan ke lima remaja itu berdiri berdiri seorang lelaki paruhbaya yang menatap mereka dengan tatapan intens.
Dari arah dapur, seorang wanita paruhbaya datang dengan membawa baskom yang berisi air es dan sepotong kain di tangannya.
"Apa yang kalian lakukan sehingga wajah kalian memar kayak begini? Apa kalian berantem? Seharusnya anak seusia kalian kerjaannya belajar! Bukan malah berantem kek gini ... Lihatlah wajah kalian yang penuh dengan luka memar ini!" Omel Efina sambil meletakkan baskom yang ia bawa ke tengah meja.
Ke lima anak remaja itu masih tidak ada yang mau berbicara. Awalnya Lilian mengira jika kedua orang tuanya sedang tidak berada di rumah. Biasanya Efina dan Rahadian akan pulang saat sebelum makan malam tiba. Namun hari ini, entah hal apa yang kedua orang tuanya kerjakan sehingga kedua orang itu bisa berada di rumah pada siang hari seperti sekarang.
Jika tahu Efina dan Rahadian berada di rumah, maka Lilian pasti lebih memilih untuk menetap di rumahnya Gladis sampai waktu menunjukkan sore hari. Sedangkan ke empat lelaki remaja lainnya tanpa pikir panjang langsung meluncur ke rumah Lilian untuk memastikan gadis itu lolos dari kejaran Polisi.
Siapa sangka ke lima remaja itu malah bertemu di depan gerbang masuk rumah Lilian. Saat kelimanya tahu di dalam ada Efina dan Rahadian, mereka berpikir untuk memilih pergi. Namun sayangnya Efina terlanjur mengetahui keberadaan mereka dan langsung menyuruh ke lima remaja itu untuk memasuki rumahnya.
"Apakah kalian masih tidak ada yang mau menjawab?!!" Tanya Rahadian dengan bersedekap dada.
Tatapan mata Rahadian begitu intens, Ke empat lelaki dengan wajah memar mendatangi rumahnya sekaligus. Terlebih lagi ke empat lelaki itu datang dengan anak gadisnya.
"Apa kalian sudah bisu?" Tanya Efina yang tidak tahan lagi dengan keterdiaman lima remaja itu.
"Biarkan Lilian di obati dulu, Tante!" Jawab Arion cepat. Tatapan matanya bertemu langsung dengan tatapan mata Efina.
Rahadian dan Efina tentu terkejut mendengar ucapan Arion. Tatapan keduanya beralih kepada Lilian yang sejak tadi duduk dengan kepala menunduk. Efina dan Rahadian tidak dapat melihat luka apapun kepada gadis itu. Sehingga ucapan Arion menimbulkan tanda tanya besar untuk keduanya.
"Apa maksud kamu?" Tanya Efina dengan kening mengerut. Lilian terlihat baik-baik saja di bandingkan ke empat lelaki remaja yang terlihat memar di wajahnya.
"Lututnya, Tante." Jawab Rein ragu.
Efina langsung berjalan ke tempat Lilian berada. Gadis itu memakai rok di bawah lutut sehingga membuat luka di lututnya tidak terlihat. Mata Efina langsung membulat setelah menyikap sedikit rok Lilian. Di sana darah dari lututnya mulai mengering lantaran sejak tadi belum di obati.
"Apa yang kalian lakukan? Mengapa kalian semua terluka seperti ini?!" Nada suara Efina mulai meninggi. Hal yang paling Efina tidak sukai adalah melihat kedua Putrinya terluka.
"Jelaskan!!" Nada suara Rahadian juga meninggi.
Lilian semakin menundukkan kepalanya takut. Jika Rahadian telah mengeluarkan suara lantang seperti itu, artinya Papa-nya sedang berada puncak emosi tertinggi. Suasana tegang pun mulai tercipta di ruangan tamu milik keluarga Rahadian.
Kring ... Kring ... Kring ...
Bunyi ponsel dari Rahadian membuat ketegangan yang terjadi sedikit mengendor. Meskipun tengah emosi, Rahadian masih menyempatkan diri untuk mengangkat panggilan masuk dari ponselnya itu.
Rahadian mengambil sedikit jarak menjauh agar obrolannya tidak dapat di dengar oleh ke lima remaja itu. Sedangkan Efina mulai membasuh luka pada lutut Lilian dengan pelan.
"Awww .... Aww ... Sakit, Mah." Ringis Lilian pelan.
Arion tampak menatap Lilian dengan khawatir. Terlihat jelas di wajah gadis itu bahwa ia tengah kesakitan. "Pelan-pelan, Tante." Pinta Arion.
"Apa kamu perlu mengajari ku?!! Tidakkah kalian berpikir untuk menjelaskan mengapa kalian semua terluka?" Tanya Efina dengan marah.
Pandangan Efina beralih kepada Lilian yang masih menundukkan kepala. "Dan kamu, Lilian! Kamu itu anak gadis! Jika teman lelaki mu sedang berantem atau tawuran ... Seharusnya kamu menjauh." Omel Efina.
"Rein! Mengapa kamu melibatkan Adik mu? Lihatlah dia sampai terluka seperti ini! Tugas kamu itu melindunginya ... Bukan membawabya ikut dalam masalah kalian!!" Gerutu Efina tidak henti. Ia merasa yakin jika Lilian terlibat dalam masalah yang ke empat lelaki itu buat.
Arion dan ketiga temannya masih memilih diam. Biarkan saja Efina mengomel tiada henti. Bukannya tidak ingin menjawab, namun ketiganya bingung harus memulai cerita dari mana. Konflik Florenzo School dengan SMA Tunas Harapan sudah sejak lama berlangsung. Sehingga membuat ketiganya kesulitan untuk menjelaskan masalah yang terjadi.
Setelah mendengar omelan panjang dari Efina. Rahadian kembali setelah menerima telepon dengan raut wajah serius. Terlihat jelas rahang Rahadian mengeras dan kedua tangannya mengepal.
"Sepertinya kali ini masalah yang Putri kita alami cukup besar! Mau tidak mau, suka tidak suka, besok kita akan ke sekolahnya." Kata Rahadian.
Mata Efina beralih menatap Rahadian. "Apa yang mereka lakukan?" Tantanya khawatir.
"Lilian menyinggung keluarga besar Anderson." Jawan Rahadian sambil menatap ke arah Putrinya.
"Tapi mereka yang pertama memulai, Pah!" Setelah sekian lama diam. Lilian akhirnya bersuara.
"Masih bisa berbicara, kamu?! Saat Papa tanya sejak tadi mengapa hanya diam?! Bagaimana Papa bisa membela mu kalau kamu sendiri hanya tetap memilih diam!" Kali ini Rahadian benar-benar marah.
Informasi yang baru saja Rahadian dapatkan dari sekertaris pribadinya membuat emosi lelaki paruh baya itu meluap.
"Apa yang sebenarnya terjadi?" Untuk kesekian kalinya Efina menayakan hal yang sama.
"Ke empat lelaki itu terlibat tawuran setelah pertandingan basket! Sedangkan Lilian sendiri terlibat perselisihan dengan Putri yang berasal dari keluarga Anderson. Mereka menuntut pihak sekolah untuk mengeluarkan Lilian dan membawa Putri kita ke jalan hukum." Jawab Rahadian dengan wajah mengeras.
Efina tidak dapat mengatakan apapun lagi. Informasi yang baru saja ia dengar tentu saja sangat membuatnya terkejut.
"Tapi Lilian tidak bersalah, Om!" Jawab Arion cepat.
"Mereka yang memulai!" Tambah Mario.
"Mereka selalu menggertak Lilian dengan posisi dan jabatan keluarganya. Tidak bisakah Lilian mengatakan identitas aslinya agar tidak ada lagi yang berani menindasnya?" Tanya Rein dengan dada yang mulai naik turun.
"Kami hanya melawan jika kami di serang!" Tambah Farrel.
Efina mengepalkan tangannya kuat, "Ceritakan semuanya secara jelas." Kali ini raut wajah Efina benar-benar serius.
Rein mengangguk pelan kemudian mulai menceritakan kejadian yang sebelumnya mereka alami. Ceritanya di mulai dari pertadingan basket kemudian berlanjut kepada perselisihan antara Lilian dan Anin. Hingga akhirnya tawuran antar dua sekolah terjadi.
"Sebelum tawuran terjadi ... Arion telah membawa Lilian pergi untuk menghindari tawuran. Kemudian ia kembali ke tengah lapangan untuk menahan murid dari SMA Tunas Harapan agar tidak membuat masalah lagi dengan murid Florenzo School." Kata Rein mengakhiri ceritanya.
"Siapa nama Putri dari keluarga Anderson yang mempunyai masalah dengan Lilian?" Tanya Rahadian.
"Anindya Raina. Dia baru saja pindah dari luar Negri. Baru beberapa hari di sini namun dia langsung mencari masalah dengan Lilian." Jawab Mario yang sejak tadi hanya duduk diam.
"Dia adalah gadis yang mengirim proposal perjodohan kepada saya." Ucap Arion tiba-tiba.
Lilian langsung mendonggakkan kepalanya setelah mendengar ucapan dari Arion. Lilian tidak menyangka, jika gadis yang dulunya pernah Mama-nya ceritakan dulu adalah Anin.
Namun yang membuat Lilian penasaran adalah ke empat lelaki yang duduk tidak jauh darinya tidak pernah menceritakan apapun tentang Anin kepadanya.
"Jadi ... Dia orangnya." Ujar Efina sambil tersenyum sinis.
"Waktunya telah tiba." Ucap Rahadian yang membuat ke lima remaja itu saling memandang satu sama lain.
"Kalian tetaplah di sini ... Saya akan menelpon Dokter Pribadi untuk datang mengobati kalian." Kata Efina.
"Nggak perlu, Tante! Kita bisa obatin sendiri ... Lagian ini hanya luka kecil saja." Tolak Rein.
"Benar, Tante! Biarkan kami tetap di sini sebentar saja." Pinta Mario.
Efina menghela napas pelan. "Baiklah ... Tetap di sini dan jangan membuat masalah lagi! Tante dan Om mau keluar untuk menyelesaikan masalah yang telah kalian buat!"
"Baik, Tante." Ucap ke empat lelaki itu dengabn kompak.
Setelahnya Efina dan Rahadian langsung meninggalkan kediamannya untuk mengurus masalah yang melibatkan Putrinya untuk yang ke sekian kali. Lilian dapat menangkap dengan jelas ekspresi marah dari Rahadian sebelum ia benar-benar pergi dari kediamannya.
Lilian masih bisa menenangkan Efina jika Mama-nya itu sedang marah. Namun Lilian tidak bisa mengendalikan emosi Papa-nya jika ia sedang marah. Rahadian lebih mengutamakan tindakan dari pada harus berbasa-basi, baginya hal itu akan membuang waktunya saja.
"Kira-kira ... Apa yang akan dilakukan oleh Bokap dan Nyokap, lo?" Tanya Farrel penasaran.
Lilian menghela napas pelan. "Entahlah ... Tapi setau gue, Papa sekarang lagi dalam keadaan marah. Itu sebabnya gue lebih memilih diam. Papa kalau lagi marah sangat serem ... Gue aja nggak berani natap langsung ke arah Papa. " Jelas Lilian. Ia dengan hati-hati mengambil beberapa kain lap kemudian membaginya kepada ke empat lelaki itu.
"Duduk nggak usah bergerak dulu! Luka di lutut lo belum kering." Peringat Arion.
Bukan Lilian namanya kalau langsung menuruti ucapan Arion. Gadis itu berjalan memutari meja yang berada di tengah sofa kemudian berhenti tepat di hadapan Arion. Lilian mengambil tempat duduk menghadap ke arah ke empat lelaki yang sama-sama memiliki luka memar di wajahnya.
"Di harapkan ngantri, ya. Tangan gue cuman ada dua. Jadi ngobatin kalian bergiliran aja ..." Ucap Lilian. Tangannya mulai meraih kain lap yang berada di tangan Arion kemudian memasukannya ke dalam baskom yang berisi air es.
Lilian dengan telaten membersihkan luka yang Arion dapatkan pada saat tawuran. Tidak ada yang berbicara antara keduanya. Namun tatapan kedua mata sepasang kekasih itu saling terkunci dalam waktu yang lama.
"Kapan selesainya kalau lo berdua saling pandang-pandangan? Ingat ... Kita-kita juga lagi ngantri ini!" Celetuk Farrel tiba-tiba yang langsung menyadarkan Lilian dan Arion.
Lilian refleks menjauhkan tangannya dari wajah Arion. Beberapa kali Lilian harus berdehem untuk mencairkan suasana canggung yang terjadi antara dirinya dan Arion.
"Ganggu aja." Gumam Arion pelan.
"Ehhh ... Kita-kita juga lagi bonyok! Butuh di obatin ... Kalau nggak, wajah tampan kita-kita ini bakalan rusak. Jadi jangan maruk lo jadi orang!!" Sahut Rein.
"Ke rumah sakit aja lo sana." Usir Arion.
"Benar kata Lilian! Lo ngeselin kalau lagi kek gini! Sekalinya banyak ngomong bikin orang naik darah! Udah sana geser ... Wajah lo udah selesai di obatin. Sekarang giliran kita!" Usir Rein lagi.
Walaupun tidak suka, Arion tetap menggeser tubuhnya ke samping untuk memberikan tempat kepada teman-temannya. Arion akan mengerti jika yang Lilian obatin saat ini adalah teman-temannya yang sudah menganggap Lilian sebagai adiknya sendiri.
Jika mereka adalah orang lain, maka mana mau Arion membiarkan Lilian untuk mengobati luka orang lain selain dirinya sendiri.
Setelah beberapa lama, akhirnya wajah ke empat lelaki itu selesai Lilian obati. Terdapat banyak plester pada wajah mereka masing-masing. Meskipun begitu, ketampanan mereka bahkan tidak ada sedikitpun yang berkurang.
"Selesai." Ucap Lilian riang. Ia kemudian memasukan kembali beberapa peralatan yang di gunakan untuk mengobati ke empat lelaki itu ke dalam kotak P3K. "Kalian tenang aja ... Meski banyak luka, wajah kalian masih tetap tampan kok." Lanjutnya.
Tidak ada yang bersuara setelahnya, Arion dan yang lainnya masih sibuk dengan pikiran masing-masing. Sedangkan Lilian sendiri hanya menatap bingung ke arah empat lelaki yang terlihat sibuk dengan pikirannya masing-masing.
"Kalian kenapa?" Tanya Lilian saat ke empat lelaki itu tidak merespon ucapannya.
Mata Arion beralih menatap ke arah Lilian. "Mungkinkah sekarang adalah waktunya?" Tanya lelaki itu balik.
Lilian mengerutkan kening bingung. "Waktu buat apaan?" Tanyanya.
"Mungkinkah setelah ini identitas lo di publikasikan?" Ucap Farrel memperjelas pertanyan Arion.
Lilian mengerjapkan mata berkali-kali. Ia bingung mau menjawab apa, namun melihat ekspresi serius dari Papa-nya tadi membuat Lilian berpemikiran sama dengan Arion.
"Memang seharusnya identitas Lilian di publikasikan." Jawab Rein sambil menyenderkan punggungnya ke belakang sofa.
"Lalu bagaimana dengan ..." Ucap Mario ragu.
"Sepertinya mereka sudah menemukan solusi." Jawab Arion.
"Rein ... Jika nanti identitas Lilian terbongkar, apakah tidak akan ada yang berubah di antara kalian berdua?" Tanya Farrel ragu.
"Pertanyaan bodoh macam apa itu?!" Kesal Rein. "Memangnya hal apa yang akan berubah di antara kami? Lilian akan tetap jadi adik gue dan nggak akan ada orang yang bisa merubah hal itu! Jika kalian mengkhawatirkan masalah pewaris maka Lilian juga memiliki hak yang sama dengan gue!!" Jawab Rein dengan tegas.
"Syukurlah ... Gue takut aja jika identitas Lilian terbongkar maka hal itu akan mempengaruhi hubungan kalian berdua. Lo tau sendiri gimana politik kotor dari orang-orang berdasi." Ujar Farrel.
"Nggak akan ada yang berbeda! Lilian adik gue ... Sebagai Kakak gue wajib melindunginya." Jawab Rein tegas.
Lilian terharu mendengar ucapan Rein. "Gue sangat beruntung bisa jadi adik lo." Ucap Lilian tulus.
Ke lima remaja itu kembali melempar candaan untuk satu sama lain. Mereka bahkan telah melupakan kejadian yang sebelumnya mereka alami.
_______________