Lilian

Lilian
Nyata Atau Khayalan



Arion membawa Lilian ke atap gedung yang letaknya tidak jauh dari arena balapan. Disana terdapat beberapa kursi dan meja yang sepertinya sengaja di tata dengan rapi. Cahaya lampu disana sedikit temaram menyesuaikan lampu-lampu yang biasa ada di cafe-cafe kekinian.


Lilian sejenak memejamkan matanya untuk menikmati udara sejuk yang menerpa wajahnya dengan lembut. Begitu menenangkan dan menyejukkan.


"Lo suka tempatnya?" Tanya Arion sambil memainkan rubrik di tangannya.


"Sejak kapan rubrik itu ada ditangannya?" Batin Lilian bingung namun pertanyaan itu tidak ia keluarkan dari mulutnya.


"Suka." Jawab Lilian akhirnya.


"Ikut gue." Arion kembali menarik tangan Lilian menuju pinggiran gedung tersebut.


Mata Lilian membola melihat pemandangan yang berada dibawahnya. Bagitu sangat cantik, ada banyak sekali lampu-lampu dari rumah penduduk bahkan lampu mobil yang sedang berlalu lalang di jalanan menambah kecantikan pemandangan malam di atas gedung tersebut.


"Suka?" Tanya Arion lagi.


"Suka banget ... Sumpah gue nggak pernah lihat pemandangan seperti ini sebelumnya." Kata Lilian kagum dengan binar dimatanya.


Arion sedikit menarik sudut bibirnya walau tidak terlihat. "Benarkah. Tidak sekalipun?" Tanyanya lagi.


"Tidak sekalipun. Yang gue lihat setiap hari adalah pemandangan di atas balkon kamar gue." Jawab Lilian masih mengangumi pemandangan yang berada di depannya dengan bahagia.


"Kalau begitu lo tidak akan kecewa bakal ngikut gue minggu yang akan datang." Kata Arion sambil memandangan pemandangan yang sama denga Lilian.


Lilian menorehkan pandangannya ke samping dengan kening berkerut. "Memangnya kita akan kemana?" Tanyanya penasaran.


"Nggak akan seru jika dikasih tahu duluan." Ucap Arion cuek.


Lilian mendengus kesal mendengar ucapan dari Arion. "Sebaiknya tadi nggak usah lo kasih tahu ... Kalau udah gini hanya bikin orang penasaran aja." Kesalnya.


"Lebih baik seperti itu." Jawab Arion datar.


"Apanya yang lebih baik? Buat orang penasaran itu nggak baik ... Karena hal itu akan memicu kerja otak dua kali lebih banyak dari sebelumnya. Rasa penasaran akan terus membayangi kita sehingga muncul perkiraan-perkiraan lalu berkembang menjadi teori-teori yang belum pasti kebenarannya." Kata Lilian asal.


"Bawel!" Ucap Arion datar.


Lilian tidak tahan untuk tidak memukul lengan Arion karena kesal. "Gue heran sama lo ... Kadang baik tapi kadang lo juga ngeselin tau nggak! Gue bahkan heran yang mana sebenarnya sifat lo ... Ehh tapi bentar." Kata Lilian mulai menyadari sesuatu yang aneh dari Arion.


"Lo tadi ngomong panjang ama gue ..." Tunjuk Lilian ke arah Arion yang masih terlihat biasa saja.


"Terus?" Tanya Arion langsung mengalihkan pandangan yang sebelumnya ke depan menjadi ke samping dan langsung menatap ke arah mata Lilian dengan jarak yang begitu dekat.


Jantung Lilian berdegup sangat kencang sampai ia harus menahan napasnya untuk sejenak. "Anjiiirrrr jantung gue kek mau meledak ... Napa tuhan sangat baik ke lo dengan memberikan wajah yang begitu tampan?" Ucapnya tanpa sadar.


Sudut bibir Arion kembali tertarik ke atas hingga membentuk sebuah senyuman diwajah tampannya.


"Ampuunnn Mamaaaa ... Lilian udah nggak tahan ... Astaga jantung gue ... jantung ..." Ujarnya sambil memegang dimana jantungnya berada.


Masih dengan senyuman diwajahnya, Arion menjulurkan tangannya dan menyentil kening Lilian pelan.


"Awwww ..." Pekik Lilian dan menatap tajam ke arah Arion. "Kenapa lo nyentil gue?" Kesalnya dengan nada tinggi.


"Agar lo cepat sadar dari kenyataan." Ucap Arion dengan wajah datar nan songongnya.


Lilian kembali mendelik kesal dan menatap Arion kesal. "Nyesal banget gue muji lo ..."


"Tanpa lo puji pun gue udah tampan." Ucap Arion sombong.


"Ihhh narsis banget lo jadi cowok ... Baru di puji dikit aja udah terbang naik ke langit, nyesel banget gue sampai jantung deg ... deg begini." Kata Lilian jujur.


Senyuman Arion kembali mengembang, bahkan lebih manis dari sebelumnya. "Ohh jadi lo deg ... deg kan dekat dengan gue?" Tanya Arion sambil mendekatkan wajahnya lebih dekat dengan Lilian.


Lilian harus menahan napas untuk ke sekian kalinya karena kelakuan Arion. Lilian bahkan sampai susah untuk menelan ludahnya sendiri. "Mamaaaa tolong Lilian ... Pesona si datar makin hari makin menjadi ... Tuhaaan kalau dia bukan buat Lilian maka jangan buat dia di miliki oleh orang lain juga. Lilian rela kok lihat dia membujang selamanya." Kata Lilian sembarang.


Tawa Arion tiba-tiba pecah, ucapan Lilian tidak lagi bisa membuatnya menahan diri agar tidak tertawa. "Kalau itu sih enak di lo." Katanya sambil memegang perutnya menahan sakit karena tawanya.


Otak Lilian seakan buntu dan tidak dapat berpikir lagi. Entah kebaikan apa yang dia lakukan hari ini sehingga tuhan memberikan hadiah yang begitu indah kepadanya. Selain berbicara banyak kepadanya, Arion bahkan bisa sampai tertawa lepas di hadapannya.


Arion sendiri menatap lama Lilian yang sejak tadi hanya dia dan menatapnya tanpa ekpresi. "Lo kenapa?" Tanyanya setelah selesai dengan tawanya.


"Nggak kenapa-kenapa hanya saja tumben-tumbenan hari ini lo ketawa selepas itu ... Lain kali jangan kek gitu ya?" Ucap Lilian polos.


Arion mengerutkan kening bingung. "Kenapa?"


"Karena ketawa lo langka banget ... Bisa diulang nggak? Gue rekam sebentar." Kata Lilian terburu-buru mengeluarkan ponsel dikanton bajunya.


"Bodoh! Kenapa harus direkam kalau tiap hari bisa lo lihat langsung." Kata Arion dengan senyum mengembang di bibirnya.


Lilian harus kembali menahan napasnya melihat senyum Arion. Sejak terbangun dari komanya, Lilian belum pernah lagi melihat senyuman dari Arion, setiap hari ia hanya melihat wajah datar dan dingin yang selalu laki-laki itu tampilkan.


"Gue nggak salah dengarkan?" Tanya Lilian masih tidak percaya dengan pendengarannya.


"Nggak ... Lo bisa lihat gue yang kek begini terus asal lo jadi anak yang penurut." Kata Arion sambil menepuk-nepuk kepala Lilian pelan.


Lilian masih tidak percaya dengan apa yang ia lihat saat ini. "Gue lagi nggak bermimpikan?" Tanyanya lagi.


Arion kembali tersenyum manis kemudian menepuk pelan pipi Lilian. "Nggak kok."


Pipi Lilian memerah karena malu. Sungguh malam yang begitu indah untuknya, perut Lilian seperti dipenuhi dengan banyak kupu-kupu yang siap untuk terbang tinggi. Namun tiba-tiba tubuh Lilian serasa digoncang oleh seseorang dengan kencang sehingga menyadarkannya dari lamunannya.


"Kalau lo terus saja melamum gue tinggal ya!! Kesal Arion yang sejak tadi menyadarkan Lilian dari lamunannya.


Baru selangkah Arion berjalan, Lilian langsung menghentikannya. "Jadi sejak tadi gue hanya berkhayal?" Tanya Lilian hampir ingin menangis.


"Mana gue tahu." Kata Arion datar.


"AKHHHHHH ..." Teriak Lilian kesal. "Kenapa harus khayalan." Kesal Lilian sendiri sambil meninju-ninju udara disekitarnya.


"Lo kayaknya udah gila." Ujar Arion heran dengan kelakuan aneh Lilian.


Lilian menarik tangan Arion dan menatap langsung ke matanya. "Kata kan pada gue bahwa senyum lo tadi asli dan bukan hanyalan gue saja!!" Tuntut Lilian.


Tubuh Lilian melemas dan akhirnya terduduk dilantai atap gedung tersebut. Momen indah yang Lilian pikir nyata ternyata hanyalah hayalan-nya yang tidak nyata.


"Gue pikir nyata." Gumam Lilian sedih dengan wajah murung.


Arion menempalkan tangannya di kening Lilian untuk memastikan kondisi gadis itu saat ini. "Nggak panas." Ucapnya heran.


Lilian melepas tangan Arion dengan kasar. "Memang nggak panas ... Gue tadi hanyalah sedang berhayal!!" Kesalnya. "Tapi kok kek nyata ya?" Lanjutnya.


Arion memijit keningnya frustasi. "Lo bisa tidak membedakan mana yang asli dan mana yang hanyalah khayalan lo aja?" Tanyanya kesal.


Lilian menggeleng pelan. "Nggak." Gumamnya pelan dan tidak bertenaga.


Arion sebisa mungkin untuk tidak tertawa namun melihat raut wajah lesu dari Lilian membuatnya tidak bisa lagi menahan tawanya karena berhasil mengerjai Lilian. Memang benar untuk sesaat Lilian terlihat melamun maka dari itu Arion mempunyai ide untuk mengerjai gadis itu. Siapa sangka Lilian bahkan percaya dengan candaannya.


"Hahahahahahahahah ... Gue nggak nyangka lo ternyata sebodoh itu ... Dengan cepatnya langsung percaya kalau itu hanyalah khayalannya saja." Tawa Arion benar-benar pecah melihat Lilian yang terduduk dengan wajah lesunya.


Arion bahkan sampai mengeluarkan air matanya karena tidak tahan untuk tidak menertawakan Lilian. Lilian sendiri sudah mengepalkan tangannya kuat dan langsung memukul Arion dengan brutal.


"Rasakan ini ... Rasakan ini!! Berani beraninya kau mengeejai ku seperti itu!! Rasakan ... Rasakan ..." Lilian bukan hanya menggunakan tangannya untuk memukul Arion, ia bahkan menggunakan kakinya untuk membantu meluapkan kekesalannya karena berhasil dikerjai oleh Arion.


"Aww ... Aww sakit ... Stop Lilian! Pukulan mu sangat sakit. " Teriak Arion.


"Peduli amat ... Inilah hukuman untuk orang yang telah membohongi ku." Kesal Lilian yang masih memukul Arion.


Arion berlari menghindari pukulan dari Lilian. Terjadi aksi kejar-kejaran antara keduanya. Meja, kursi serta barang-barang lain yang berada di atap gedung mereka gunakan untuk melawan satu sama lain.


Rein, Mario dab Farrel yang baru saja naik ke atap gedung menatap tidak percaya dengan apa yang mereka lihat. Barang-barang yang sebelumnya terlihat rapi kini tergeletak tidak berdaya bak kapal pecah.


Pandangan ketiganya beralih ke arah dua orang yang masih saja saling mengejar satu sama lain. Kedua orang itu saling melawan namun sambil tertawa bahagia. Ketiganya menatap Arion dan Lilian dengan pandangan tidak percaya, Arion yang selama ini tidak memiliki ekspresi serta hampir tidak pernah tersenyum kini terlihat seperti orang lain.


Arion menarik kedua sudut bibirnya ke atas sambil mengejar seorang gadis yang bernama Lilian. Bagi siapa saja yang melihat tingkah keduanya akan menyimpulkan bahwa keduanya sedang di mabuk asmara.


"Dunia bagikan milik berdua dan kami bagaikan sedang mengontrak di dunia kalian berdua!!" Celetuk Farrel tiba-tiba yang langsung menyadarkan aksi kedua sejoli yang sejak tadi saling kejar-kajaran.


Arion dan Lilian yang sejak tadi tidak menyadari kehadiran Rein, Marion dan Farrel akhirnya berpura-pura menatap ke arah lain setelah mendengar suara Farrel yang mengkritik keduanya.


"Lihatlah apa yang telah kalian lakukan disini." Tunjuk Mario ke arah barang-barang yang sudah tidak lagi berada di tempatnya. "Apakah se seru itu sehingga membuat barang-barang disini menjadi berantakan semua?" Tanya mario sambil menatap Arion dan Lilian bergantian.


"Ekhhmm Kami tidak sadar." Jawab Lilian yang masih tidak ingin menatap ketiga teman Arion.


"Tentu saja kalian tidak menyadarinya ... Kalau gedung ini sudah runtuh ... Baru mungkin kalian akan menyadarinya." Ejek Farrel lagi.


Arion mengabaikan ucapan-ucapan dari teman-temannya dan malah menatap ketiganya acuh. "Ada apa kalian kesini?" Tanyanya cuek.


Rein, Mario dan Farrel melongo tidak percaya dengan pertanyan Arion. Bukannya menjelaskan keadaan yang terjadi, Arion malah mempertanyakan hal lain kepada ketiganya.


"Tentu saja menyusul kalian berdua ... Sejak tadi kalian tidak turun-turun, membuat kami khawatir saja." Ketus Mario.


"Kenapa kalian menghawatirkan kami?" Tanya Lilian bingung.


"Tentu saja karena kalian selalu saja terlihat tidak akur ... Kami khawatir akan ada pertempumpahan darah disini dan lihat saja keadaan sekitar kalian ... Berantakan dan anehnya kalian malah terlihat senang." Kata Mario heran.


Lilian menggaruk kepalanya yang tidak gatal. "Maaf tentang semua ini." Ucap Lilian tidak enak.


"Ya sudahlah ... Karena ini sudah terlanjur berantakan maka mari sama-sama kita cepat bereskan. Hari udah semakin gelap, gue harus ngantar Lilian agar segera pulang." Kata Rein yang langsung maju untuk membereskan barang-barang sekitarnya.


"Lilian gue yang antar." Ucap Rein dengan wajah datarnya.


Rein menghela napas pelan. "Nggak bisa ... Lilian tadi berangkatnya bareng gue ... Masa iya pulangnya sama lo. Yang ada Tante Efina mikir aneh sama Lilian."


Arion menatap tidak suka ke arah Rein. "Gue yang bantu jelasin." Jawabnya datar.


"Maka dari itu ... Gue tadi ijin mau ngajak Lilian jalan ke nyokap-nya, ntar gue dianggap apaan kalau malah lo yang ngantar dia pulang." Jelas Rein.


Arion masih kekeh dengan pendiriannya. "Lilian tetap pulang bareng gue."


"Nggak bisa Kak! Nanti Mama mikirnya aneh-aneh ... Biar gue pulang bareng Kak Rein aja." Ucap Lilian akhirnya.


Arion mengerutkan kening dan menatap Rein dan Lilian bergantian. "Gue penasaran apa sebenarnya hubungan kalian berdua?"


Rein kembali menghela napas pelan. "Lo tenang ja ... Gue sama Lilian hanya ..." Ucapan Rein terhenti karena ponselnya berbunyi.


Tante Efina Calling ....


Yang ditakutkan oleh Rein akhirnya terjadi, tertera nama Efina dilayar ponsel miliknya.


"Hallo Tante." Sapa Rein ramah.


"Kami baik-baik aja kok Tante ... Ini udah mau jalan pulang kok. Tadi mainnya keseruan hingga lupa waktu dan ngecek Hp." Kata Rein yang tidak sepenuhnya berbohong.


Benar saja, Lilian sejak tadi asyik kejar-kejaran bareng Arion hingga lupa waktu. Rein yang menyadari hari semakin malam memutuskan melihat keduanya diatas atap gedung.


"Ya udah Rein tutup teleponnya Tante ... Ini kita udah mau jalan pulang kok." Ucap Rein ramah.


Rein akhirnya mematikan sambungan teleponnya setelah disetujui oleh Efina. "Maaf ya guys sepertinya kita berdua nggak bisa bantuin kalian buat beresin kekacuan ini semua." Tunjuk Rein ke arah barang-barang yang beeserakan.


"Gue harus secepatnya nganter Lilian pulang karena nyokapnya udah sangat khawatir." Kata Rein tidak enak.


"Ok Nggak apa-apa kok ... Hati-hati dijalan lo berdua." Ucap Farrel.


Lilian menatap bersalah kearah Arion yang terlihat tidak senang, dengan nada sepelan mungkin Lilian memberanikan diri untuk pamit pulang. "Maaf ya Kak Arion ... Gue belum bisa bantun lo buat beresin ini semua. Maaf juga buat Kak Mario dan Kak Farrel karena udah ngerepotin."


"Nggak apa-apa kok santai saja ... Lain kali jangan kek gini ya." Goda Mario.


Lilian hanya mengangguk malu. Rein dan Lilian akhirnya kembali pulang. Lilian sebelumnya sempat menatap ke arah raut wajah Arion yang terlihat tidak sedap. Lilian bahkan harus menelan ludah kasar karena tatapan mata tajam yang diberikan oleh Arion.


______________