
Lilian menghempaskan tubuh diatas ranjang king size miliknya. Seharian berada di sekolah sungguh membuat kepala-nya hampir pecah. Bukan hanya pusing dengan pelajaran yang dia terima, namun masalah-masalah lain juga ikut ambil andil dalam membuatnya pusing.
Misalnya seperti kejadian saat Lilian sedang berolahraga, Arion tiba-tiba datang hanya untuk menagih uang jajan seperti perjanjian awal keduanya, meski Lilian tidak terima namun ujung-ujungnya Lilian pasarah juga. Tidak sampai situ, Arion bahkan membuat Lilian mengerjakan hal-hal kecil misalnya membawakannya minum dan mengipasinya saat makan.
Awalnya Lilian menolak namun Arion selalu saja memiliki cara sendiri agar bisa membuat Lilian mengerjakan hal yang ia inginkan. Selama di sekolah, Lilian selalu di bayang-bayangi oleh sosok lelaki tampan itu. Siapa sangka ekstra kurikuler yang Lilian pilih juga sama dengan ekstra kurikuler yang sekarang Arion pimpin.
Lilian sangat menyukai pemandangan alam sehingga ia memutuskan untuk memilih masuk anggota seni dan fotografer untuk pilihan ekstra kurikulernya. Saat istirahat, Lilian pergi ke tempat studio anak-anak seni dan fotografer untuk menyerahkan formulirnya. Sampai sana, Lilian kembali dibuat pusing lantaran Arion memberikan beberapa syarat kepada Lilian sebelum ia bergabung dengan anggotanya. Salah satu syarat yang Arion ajukan adalah harus menemaninya mengambil gambar disuatu tempat pada hari minggu yang akan datang.
Lilian membuang napas kasar saat mengingat ekspresi songong yang terakhir kali Arion berikan kepadanya. "Dasar papan datar tidak tahu diri! Bukannya bereinkarnasi menjadi orang baik ... Ini malah semakin ngeselin." Kesalnya sendiri.
"Lagian bagaimana bisa sekolah mengijinkannya menjadi ketua di dua ekstra kurikuler. Meski ia memiliki status sosial yang tinggi namun bukannya tidak adil jika ia menduduki dua ekstra kurikuler sekaligus. Kayak nggak ada orang lain aja ... Dasat si datar yang rakus!" Kesal Lilian sambil memukul bantal gulingnya.
Aksi Lilian terhenti saat ponselnya berdering. Dengan malas Lilian mengeluarkan ponselnya dari dalam tas kemudian keningnya mengerut saat melihat nomor tanpa nama tertera dilayar ponsel miliknya.
"Ini siapa lagi yang nelpon?" Gumamnya pada diri sendiri kemudian Lilian menggeser tombol hijau dilayar ponselnya.
"Hallo." Sapa Lilian.
"Lo ada dimana?" Terdengar suara lelaki disebrang sana.
"Ini siapa?" Tanya Lilian sambil menjauhkan ponselnya dari telinga kemudian memastikan nomor yang menelponnya.
"ini gue Rein." Jawabnya.
"Ohhh ... Ada apa lo nelpon gue?" Tanya Lilian sedikit malas.
"Jalan yuk!" Ajak Rein tiba-tiba.
Lilian kembali menjauhkan ponsel dari telingannya dan menatap ponselnya kembali. "Gue nggak salah dengar? Tumbenan banget lo hari ini ngajakin gue jalan ... Gue nggak sedekat itu ya sama lo! Baru aja sehari tahu kita sepupuan lo kek-nya gercep banget ngajakin gue ... Pasti ada maunya." Tuduh Lilian.
Terdengar suara kekehan Rein dari seberang telpon sana. "Nggak salah lo yang jadi sepupu gue ..." Ujarnya.
"Gue baru saja nyampe rumah, jadi nggak ada niat dalam hati gue buat bantuin lo." Ketus Lilian.
"Ayolah Lilian ... Hanya lo yang bisa bantuin gue sekarang!" Bujuk Rein.
"Nggak bisa! Gue capek dan mau istirahat!" Ucapnya dengan nada sedikit tinggi.
"Belum juga gue kasih tahu kalau gue minta bantuan apa, lo malah udah nolak duluan." Kata Rein lesu.
"Biarin... Meski udah tahu sekalipun, gue nggak akan mau bantuin lo!" Ketus Lilian.
"Baik-baik lo jadi adik ... Kakak lo lagi butuh bantuan ini. Sebagai adik yang baik seharusnya lo bantuin gue." Rein masih berusaha membujuk Lilian.
"Baru aja jadi sepupu sehari udah ngelunjak! Gimana selanjutnya? Jangan lupa apa yang lo lakuin ke gue tadi." Kesal Lilian.
"Gue tahu lo marah karena gue nggak bantuin lo tadi saat Arion ngasih syarat. Lo tau sendiri karakter Arion kalau lagi marah itu kayak apa ... Belum lagi kayaknya itu anak salah paham dengan hubungan kita, jadi untuk menghindari masalah lebih baik gue diam aja." Jelas Rein yang sesungguhnya.
Memang saat disekolah, Lilian memberi kode kepa Rein untuk membantunya keluar dari persyaratan yang di ajukan oleh Arion. Bukannya Rein tidak ingin membantu Lilian, namun sejak kejadian Rein membawakan kota bekal untuk Lilian, sikap Arion terhadapnya semakin dingin.
"Bukannya lo suka sama si Arion? Anggap saja nanti pas nemenin dia mengambil gambar, lo sedang berkencan dengannya." Lanjut Rein.
"Nggak bisa! Mana ada nganggap lagi kencan! Yang ada ntar gue jadi babu ... Terserah lo mau ngomong apa, yang jelas gue nggak mau bantuin lo!!" Pekik Lilian keras.
Terdengar helaan napas dari sebrang telepon. "Gue janji bakalan ngambulin satu permintaan lo asal lo bantuin gue ... Lagian ntar pas hari minggu sebenarnya kalian nggak berdua doang, kita-kita juga ikut kok. Gue pastiin lo nggak bakalan nyesel kalau ntar ngikut kita, itu juga alasan mengapa gue nggak belain lo tadi di depan Arion. Kalau gue ngerasa permintaan Arion nggak masuk akal, sebagai Kakak tentu saja gue langsung menolak." Rein masih kekeh dengan tujuannya.
"Sepertinya mulut lo itu terlatih banget ya rangkai kata yang bisa orang lain percaya?" Heran Lilian.
"Gue ngomong yang sebenarnya." Kesal Rein di seberang sana.
Lilian menghela napas pelan. "Ya sudah lo mau minta bantuan apa? Tapi janji ya lo bakalan turutin satu permintaan dari gue!" Tekan Lilian pada akhir kalimatnya.
"Nah gitu dong ... Gue janji bakalan nurutin satu permintaan lo, terserah lo mau minta apaan ntar. Lebih baik lo mikir-mikir aja dulu." Kata Rein senang.
"Terus lo mau minta bantuin apa sama gue?" Tanya Lilian lagi.
"Temenin gue ke sebuah tempat, Mama nggak ngijinin gue keluar soalnya tapi kalau gue ngasih alasan mau ngajakin lo jalan-jalan Mama pasti langsung ngijinin." Ucap Rein dengan nada pelan.
Lilian mengerutkan kening bingung. "Kemana? Nggak ke tempat yang aneh-aneh kan?" Curiga Lilian.
"Lo tenang aja ... Tempatnya aman, kalau aneh ngapain gue harus milih lo buat di jadikan alasan. Lo mau kan?" Tanya Rein memastikan lagi.
"Baiklah." Ucap Lilian akhirnya
"Ya sudah ... Lo siap-siap sana! Satu jam lagi gue jemput. Oh ya jangan kenakan rok." Kata Rein disebrang sana.
"Kenepa gue nggak boleh pakai rok?" Tanya Lilian heran.
"Gue bawa motor soalnya ... Mana bisa gue lindungin lo kalau seandainya lo sendiri yang makai rok." Jelas Rein.
"Ya sudah kalau gitu ... Gue mau siap-siap. Gue tutup teleponnya, bye." Lilian langsung menutup teleponnya tanpa mendengar jawaban dari Rein.
"Rasakan itu!! Siapa suruh bawel." Maki Lilian sendiri.
Setelah melempar ponselnya dengan asal, Lilian langsung memasuki kamar mandi untuk membersihkan diri terlebih dahulu.
______________
Lilian menatap jam yang berada ditangannya menunjukkan jam empat lewat dua puluh satu menit, itu artinya Rein sebentar lagi akan datang untuk menjemputnya. Setelah merasa tampilannya sudah rapi, Lilian akhirnya memutuskan untuk menuruni tangga dan menunggu Rein datang menjeputnya.
Langkah kaki Lilian melangkah ke arah dapur berada, tempat dimana Mama-nya banyak menghabiskan waktu untuk membuat resep baru untuk bisnis makanan yang sudah lama Mama-nya bangun.
"Mah ... Lilian ijin keluar ya?" Pinta Lilian sambil berjalan mendekati sebuah kursi yang langsung menghadap ke arah Mama-nya.
"Mau kemana?" Tanya Efina sambil memegang tepung ditangannya.
"Kalian mau kemana?" Tanya Efina dengan senyum di bibirnya. Efina senang karena sekarang Lilian memiliki teman jalan yang akan melindunginya, terlebih ia adalah saudaranya sendiri.
"Nggak tau ... Kak Rein yang ngajakin soalnya." Jawab Lilian sambil memakan kue yang baru saja Efina buat.
"Ya sudah ... Pulangnya jangan terlalu larut ya!" Ucap Efina tanpa melihat ke arah Lilian. Lantaran ia sibuk menakar banyaknya tepung yang akan ia masukan.
Lilian hanya mengangguk tanpa menjawab, meski Efina tidak menatap ke arahnya namun ia tahu jawaban apa yang diberikan oleh Putrinya.
Tidak lama setelahnya Bi Marni datang dengan sedikit terburu-buru. "Permisi Nyonya ... Non, di luar ada seorang laki-laki yang namanya Den Rein, katanya datang untuk minta ijin buat ngajakin Non Lilian jalan." Lapornya.
"Oh suruh masuk aja Bi." Ucap Efina lalu mencuci tangannya hingga bersih.
"Udah Nyonya, sekarang Den Rein nya sedang menunggu di ruang tamu" Kata Bi Marni lagi.
"Ohh gitu." Kata Efina.
Lilian langsung menuju ruang tamu tempat Rein berada. Terlihat Rein duduk sambil memeriksa isi ponselnya. Mata Lilian menelusuri tampilan Rein dari atas sampai bawah. Lilian akui jikalau Rein itu memiliki ketampanan yang selalu membuat kaum hawa histeris, namun tidak ia sangka jikalau Rein jauh terlihat lebih tampan saat mengenakan baju biasa.
"Ngapain lo lihatin gue kayak gitu? Terpesona?" Tanya Rein dengan raut wajah songong.
Lilian mendelik kesal mendengar ucapan Rein. "Narsis amat lo jadi cowok ... Siapa juga yang terpesona dengan tampang biasa kayak lo itu." Ketusnya.
Rein tersenyum kecil. "Gue tahu selera lo emang beda ... Kan selera lo kayak tampang datar milik Arion gitu." Ejeknya.
"Meski datar dia tetap tampan ... Justru datarnya itu yang bikin spesia! Emangnya lo yang suka ngumbar-ngumbar pesona?" Ejek Lilian balik.
"Idiiihhh siapa juga yang terbar pesona? Tanpa ditebar pun mereka langsung berdiri dan mengantri buat kecan bareng gue." Puji Rein ke diri sendiri.
"Semakin kesini lo makin ngeselin ya! Pengen gue ..." Lilian memperagakan tangannya seperti sedang mengucek baju.
"Eh ... Eh ... Eh kenapa jadi adu mulut sih? Jadi nggak perginya?" Tanya Efina yang tiba-tiba datang dari arah belakang punggung Lilian.
"Jadi kok Tante, cuman yaaaaa ... Biasalah anak cewek." Ucapnya sambil tersenyum sumringah.
"Ya udah hati-hati dijalan dan jangan ngebut-ngebutan. Pulangnya juga jangan kemalaman dan ingat jaga Lilian baik-baik!" Peringat Efina.
"Siap Tante!" Rein memberi hormat sambil tersenyum cerah ke arah Efina.
"Tapi sebelumnya Rein udah ijin ke Mama kan? Kalau lagi keluar bareng Lilian?" Tanya Efina memastikan.
"Udah kok Tante, Makanya Mama ngijinin pergi." Jawab Rein.
"Ohh baguslah kalau gitu ... Sekali lagi hati-hati ya." Ucap Efina.
"Baik Mama." Ucap Lilian.
"Baik Tante." Ucap Rein.
Setelah berpamitan kepada Efina, kedua saudara itupun langsung meluncur ke tempat tujuan mereka menggunakan motor sport kesayangan milik Rein. Sepanjang jalan, Lilian hanya menengok kiri dan kanan jalan agar kedepannya ia tidak tersesat jika lewat jalan yang sedang keduanya lalui sekarang.
Semakin lama, jalan yang Lilian dan Rein lalui semakin sepi. Hal itu mengingatkan Lilian pada kejadian dimana ia dihadang oleh beberapa Geng Motor.
"Ehhh tukang narsis! Ini benar jalan menuju tempat tujuan kita?!" Teriak Lilian agar Rein bisa mendengarnya.
"Tentu saja. Ada apa memangnya?" Tanya Rein sambil melihat wajah Lilian di kaca spion motor miliknya.
"Jalan-nya serem amat ... Bikin merinding. Nggak ada jalan lain lagi selain jalan ini?" Tanya Lilian di akhir kalimat.
"Lo tenang aja, kita akan baik-baik saja selama kita melewati jalan ini." Ucap Rein untuk menenangkan Lilian.
"Benarkah?" Tanya Lilian ragu.
"Benar ... Lo bawel amat sih ahhh!! Nggak lama lagi kita pasti bertemu banyak orang." Jawab Rein mulai kehabisan kesabaran.
Lilian langsung memukul punggung milik Rei dengan kesal. "Gue tanya karena gue nggak tahu!! Tahu gini gue tadi nggak akan mau bantuin lo." Kesalnya.
Rein mendesah pelan. "Aissshhhh Ya sudah maafin gue ya." Ucapnya setengah terpaksa.
Lilian sudah tidak lagi bertanya, ia kembali sibuk melihat jalanan yang ia lewati. Tidak lama setelahnya, Lilian baru mempercayai ucapan dari Rein. Jika jalan yang mereka lewati tadi aman, Lilian bahkan bertemu dengan banyak orang sepanjang jalan, ada banyak sekali kaum muda dan mudi menghabiskan waktunya ditempat itu untuk berkempul.
Motor milik Rein berhenti pada segerombolan orang yang sedang berkumpul. Semua teman-teman Rein malah menatap heran kepada seorang wanita yang baru datang bersama dengan Rein karena tidak biasanya Rein mau menggonceng seorang gadis di belakang jok motornya.
Rein bahkan membantu gadis itu untuk menuruni motor miliknya. Ada banyak sekali pendapat yang keluar dari mulut teman-teman Rein yang mengira Lilian dan Rein adalah sepasang kekasih.
Semua interaksi antara Lilian dan Rein tidak luput dari pandangan seseorang yang sejak tadi menatap keduanya tidak suka. Dia adalah Arion, entah sudah keberapa kali gadis yang bernama Lilian berhasil membuat Arion merasa sangat kesal.
Terlebih lagi Arion harus mendengar pendapat orang-orang yang mengatakan Lilian dan Rein adalah pasangan yang serasi. Hati Arion seakan tidak terima dengan ucapan-ucapan dari teman-temannya.
Dengan langkah cepat, Arion berjalan mendekati Lilian yang sejak tadi sudah turun dari atas motor milik Rein.
"Mau ngapain lo kesini?" Tanya Arion penasaran.
"Gue yang ngajak kok." Jawab Rein yang tiba-tiba muncul dari arah belakang punggung milik Lilian.
Arion menatap keduanya tidak suka. Ia penasaran dengan hubungan antara kedua orang itu. Sehingga keduanya bukan hanya terlihat akrab disekolah namun keduanya terlihat sangat akrab di luar sskolah seperti sekarang ini.
"Acaranya udah pada mau mulai ... Semuanya diharapkan agar mendekat." Kata seorang lelaki yang berada tidak jauh dari tempat Lilian, Arion dan Rein berdiri.
Rein secara refleks menggenggam tangan Lilian dan menariknya menuju sumber suara. Hal itu berhasil membuat Arion semakin ingin mengetahui hubungan apa yang sedang keduanya jalani.
________________