Lilian

Lilian
Perjalanan Yang Menyenangkan



Sejenak Lilian dan Arion menatap satu sama lain cukup lama. Tidak lama setelahnya, Arion memutuskan kontak mata kemudian berniat untuk berdiri dari tempat duduknya.


"Mau kemana?" Tanya Lilian. Tanyanya menahan lengan Arion agar tidak meninggalkan kursinya.


"Lo kan nggak suka gue duduk di sini." Kata Arion tanpa ekspresi apapun di wajah tampannya.


"Nggak! Siapa bilang gue nggak suka?" Sangan Lilian cepat dengan mata membulat sempurna.


"Lo tadi ngusir gue." Kata Arion.


Lilian menggeleng cepat. "Gue nggak pernah ngusir lo."


"Lo nggak ngijinin gue buat nyandar di bahu lo." Arion sedikit melirik ke arah bahu Lilian yang tadinya ia jadikan sandaran untuk tidur.


"Itu karena gue kira lo itu Gladis." Jelas Lilian.


"Dasar teman luknut lo! Giliran gue aja yang nyandar di usir! Rasain lo sekarang, kualat lo sama gue." Ejel Gladis dari arah seberang kursi tempat Lilian dan Arion.


Lilian mengerutkan kening bingung, sejak kapan Rein duduk di sana bersama dengan Gladis. Memang saat Lilian memilih tempat duduk ia tidak memperhatikan sekitar dan memilih tempat duduk dengan asal. Selain itu Lilian membuang muka ke arah jendela lalu menutup mata.


Di belakang kursi Rein dan Gladis ada Mario dan Farrel. Sedangkan di belakang kursi Lilian dan Arion ada Laura yang duduk berdua dengan Meira.


"Sejak kapan mereka ada di sini?" Batin Lilian.


Pandangan Lilian beralih ke arah kursi belakang yang di tempati oleh teman sekelasnya. Matanya kembali membulat setelah melihat teman sekelas Arion juga berada di bus yang sama dengannya.


"Apa yang sedang lo pikirkan?" Tanya Arion sambil mengelus pelan kening Lilian yang mengerut.


Lilian mengerjapkan matanya untuk sejenak kemudian menatap tepat ke arah pupil mata Arion. "Sejak kapan kalian ada di sini?" Tanyanya heran.


"Sejak lo naik ke bus dengan muka manyun." Jawab Arion santai.


Lilian membulatkan mata sempurna. "Masa? Kok gue nggak lihat?"


"Gimana mau lihat, lo naik dengan wajah manyun dan langsung duduk di kursi lo tanpa lihat kanan dan kiri." Celetuk Farrel dari arah belakang.


Lilian hanya tersenyum canggung karena mengingat perasaannya yang kacau sebelum ia menaiki bus.


"Lagian ... Napa hari ini lo nggak ngehubungin gue?" Tanya Lilian masih dengan senyum canggung.


"Sengaja. Nungguinnya di sini aja." Jawab Arion.


Lilian kembali mengerutkan kening. "Kok sengaja? Memangnya lo udah tau kalau kita bakalan satu bus?" Tanyanya penasaran.


"Hmmm." Gumam Arion sebagai jawaban.


"Lo udah tau tapi sengaja nggak tau gue?" Tanya Lilian mulai kesal.


"Suprise ceritanya. Siapa yang bakal nyangka kalau lo naik ke bus dengan wajah di tekuk begitu." Jawab Arion.


"Itu karena gue lagi kesel!" Kata Lilian pelan. Ia takut suaranya akan mengganggu teman-temannya yang mulai mengantuk karena harus hadir di sekolah lebih awal.


"Kesel kenapa?" Tanya Arion sambil menggengam tangan Lilian.


"Karena lo nggak ada kabar." Jawab Lilian jujur.


Arion sedikit terkekeh kemudian menarik kepala Lilian untuk menyandar di bahunya. "Itu apaan?" Tanya Arion sambil menunjuk boneka yang Lilian peluk.


"Namanya Shooky kesayangan gue." Jawab Lilian sambil memperat pelukannya.


"Bukanya lo suka Minions? Tanya Arion.


"Dia nomer dua ... Shooky nomor satu. Ada juga namanya RJ tapi di tinggal di rumah, soalnya dia warnanya putih jadi nggak boleh di bawa kemana-mana." Jawab Lilian dengan girang.


Arion tidak dapat memahami apa yang Lilian ucapkan sama sekali. Dalam benaknya hanya terpikirkan boneka minions dengan berbagai macam bentuk.


"Mereka punya nama?" Tanya Arion.


Lilian terbangun dari bahu Arion kemudian menatap lelaki itu dengan tatapan berbinar dan senyum manis.


"Cantik." Batin Arion yang terpana melihat senyum Lilian.


"Lo kenal BTS?" Tanya Lilian dengan tatapan penuh harap.


Arion menggeleng pelan tanda ia tidak mengetahui orang yang di sebutkan oleh Lilian.


"Ituloh boyband asal korea yang lagi naik daun. Mereka memiliki tujuh anggota." Jelas Lilian dengan penuh semangat.


Arion tetap menggelengkan kepalanya tanda ia benar-benar tidak tahu. Sedangkan Lilian sendiri menghela napas pelan kemudian kembali menyenderkan kepalanya dengan lesu ke bahu Arion.


"Memang cowok nggak akan suka dengan mereka." Ujar Lilian pelan.


"Kenapa?" Arion masih saja bertanya.


"Karena nggak ada terong suka terong." Jawab Lilian dengan nada pelan.


Arion hanya mengangguk pelan namun kembali bertanya tentang boneka yang berada dalam pelukan Lilian. "Lalu apa hubungan dengan boneka yang lo ceritain?" Tanyanya.


"Boneka ini ibaratkan anaknya." Jawab Lilian kemudian mengetik sesuatu diatas ponselnya dan menujukkannya ke arah Arion.


"Koya, Rj, Shooky, Mang, Chimmy, Tata, Cooky dan Van." Tunjuk Lilian satu persatu karakter boneka di layar ponselnya.


Arion semakin bingung dengan nama yang di sebutkan oleh Lilian. Jujur saja ia tidak tahu dan sebenarnya tidak mau tahu, namun melihat raut wajah bahagia yang terpancar dari wajah Lilian membuatnya harus mengetahui apa yang di sukai oleh gadis itu termasuk nama boneka yang baru saja di sebutkan oleh Lilian.


"Sudahlah ... Lo nggak akan ngerti." Kata Lilian kemudian kembali menutup kedua matanya.


Perlahan namun pasti Arion dapat mendengar napas teratur dari Lilian yang tertidur lelap. Suasana di bus saat ini tampak sangat sepi lantaran hampir semua murid di dalamnya tertidur karena sebelumnya harus bangun cepat lantaran harus berkumpul di depan halaman utama sekolah.


__________________


Jika tadi suasana bus tampak sepi dan tidak ada seorang pun yang mengeluarkan suara, berbeda halnya dengan suasana saat ini yang terdengar bising. Perjalanan dari sekolah ke tempat tujuan memakan waktu sedikitnya lima jam, itupun jika tidak ada kendala selama di perjalanan.


Setelah istirahat sebentar di rasa cukup, murid-murid dari kelas X Ipa 1 mulai menunjukkan bakat bernyanyi-nya. Kamal sebagai sang gitaris dan Bimo sebagai penyanyi-nya. Meski Bimo memiliki tubuh yang sedikit gemuk namun suaranya masih bisa di dengar oleh telinga. Berbeda hal-nya jika Bobi yang bernyanyi, maka berdo'alah agar gendang telinga mu tidak pecah.


Bimo menyanyikan lagu yang sangat sering di putar oleh anak remaja pada saat ini yaitu yang berjudul putus atau terus yang di populerkan oleh Judika, salah satu penyanyi yang memiliki suara indah di Indonesia.


Coba tanyakan lagi pada hatimu ...


apakah sebaiknya kita putus atau terus ...


Kita sedang mempertahankan hubungan atau hanya sekedar menunda perpisahan ...


Suasana semakin heboh, hampir semua murid di dalam bus ikut bernyanyi.


Bukankah kamu juga merasa ...


Dingin mulai menjalari percakapan kita ...


pertanyaan kamu sedang apa?


Terkesan hanya sebuah formalitas ... Saja.


Suara dalam bus pun kembali pecah, Gladis bangun dari kursinya dan berjalan menghampiri Kemal yang sedang memetik gitar.


Coba tanyakan lagi pada hatimu ...


Apakah sebaiknya kita putus atau terus ...


Kita sedang mempertahankan hubungan atau hanya sekedar menunda perpisahan ...


*ohhh .... Uww ...


Bila kamu tanya ... Aku maunya apa?


Aku mau ... Kita terus bersama* ...


Suara tawapun pecah, Kemal bahkan berhenti memetik gitarnya lantaran melihat ekspresi wajah dari Gladis yang sangat lucu. Sedangkan gadis itu sendiri terlihat cuek dan santai meski orang-orang satu bus sedang memertawakannya.


Kegiatan menyanyi-nya kembali di lanjutkan oleh beberapa murid lain yang ingin menyumbangkan lagu. Perjalanan Lilian dan yang lainnya menuju ke tempat tujuan sangat menyenangkan. Bukan hanya lagu yang di sumbangkan oleh para murid, namun mereka juga memainkan tebak kata selama perjalan mereka.


Perjalanan mereka di isi oleh suara tawa yang memenuhi seisi bus. Beberapa candaan kembali terlempar sehingga suasana menjadi semakin menyenangkan. Hingga merekapun tidak menyadari jikalau mereka telah sampai di tempat tujuan mereka.


Bus itu berhenti di depan sebuah hutan yang rindang dan lembab. Sudah ada beberapa bus lainnya yang juga sudah sampai duluan di tempat dan sedang menunggu bus lainnya yang mengangkut anak-anak lainnya.


Seseorang membuka pintu bus dari luar kemudian berdiri di depan para penumpang bus dengan di temani beberapa murid dari Osis di belakangnya.


"Semuanya tolong dengarkan gue!" Pinta Rama di depan sana sambil menepuk tangan.


Semua mata fokus menatap ke arah Rama berdiri terkecuali Arion yang terlihat acuh dan memilih untuk membuang wajah ke luar jendela.


"Selamat datang di tempat kemah tahunan, mulai hari ini dan dua hari kedepannya kita akan menghabiskan waktu disini. Akan ada beberapa rangkaian kegiatan yang wajib kita ikuti selama acara kemah berlangsung namun untuk saat ini, saya ingin mengumumkan kelompok kecil kalian terlebih dahulu. Untuk pembagian kelompoknya, kami sepakat agar sekiranya kalian sendiri yang memilih kelompoknya." Jelas Rama panjang.


Belum selesai Rama berbicara, sorak sorai dari para murid lainnya terdengar memenuhi seisi bus sehinggs Rama harus menghentikan ucapannya.


"Semuanya harap tenang!!" Dinda sebagai anggota Osis mulai menenangkan murid lainnya agar tetap tenang, "Dengankan Ketua Osis kita melanjutkan penguman." Lanjutnya.


Suasana dalam bus kembali tenang. Pandangan mereka kembali di fokuskan ke depan.


"Tulis nama kelompok kalian di masing-masing Ketua Kelas, nanti tugasnya Ketua Kelas agar melaporkan ke gue nama-nama kelompok itu. Setelahnya, kelompok yang kalian pilih sendiri agar sekiranya membangun tenda dan istirahatlah sebentar. Kita akan melanjutkan kegiatan beberapa jam lagi dari sekarang." Kata Rama mengakhiri pengumumannya.


"Ada yang mau bertanya?" Tanya Rama lagi.


Suasana tampak sepi, sepertinya para murid di dalam bus sudah mengerti dengan apa yang di sampaikan oleh Rama.


"Ok, Karena tidak ada yang mau bertanya gue anggap kalian sudah mengerti. Terima kasih atas waktunya dan selamat berkerja." Kata Rama.


Sebelum pergi, Rama melirik sebentar ke arah kursi yang di tempati oleh Lilian dan Arion. Matanya tidak sengaja bertubrukan dengan mata cantik milik Lilian. Seulas senyum tipis terbit di kedua sudut bibir milik Rama, spontan Lilian juga ikut tersenyum ke arah Rama. Tidak lama setelahnya Rama kembali turun dati dalam bus dan pergi menuju bus lainnya yang baru sampai.


Setelah Rama pergi, murid lainnya mulai bersiap untuk menuruni bus dan mengambil barang-barangnya di dalam bagasi. Terlihat antrian panjang untuk menuruni bus satu persatu, sedangkan Lilian sendiri memilih agar semua penumpang bus turun semua agar ia tidak berdesakan dengan murid lainnya.


Mata Lilian tidak sengaja menangkap pemandangan yang cukup menakutkan di depannya. Bagaimana tidak, Arion menatapnya dengan tatapan tajam seperti seekor harimau yang sudah menemukan buruannya.


"A ... Ada apa?" Tanya Lilian gugup.


Bukannya menjawab Arion malah mendekatkan wajahnya lebih dekat ke arah Lilian dan mebuat bulu kuduk gadis itu meremang.


"Gue bisa lakuin hal yang nggak bisa lo bayangin kalau lo tersenyum kek gitu lagi ke Rama." Bisik Arion tepat di telinga Lilian.


Lilian menggigit bibir bawahnya karena grogi lantaran jaraknya dengan Arion sangat dekat. Orang mungkin akan beranggapan keduanya sedang berpelukan jika meliat kedekatan keduanya.


"Lo ngerti?" Tanya Arion dengan suara beratnya.


Lilian langsung mengangguk cepat. Arion sendiri kembali menjauhkan wajahnya dan menepuk-nepuk pelan kepala Lilian.


"Gue suka lo yang patuh." Kata Arion dengan senyum di wajah.


"Cepat sekali perubahan ekspresinya ... Dari yang garang ke yang so sweet gini." Batin Lilian.


"Ehhh kalian berdua ngapain masih di situ? Mau jadi penunggu bus ini?" Tanya Farrel dari arah pintu bus.


Lilian jadi gelagapan sendiri karena malu, mungkin saja Farrel menyaksikan interakso antara dirinya dan Arion sejak tadi.


"Ini udah mau turun kok, Kak." Jawab Lilian cepat.


Arion menggenggam tangan Lilian dan membawanya pergi menuruni bus. Lilian berjalan menuju tempat terakhir kali ia menyimpan tasnya. Sebelum ia meraih tasnya, tangan Arion terlebih dahulu mangambik tasnya dan menyampirkannya di belakang punggung.


"Gue tau ini berat." Kata Arion sambil menenteng tas yang ia bawa sendiri.


Lilian hanya tersenyum kecil kemudian berjalan mengikuti intruksi dari para Guru untuk memasuki hutan karena semua bus sudah sampai semua. Semua murid mulai berjalan memasuki hutan, tangan Arion sendiri sejak tadi tidak melepaskan tangan Lilian dari genggamannya. Hal itu membuat banyak murid perempuan merasa iri dengan Lilian, tidak terkecuali dengan Sheril yang sejak tadi menatap Lilian dengan tatapan tajamnya.


Sejak awal Sheril terus mencari keberadaan Arion untuk ia ajak duduk bersama di dalam bus. Namun siapa sangka Arion malah tidak terlihat sedikitpun batang hidungnya dan malah terlihat turun dari bus bersama Lilian saat mereka sampai di tempat tujuan.


Kekesalan Sheril semakin bertambah lantaran Arion selalu saja menggenggam erat tangan Lilian, lelaki itu seperti tidak mau melepaskan tangan Lilian lantaran takut Lilian akan menghilang darinya.


Meskpun kesal, Sheril tetap saja berjalan mengikuti Arion dan Lilian dari belakang. Ada banyak sekali rencana yang ia pikirkan di kepalanya untuk menarik perhatian Arion, misalnya seperti sekarang ini. Gadis itu berpura-pura terjatuh dan dengan sengaja menarik baju Lilian agar gadis itu ikut terjatuh dengannya.


____________________