
Laura dan Meira berlari tergesa-gesa menuju kelasnya berada. Sebisa mungkin keduanya ingin secepatnya sampai ke kelas dan menemui Lilian untuk memberikan informasi penting yang mereka dapatkan.
Saat menunggu antrian untuk membayar makanan, keduanya tidak sengaja mendengar informasi jika ada murid perempuan pindahan dari luar negri dan baru masuk tadi pagi saat bel masuk telah berbunyi.
Awalnya mereka cuek dan tidak menghiraukan dua murid perempuan yang sedang mengobrol di depannya selama menunggu antrian. Namun saat kedua murid perempuan itu menyebut nama gadis itu beserta dengan ciri-cirinya membuat Laura dan Meira terkejut.
Baru saja mereka membahas tentang gadis itu. Siapa sangka jika gadis yang mereka bicarakan telah kembali dari luar negri dan sekarang masuk ke sekolah yang sama. Yang membuat mereka semakin terkejut, gadis itu kembali mengikuti Arion setelah melihat lelaki itu berlatih basket di lapangan bersama dengan teman-temannya.
Hal itu harus secepatnya Laura dan Meira beritahukan kepada Lilian sebelum gadis itu kembali bertingkah lagi seperti sebelumnya. Setelah selesai membayar makanan, Laura dan Gladis langsung berlari menuju kelasnya untuk menemui Lilian.
Braaaakkkk ....
Laura dan Meira membuka pintu kelas dengan sangat keras sehingga menimbulkan suara yang cukup besar.
"Astagaaa!! Lo berdua mau buat gue jantungan di usia dini? Kalau tuh pintu bisa ngomong ... Mereka bakal menjerit kesakitan, tau nggak!!" Marah Gladis karena terkejut.
Lilian sama terkejutnya dengan Gladis, namun melihat raut wajah dari kedua temannya yang tampak khawatir membuat Lilian mengerutkan kening.
"Urusan marah lo di skip aja dulu!! Informasi yang kita bawa jauh lebih penting dari acara marah-marahan lo!!" Kata Laura dengan napas ngos-ngosan.
"Lo!" Marah Gladis tertahan.
"Kita bawa informasi penting ini! Sementara lo diem dan dengarin dulu informasi yang kita bawa!!" Kata Meira yang sama ngos-ngosannya dengan Laura.
"Informasi apaan?" Tanya Lilian penasaran.
Laura menunjuk arah luar kelas. "Itu ... Itu gadis yang kita bahas tadi ... Sekarang dia ada di sini." Jawab Laura dengan terbata-bata.
"Gadis? Gadis yang mana?" Tanya Lilian yang masih belum mengerti.
"Itu loh ... Gadis yang buat hubungan Kak Arion dan Melvin seperti sekarang! Dia ada di sekolah kita ... Tadi pagi baru pindah kesini!!" Jawab Meira cepat.
"What??!!" Pekik Gladis dengan mata melotot. "Anindya!" Tanyanya memastikan.
"Iya ... Dab kalian tau dia sekarang di mana?" Tanya Laura dengan wajah panik.
"Di mana?" Tanya Lilian yang masih mempertahankan ketenangannya.
"Lapangan! Dia kembali ngikutin Kak Arion!" Jawab Laura.
Lilian sejenak terdiam mencerna informasi yang baru saja ia dapatkan. Entah kebetulan macam apa yang telah terjadi, baru saja mereka membicarakan gadis itu, dia tiba-tiba muncul.
Tanpa mau bertanya dan membuang waktu lagi, Lilian langsung berlari keluar kelas menuju ke lapangan tempat Arion dan yang lainnya berlatih basket. Gladis, Laura dan Meira ikut berlari mengejar Lilian dari belakang.
Sampai di lapangan, suasana yang biasanya ramai dengan sorakkan kini terlihat hening meski banyak orang yang menonton di pinggir lapangan. Tatapan mereka tertuju ke satu arah yaitu ke tengah lapangan.
Dengan tergesa-gesa Lilian membelah kerumunan dan menatap ke arah yang sama dengan penonton lain. Di tengah lapangan sana, ada seorang gadis yang sedang memeluk Arion dengan sangat posesif. Tampak tangan gadis itu tidak ingin melepaskan Arion dari pelukannya meski Arion sudah berusaha menjauhkan diri darinya.
Tinggi gadis itu sama persis dengan tinggi badan Lilian. Rambutnya di curly dan berwarna hitam pekat. Kakinya sedikit berjinjit untuk menyamakan postur tubuh Arion yang tinggi.
"Lilian." Panggil Gladis dengan suara pelan.
Napas Lilian memburu melihat adegan itu. Tatapan mata Lilian dan Arion tidak sengaja bertabrakan membuat Arion harus membukatkan mata sempurna.
Tanpa mendengar panggilan dari teman-temannya, Lilian berjalan maju menuju ke tempat Arion berada. Dengan langkah mantap Lilian sampai di belakang punggung gadis yang memeluk Arion dengan sangat posesif.
"Lilian!" Panggil Arion dengab raut wajah panik.
Lilian mengabaikan panggilan dari Arion dan meraih tangan gadis yang memeluk kekasihnya itu dengan sangat kuat. Masih tidak ingin melepaskan Arion, Lilian beralih menjambak rambut gadis itu dengan marah dan pelukan gadis itupun terlepas.
"Awwww ..." Pekik Gadis itu kesakitan sambil memegang kepalanya yang sakit karena rambutnya Lilian tarik ke belakang.
Lilian menghempaskan tangan gadis itu dengan kasar sehingga tubuh gadis itu sedikit terhuyung ke belakang.
"Lilian." Panggil Arion.
Masih tidak memperdulikan panggilan Arion, Lilian masih saja fokus menatap ke arah wajah gadis itu. ia sedikit tertegun melihat wajah gadis itu, mata, hidung, alis, bibir dan yang lainnya mirip dengan orang yang sangat Lilian kenal. "Raina." Batin Lilian ridak percaya.
Betul, orang yang Lilian lihat di depannya saat ini adalah Raina. Gadis yang sangat menyukai Arion pada masa lalunya. Lilian masih saja tidak percaya jika Raina bereinkarnasi dengan wajah yang sama dengan wajah masa lalunya.
"Apa lo sudah gila?!! Gue bisa aja melaporkan lo karena telah melakukan kekerasan terhadap gue!!" Marah Anin.
Nama lengkap gadis itu adalah Anindya Raina Anderson. Orang-orang banyak memanggilnya dengan nama depan, Anindya atau Anin.
Lilian akhirnya tersadar dari lamu annya tentang Anin. Hal yang baru ia ketahui jika Anin yang sekarang dan Raina yang dulu adalah masih tetap sama yaitu menginkan Arion menjadi pasangannya.
"Lo sejak dulu nggak ada berubahnya sama sekali!! Gue tegaskan sama lo." Tunjuk Lilian dengan raut wajah marahnya. "Dulu, sekarang, atau kapan pun itu ... Arion Alpenseint Ganendra hanya milik Lilian! Lilian Caroline R!" Ucap Lilian dengan suara lantang.
Semua murid yang berada di pinggir lapangan sesaat harus menahan napas melihat raut wajah serius dari Lilian. Di sana mereka dapat melihat dan mendengar jika Lilian mengklaim Arion sebagai kepemilikannya.
Sedangkan Anin mengerutkan kening bingung dengan ucapan Lilian. Ia baru melihat Lilian hati ini, namun ucapan gadis itu menyatakan jika mereka mengenal sudah sejak lama.
"Apa maksud lo? Arion milik lo?" Tanya Anin dengan raut wajah tidak percaya.
Lilian tersenyum sinis ke arah Anin. "Tidakkah lo mencari tau terlebih dahulu statusnya sebelum memeluknya dengan tidak tau malu di depan banyak orang?!!" Tanyanya dengan nada tajam.
Anin tidak menjawab, namun sorot matanya meminta jawaban pada Arion.
Seakan mengerti, Arion langsung memeluk Lilian dari belakang. Perlakuannya terhadap Lilian sungguh jelas jika keduanya terikat suatu hubungan.
"Lo bercandakan?" Tanya Anin dengan mata yang mulai berkaca-kaca.
"Lo udah tau jelas jawabannya! Mulai sekarang jangan dekatin pacar gue!!" Nada suara Lilian meninggi.
Anin tiba-tiba tertawa keras setelah mendengar ucapan Lilian. Ia merasa jika Arion sengaja merencanakan semua ini untuk kembali mengusirnya pergi dalam kehidupannya.
"Gue tau kalau lo berdua sedang melakukan peran sebagai sepasang kekasih! Tapi gue adalah Anin yang tidak mudah untuk kalian bohongi!!" Teriak Anin dengan sangat keras.
Arion tersenyum sinis kepada Anin, setelahnya ia membalikkan badan Lilian dan mencium bibir Lilian dengan sangat lama. Sorakkan dari pinggir lapangan terdengar memekikan telinga.
Pertama kalinya Arion mencium Lilian di depan banyak orang. Arion merasa hubungannya dengan Lilian semakin dekat, ia tidak ingin orang seperti Anin akan menjadi menghancurkan hubungan keduannya.
Sedangkan Anin sendiri menutup mulut tidak percaya dengan yang Arion lakukan. Selama ini Arion selalu melakukan hal dengan tindakkan namun siapa sangka jika untuk mengatakan hubungannya dengan Lilian, lelaki itu malah mencium bibir Lilian di depan umum.
Kedua mata Lilian membola sempurna, ia tidak menyangka jika hari ini Arion akan menciumnya. Kaki dan tangan Lilian seakan lemas dan tidak dapat bergerak lagi karena merasa terkejut.
"Gue masih akan tetap mengejar cinta lo!!" Teriak Anin dari arah belakang punggung Arion dan Lilian.
________________________
Lilian masih saja mencerna kejadian yang baru saja terjadi kepadanya. Tangannya bergerak untuk mengelus bibir yang tadinya Arion cium. Wajah dekat Arion, Anin yang terkejut dan para penonton yang bersorak dengan girang, seakan seperti kaset rusak yang terputar berkali-kali di kepala Lilian.
Sedangkan Arion duduk bersandar di salah satu tiang baruga sambil menatap ke arah Lilian yang masih belum merespon tindakkan nya tadi. Keduanya saat ini berada di halaman belakang, dimana Arion membuatkan Lilian sebuah taman kecil di sana.
"Lo tadi ..." Ucapan Lilian menggantung.
"Tadi nggak sengaja! Anin tuh yang sengaja ngomporin!" Potong Arion cepat. Sebisa mungkin Arion tidak akan membuat Liliab salah paham.
"Lo nyebut nama tuh cewek?!!" Nada suara Lilian mulai meninggi.
Arion meneguk ludahnya susah payah. Jika Lilian sudah begini, maka ia harus menjaga kata-katanya. Sedikit saja salah, maka Lilian akan bertambah marah kepadanya.
"Nggak sengaja!" Jawab Arion cepat.
Lilian membuang napas berat. Kembali kejadian Arion yang menciumnya terputar kembali di kepalanya. "Lo kenapa cium gue?" Tanyanya dengan nada tenang.
"Karena lo pacar gue!" Jawab Arion tegas.
Lilian menatap tajam ke arah Arion. "Apa semua yang lo anggap pacar, bisa lo cium dengan seenak hati?!!" Lilian mulai marah.
"Bukan begitu ... Tadi gue hanya refleks." Ucap Arion mencoba menjelaskan.
"Mana ada refleks yang langsung nyosor bibir anak orang?!! Bilang aja lo sengaja!!" Tuduh Lilian dan menatap sengit ke arah Arion.
"Iya! Gue emang sengaja! Lo kan pacar gue ... Lalu gue kagak mau cewek kek si ..." Arion ragu menyebut nama Anin lantaran takut kalau Lilian akan semakin marah.
"Siapa?" Tanya Lilian menantang.
"Raina! Gue nggak mau cewek macam dia akan menghancurkan hubungan kita!!" Jawab Arion cepat.
Wajah Lilian memerah mendengar nama yang Arion sebutkan. Lilian bangun dari duduknya kemudian tangannya langsung memukul Arion dengan membabi buta. Tidak peduli bagian mana saja yang akan mengenai tangannya, yang Lilian pikirkan adalah bagaimana caranya untuk menuntaskan segala amarahnya kepada Arion.
"Berani sekali lo menyebut namanya!! Terlebih dengan nama itu!!" Marah Lilian, napasnya sampai ngos-ngosan karena harus memukuli tubuh Arion.
Arion hanya menerima pukulan Lilian begitu saja. Ia tahu jika Lilian saat ini sedang marah dan gadis itu butuh seseuatu yang bisa ia jadikan sasaran kemarahannya. Karena Arion sendiri yang membuat gadis itu marah, Maka ia menerima semua pukulan yang Lilian layangkan kepadanya.
Lilian kembali terduduk dengan napas ngos-ngosan, meski ia yang memukul Arion namun ia sendiri yang merasa kelelahan.
"Udah marahnya?" Tannya Arion dengan nada selembut mungkin. Tubuhnya bergerak mendekati Lilian kemudian Arion memeluk gadis itu dari samping.
"Percayalah ... Semua hal yang gue lakuin tadi adalah demi hubungan kita. Gue nggak mau ada orang yang mencoba mengganggu." Jelas Arion. Dagunya ia letakkan tepat ke bahu Lilian.
Arion kembali menghirup dalam-dalam aroma yang menguar dari tubuh Lilian. Aroma bunga daisy yang begitu menenangkan.
"Takdirnya emang selalu menjadi Pepacor!" Ucap Lilian yang sudah mulai tenang.
"Pepacor?" Tanya Arion bingung.
"Perebut pacar orang!" Tegas Lilian.
"Hahahahaha ..." Arion tidak bisa untuk tidak tertawa mendengar sebutan Anin dari Lilian. Bisa-bisanya gadis itu menyebut Anin dengan sebutan pepacor. Namun Lilian terlihat sangat menggemaskan saat cemburu seperti sekarang.
"Gemes banget ... Pengen cium lagi." Arion mengusap wajahnya menggunakan bahu Lilian.
Plaaaakk ...
Lilian kembali memukul lengan Arion dengan sangat keras.
"Awww ..." Pekik Arion kesakitan.
"Rasain tuh! Berani-beraninya lo mikir yang aneh depan gue!! Cukup sekali lo nyium gue ... jika terjadi lagi, maka gue patahin semua tulang-tulang lo!!" Teriak Lilian tepat di depan wajah Arion.
"Iya ... Iya." Ucap Arion pasrah, "Cewek tapi tenaga kek monster!" Gumam Arion sepelan mungkin.
"Apa?" Tanya Lilian dengan mata melotot.
"Tidak ... Tidak ada apa-apa." Jawab Arion.
Dari arah depan taman, Rein datang bersama dengan Mario dan Farrel di sampingnya. Mereka berjalan menuju Arion dan Lilian berada.
"Gue cariin dari tadi ... Ternyata lo berdua ada di sini." Kata Mario setelah sampai di depan Lilian dan Arion.
"Parah lo!! Main asal nyium adek gue ... Jangan dekat-dekat dengan dia lagi!!" Kesal Rein kemudian menarik Lilian untuk berdiri di belakang punggungnya.
"Tadi gue refleks!!" Sanggah Arion.
"Bohong! Tadi dia sendiri yang ngaku. Katanya dia sengaja!" Ucap Lilian mengompori.
"Kalian semua tau bagaimana sifat Anin! Cewek itu nggak akan nyerah gitu aja!" Ucap Arion membela diri.
"Benar juga sih. Tuh cewek nggak akan mudah nyerah gitu aja." Setuju Farrel yang sejak tadi hanya dia.
"Bukan berarti lo bisa nyium Lilian di depan banyak orang!!" Marah Rein.
"Lalu gue harus ngapain?" Tanya Arion yang juga ikut kesal.
"Ngapain aja kek ... Asal jangan aneh-aneh!!" Sahut Rein tidak mau mengalah.
"Udahlah ... semuanya juga udah terjadi. Mau di apain pun ... Waktu tetap nggak akan bisa di putar ulang kembali." Kata Farrel yang menengahi kedua temannya.
Arion dan Rein sama-sama menatap dengan tatapan tajam.
"Udahlah ... Sekarang masalah tuh cewek di kubur dulu untuk sementara. Sekarang waktunya memikirkan strategi untuk mengalahkan team lawan! Kalian semua pasti udah tau siapa lawan kalian ... Tuh cewek udah balik dan Melvin akan semakin bertingkah." Ucap Mario mengingatkan.
Benar kata Mario, semua perselisihan antara Arion dan Melvin berawal dari Anin. Perselisihan itu akan tetap berlanjut, apalagi tadi di lapangan Arion dengan terang-terangan mencium Lilian di depan umum. Tentu saja Anin akan melaporkan kejadian itu kepada Melvin, sepupunya.
_____________________