Lilian

Lilian
Toko Kue Efina



Lilian di bantu oleh ketiga temannya membagi minuman yang sebelumnya ia beli di kantin tadi. Terakhir kali Arion mengejeknya membuat Lilian tidak bisa agar tidak kesal kepada lelaki itu. Ia membagi minuman kepada teman-teman Arion namun melewati lelaki itu begitu saja.


"Kak Rein, minum ya banyaknya, ya." Ucap Lilian sambil memberikan sebotol air meneral kepada Kakak Sepupunya itu.


"Thanks ... Lo emang yang terbaik!" Rein memberikan kedua jepolnya kepada Lilian.


Lilian mengangguk pelan kemudian kembali berbalik lalu memberikan sebotol air lagi kepada Mario yang duduknya tepat di samping Arion.


"Nih Kak." Lilian berjalan melewati Arion lagi.


"Thanks." Ucap Mario dan sedikit melirik ke arah Arion.


Lilian hanya tersenyum manis kepada Mario.


"Eh Nona! Di sini masih ada yang belum dapat." Ujar Arion dari arah belakang punggung Lilian.


Karena masih kesal, Lilian akhirnya mengabaikan ucapan Arion. "Kak Mario ... Kek-nya ada yang lagi ngomong. Taaaaapi ... Siapa, ya?" Tanya Lilian menyindir ke arah Arion.


Mario hanya tersenyum canggung dan sedikit melirik ke arah Arion yang menatapnya dengan tatapan tajam. "Lo jangan nyalain api di dekat gue dong! Kalau kebakar ... Ntar gue juga yang kena." Ucapnya.


Lilian mencebikkan mulutnya dan mendengus kasar. "Gue nggak suka main api. Sukanya main tangkap pencuri." Sindirnya.


"Tangkap pencuri?" Tanya Mario setelah meneguk air yang Lilian berikan.


"Iya, main tangkap pencuri. Kalau ada yang mencuri maka tugas gue adalah menangkapnya!" Ucap Lilian dengan menekan setiap kata-katanya.


Ariom sudah tidak tahan lagi di cueki oleh Lilian. Lelaki itu bangun dari tempat duduknya kemudian menarik Lilian dengan sekali gerakan untuk menghadap ke arahnya.


"Lo lagi nyindir gue?" Tanya Arion dengan raut wajah dinginnya.


Lilian menautkan kedua alisnya. Ia berlagak seperti orang yang tidak tahu. "Nyindir apa? Gue nggak lagi nyindir siapa-siapa." Jawabnya dengan raut wajah polos.


"Gue pergi dulu, ya! Urus rumah tangga kalian berdua. Gue kagak mau terlibat, bye!" Ucap Mario dan berlalu pergi.


Lilian masih memandangi punggung Mario yang telah pergi untuk berkumpul dengan yang lainnya.


"Hadap sini!" Perintah Arion dengan suara dinginnya.


Lilian kembali menghadap ke arah Arion. "Ada apa?" Tanya Lilian sedikit mendongak.


Perbedaan tinggi keduanya tarlampau sangat jauh. Lilian hanya sebatas bahu Arion saja. Namun Lilian tidak terlalu pendek jika di bandingkan dengan tinggi gadis yang seumuran dengannya. Lilian memiliki tinggi badan rata-rata seorang gadis.


"Lo masih nanya ada apa?" Arion kembali memperpendek jarak antara keduanya.


"Gue nggak ngerti." Ucap Lilian acuh.


Arion menghembuskan napas berat. "Minuman gue mana? Yang lain pada lo bagi ... Lalu buat Pacar lo sendiri mana?" Arion menekan kata pacar untuk menyadarkan Lilian akan statusnya.


Lilian menutup mulut dengan raut wajah terkejutnya. "Upss ... Maaf sayang ... Minumannya udah abis." Lilian menunjukkan kantong plastik yang sudah kosong di tangannya.


Arion sedikit tertegun mendengar kata sayang yang Lilian ucapkan. Namun sebisa mungkin ia harus menjaga ekspresinya agar tidak ketahuan oleh Lilian.


"Lo sediain minum buat orang lain tapi nggak sediain minum buat Pacar lo?" Ario kembali menekan kata pacar.


"Ya ... Gimana lagi? Minumannya udah habis. Kakak beli sendiri aja ya." Pinta Lilian dengan raut wajah polos yang sengaja ia buat.


Arion mendengus pelan. "Nggak bisa! Lo harus temani gue." Ia kemudian menarik tangan Lilian.


"Nggak mau!" Lilian menepis tangan Arion yang memegang pergelangan tangannya.


"Pergi ambil saja minuman yang di berikan oleh Siswi tadi." Usul Lilian.


"Dia bukan Pacar gue." Jawab Arion tegas.


"Ohhh gitu." Jawab Lilian enteng.


"Lo marah sama gue?" Tanya Arion.


Lilian menatap kesal kearah Arion namun ia menggelengkan kepalanya. "Nggak." Bohongnya.


"Gue tau lo marah." Kata Arion.


Lilian kembali menggelengkan kepalanya. "Nggak." Ucapnya sambil melotot.


Arion tersenyum kecil dan membisikkan sesuatu di telinga Lilian. "Lo marah karena gue cium atau marah karena gue cium pipi lo hanya sebelah? Mau di cium sebelah lagi biar seimbang?"


Lilian membulatkan matanya mendengar ucapan Arion kemudian mendorong dada lelaki itu dengan keras. "Jangan sembarangannya!! Udah nggak usah lo dekat-dekat dengan gue!!" Tuturnya kemudian berniat membalikan badan.


Arion lagi-lagi menahan kedua bahu Lilian agar gadis itu tidak meninggalkannya. "Mau kemana?" Tannya dengan tatapan intens.


"Mau pergi sejauh mungkin! Biar nggak ketemu lo yang ngeselin!" Marah Lilian.


Arion bukannya kesal dengan ucapan Lilian, lelaki itu malah terkekeh kecil. Pipi Lilian yang naik turun karena marah membuat gadis itu terlihat lucu bagi Arion.


"Nih pipi gemoy amat ..." Arion mencubit kedua pipi Lilian dengab gemas.


"Lepas! Lepas! Lepas!" Lilian memukul kedua tangan Arion yang menarik kedua pipinya.


"Nggak akan! Kecuali lo jelasin ke gue ... Lo marah karena apa?" Arion memberikan penawaran kepada Lilian.


Dari pada Lilian terus merasa kesakitan. Lebih baik dia jujur saja. "Gue kesal sama lo!! Kesal! Kesal! Kesa!!" Teriak Lilian.


Semua orang yang masih tersisa di lapangan hanya bisa tersenyum melihat keduanya. Di manapun ada Lilian, perubahan mood pada Arion pasti terjadi. Lelaki yang hanya berbicara seperlunya kepada orang lain akan berubah menjadi paling cerewet jika sedang bersama Lilian.


"Kesal kenapa?" Arion masih mencubit kedua pipi Lilian dengan gemas.


"Lepasin! Sakit tau nggak!" Lilian masih berusaha melepas diri. "Gue kesal sama lo yang asal nyium gue depan banyak orang!!" Jujurnya.


"Di tambah lagi raut wajah songong lo itu bikin gue kesal!! Pokoknya gue nggak mau dekat-dekat dengan lo hari ini!!" Putus Lilian dengan bibir mencebik.


Arion tertawa lepas mendengar ucapan Lilian. "Oh itu ... Kalau gitu balaslah." Usulnya.


"Ba ... Balas apa?" Tanya Lilian curiga.


"Tadi gue nyium lo ... Skornya jadi 1-0! Sekarang lo balas nyium gue aja biar skornya sama. Nih ... Nih ..." Arion mendekatkan pipi kanannya kearah Lilian.


Spontan Lilian menabok kepala Arion dengan sangat keras.


"Awwwe!!" Pekik Arion kesakitan sambil memegang bekas pukulan Lilian.


"Rasain! Dasar mesum!" Kesal Lilian.


Arion kembali ingin menarik tangan Lilian namun gadis itu bergerak dengak cepat untuk menghindari Arion. Setelah berhasil menghindar dari Arion, Lilian langsung melarikan diri.


"Tunggu pembalasan gue!! Dasar Mesum! Datar kek tembok!! Jelek! Weee ..." Ejek Lilian dari jauh.


"Manis." Kekeh Arion sambil memandangi punggung Lilian yang menghilang dari balik tembok.


Arion menyukai semua tingkah lucu Lilian. Dalam keadaan marah saja gadis itu terlihat menggemaskan baginya. Bahkan gadis itu dapat meruntuhkan pertahanan Arion yang terkenal dingin.


"Jatuh cinta adalah hal yang paling menyedihkan." Gumam Arion. Ia kemudian kembali bergabung dengan teman-temannya untuk membahas tentang strategi bermain untuk kedepannya.


________________________


Setelah bel pulang sekolah berbunyi, Lilian sebisa mungkin menghindar dari Arion. Untuk hari ini aja Lilian tidak ingin bertemu dengan lelaki itu setelah Arion menyium-nya di lapangan.


Lilian membutuhkan waktu yang lama untuk membujuk ketiga temannya. Ia membutuhkan bantuan dari ketiga temannya supaya ia berhasil lolos dari pantauan Arion.


Usaha membujuk ketiga temannya tidak sia-sia, dengan bantuan ketiga temannya Lilian akhirnya bisa lolos dari Arion. Ketiga teman Lilian beralasan jika gadis itu pulang terlebih dahulu karena ada hal penting yang perlu di urus. Lilian baru keluar dari persembunyiannya setelah memastikan Arion sudah pergi menjauh.


Dan di sinilah Lilian sekarang, bermain berasama dengan Citto sambil memakan kue yang di buatkan oleh Mamanya. Lilian memainkan berbagai macam permainan kucing bersama dengan Citto. Meski rumah sangat sepi namun kehadiran Citto membuat rumah Lilian menjadi berwarna.


Kriing ... Kring ... Kring ...


Bunyi telepon rumah tidak jauh dari tempat Lilian dan Citto berada.


"Citto ... Tetap di situ dan jangan kemana-mana." Ucap Lilian memperingati.


Citto seakan mengerti dengan ucapan Lilian. Ia hanya terduduk diam menunggu Lilian kembali bermain lagi dengannya.


"Hall**o ..." Sapa Lilian.


"Sayang ... Ada Bi Marni tidak?" Tanya seseorang di sebrang sana. Suara itu adalah milik Efina.


Lilian menggeleng pelan meski Mama-nya tidak dapat melihatnya. "Bi Marni sedang keluar ... Katanya mau belanja bahan makanan. Nggak tau kapan baliknya." Jawab Lilian.


Terdengar helanaan napas dari seberang sana. "Mama salah bawa berkas tadi pagi ... Rencananya mau nyuruh Bi Marni untuk bawain berkasnya ... Namun Bi Marni-nya malah nggak ada" Kata Efina.


"Berkasnya penting?" Tanya Lilian.


"Penting sayang ... Berkasnya mau Mama pakek buat rapat sebentar lagi. Kalau nyuruh pegawai Mama bakalan nggak sempat nantinya." Jawab Efina.


"Pak Karno udah balik apa belum, sayang?" Tanya Efina lagi.


"Sejak Lilian pulang ... Emang nggak ada Pak Karno, adanya Bi Marni aja yang nungguin Lilian pulang. Setelahnya Bi Marni pergi buat belanja. Sekarang adanya cuma Pak Tio aja." Jawab Lilian.


"Pak Tio nggak bisa bawa berkasnya ... Kalau dia kesini maka nggak ada yang buat jagain keamanan rumah. Mama nyuruh pegawai aja deh buat ngambil berkasnya." Putus Efina.


"Lilian aja yang bawa, Mah. Kalau nunggu pegawai Mama keburu telat ... Biar Lilian aja yang kesana buat bawain berkasnya." Usul Lilian.


"Nggak bisa! Kamu baru aja sembuh ... Sekolah aja harus di paksa Papa dulu baru Mama setuju apalagi harus kesini bawa berkas. Mama nggak mau kamu kenapa-napa di jalan." Sanggah Efina dari seberang telepon.


"Tapikan berkasnya penting, Mah! Gimana kalau pegawai Mama telat bawanya? Ntar rapatnya bakalan kacau. Mending berkasnya Lilian yang bawa, itung-itung Lilian jalan-jalan ke tempat Mama." Bujuk Lilian.


Tidak ada jawaban dari Efina. Wanita paruh baya itu tampak terdiam sebentar untuk mengambil keputusan.


"Tapi kamu bawa motornya nggak usah kebut-kebutan, ya." Ucap Efina.


"Iya ... Lilian juga bawa Citto. Soalnya di rumah nggak ada siapa-siapa. Kasian kalau di tinggal sendiri." Kata Lilian.


"Baiklah. Ingat pelan-pelan aja." Ucap Efina kembali memperingati.


"Iya, Mah. Terus Berkasnya di mana? Terus Lilian bawanya kemana?" Tanya Lilian.


"Berkasnya ada di atas meja kerja Papa. Tadi malam Mama simpen di sana. Berkasnya ada di map warba biru. Cek dulu isinya sebelum di bawa, ada tulisan laporan hasil pembagian saham di paling atas berkas itu. Alamatnya biar mama share aja, ya." Jelas Efina.


"Ok, Mah." Jawab Lilian.


Setelahhnya panggilan telepon pun di tutup. Lilian berjalan menuju ruang kerja meja Papanya. Di atas meja Lilian melihat beberapa berkas yang tersimpan rapi. Lilian mengambil map berwana biru dan membaca isinya sesuai arahan dari Mama-nya tadi.


"Benar ... Ini berkasnya." Gumam Lilian kemudian keluar dari ruang kerja Papa-nya.


Lilian menaiki lantai dua dan memasuki kamarnya untuk mengambil sweter untuk ia pakai. Ia bahkan tidak mengganti celana jeans di atas lutut karena merasa sudah pas. Kemudian Lilian meraih tas kecilnya dan menyambar kunci motornya.


"Saatnya berangkat." Ucap Lilian semangat.


Lilian kembali menuruni tangga dan memanggil Citto. Setelah memasuki Citto ke kandang kecilnya, Lilian lalu berjalan keluar dengan membawa berkas di tangan kirinya dan menenteng kandang Citto di tangan kanannya.


Setelah semua di rasa beres, Lilian mulai menjalankan motornya dengan kecepatan sedang. Angin sepoi-sepoi pada sore hari membuat Lilian merasakan ketenangan sendiri. Namun tidak lama setelahnya, Lilian harus menghentikan laju motornya lantaran melihat Geng yang sudah dua kali menahannya. Mereka adalah Geng Melvin, sedang duduk santai dan sepertinya sedang menunggu seseorang.


"Gue nggak akan kejebak ama permainan kalian lagi." Dengus Lilian.


Sebelum Melvin atau temannya melihat, Lilian segera memutar balik aran dan memilih mengambil jalan lain.


Tidak lama setelahnya Lilian sampai di alamat yang Mama-nya kirimkan. Di sana salah satu bangunan bertingkat dua ada tulisan Keili Cake, tentu saja Lilian mengenal nama itu. Nama itu adalah nama toko yang di gabungkan antara nama Keira sang Kakak dan Nama Lilian di belakangnya.


Setelah memarkirkan motornya di temoat yang aman. Lilian akhirnya membawa berkas yang di tunggu oleh Mamanya sejak tadi.


"Permisi Mbak, mau tanya ... Ruangan Bu Efina di mana?" Tanya Lilian pada salah satu penjaga toko.


Toko kue Mama-nya Lilian sangat besar. Bangunan itu memiliki dua tingkat. Tingkat pertama di sediakan untuk para pengunjung dan banguan kedua di gunakan untuk Efina bekerja atau membuat resep kue terbaru.


"Apa sebelumnya udah buat janji?" Tanya penjaga itu.


Lilian mengangguk. "Bilang aja ... Saya mau ngantar berkas." Katanya.


Citto bergerak sangat aktif di dalam kandangnya dan membuat Lilian terpaksa harus melepaskannya.


"Nggak boleh, Citto!!" Teriak Lilian melihat kucingnya berlari menuju salah satu etalase yang menyediakan berbagai macam kue.


"Mohon maaf Dek ... Bisakah kamu membawa keluar kucing mu? Tempat kami bukan tempat bermain kucing!!" Ketus seseorang dari belakang punggung Lilian dan penjaga toko.


Lilian menautkan kedua alisnya dan membaca tanda pengenal orang itu. "Dini." Gumam Lilian.


Belum sempat mengatakan apapun, ponsel Lilian langsung berdering tanda telepon masuk.


"Hallo, Mah ... Ini Lilian udah di bawah. Namun Citto sedikit nakal. Bisakah Mama turu. sebentar?" Tanya Lilian.


Kedua pegawai toko itu langsung melotot mendegar ucapan Lilian. Mereka belum percaya jika gadis yang di depannya saat ini adalah anak dari pemilik toko.


Belum sempat keduanya meminta maaf, suara Efina terdengar memanggil Lilian dari belakang.


"Sayang ..." Panggil Efina kemudian berjalan mendekat kearah Lilian.


"Ini berkasnya, Mah. Maaf Citto sedikit nakal." Tunjuknya kearah Citto yang masih mengetuk kaca etalase.


_________________________