Lilian

Lilian
Pertemuan II



Semakin lama koridor kelas sepuluh semakin ramai. Semua murid kelas sepuluh berhamburan keluar kelas dan merebut tempat untuk menyaksikan kedatangan para Wali murid. Begitu halnya dengan kelas sebelas dan dua belas yang berada di lantai atas gedung. Mereka sama-sama berebut tempat yang paling depan hanya untuk melihat kedatangan para keluarga yang memiliki status besar.


Momen seperti itu sangat langka di jumpai, bahkan saat perayaan hari besar tiap keluarga pun mereka jarang bisa berada di ruangan yang sama dan berbagi oksigen yang sama. Namun karena kejadian kemarin yang melibatkan banyak keluarga membuat pihak sekolah memutuskan untuk memanggil Wali murid yang bersangkutan.


Jika murid lain sangat antusias menunggu kedatangan keluarga lain yang masih belum datang. Lilian malah meremas ujung seragamnya karena merasa gugup sendiri lantara memikirkan siapa yang akan menjadi Wali muridnya hari ini.


"WALI MURID DARI GANENDRA GRUP DAN ARISENA GRUP TELAH SAMPAI DAN SEBENTAR LAGI AKAN MEMASUKI RUANGAN PERTEMUAN!!" Teriak salah seorang murid lelaki yang berdiri di ujung lapangan. Sejak tadi murid itulah yang mengabarkan kedatangan keluarga mana saja yang sudah sampai.


Semua murid dari tiga jenjang langsung saling berdesakan untuk melihat dua keluarga besar itu. Tidak terkecuali dengan Lilian, gadis itu bahkan sampai berjinjit untuk melihat kearah depan lantaran banyak murid yang juga saling berdesakan berebut tempat.


Di ujung lapangan sana, seorang lelaki paruhbaya yang memiliki tatapan tegas serta garis wajah yang sangat mirip dengan Arion berjalan dengan seorang wanita paruhbaya yang melingkarkan tangannya di lengan sang lelaki.


Meski keduanya sudah berumur, namun keduanya tidak terlihat seperti orang tua yang sudah menginjak usia kepala empat. Ketampanan dari Aditia Ganendra berhasil diturunkan kepada anaknya Arion. Sifat dan karakter keduanya bahkan hampir sama, namun bedanya Aditia tidak sedingin Anaknya itu.


Sedangkan Elisa, masih tetap memancarkan aura keanggunannya. Terlebih lagi dress warna putih tulang yang ia kenakan saat ini sangat cocok dengan pembawaannya yang begitu anggun. Keduanya berjalan dengan serasi menuju aula pertemuan di adakan.


Tidak jauh dari belakang keduanya, seorang lelaki yang sudah memasuki usia tua melangkah dengan tegas. Sorot mata serta garis wajahnya masih tetap tajam. Umurnya yang memasuki tujuh puluan tidak mempengaruhi sedikitpun wibawanya.


"Adhitama Arisena. Pemimpin keluarga Arisena." Bisik murid lain yang masih mampu di dengan oleh Lilian.


Dibelakang Tama, kedua orang tua dari Rein yaitu Hans Arisena dan Zoya Arisena juga ikut hadir dalam pertemuan. Keduanya seakan tidak mau mengalah dalam menonjolkan wibawa dan keanggunanya masing-masing.


Deg ... Deg ... Deg ...


Jantung Lilian berdegup sangat kencang. Didepan sana, di ujung lapangan. Kedua orang tuanya datang sendiri sabagai Walinya. Aura yang dipancarkan oleh Rahadian dan Efina membuat semua tatapan para murid tertuju kepada keduanya.


Siapa yang tidak mengenal dengan Rahadian. Tangan kanan atau jantung dari Ganendra Grup, penggerak dari perusahaan besar itu serta pemilik saham sebesar dua puluh satu persen dari perusahaan itu. Untuk pertama kalinya muncul di muka umum dengan menggandeng seorang wanita cantik yang memiliki toko kue yang hampir tersebar di seluruh Negri bahkan sampai luar Negri.


Hal yang tidak dipikirkan oleh banyak orang ialah keduanya ternyata adalah pasangan Suami-Istri. Keduanya hampir tidak pernah terlihat bersama, hal itulah yang membuat semua orang selama ini menebak siapakah Istri dari pengusaha sukses itu?. Pertanyaan semua orang kembali muncul setelah keduanya ikut dalam pertemuan Wali murid. Jika keduanya hadir, maka Anaknya adalah salah satu dari murid Florenzo School. Namun siapakah Anak dari keduanya? Dan mengapa berita itu sampai tidak terdengar oleh masyarakat umum.


"Lilian bukankah itu adalah Nyokap lo?" Tanya Gladis heboh.


Gladis pernah bertemu dengan Efina saat ia pergi mengunjungi rumah Lilian untuk menjenguk gadis itu.


"Iya, bener! Itu Nyokap Lilian! Nggak mungkin gue salah mengenal!" Lanjut Meira sambil memandang kearah Lilian dan kedua orang tuanya.


Tatapan semua murid yang mendengar ucapan kedua teman Lilian langsung mengarah kepada Lilian. Jika wanita ya g disebutkan oleh Gladis dan Meira adalah Mamanya Lilian, maka lelaki yang disamping wanita itu adalah Papanya Lilian. Pemilik saham dari dua puluh satu persen dari Ganendra Grup.


"Lilian Caroline R! R dari belakang nama lo adalah Rahadian?! Pemilik kedua saham terbesar Ganendra Grup?!" Tanya Laura tidak percaya. Gadis itu bahkan sampai menutup mulutnya saking terkejut.


Bukan hanya ketiga teman Lilian yang tidak percaya, namun seluruh murid yang berada di sana juga hampir tidak mempercayai fakta itu.


"Jawab, Lilian!! R di belakang nama lo adalah Rahadian?!" Tanya Gladis. Suara gadis itu bahkan hampir di dengan oleh semua orang. Sesaat keheningan tercipta lantaran Lilian masih saja diam.


Lilian masih mencerna tentang kejadian yang terjadi saat ini. Ingin sekali Lilian menjawab langsung kepada keriga temannya, namun kehadiran kedua orang tuanya belum tentu untuk membongkar identitasnya.


"Jawab, Lilian! Wanita yang disebelahnya adalah Nyokap lo! Kita nggak mungkin salah lihat ... Beberapa kali kita datengin rumah lo dan hanya orang itu yang kita temui! Kedatangannya saat ini pasti menjadi Wali dari lo kan?" Tanya Meira lagi.


Lilian masih bingung mau menjawab apa. Namun pandangannya tertujun ke arah kedua orang tuanya yang mulai memasuki pintu ruangan pertemuan.


"Gue nggak bisa jawab sekarang! Untuk lebih jelasnya biarkan kita dengarkan dulu hasil dari pertemuan itu." Jawab Lilian akhirnya.


Lilian masih belum bisa memberi kejelasan statusnya pada semua orang. Jika memang hari ini statusnya akan di publikasikan maka biarkan kedua orang tuanya yang melakukannya.


"Tapi Lilian ..." Sanggah Laura.


"Please ..." Ucap Lilian dengan tatapan memohon kepada ketiga temannya.


Lilian belum bisa memutuskan hal apa yang akan ia lakukan. Untuk sementara Lilian mempercayakan semuanya kepada Rahadian dan Efina. Jika identitasnya akan di publikasikan, maka kedua orang tuanya pasti sudah memiliki rencana sendiri.


Bukan hanya ketiga teman Lilian yang kecewa, namun para murid lain yang juga ikut penasaran dibuat kecewa oleh jawaban Lilian. Meski mereka tidak mempercayai ucapan ketiga teman Lilian, namun murid-murid itu masih tetap ingin mendengar jawaban apa yang akan Lilian berikan.


Setelah berhasil meyakinkan ketiga temannya dan menenangkan suasana, Lilian diajak oleh ketiga temannya untuk pergi menuju samping aula pertemuan. Di sana para guru telah menyediakan sebuah layar besar yang memperlihatkan pertemuan semua Wali murid dengan Kepala Sekolah serta para jajaran yang bersangkutan.


Di sana semua murid di kumpulkan pada satu tempat untuk melihat bagimana pertemuan itu dilangsungkan. Jika masalahnya hanya melibatkan satu atau dua orang saja maka hal seperti itu tidak akan disiarkan kepada murid secara terbuka seperti sekarang. Namun karena kejadian kemarin hampir melibatkan semua murid, maka pertemuan itu disaksikan langsung lewat layar besar oleh para murid.


__________________


Suasana aula pertemuan begitu tenang, belum ada satupun dari Wali murid yang mengeluarkan suara. Masing-masing Wali murid duduk di kursi yang sebelumnya telah pihak sekolah siapkan.


Sejenak Pak Bram menarik napas panjang sebelum ia secara resmi membuka pembahasan dari peremtemuan itu.


"Selamat pagi semuanya ..." Sapa Pak Bram yang memulai membuka suara.


"Semalam saya mengirim surat kepada Wali murid perihal kejadian kemarin yang sekarang ini lagi hangat-hangatnya di perbincangkan oleh masyarakat umum. Untuk secara garis besar kejadiannya, mungkin Tuan atau Nyonya sudah mengetahui bagaimana ceritanya. Sebagai Kepala Sekolah yang memiliki tanggung jawab penuh terhadap sekolah, tentu saja saya tidak menginginkan nama baik sekolah tercoreng. Meninjau dari reputasi sekolah sebelumnya belum pernah ada kejadian yang semacam ini terjadi disini. Untuk itu semua Wali murid kami undang kesini untuk merundingkan langkah apa saja yang akan kita ambil untuk mengembalikan nama baik Sekolah." Papar Pak Bram.


"Nama baik yang seperti apa Pak Bram? Kejadian kemarin adalah salah satu contoh dari ketidak mampuan kalian sebagai Guru dalam mendidik para murid. Kami membayar mahal Sekolah ini namun apa yang kami dapatkan dari didikan kalian terhadap anak kami?" Tanya Faruk Anderson. Papa dari Anindya.


"Benar, itu! Kejadian kemarin membuktikan jika reputasi baik dari sekolah ini hanyalah sebagai nama saja." Tambah Burhan Triadi. Ayah Sheril.


Sebisa mungkin Pak Bram mengendalikan emosinya di hadapan para Wali murid. "Lalu jika kejadian kemarin di limpahkan kepada pihak Sekolah ... Maka apa peranan orang tua di rumah? Anak tidak hanya menerima didikan dari Sekolah ... Peran orang tua di rumah itu jauh lebih besar mempengaruhi karakter seorang anak." Jelasnya.


"Langsung saja ke inti Pak Bram! Saya tidak ingin bertele-tele lagi! Kemarin anak saya sampai terluka di bagian tertentu ... Dari laporan yang saya terima, luka itu di dapatkan bukan dari kejadian tawuran, melainkan ulah salah seorang murid dari Sekolah ini." Papar Pak Faruk mulai tidak sabaran.


"Kejadian kemarin sungguh hal yang tidak terduga! Apapun yang terjadi kemarin adalah sebuah kecelakaan yang tidak di sengaja! Jadi mohon untuk Pak Faruk agar sekiranya tidak membebankan murid lainnya." Jelas Pak Bram.


Bammm ....


Burhan mendobrak meja sehingga menghasilkan suara keras. "Ohhh ... Jadi kalaupun Putri kami mati kemarin ... Itu termasuk dari unsur ketidak sengajaan?" Tanyanya.


"Hampir mengalami kebangkrutan mungkin membuat pikiran Pak Burhan sedikit kacau! Atau tidakkah sebelumnya Pak Burhan sebelumnya mempelajari tentang tata krama saat ada pertemuan penting?" Tanya Reifansyah Bantara. Papa dari Farrel.


Burhan seakan kicep. Tatapan dari keluarga besar lainnya mampu membuatnya harus menutup mulutnya dengan rapat-rapat.


"Tuan dan Nyonya sekalian ... Mohon tetap tenang! Kehadiran kalian di sini untuk meluruskan masalah, bukan menambah masalah." Ucap Pak Bram mencoba menengahi.


"Masalah apa yang ingin Pak Bram luruskan? Jika Pak Bram tidak dapat memberi keadilan untuk Putri saya, maka kasus ini saya akan bawa ke jalur hukum!!" Ancam Faruk dengan tegas.


"Betul, itu! Putri saya bahkan tidak bisa memejamkan matanya walau sedikit karena masalah ini. Kejadian kemarin tentu saja mengganggu mental Putri saya!!" Tambah Melani Anderson. Mama dari Anindya.


"Pokoknya saya menginginkan keadilan untuk Putri saya!! Keluarkan murid yang bernama Lilian sekarang maka masalah selesai!" Tutur Faruk.


Rahadian tiba-tiba tertawa keras, mendengar permintaan Faruk membuatnya tidak tahan untuk tidak tertawa. Semua keluarga besar yang hadir tentu saja langsung menatap ke arahnya.


"Anda yakin ingin mengeluarkan Putri saya?!" Tatapan tajam Rahadian arahkan kepada Faruk.


Semua orang yang berada dalam ruangan hampir tidak bisa percaya dengan ucapan Rahadian. Selama ini kehidupan seorang Rahadian sangatlah tertutup, orang-orang bahkan hampir tidak mengetahui seluk beluk tentang keluarganya. Ia bagaikan tangan kanan Ganendra Grup yang tidak tersentuh sama sekali kehidupanya.


Awalnya orang-orang berpikir jikalau Rahadian datang untuk menemani Aditia berserta sang Istri, namun siapa sangka kehadiraan Rahadian kali ini adalah untuk Putrinya.


"Putri?" Tanya Pak Bram ragu.


Memang selama ini Pak Bram tidak tau mengenai orang tua Lilian. Saat memasukan Lilian ke Florenzo School, Rahadian menggunakan cara khusus untuk merahasiakan identitas Putrinya itu. Itu sebabnya saat Pak Bram mencoba mencari tau tentang latar belajang keluarga Lilian selalu saja menemui jalan buntung. Akses untuk mencari tau tentang gadis itu terlalu minim dan beresiko.


"Lilian Caroline Rahadian ... Putri bungsu saya!" Ucapan Rahadian menggelegar ke seluruh ruangan.


Sebagai seorang Ayah, tentu saja ia tidak rela jika Putrinya di keluarkan begitu saja tanpa ada penyelidikan lebih lanjut. Terlebih lagi, ia adalah seorang donatur tetap di sekolah itu. Mendengar permintaan Faruk membuat Rahadian tidak bisa untuk berdiam diri saja.


"Kemarin Putri saya juga mengalami luka sampai mengering! Namun ia tidak menyalahkan siapapun atas luka yang ia terima. Setelah melakukan penelusuran lebih lanjut, ternyata memang ada sedikit kejadian yang terjadi disana sebelum tawuran terjadi." Tutur Rahadian. Ia mencoba mengatur emosinya agar tetap tenang.


"Putri Anda melakukan tindakan bullying terhadap Putri saya! Sebagai seorang Ayah, tentu saja saya tidak terima!" Ucap Faruk tidak mau mengalah.


"Tutup mulut mu, Pak Faruk!! Sejak tadi saya sudah lelah mendengarkan mu berbicara!" Kali ini Tama yang berbicara. Sejak tadi ia hanya mendengarkan. Namun tuduhan yang Faruk layangkan pada Lilian membuat Tama tidak bisa terdiam.


"Tenanglah, Papa." Zoya, mencoba membuat Mertuanya itu agar tetap tenang.


"Bagaimana saya bisa Tenang! Cucu perempuan satu-satunya dari keluarga Arisena di tuduh di depan mata sang Kakek sendiri!!" Kelakar Tama yang tidak lagi bisa tenang.


Baru saja terbongakar jikalau Lilian adalah anak dari pemilik saham terbesar nomor dua dari Ganendra Grup. Kini muncul lagi seorang Tama, pemimpin dari keluarga Arisena yang mengaku sebagai Kakek dari Lilian.


Aula yang tadinya begitu tenang, kini terdengar riuh oleh suara-suara dari keluarga lainnya. Bagaiman bisa seorang gadis memiliki hubungan dengan dua keluar besar sekaligus.


"Mengusik Lilian berarti sama halnya mengusik keluarga Arisena! Terlebih lagi ia adalah kandidat sah sebagai pewaris keluarga Arisena berikutnya bersama dengan saudarantya Rein." Marah Tama.


Semua orang yang ada di aula semakin terkejut mendengar fakta itu. Tidak jauh beda dengan Pak Bram yang juga merasa terkejut dengan kebenaran yang baru saja terungkap.


________________