
Bel istirahat akhirnya berbunyi, dengan gerakan cepat Lilian memasukan semua alat tulisnya masuk kedalam tas-nya dengan terburu-buru. Lilian secepatnya ingin menemui Arion dan menjelaskan segala hal yang membuat Arion selalu saja salah paham terhadapnya.
"Lo mau kemana sih buru-buru amat?" Tanya Laura heran.
"Mau nemuin Kak Arion ... Kayak-nya dia salah paham sama gue." Jawab Lilian masih sibuk memasukan barang-barangnya.
"Lah ... Emangnya salah paham kenapa?" Tanya Meira yang juga ikut penasaran.
"Ceritanya panjang ntar gue ceritain ... Udah ahh gue buru-buru. Ntar ketemu dikantin ya ... Cepat-cepat lo semua gue tungguin." Kata Lilian sedikit berteriak kemudian menghilang dari balik pintu.
"Kenapa sih tuh anak? Buru-buru banget ... Cepet beresin semua, gue jadi penasaran jadinya." Kata Gladis yang diangguki oleh kedua temannya.
Lilian sendiri sudah berlari ke arah lift, tempat biasa Arion dan teman-teman-nya turun dan akan menuju kantin. Tidak lama menunggu, orang yang ditunggu akhirnya menampakan diri namun bukan berempat seperti biasa akan tetapi Arion hanya keluar sendiri di dalam lift tersebut.
"Kak Arion kok cuman sendiri? Yang lain pada kemana?" Tanya Lilian sambil celingak celinguk ke arah belakang Arion untuk mencari teman-temannya yang lain.
"Nggak ada!" Kata Arion datar.
"Lah tumben sendiri ... Biasanya kemana-mana terus berempat." Kata Lilian heran.
Arion menatap tajam ke arah Lilian kemudian memperpendek jarak antara keduanya. "Bukan urusan lo dan bukan kewajiban gue agar selalu bareng mereka." Ucapnya tidak senang.
"Kakak ini kenapa sih? Perasaaan semalam masih baik-baik saja dan kenapa malah tambah dingin kek begini?" Tanya Lilian yang mulai terpancing emosinya.
"Gue emang seperti ini." Jawab Arion datar.
Lilian membuang napas pelan. "Gue minta maaf karena tadi malam nggak bisa pulang bareng lo. Bukan maksud gue buat milih Kak Rein cuman masalahnya ..." Kata-kata Lilian terhenti saat tiba-tiba Arion malah berbalik dan mengabaikan penjelasan dari Lilian.
"Kak dengerin dulu penjelasan gue baru lo pastiin bakal marah atau tidak." Kata Lilian sambil menarik tangan Arion agar mendengarkan penjelasan dari Lilian.
Bukannya mendengarkan Lilian, Arion malah menarik tangannya dengan paksa sehingga membuat Lilian mundur beberapa langkah ke belakang.
"Nggak ada yang perlu lo jelasin! Memang lo pikir kita punya hubungan apa sehingga lo perlu jelasin ke gue?" Tanya Arion dengan kata-kata tajamnya.
Lilian tertegun mendengar ucapan dari Arion. Benar yang dikatakan oleh laki-laki itu, atas dasar apa Lilian harus menjelaskan semuanya kepadanya. Hubungan keduanya selama ini tidak dekat, jika Lilian menjelaskan maka semua tidak akan ada yang berubah. Namun meski tahu tentang fakta itu, hati Lilian masih saja ingin menjelaskan kesalah pahaman yang terjadi di antara mereka.
"Meski kita nggak punya hubungan apapun tapi hati gue tetap ingin menjelaskannya. Gue hanya minta waktu lo sebentar saja." Pinta Lilian degan raut wajah memohonnya.
Arion masih saja membuang wajah ke arah lain. "Gue nggak punya waktu buat dengerin cerita sampah lo!" Ucapnya lalu pergi meninggalkan Lilian sendirian.
Sakit, satu kata yang menggambarkan perasaan Lilian saat ini. Meski Arion selalu bersikap dingin terhadapnya namun Lilian masih percaya dengan cinta yang ia miliki akan mampu membuat Arion kembali bersikap hangat kepadanya.
Prok ... Prok ... Prok ...
Suara tepukkan tangan mengalihkan pandangan Lilian dari punggung Arion yang menjauh ke arah sumber tepukkan itu.
"Wah ... Wah sepertinya ada yang sudah ditolak nih ... Gimana ... Gimana ...? Sakit nggak?" Ejek Sheril dengan tatapan sombongnya.
"Tentu sakitlah ... Masa nggak ..." Kata Naomi dan Karin barengan.
Tawa ketiganya pecah melihat raut wajah kesal dari Lilian. Sejak tadi Sheril sudah ada dibelakang Lilian dan Arion namun ia memilih diam dan hanya menonton keduanya dari jarak dekat. Setelah puas melihat kesedihan dari wajah Lilian, Sheril muncul bersama dua temannya yaitu Naomi dan Karin.
"Kasian yang baru saja ditolak ... Makanya kalau mimpi itu nggak usah ketinggian kalau jatuh pasti sakit ya kan?" Kata Sheril masih menertawakan Lilian.
"Pasti sakit lah Ril ... Biasanya nih cewek selaluuu saja buat masalah dan selalu cari perhatian dari Arion. Namun sayang-nya Arion masih bisa bedain mana lo**e dan mana cewek baik-baik." Sindir Karin sambil tertawa mengejek ke arah Lilian.
"Kalau gue lo**e terus kalian bertiga apaan? Pakai baju ketat, rok pendek, riasan tebel dan rambut di warnai. Disini siapa yang terlihat kayak lo**e?" Jawab Lilian dengan senyum sinis.
"Ehh mulot lo kayaknya perlu kita cabein ya ... Udah ditolak masih saja bersikap kek ja**ng." Ketus Sheril.
"Mulut Kak Sheril tuh yang perlu di cabein banyak-banyak ... Biar perlu di ruqiahin. Sekolah bukannya buat jadi lebih baik tapi kok bicaranya kek orang yang nggak pernah disekolahin." Kata Lilian dengan kata-kata tajam-nya.
"Eh lo nyolot ya!" Kata Naomi marah.
"Gue biasa saja kok ... Cuman ngejawab ucapan yang nggak pantas aja." Jawab Lilian.
"Lo benar-benar buat gue marah ya." Kata Sheril marah kemudian maju ingin menjabak rambut Lilian.
Lilian sendiri menahan tangan Sheril yang berusaha menarik rambutnya kemudian menghempaskan tangan Sheril sehingga gadis itu mundur beberapa langkah ke belakang.
"Jangan berlaku kek preman pasar disini! Berlakulah sesuai status lo." Ketus Lilian kemudian berniat pergi namun lagi-lagi tangnnya ditahan oleh Naomi dan Karin.
Sheril tidak membuang kesempatan, ia maju lalu berniat menampar Lilian namun sebelum tangannya mencapai pipi mulus Lilian, perutnya harus merasakan sakit lantaran Lilian menendang ke arah perutnya.
Lilian bahkan berusaha melepas pegangan dari Naomi dan Karin yang membuat tangannya memerah. Karena tak kunjung dilepaskan, Lilian akhirnya terpaksa menginjak kaki Naomi dengan keras kemudian menggigit tangan Karin dengan keras.
Naomi dan Karin sama-sama memekik kesakitan, mereka tidak menyangka jikalau Lilian dapat melepaskan diri dari pegangan keduanya. Sheril sendiri tidak mau melepaskan Lilian setelah gadis itu menendang perutnya, secara tidak sengaja ia menemukan sebuah pot kecil yang berada tidak jauh darinya kemudian ia mengambil pot kecil itu dan melempar pot itu kearah Lilian.
Lilian berhasil menangkap pot yang dilempar oleh Sheril ke arahnya kemudian melempar pot itu dengan asal. "Kalau berani jangan main keroyokan ... Lawan gue satu-satu dan jangan gunakan benda-benda berbahaya!!" Teriak Lilian kesal.
Lilian tersenyum sinis dan menatap tajam ke arah Sheril. "Bukannya takut ... Gue bahkan pernah merasakan bagaimana rasanya diujung kematian namun gue nggak ingin berlaku seperti seorang kriminal." Ucapnya tegas.
"Jadi lo mau bilang gue ini kriminal?" Tanya Sheril yang semakin marah.
"Gue nggak pernah bilang begitu tapi kalau lo merasa berarti bukankah itu benar?" Tanya Lilian dengan senyum mengejek.
"Looo ..." Sheril kali ini benar-benar marah. Dengan langkah cepat ia meraih sebuah balok yang berada disalah satu taman didekatnya kemudian ia berjalan mendekati Lilian untuk memukulnya.
Baru saja Sheril mengayungkan balok itu ke arah Lilian namun sebuah tangan kekar menahannya kemudian menarik balok itu dengan kasar dan melemparnya dengan asal.
"Lo udah gila ya? Ini sekolah bukan tempat para kriminal!!" Marah Rein kemudian berdiri di dekat Lilian untuk melindunginya.
"Lo nggak usah belain dia ya!!" Tunjuk Sheril marah ke arah Lilian. "Ini urusan gue dengan ja**ng itu! Nggak ada sama sekali hubungannya dengan lo!" Dada Sheril mulai naik turun karena marah.
"Lo ngatain dia kayak begitu lagi, itu artinya lo cari masalah dengan gue! Mulai hari ini masalah dia akan menjadi masalah gue! Siapapun yang berusaha nyakitin dia akan berhadapan langsung dengan gue!!" Tegas Rein dengan wajah serius.
Sheril mengepalkan tangannya kuat karena merasa sangat kesal. "Jampi-jampi apa yang lo gunain agar dapat membuat Rein Azzam Arisena memihak ke lo? Atau jangan-jangan lo udah memberikan ..." Ucapannya terpotong lantaran Rein maju dan memegang kedua pipi Sheril dengan keras menggunakan sebelah tangannya.
"Sekali lagi lo berkata buruk tentang Lilian maka gue nggak akan segan-segan buat ngasih lo pelajaran yang nggak pernah lo bayangin!!" Kata Rein tegas sambil menatap ke arah semua orang yang entah sejak kapan sudah berkumpul dan menonton.
Bukannya memisahkan Sheril dan Lilian, murid-murid lain lebih suka melihat mereka saling menyakiti. Tontonan itu bahkan mereka rekam dan akan mereka unggah ke akun media sosial masing-masing untuk dijadikan bahan gosip.
"Jika ada satu saja video atau apapun yang berhubungan dengan kejadian ini tersebar di media sosial maka akan gue pastikan semua orang yang hadir disini akan mendapat pelajaran yang setimpal dari gue! Selain membuat reputasi sekolah hancur karena unggahan kalian semua maka hal itu akan mempermudah jalan gue buat nuntut kalian satu persatu!" Tegas Rein sambil menatap ke arah sekelilingnya yang sudah penuh dengan banyak orang.
Murid-murid yang sebelumnya asik merekam kejadian itu satu persatu menurunkan ponsel masing-masing, mereka takut dengan ancaman dari Rein. Keluarga Arisena adalah salah satu keluarga terbesar dan memiliki kekuasaan yang terbesar dimana-mana, apapun yang Rein ucapkan dari mulutnya bukanlah hal tidak mungkin untuk ia lakukan dengan mudah.
"Sebaiknya lo semua bubar! Dan lo ..." Tunjuk Rein ke arah Sheril dengan tatapan tajamnya. "Gue harap ini yang terakhir kalinya." Ucapnya dengan raut datar.
Sheril menghentakan kakinya kemudian berlalu pergi bersama kedua temannya. Para murid yang sejak tadi berkumpul juga mulai membubarkan diri agar tidak mendapat masalah. Ancaman dari Rein sungguh membuat mereka semua tidak dapat berkutik dan hanya dapat mematuhi ucapan dari Rein.
Rein menghela napas pelan kemudian langsung menghadap ke arah Lilian. "Lo nggak apa-apa?" Tanya Rein lembut
Lilian menggeleng pelan. "Gue nggak apa-apa kok." Jawab Lilian lesu.
"Syukurlah kalau begitu ... Gue harap kejadian kayak gini tidak akan lagi lo alami." Harap Rein sambil mengusap kepala Lilian pelan.
Lilian hanya tersenyum lembut ke arah Rein, sentuhan tangan Rein membuat hati Lilian menghangat dan merasakan ketenangan. Lilian senang sekarang ada Rein yang akan selalu melindunginya.
Tiba-tiba Mario dan Farrel datang dengan dengan napas ngos-ngosan. "Gue denger si Mak Lampir cari masalah lagi ya?" Tanya Mario sambil memegang dadanya.
"Mana tuh sih Mak Lampir? Tiap hari kerjaannya cari masalah melulu." Ucap Farrel menambahi.
"Telat lu pada ... Orangnya keburu pergi." Ucap Rein sambil tertawa kecil.
"Yahhhh ... Capek-capek kita dateng kesini secepat mungkin. Tau-taunya si Mak Lampir dah pergi." Dengus Mario kesal.
"Lagian mau ngapain lo kalau tuh anak masih disini?" Tanya Rein.
"Mau gue masukin kembali ke peti biar nggak buat masalah lagi." Kata Mario sambil tertawa terbahak.
Lilian, Rein dan Farrel juga ikut tertawa mendengar ucapan dari Mario. Ekor Mata Rein menangkap seseorang yang sejak tadi ia cari sedang berdiri dengan diam dan hanya menatap ke arah mereka saja. Rein kembali menoleh ke arah Lilian kemudian memegang kedua bahu gadis itu dengan lembut.
"Sebaiknya lo segera ke kantin atau ke kelas saja ... Masalah Arion biar gue yang selesaiin ... Gue jamin setelah ini, semuanya akan baik-baik saja seperti semula." Kata Rein dengan nada lembut.
Lilian menggangguk pelan mendengar ucapan dari Rein. Setelahnya Lilian pergi menuju kantin untuk mengisi perutnya yang sejak tadi minta di isi. Lilian membutuhkan banyak tambahan energi menghadapi sikan Arion dan juga masalah-masalah lain yang akan ia hadapi.
Sedangkan Rein sendiri mengepalkan tangannya dengan erat kemudian berjalan mengikuti seseorang yang sejak tadi hanya menonton dari jarak jauh. "Nih anak sepertinya harus diberi pencerahan dulu baru ngerti." Kesalnya.
Mario dan Farrel kompak menatap ke arah pandangan Rein. Keduanya melihat punggung Arion yang sudah berjalan menjauh namun dibelakangnya di ikuti oleh Rein yang berjalan sambil mengepalkan tangannya erat.
"Gawat!" Ucap Mario dan Farrel samaan sambil menatap satu sama lain.
"Kejar woe!!" Kata Farrel yang langsung di angguki oleh Mario.
Rein sendiri berjalan dengan tangan mengepal, tanpa menunggu lift terbuka, ia berjalan menaiki tangga satu persatu. Panggilan serta seruan dari dua sahabatnya sudah tidak Rein hiraukan lagi, baginya yang terpenting saat ini adalah sesegera mungkin untuk menemui Arion dan menjelaskan semuanya. Lain hal lagi bagi Mario dan Farrel yang menganggap jikalau Rein akan mengajak Arion berantem gara-gara Lilian. Keduanya juga berusaha mengejar Rein dan mencegah terjadinya perpecahan antara Rein dan Arion.
Sayang sekali Rein sudah berada di tangga terakhir dan mendorong pintu rooftop dengan sangat keras. Rein melangkahkan kakinya menuju seseorang yang baru saja berbaring dan ingin menutup kedua matanya.
"Bangun lo!!" Kata Rein dengan nada tinggi.
Arion hanya mengacuhkannya dan malah membalikkan badannya menghadap arah lain agar ia tidak menatap ke arah Rein berada.
"Gue bilang bangun!! Kata Rein sambil menarik paksa tangan Arion untuk terduduk. "Jangan kayak anak kecil yang hanya diam jika sedang marah. Lo bilang kita ini teman, seharusnya lo katakan apapun yang tidak lo sukai dan jangan hanya berdiam diri seperti ini!" Kata Rein marah.
Arion hanya menatap tajam ke arah mata Rein yang memancarkan kemarahan. Dada Rein bahkan terlihat naik turun karena harus menahan emosinya kepada Arion.
_________________