Lilian

Lilian
Arion Mulai Bucin



Suasana kelas X Ipa 1 pagi ini sangatlah ramai, entah makhluk apa yang telah merasuki murid-murid di kelas itu sehingga hampir seluruh penghuninya memilih untuk datang pagi buta seperti saat ini.


Tidak terkecuali bagi Meira, Laura dan Gladis. Sejak tadi ketiga gadis itu telah sampai di sekolah lebih awal dan sedang menunggu salah satu temannya dengan tidak sabaran. Sesekali ketiganya menengok ke arah luar jendela untuk memastikan Lilian sudah datang atau belum.


Ketika Lilian mulai memasuki kelasnya, Meira langsung menarik tangan Lilian menuju kursi gadis itu berada. Tanpa menunggu Lilian memahami situasi yang sedang terjadi, Gladis dengan tidak sabaran menanyakan hal yang sangat ingin anak-anak sekelasnya ingin tanyakan.


"Kemarin setelah lo bareng kita ... Lo kemana?" Tanya Gladis dengan raut wajah serius.


"Pulanglah!" Ketus Lilian. Perasaannya masih sangat memburuk sejak terakhir kali Efina mengungkapkan kebenaran tentang status Arion.


"Sans aja dong ... Kagak usah ngegas! Nih anak napa sih pagi-pagi gini dah manyun gitu." Kata Laura melihat perubahan dari raut wajah Lilian.


"Tau ... Bukanya lo harusnya seneng ya karena bisa berangkat sekolah bareng Kak Arion?" Tanya Meira sambil menatap Lilian heran.


"Lo semua tau dari mana kalau gue berangkat bareng Kak Arion?" Tanya Lilian heran sambil menatap satu persatu dari wajah ketiga temannya.


Bukan hanya ketiga teman Lilian yang berada di sekitar tempat Lilian duduk. Namun hampir seluruh seisi kelas berkumpul di dekat Lilian demi untuk mendengar jawaban langsung dari gadis itu terkait pertanyaan yang sudah sejak semalam muncul di benak mereka masing-masing. Beruntung saja ketiga teman Lilian sangat kepo sehingga mempermudah teman sekelas Lilian mendapatkan informasi real kepada gadis itu.


"Hellooooo Lilian! Jaman sekarang udah canggih ... Tanpa lo kasih taupun orang-orang di sekitar lo bakal ngeposting wajah lo berdua di sosmed dengan sangat cepat. Secara lo pacarannya dengan most wanted-nya Florenzo School, berita tentang lo berdua tentu saja akan dengan sangat cepat tersebar luas." Sungut Gladis dengan raut wajah seriusnya.


Lilian menghela napas pelan kemudian menyenderkan punggungnya di sandaran kursi. "Kalian semua ngumpul di sini hanya untuk nanyain gue berangkat bareng Kak Arion?" Tanyanya dengan nada malas.


"Nggaklah!!" Kompak semua teman sekelas Lilian menjawab pertanyaan dari Lilian.


"Lah kalian ngupul di sini mau ngapain?" Tanya Lilian keheranan.


"Eh ... Lilian. Kita ngumpul di sini sebenarnya mau nanyain tentang kejadian semalam." Ujar Kemal tiba-tiba dari arah belakang punggung Gladis.


"Memangnya ada apa dengan semalam?" Tanya Lilian masih tidak paham.


Terdengar sorakan kekecewaan dari teman sekelas Lilian mendengar pertanyaan dari gadis itu. "Lo kan pacaranya Kak Arion! Masa hal penting kek gini aja lo kagak tau!" Sungut Laura kesal.


"Tau apaansih?!" Tanya Lilian sedikit meninggikan nada suaranya.


Bimo melangkah maju dan menyerahkan ponselnya kepada Lilian. Di layar ponsel itu terlihat jelas Melvin dan beberapa anak lainnya sedang saling kejar-kejaran dan menyerang satu sama lain dengan brutal.


"Kejadian itu berlangsung saat semalam ... Nah lo kan pulang biasa lewat jalan itu, siapa tau gitu lo nggak sengaja ketemu mereka." Jelas Gladis.


Lilian sendiri masih sangat fokus menatap wajah Melvin yang terlihat memerah karena marah di layar ponsel itu.


"Semalam denger-denger Arion sama temen-temennya nyerang Gengnya si Melvin itu tanpa sebab. Nah ... Alhasil si Melvin itu jadi marah dan mengikrarkan bendera perang terhadap sekolah kita." Jelas Kemal.


Teman sekelas Lilian lainnya membetulkan ucapan dari Kemal. Jika Lilian lihat dengan teliti, sepertinya video yang sedang di putar saat ini di ambil setelah Arion mengantarkan Lilian kembali pulang.


"Postingan si Melvin terkait dengan penyerangan yang akan ia lakukan terhadap sekolah kita sudah menyebar kemana-mana. Dan yang paling bikin kita kaget, salah satu postingan si Melvin itu menujukkan motor yang mirip banget dengan motor lo. Makanya kita tanyai hal penting ini ke lo." Kata Gladis.


Lilian membulatkan mata sempurna mendengar penjelasn dari Gladis. "Serius?" Tanyanya dengan raut wajah terkejut.


"Serius! Maka dari itu kita tanyain ke lo." Ujar Meira dan di setujui oleh banyak teman sekelasnya.


Lilian menghela napas panjang. "Gue emang ketemu sama tuh orang kemarin. Kek-nya tuh orang rada sedikit gila." Kembali ia mengingat raut wajah sinis yang selalu di tampilkan oleh Melvin kepadanya.


"Dia bukan hanya gila tapi mungkin lebih dari itu! Bagaimana ceritanya lo bisa terlibat dengan tuh orang?! Lebih-lebih si Melvin itu musuh bebuyutannya si Arion." Kata Denis yang sejak tadi hanya diam.


"Entahlah. Gue aja bingung gimana jelasinnya ... Tuh orang kek-nya butuh banyak obat! Motor gue aja belum di balikin sama tuh orang." Sungut Lilian kesal.


"Jadi beneran motor yang di posting si Melvin itu adalah motor lo?" Tanya Meira dengan raut wajah terkejutnya.


Bukan hanya Meira namun hampir semua orang yang sedang berkumpul ikut terkejut mendengar ucapan dari Lilian.


"Makanya pagi ini gue berangkatnya bareng Kak Arion! Motor gue udah di bawa kabur sama si Melvin itu." Sungut Lilian.


"Ehh Lilian ... Lo tau nggak si Melvin ngasih caption apa ke postingan motor lo?" Tanya Kemal dengan raut wajah seriusnya.


Lilian menggeleng pelan. "Apaan?" Tanyanya.


"Di cari pemilik motor ini! Bagi siapa aja yang menemukannya bakal gue kasih imbalan yang sangat besar!" Ucap Denis menjelaskan kembali tulisan di postingannya Melvin


"Serius kek gitu?" Tanya Lilian masih tidak percaya.


"Iyalah ... Mungkin karena postingan itu juga si Arion nyerang Gengnya si Melvin itu. Secarakan si Melvin itu musuh bebuyutannya! Atau mungkin aja si Melvin tau lo adalah ceweknya si Arion! Nggak bisa nyetuh Arion ... Lo pun jadi sasarannya!" Jelas Bimo panjang tanpa jeda.


Lilian kembali menghembuskan napas pelan. "Gue juga kagak ngerti napa tuh orang kemarin jegat gue saat di jalan. Beruntungnya ada Kak Audry yang nolongin gue."


Tentu saja semua teman Lilian yang mendengar itu langsung terkejut. Selama ini Audry terkenal dengan sifat bully yang selalu dia lakukan kepada murid-murid lain, namun entah karena apa Lilian menyebutkan Audry sebagai penolongnya


"Gue kagak salah dengarkan?" Tanya Gladis yang juga di setujui oleh temannya yang lain.


"Nggak! Kak Audry memang kemarin nolongin gue dari si Melvin itu! Kalau nggak ada dia ... Mungkin saat ini gue bakalan jadi tahanan orang itu." Jawab Lilian sesuai dengan kejadian yang ia alami kemarin.


"Gini deh Lilian ... Coba lo ceritain ke kita semua secara jelas tentang kejadian yang kemarin lo alami." Pinta Laura.


Lilian kembali menghebuskan napas pelan kemudian mulai menceritakan tentang kejadian yang ia alami kemarin. Mulai dari Melvin yang menahannya untuk pulang, lalu berlanjut ketika Audry datang menolomgnnya, sampai Arion dan teman-tamannya menemukannya dan mengantarnya kembali pulang.


"Gue kagak nyangka kalau si Mak Lampir punya hati juga buat nolongin orang! Terlebih ama Lilian yang notabene pernah punya masalah dengannya." Kata Kemal setelah Lilian mengakhiri ceritanya.


"Benar juga sih ... Tapi namanya hati manusiakan kagak ada yang tau! Hitam tidak selamanya bakal hitam ... Mungkin naluri sisi kemanusiaannya muncul setelah melihat Lilian yang saat itu sedang terpojok." Kata Gladis sambil memandangieajah teman-tamannya.


"Iya juga sih." Ujar yang lainnya menyetujui.


Lilian kembali menggeleng. "Kagak ... Setelah nganter gue pulang, dia langsung pergi! Katanya ada urusan penting yang harus segera di selesaikan secepatnya!" Katanya sambil menekan semua kalimatnya.


"Mungkin aja setelah nganter lo pulang ... Arion langsung nyerang tuh Gengnya si Melvin! Gue aja yang dengar cerita lo aja kesal, apalagi si Arion yang statusnya adalah pacar lo! Bisa jadi si Melvin bakal jadiin lo sebagai kelemahannya si Arion. Secarakan selama ini si Melvin itu nggak pernah nemu sisi lemahnya Arion." Jelas Denis panjang.


"Nah bener tuh." Setuju teman Lilian lainnya.


"Gila sih tuh si Melvin kalau menurut gue. Kalau di memang gantle maka hadapin Arion satu lawan satu dan jangan libatkan Lilian yang notabene adalah seorang perempuan. Kayak nggak lahir dari rahim perempuan aja tuh si Anak Ayam! Kesal sendiri gue jadinya!" Sungut Kemal kesal.


Terlalu asik mengobrol, murid-murid kelas X Ipa 1 sampai tidak mendengar bel masuk sejak tadi sudah berbunyi.


"Astagaaaa ... Kalian ini pada ngapain?! Ngumpul-ngumpul kek gitu!" Pekik Bu Marisa yang menyadarkan murid-muridnya.


Sontak saja semua orang yang tengah berkumpul tadi menjadi menyebar dan berlari ke arah kursi masing-masing agat tidak mendapatkan omelan panjang dari Bu Marisa. Namun bukanlah Guru namanya kalau tidak memberikan sedikit ocehan sebelum ia memulai pelajarannya.


"Saya heran dengan kalian semua! Kesini niat belajar nggak sih? Pagi-pagi bukannya nyiapin perlengkapan belajar malah pada ngumpul kek gitu! Kalian seharusnya periksa hari ini mata pelajaran apa saja?! Pelajaran minggu kemarin sampai mana?! Ada PR atau nggak?! Ini malah ngumpul dan bergosip." Ketus Bu Marisa.


"Kamu juga Denis!" Tunjuk Bu Marisa ke arah Denis yang hanya menunduk. "Kamu itu Ketua Kelas ... Pemimpin kelas ini! Seharusnya kamu mengarahkan teman-teman mu ke hal-hal baik! Bukannya juga ikut nimbrung." Sungut Bu Marisa.


"Mau belajar atau tidak?" Tanya Bu Marisa dengan sedikit meninggikan suaranya.


"Mau Bu!" Kompak mereka menjawab bersamaan.


________________________


Sejak Lilian meninggalkan tempat parkir. Arion tidak henti-hentinya memikirkan tetang Lilian yang tiba-tiba berubah. Seingatnya, ia tidak melakukan kesalahan apapun kepada gadis itu sehingga membuat Lilian terlihat dingin saat bersama dengannya.


Arion beberapa kali menghela napas kasar mengingat Lilian yang selalu mendiamkannya. Hal itu tentu saja mengundang tatapan heran dari ketiga temannya yang sejak tadi mengikuti kemanapun Arion pergi.


Seperti saat ini, mereka sedang tidak mengikuti pelajaran dan memilih untuk berkumpul di atas roftoop sekolah.


"Lo ini kenapa sih? Sejak tadi gue lihat kek orang gelisah aja!" Tanya Rein heran melihat raut wajah kecut dari Arion.


"Apa lagi pas lagi di parkiran ... Kek mau makan orang aja tau!!" Kata Farrel ikut menimpali.


"Jangan bilang kita kesini nemenin lo hanya untuk menyaksikan wajah kusut lo saat ini!" Sungut Mario sambil menatap kesal ke arah Arion.


Arion kembali membuang napas berat kemudian mengusap wajahnya dengan kasar. "Bagaimana caranya ngebujuk cewek yang lagi marah?" Tanyanya dengan satu tarikan napas.


Rein, Mario dan Farrel tentu saja terkejut mendengar pertanyaan yang di layangkan oleh Arion. Namun sedetik kemudian tawa ketiganya pecah. Bagaimana tidak, selama ini Arion memiliki karakter yang tidak peduli dengan lingkungan sekitar. Namun hanya karena seorang gadis, dunia Arion seakan terbalik.


"Wajah lo kusut kek nggak pernah di setrika, itu semua gara-gara Lilian?" Tanya Farrel masih dengan tawannya.


"Gue pikir lo lagi mikirin apaan! Masalah ama si Melvin aja lo bodoh amat ... Nah ini gara-gara Lilian ngambek raut wajah lo kek orang yang kagak ada kehidupan sama sekali." Ejek Mario.


"Ingin sekali gue ambil gambar lo sekarang ... Buat gue jadiin pajangan dan kenang-kenangan." Kata Rein sambil tertawa terbahak.


"Kalau kalian semua nggak bisa ngasih solusi mending kalian pergi aja!!" Usir Arion dengan raut wajah dinginnya.


Sontak saja ketiga temannya langsung mengatupkan mulutnya masing-masing dan tidak berani lagi mengejek ke arah Arion setelah melihat kemarahan dari temannya itu.


"Ekhmmm ..." Deheman Rein sengaja memecH keheningan agar suasana tidak terlalu tegang.


"Memangnya Lilian marah karena masalah apa?" Tanya Rein mulai memahami pikiran yang Arion pikirkan saat ini.


Arion kembali membuang napas berat. "Entah." Jawabnya datar.


"Bagaimana kita mau ngasih lo solusi ... Kalau kita aja nggak tau masalahnya apa! Lo setidaknya harus menjelaskan inti masalahnya secara singkat terlebih dahulu." Jelas Farrel yang mencoba membuat Arion mengerti.


"Gue kagak tau." Ucap Arion masih dengan raut datarnya.


Mario menghembuskan napas pelan. "Terus bagaiman lo bisa tau kalau Lilian sedang marah kalau lo aja kagak tau apa-apa?" Tanyanya dengan nada sedikit kesal.


Arion kembali mengusap wajahnya dengan kasar. "Tadi pagi tiba-tiba tuh cewek berubah aja. Dingin dan datar gitu." Katanya sambil mengingat raut wajah dari Lilian.


"Nah lo kena karma kan ... Selama ini lo terus yang bersikap seperti itu." Celetuk Farrel tiba-tiba dan membuat Arion kembali menatapnya dengan tatapan tajam.


"Sorry bukan gitu maksud gue." Kata Farrel mencoba menjelaskan.


"Mungkin lagi PMS kali ... Gue denger biasanya kalau cewek marah-marah tanpa sebab berarti lagi begituan." Jelas Rein.


"Pantas aja tadi pagi tuh cewek mukanya garang banget kek pasangannya." Sindir Mario lagi.


Arion menatap malas ke arah Mario. "Lalu solusinya apa?" Tanyanya dengan nada kesal.


Sejenak ada keheningan yang melanda ke empat lelaki itu. Hingga tiba-tiba Farrel mendapatkan sebuah ide yang cukup bagus.


"Ngasih sesuatu yang dia suka aja. Kali aja setelah melihat apa yang dia suka tiba-tiba mood-nya kembali normal." Usul Farrel


"Nah betul juga ... Lalu Lilian sukanya apa?" Tanya Mario.


Arion tampak sedikit berpikir kemudian terbangun dati tempat duduknya.


"Mau kemana lo?" Tanya Rein yang melihat Arion yang mulai beranjak dari tempatnya.


"Pergi ... Cari yang Lilian suka." Ucap Arion tanpa menengok ke belakang lalu pergi meninggalkan ketiga temannya yang masih dengan raut wajah cengonya.


_______________________