
Rein menatap lama ke arah Lilian yang sejak tadi membuang napas gusar sambil melihat ke arah pintu tempat gadis itu keluar. Lilian begitu penasaran campur khawatir kepada kedua orang tuannya. Hanya ketegangan yang Lilian rasakan saat sebelum ia meninggalkan ruang keluarga tadi.
"Lo nggak usah khawatir ... Tante Efina dan Om Rahadian akan baik-baik saja. Kakek memang sangat keras namun beliau sangat menyayangi Putrinya." Kata Rein sambil menatap ke arah langit yang penuh bintang.
Lilian mengalihkan pandangannya dari arah pintu ke arah Rein berada. "Sebenarnya apa yang sedang terjadi sekarang?" Tanya Lilian penasaran.
Rein menghela napas pelan kemudian menatap ke arah Lilian. "Seperti yang tadi lo dengar dan saksikan sendiri."
"Jelaskan lebih detail." Tuntut Lilian.
"Tante Efina dan Om Rahadian pergi setelah Kakek dulu mengusirnya." Bukan Rein yang menjawab melainkan Daren yang sejak tadi hanya diam dan menatap ke arah Lilian.
"Namun meski Kakek dulu mengusir Tante Efina dan Om Rahadian, tidak lama setelahnya Kakek kembali mengerahkan banyak orang untuk mencari keduanya ... Hanya saja selama ini pencarian itu tidak pernah membuahkan hasil." Lanjut Diran kembaran dari Daren.
Lilian menatap kearah kedua anak laki-laki yang memiliki wajah yang sangat mirip secara bergantian. "Kalian siapa?" Tanyanya bingung.
"Nama saya Daren dan ini adik saya Diran." Tunjuk Daren ke arah Diran. "Kami kembar indentik." Lanjutnya.
Lilian menatap keduanya secara bergantian, semakin lama Lilian menatap keduannya ia dapat menemukan perbedaan dari kedua wajah yang sangat mirip tersebut. Daren memiliki lesung pipi disebelah kanan sedangkan Diran memiliki lesung pipi disebelah kiri pipinya.
"Mereka anak Om Abraham dan Tante Calista ... Papa gue anak pertma, Om Abraham anak kedua sedangkan Tante Efina anak ketiga." Jelas Rein.
Lilian mengangguk paham mendengar penjelasan dari Rein. Sedikit Lilian dapat menyimpulkan penjelasan dari kedua sepupu kembarnya tadi dan kejadian yang ia saksikan sendiri saat didalam diruang keluarga, jikalau kedua orang tuannya memiliki beberapa masalah dengan Kakeknya semasa mereka baru menikah.
"Gue nggak nyangka kalau lo adalah adik sepupu yang selama ini Kakek, Papa dan Om cari selama belasan tahun ... Awalnya gue memang curiga dengan warna mata lo namun karena identitas lo yang sangat dirahasiakan oleh pihak sekolah membuat pencarian gue terhenti tentang lo." Jelas Rein sambil menatap serius ke arah Lilian.
Lilian mengernyitkan kening bingung. "Rahasia? Memangnya kenapa identitas serta latar belakang gue harus dirahasiakan oleh pihak sekolah?" Tanyanya
"Awalnya gue sempat memiliki pertanyaan yang sama seperti yang lo tanyakan sekarang ... Namun setelah tahu jadi diri lo yang sesungguhnya sekarang membuat gue mengerti satu hal." Ucap Rein.
"Apa?" Tanya Lilian penasaran.
"Karena lo adalah keturunan dari Arisena." Jawab Rein dengan raut wajah serius.
Lilian mengangguk pelan. "Mama dan Papa takut kalau seandainya identitas gue terbongkar maka Kakek akan mengetahui dimana keberadaan kami." Gumamnya pelan.
"Salah!" Jawab Daren dan Diran samaan.
Lilian kembali menatap bingung ke arah kedua Adik Sepupunya itu. "Salah?"
Daren dan Diran kompak mengangguk dengan antusias lalu kedua anak kembar itu menatap ke arah Rein meminta agar Kakak Sepupunya itu untuk menjelaskan.
"Dalam silsilah keturunan Arisena akan lahir seorang anak yang akan mewarisi seluruh aset dari keluarga Arisena. Anak yang masuk dalam kandidat pewaris harus memiliki warisan gen yang sangat langka ... Anak itu harus memiliki warna mata yang sama seperti warna mata gue dan lo sekarang." Jelas Rein setelah mengerti arti tatapan kedua adik kembarnya.
Mata Lilian membulat sempurna setelah mendengar penjelasan dari Lilian. "Itu artinya gue ..." Kata Lilian sambil menunjuk ke arah dirinya sendiri.
Rein mengangguk pelan. "Lo termasuk dalam kandidat itu ... Sebenarnya ini adalah peristiwa langka, sebelumnya keluarga Arisena hanya akan melahirkan seorang anak yang memiliki warna mata yang spesial namun kali ini keluarga Arisena memiliki dua orang anak yang memiliki warna mata yang sama." Jelasnya.
Lilian menutup mulutnya tidak percaya, pantas saja kedua orang tua Lilian tidak memiliki warna mata yang sama dengannya. Selama ini Lilian selalu berpikir jikalau ia bukan anak dari kedua orang tuannya karena warna mata kedua orang tuanya yang begitu berbeda dengannya.
"Warna mata Kakek Tama sama dengan kalian berdua, sedangkan Om Hans dan Papa memiliki warna mata yang mirip Nenek ... Begitupun kami berdua, itu sebabnya Kakek Tama belum menyerahkan aset perusahaan sepenuhnya kepada Om Hans sebagai anak pertama itu karena Om Hans tidak memiliki warna mata yang kalian berdua miliki begitu juga dengan Papa." Jelas Diran sambil menatap ke arah Lilian.
Lilian menggelengkan kepalanya ke kanan dan ke kiri setelah mengetahui informasi yang baru saja ia dengar. "Ini tidak benar." Gumamnya pelan.
"Tante Efina dan Om Rahadian mungkin selalu berpindah tempat karena sudah mengetahui fakta ini. Mereka takut lo akan menjadi sasaran bagi pemegam saham lainnya, demi keamanan lo maka keduanya terpaksa menyembunyikan keberadaan lo." Jelas Rein kembali.
"Gue tidak mau terlibat dengan semua urusan yang menyulitkan itu ... Hidup gue sekarang sudah cukup baik dan sama sekali tidak memiliki niat untuk dijadikan kandidat apalah itu!" Lilian mulai kesal sendiri dan mulai berpikir jika yang selama ini kedua orang tuannya lakukan adalah untuk melindunginya dengan cara membatasi ruang geraknya.
"Maaf Kakak tapi keputusannya bukan ditangan Kakak melainkan orang-orang didalam sana." Tunjuk Daren ke arah mension-nya berada.
Dada Lilian mulai naik turun mendengar ucapan dari Daren. "Hidup gue adalah milik gue sendiri ... Tidak ada orang yang berhak memaksa gue untuk melakukan hal yang tidak ingin gue lakukan!!" Nada Lilian mulai meninggi.
"Tenanglah ... Jika Om Rahadian dan Tante Efina datang dengan sendirinya kembali kesini, itu berarti mereka memiliki rencana lain sebagai solusinya." Rein mencoba menenangkan Lilian.
Lilian sudah tidak memperdulikan ucapan dari Rein. Lilian berdiri dari duduknya kemudian berjalan kembali memasuki pintu tempat ia keluar tadi. Hatinya begitu panas mendengar ucapan dari Daren, Lilian tidak rela jika hidupnya kembali diatur dan selalu diberikan tekanan. Sudah cukup banyak Lilian mendapatkan tekanan dalam hidupnya, kali ini Lilian tidak ingin lagi hidup dibawah tekanan orang lain.
Terdengar suara samar dari kedua orang tua Lilian yang sedang berdiskusi dengan beberapa orang yang sebelumnya telah Lilian lihat. Entah apa yang sedang mereka bahas namun Lilian tidak memperdulikannya lagi, bagi Lilian pulang adalah hal yang paling utama yang perlu ia lakukan saat ini.
Lilian memasuki ruang keluarga kemudian matanya langsung tertuju ke arah kedua orang tuanya berada. "Papa ... Mama Lilian ingin pulang." Ucapnya denga mata mulai memerah.
Efina terbangun dari duduknya dan langsung berlari menuju tempat Lilian berdiri. "Ada apa sayang? Ada sesuatu yang terjadi padamu?" Tanya Efina khawatir.
"Ada apa Lilian?" Kali ini Rahadian yang bertanya setelah melihat gelagat aneh dari Putrinya.
"Papa Lilian ingin pulang ... Lilian tidak suka berada disini." Air mata Lilian mulai membasahi kedua pipinya.
Rein, Daren dan Diran memasuki ruang keluarga dan ketiga pasang mata itu langsung tertuju ke arah Lilian berada.
"Apa yang kalian lakukan sehingga membuatnya tidak suka berada disini?" Suara Tama kembali terdengar menggelegar ke seluruh ruang keluarga.
Daren dan Diran spontan berlindung dari belakang punggung Rein karena merasa takut. "Ampun Kakek. Semua ini karena Daren yang telah membuat Kak Lilian merasa takut!" Ucapnya dari belakang punggung Rein.
"Apa yang telah kau katakan padanya?" Kali ini Abraham yang bertanya dengan nada tinggi.
"Tenaglah Kakek ... Om." Ucap Rein sambil menatap keduanya bergantian. "Ini semua hanyalah salah paham, Rein akan menjelaskan semuanya namun sebelumnya bisakah Om Rahadian dan Tante Efina meminta Lilian agar sebentar saja tetap disini?" Tanya Rein dengan tatapan memohon.
Efina mengusap pelan kepala Lilian. "Bisakah sayang? Sebentar saja ... Jika kamu tidak suka maka kita bisa langsung meninggalkan tempat ini." Katanya dengan nada pelan.
Lilian menatap ke arah Rein dan kedua anak kembar yang masih bersembunyi dibelakang Rein untuk berlindung.
"Bisakah?" Tanya Efina dengan nada pelan.
Lilian mengangguk pelan. "Baiklah." Ucapnya pelan kemudian berjalan mengikuti langkah Efina.
Lilian mengambil tempat duduk diantara kedua orang tuanya berada sedangkan Rein mengambil tempat duduk didekat Hans Ayahnya. Daren dan Diran sendiri lebih memilih duduk didekat Rein untuk menyembunyikan diri dari tatapan Sang Kakek yang sedang meleparkan tatapan tajamnya.
Rein sebelumnya mengambil napas panjang sebelum mulai menceritakan hal yang terjadi tadi. Ada banyak helaan napas terdengar setelah Rein menceritakan hal yang membuat Lilian tidak betah berlama di mension milik keluarga Arisena.
"Lilian ... Kamu juga memiliki keistimewaan serta hak sebagai keturunan Arisena, peraturan itu sudah berlaku sejak lama." Kata Tama tanpa ekspresi.
Lilian memperat genggaman tangannya pada tangan Efina. Sungguh Lilian tidak menginginkan keistimewaan itu, hidup bahagia dengan keluarganya kecilnya sudah membuat Lilian bahagia.
"Papa ... Sebelumnya kami sudah bilang bahwa tujuan kami kesini bukan untuk membahas tentang keistimewaan yang dimiliki oleh Lilian ... Biarkan ia menjalani hidupnya sesuai dengan apa yang ia inginkan." Ucap Rahadian masih mempertahankan ketengannya.
"Saya juga sudah bilang berkali-kali ... Jikalau Lilian juga adalah Cucu kandung ku, dalam tubuhnya mengalir darah Arisena. Sejak lama kalian selalu menyebunyikan dia agar hal seperti hari ini tidak terjadi?" Tanya Tama diakhir kalimatnya.
"Lalu kenapa jikalau dalam tubuhnya mengalir darah Arisena? Lilian memiliki keinginan tersendiri, jadi biarkan ia memilih jalan yang ia inginkan." Kata Efina sambil memeluk tubuh Lilian dari samping.
Tama tersenyum sinis sambil menyeringai ke arah Rahadian. "Seperti yang telah kau lakukan pada belasan tahun yang lalu? Memilih seorang yang kau inginkan lalu pergi meninggalkan keluarga yang telah membesarkan mu?" Tanyanya lagi.
Efina harus bisa menahan diri agar tidak melampaui batasnya. Meski setiap kata yang diucapkan oleh Tama sangat menyakitkan untuknya serta suaminya namun Tama tetap Ayahnya, orang yang harus selalu ia hormati.
"Pilihan ku saat belasan tahun yang lalu adalah pilihan terbaik. Aku tidak pernah merasa kekurangan dalam hal apapun, baik itu dari segi materi maupun kasih sayang yang diberikan suami ku tetap berlimpah. Sampai sekarang hidup ku tidak perna merasa kekurangan, hidup ku bahagia dengan adanya suami serta kedua putri disamping ku." Ucap Efina tegas.
"Saya begitu penasaran dengan posisi suami mu di Ganendra Grup sehingga Putri dari Mahatama Arisena yang biasanya hidup dengan bergelimpahan banyak harta merasa berkecukupan saat hidup bersamanya." Ucap Tama sambil memandang tajam ke arah Rahadian.
"Tidak penting apa jabatan saya disana ... Namun jika menurut Papa bergelimpahan banyak harta diartikan dengan banyak barang mewah maka saya berani menjamin bahwa Istri serta kedua Putri saya mendapatkan lebih dari yang Papa bayangkan." Tegas Rahadian dengan penuh aura wibawanya.
Semua orang yang hadir didalam ruangan keluarga hanya bisa terdiam mendengar ucapan dari Rahadian. Rahadian adalah orang yang pekerja keras serta tidak banyak bicara selain hal-hal penting yang perlu dibahas. Rahadian juga memiliki sisi menyeramkan disaat ia merasa keluarga kecilnya berada dalam posisi sulit seperti sekarang.
"Kedatangan kami kesini hanya untuk memperbaiki hubungan antara Ayah dan Anak yang sempat mengalami masalah serta memperkenalkan Putri kedua kami pada anggota yang masih kami anggap sebagai keluarga. Tidak ada niatan untuk menjadikan Putri kami sebagai salah satu ahli waris karena saya sebagai Papa-nya juga bisa memberikan hak itu kepada Putri saya." Tegas Rahadian.
Rahadian sejak tadi hanya diam namun masalah yang ia dan Istrinya hadapi saat sekarang sangat sulit mendapatkan akhir yang baik. Sehingga ia harus bisa mencari cara lain agar keluarganya bisa hidup dengan tenang seperti yang mereka inginkan sebelum datang ke Jakarta.
"Lalu apa yang kalian inginkan?" Tanya Hans yang akhirnya mengeluarkan suara.
"Sebenarnya pertanyaan itu yang sejak tadi kami tunggu-tunggu dari kalian ... Kedatangan kami kesini hanya ingin memperbaiki hubungan lama. Untuk tetap selalu menjaga keharmonisan keluarga maka saya dan Istri saya telah sepakat untuk membiarkan Lilian mengunjungi kalian sesering mungkin. Namun tolong jangan memaksakan hal-hal yang tidak ingin ia lakukan, biarkan Lilian memilih jalan terbaik yang menurutnya benar." Jelas Rahadian panjang.
Sebelumnya Rahadian sudah tahu jikalau Tama mertuanya sudah sejak lama mencari Putrinya Efina. Namun seberapa pun besar Rahadian mencoba membujuk Efina untuk kembali namun Efina selalu saja takut untuk kembali dikarenakan salah satu keistimewaan yang dimiliki oleh Putri bungsunya.
Efina sangat takut jika Lilian terlibat dalam perebutan posisi dari beberapa pihak yang mencoba memanfaatkan keistimewaan yang di miliki oleh Putrinya. Setelah berunding lama dengan suaminya, Efina akhirnya setuju kembali memperbaiki hubungannya dengan Sang Ayah yang sudah sejak lama retak.
Hans serta Abraham sebenarnya dapat memahami apa yang diinginkan oleh Adiknya Efina lantaran mereka juga memiliki Putra yang sifatnya tidak jauh beda dengan Lilian yang memiliki kebebasan tanpa adanya tekanan. Namun kedua Kakak Lilian juga patuh dengan apa yang diucapkan oleh Tama lantaran karena ia adalah sosok seorang Ayah yang baik untuk mereka semua.
Tama hanya bersikap keras diluar namun jauh dilubuk hatinya ia sangat menyayangi anak-anaknya. Seperti kasih sayangnya pada Efina yang tidak pernah mati, selama ini Tama selalu mengawasi cabang-cabang restaurant yang masih beratas namakan Efina secara diam-diam. Tama menjalankan bisnis atas nama Efina meski Putrinya berada jauh darinya, Tama berharap jika Putrinya pulang maka ia akan mengambil kembali hak yang sebelumnya ia miliki.
Dengan adanya kesepakatan yang diajukan oleh Rahadian untuk memperbaiki hubungannya dengan Putrinya yang telah lama pergi, maka itu membuka kembali kesempatannya agar dapat merangkul Putrinya lagi. Hati Tama sebenarnya sangat bahagia namun entah mengapa ia begitu sulit untuk mengeskpresikan kebahagiannya itu.
"Baiklah saya setuju ... Asalkan Lilian dapat sesering mungkin mengunjungi kami maka kami juga akan membiarkan ia memilih jalan yang ia sukai dalam hidupnya." Setelah mengatakan itu Tama langsung berjalan menjauh meninggalkan semua orang menuju ruang kerjanya untuk melepaskan rasa bahagia yang mencuat dari dalam hatinya.
___________________