Lilian

Lilian
Bekal Untuk Lilian



Setelah acara makan malam yang dikemas banyak drama sebelum keadaan membaik selesai, Lilian berserta kedua orang tuannya kembali pulang dengan perasaan bahagia. Efina tidak menyangka jikalu masalah yang sejak lama ia takuti akhirnya terselesaikan.


Jika tahu kalau Tama akan sangat mudah dihadapi seperti sekarang, maka sejak lama Efina tidak perlu takut lagi terus berpindah-pindah tempat untuk menghindari masalah-masalah yang akan Papanya lakukan padanya.


Seharusnya Efina mendengarkan usulan dari Rahadian untuk memperbaiki hubungan antara keduanya, namun rasa takut yang selama ini Efina rasakan membuatnya tidak mau menunjukkan diri didepan Sang Ayah.


Sedangkan Tama sendiri sudah sejak lama telah membuang ego-nya agar bisa membuat Putrinya kembali pulang. Tama memang keras dan minim dalam berekpresi sehingga membuat karakternya semakin kuat.


Namun masalah antara keduanya telah terselesaikan, Efina bahkan tidak lagi takut dengan perebutan posisi pewaris antara Lilian dan Rein akan terjadi. Lilian hanya ingin menjalani kehidupannya dengan bebas, melakukan hal-hal baik sesuai keinginannya. Jikapun suatu saat nanti terjadi perebutan posisi yang dilakukan pihak yang tidak bertanggung jawab terhadap Lilian, maka Efina tidak akan segan meminta bantuan Sang Ayah agar dapat membantunya untuk melindungi Lilian.


Rahadian sendiri merasa sangat bahagia karena istrinya kembali memiliki keluarga yang sangat lengkap. Masalah yang selama ini membelenggu keluarganya akhirnya hilang dan sekarang digantikan dengan kebahagian.


Lilian pun ikut senang karena ia diberi hak untuk menjalani kehidupannya sesuai yang ia inginkan. Ia bahkan memiliki keluarga yang selama ini ia impikan, yaitu memiliki Kakek, Nenek, Paman, Bibi dan Saudara laki-laki seperti hayalannya dulu.


Senyuman pada bibir Lilian tidak pernah luntur bahkan setelah ia sampai rumah dan menutup kedua matanya untuk tidur setelah membersihkan diri.


____________________


Pagi yang sangat cerah secerah suasana hati Lilian saat ini. Pagi-pagi sekali Lilian terbangun dari tidur lelapnya dan langsung bersemangat untuk bersiap-siap berangkat ke sekolahnya.


Setelah sarapan dan berpamitan kepada kedua orang tuanya, Lilian akhirnya berangkat menuju sekolahnya dengan mengendarai motor pemberian dari Papanya.


Setelah melewati gerbang sekolahnya, Lilian memarkirkan motornya ditempat biasa. Kemudian ia melangkah menyelusuri lorong kelas dengan raut wajah ceria sambil menyandungkan lagu menuju kelasnya berada.


Sepanjang jalan banyak sekali para murid laki-laki yang terpesona melihat senyuman dari Lilian. Beberapa orang bahkan memberanikan diri untuk menyapa gadis itu dan siapa sangka Lilian bahkan membalas sapaan mereka karena dalam keadaan bahagia.


Kebahagiaan Lilian tidak bertahan lama dikarenakan saat ia sedang berbelok arah menuju kelasnya, tiba-tiba seorang laki-laki muncul dan menabrak Lilian.


"Awwwww ..." Pekik Lilian sambil mengusap jidatnya yang terkena benturan dengan dada seorang laki-laki didepannya.


"Kalau jalan itu pakek mata!!" Ketus laki-laki yang menabrak Lilian tadi.


"Dimana-mana jalan pakek kaki, sejak kapan fungsi mata berubah menjadi ..." Kata-kata Lilian terhenti saat melihat orang yang ia tabrak.


"Lo.." Tunjuk Lilian.


"Lo." Tunjuk laki-laki yang menabrak Lilian.


Lilian menatap name tag siswa tersebut yang bertulisankan Rama Sasriadin. Sebelumnya mereka pernah bertemu disebuah toko buku yang berada di salah satu mall saat Lilian dan teman-temannya menghabiskan liburan akhir pekannya.


"Cewek galau ... Ngapain lo disini?" Tanya Rama dengan kening berkerut.


"Lo ngeselin banget jadi orang! Lo pikir gue mau rekreasi disini? Tentu saja buat belajar." Kesal Lilian sambil menatap Rama dari atas sampai bawah.


"Sans aja dong ... Ngegas banget perasaan dan ..." Ucap Rama menatap Lilian bingung. "Ngapain lo liatin tubuh gue kek gitu? Galau boleh aja cuman napsu di pagi hari yang cerah begini juga harus memiliki aturan ... Mata lo perlu diruqiah agar nggak jelalatan." Tuduh Rama.


Lilian tidak tahan untuk tidak memukul bahu Rama dengan sangat keras. Hingga Rama mengeluh kesakitan karena telah dipukul oleh Lilian.


"Mulut lo tuh yang perlu gue sambelin banyak-banyak biar nggak ngerocos dengan sembarangan!! Kagak napsu gue sama modelan kayak lo gini." Kesal Lilian sambil menatap tajam ke arah Rama.


"Eitsss sekate-kate aja lo ngomong ... Belum tahu aja kalau modelan gue ini banyak disuka oleh para wanita ... Hanya saja cewek yang gagal move on kayak lo mana bisa ngerti." Ucap Rama acuh dengan ekspresi cueknya.


Lilian kembali memukul lengan Rama karena kesal dengan laki-laki itu. "Lo lama-lama bikin gue kesal ... Rasakan ini ... Rasakan ini!!"


Rama menahan kedua tangan Lilian agar tidak terus-terusan memukulnya. Kegiatan keduanya banyak disaksikan oleh banyak orang, sebagian dari mereka ada yang sudah mengambil gambar untuk dijadikan bahan gosip.


Keduanya tidak ada yang mau mengalah, Rama yang terus-terusan menahan kedua tangan Lilian dan Lilian sendiri yang berusaha melepaskan diri dari Rama agar bisa memukulnya lagi.


"Minggir!!" Suara dingin tiba-tiba terdengar dari arah belakang punggung Lilian.


Rama langsung melepaskan tangan Lilian setelah melihat Arion beserta ketiga temannya yang berdiri tepat dibelakang Lilian.


"Minggir!!" Ucapnya sekali lagi dengan nada dingin yang sama.


"Lewat ya lewat aja ... Harus gitu Kak Arion juga mau lewat disini?" Tunjuk Lilian kearah posisinya berdiri. "Sebelah sini juga banyak ... Lewat saja." Lanjut Lilian sambil menunjuk sisi sebelahnya yang masih tersisa banyak.


"Gue mau lewat sini." Ucap Arion dengan raut wajah datar tanpa ekspresi.


Lilian berdecak kesal. "Nih lewat!" Kesalnya sambil menggeser tubuhnya ke samping untuk memberikan jalan untuk Geng Andromeda.


Arion hanya berjalan melewatinya tanpa mengatakan apapun lagi setelah Lilian menggeser tubuhnya ke samping. Begitu pula dengan kedua teman Arion yang berjalan melewati Lilian begitu saja.


Rein sendiri berhenti saat tubuhnya berada sejajar dengan Lilian. "Sudah sarapan?" Tanyanya.


Lilian mengangguk pelan. "Sudah tadi dirumah bareng Papa dan Mama." Jawabnya.


Rein hanya mengangguk pelan tanpa mengatakan apapun lagi kepada Lilian.


"Kenapa? Tumben hari ini nanya ... Bukan karena masalah tadi malam kan?" Tanya Lilian memastikan.


"Bisa dibilang begitu ... Mama tadi pagi masak nasi goreng khusus buat lo ... Kalau lo udah sarapan maka makanannya biar gue kasih ke teman gue aja." Kata Rein santai.


"Enak aja!! Tante Zoya masak buat gue bukan teman-teman lo! Sembarangan aja mau asal kasih ke orang." Ketus Lilian.


"Tadi lo sendiri yang bilang udah makan." Kata Rein kesal.


"Tapi gue nggak pernah bilang nggak mau sama makanannya." Kata Lilian tidak mau kalah.


"Ya sudah ikut gue kalau gitu!" Ucap Rein yang langsung berjalan lebih dulu.


Lilian ingin melangkahkan kakinya untuk mengikuti langkah Rein namun tangannya ditarik oleh Rama sehingga tubuhnya langsung menghadap ke arah Rama.


"Lo gagal move on sama si Rein?" Tanya Rama penasaran.


Lilian menghempaskan tangannya dari tangan Rama. "Apaaan sih lo kepo amat sama urusan orang." Kesalnya.


"Selain kepo sepertinya mulut lo itu kayaknya perlu di lakban tau nggak!! Bau soalnya." Ketus Lilian kemudian menginjak kaki kanan Rama dengan sangat keras dan berlari menjauh.


"Awwww ..." Pekik Rama sambil mengangkat sebelah kakinya kesakitan.


"Dasar cewek gagal move on ... Gue balas lo ntar." Teriak Rama kearah tempat Lilian berlari.


Lilian sendiri mengabaikan teriakan dari Rama dan berjalan cepat menuju meja Geng Andromeda berada. Lilian harus menarik salah satu kursi dari meja lain agar bisa ikut duduk bersama Rein dan yang lainnya.


Rein sendiri mengeluarkan dua kotak makan dari dalam tas miliknya, satu untuknya dan satunya lagi ia berikan kepada Lilian. Arion, Farrel dan Mario menatap interaksi antara Rein dan Lilian dengan heran, sejak kapan keduanya terlihat seakrab sekarang hingga berbagi bekal.


Lilian sendiri tidak peduli dengan tatapan sekitarnya, ia hanya mencium bau harum yang menyeruak keluar dari dalam kotak makan yang Rein berikan. Karena tidak tahan dengan aroma enak tersebut, Lilian akhirnya membuka kotak bekal dan memakan makanan tersebut.


Lilian terlihat sangat menikmati makanannya tanpa mengangkat kepalanya. Rein bahkan harus menggeleng kepala melihat kelakuan dari Lilian. Sedangkan tiga orang lainnya masih terheran-heran melihat kedekatan keduanya.


"Lo tadi bilang udah makan ... Tapi yang gue lihat sekarang sepertinya lo sedang kelaparan." Ujar Rein sambil memberikan sebotol menimuman kepada Lilian.


Lilian menerima minuman yang diberikan oleh Rein kemudian meminumnya sampai habis setengah. "Tadi di rumah makannya roti aja ... Lagian nasi gorengnya sangat enak, bilangin ke Tante Zoya agar sering-sering ngasih gue bekal ya!" Ucap Lilian sumringah sambil menggeser kotak makan yang sudah kosong ke arah Rein.


"Nggak mau ... Bilang saja sendiri." Kesal Rein.


"Ya sudah, nanti kapan-kapan gue ke mension Arisena buat ngomong sama Tante Zoya." Ucap Lilian riang.


Arion menatap aneh kearah Lilian dan Rein, sejak kapan keduannya akrab sampai Lilian ingin mengunjungi mension Rein untuk bertemu dengan Mama-nya Rein.


"Sejak kapan kalian akrab?" Tanya Arion yang tidak tahan lagi untuk tidak bertanya


"Sejak kemarin kayaknya." Jawab Lilian jujur.


"Apa yang kalian lakukan kemarin?" Kali ini Farrel yang bertanya.


"Nggak ada ... Hanya makan malam bareng aja." Jawab Rein cuek.


"Ha?" Kaget Farrel dan Mario.


"Apakah lo suka dengan semua lelaki?" Tanya Arion dengan raut datar.


Lilian mengerjapkan mata beberapa kali sebelum menjawab. "Kalau baik ya suka." Jawabnya.


Arion menatap Lilian dengan tatapan tajam dan dinginnya. "Asal baik maka lo suka?" Tanya Arion memastikan lagi.


Lilian mengangguk pelan. "Orang baik sama kita kenapa kita harus tidak menyukainya? Bukannya aneh ..." Kata Lilian ngasal.


"Gue tadi lihat lo ngobrol sama si Rama. Kalian berdua kapan kenalnya?" Tanya Rein menatap Lilian penasaran.


"Lupa kapan ... yang jelas ketemu di toko buku." Jawab Lilian.


"Ada berapa banyak lelaki lagi yang lo kenal?" Tanya Arion dengan tatapan tajam.


Lilian mengedikkan bahu. " Entahlah ... Malas ngitung." Ucapnya asal sambil mengingat jumlah teman laki-laki di kelasnya.


Arion meminum minumannya dengan rakus dan meletakkan botol minumannya diatas meja dengan sangat keras.


"Kakak ini kenapa?" Kesambet ya?" Tanya Lilian yang baru saja kaget dari ulah Arion.


Arion tidak menjawab dan memilih mengabaikan pertanyaan Lilian. Karena kesal tidak ditanggapi oleh Arion, Lilian memilih kembali ke kelasnya sebelum bel berbunyi.


"Ya sudah gue balik kelas dulu ya! Bilangin Tante Zoya terima kasih untuk makananya ... Dan terima kasih untuk minumannya." Ucap Lilian sambil berlari cepat meninggalkan Rein yang sedang menatapnya tidak percaya.


"Dikasih hati minta jantung tuh anak!" Kesal Rein.


"Kapan?" Tanya Arion tiba-tiba yang mebuat Rein menatapnya dengan raut wajah bingung.


"Kapan apa?" Tanya Rein.


"Kapan lo mulai dekat dengan Lilian? Perasaan baru kemarin kalian nggak seakrab sekarang ... Pakek bawain bekal yang di buat Nyokap lo lagi." Ujar Farrel tiba-tiba.


"Ohhhh itu ... memangnya kenapa?" Tanya Rein balik.


"Ya aneh aja ... Nggak ada angin dan hujan kalian berdua tiba-tiba dekat kek begini ... Apa sebenarnya kalian berdua ada apa-apa ayo." Tunjuk Marion ke arah Rein.


"Apaansih ... Memangnya kenapa kalau gue ada apa-apa dengan Lilian?" Tanya Rein.


Awalnya Farrel ingin menjawab sebelum Arion menggebrak meja dengan sangat keras membuat ketiga temannya menatap Arion bingung.


"Ada apa lo? Perasaan meski tuh muka sering terlihat kusut tapi nggak sekusut sekarang." Celetuk Mario tiba-tiba melihat raut wajah tak sedap pada Arion.


"Bel sebentar lagi segera berbunyi, gue duluan." Ucap Arion tiba-tiba lalu berjalan meninggalkan ketiga temannya.


"Itu orang kenapa sih?" Muka kek mau makan orang gitu." Tanya Rein heran.


Mario dan Farrel hanya mengedikkan bahu tanda mereka tidak tahu.


Arion berjalan menyusuri lorong kelas dengan aura dingin yang tidak biasanya. Arion memang sering bersikap dingin namun aura kali ini seperti aura dingin yang dikeluarkan sebesar dua kali lipat dari sebelumnya.


Arion berjalan dengan mengabaikan teriakan-teriakan dari murid perempuan yang memanggil serta memuji tentang ketampanannya. Dalam benak Arion hanya memikirkan bagaimana bisa Rein dan Lilian terlihat sangat dekat dalam waktu singkat tanpa ia tahu sama sekali.


Yang membuat Arion heran lagi, kapan Lilian mengenal Rama yang notabene sedang berada diluar kota dan baru kembali baru-baru ini setelah menyelesaikan tugasnya. Lilian sepertinya teihat dekat dengan Rama saat Arion tidak sengaja melihat keduanya.


Merasa kesal, Arion melangkahkan kakinya dengan cepat agar ia segera sampai menuju kelasnya untuk tidur. Niat hati ia ingin ke kantin untuk sarapan namun siapa sangka saat dijalan ada hal-hal yang membuatnya tidak berselera lagi untuk memakaan sesuatu. Arion lebih memilih tidur dikelasnya dari pada harus berlama berada diluar kelas dan mendengar murid lain yang meneriakan namanya dengan sangat keras. Hal itu hanya akan menambah sakit kepalanya saja.


_____________________