
Tatapan mata Lilian masih kosong sejak kejadian tadi. Dalam pikirannya ada berbagai hal yang ia pikirkan. Mulai dari Arion yang mengetahui namanya pada masa lalu, kemudian senyum misterius yang ia tampilkan, dan yang terakhir Arion langsung pergi begitu saja setelah memberikan tanda tanya besar di kepala Lilian.
Seingat Lilian, ia tidak pernah menyinggung pasal dimana ia kembali ke masa lalu pada Arion. Namun melihat tatapan mata serta senyuman Arion membuat Lilian berpikir jika laki laki itu mengetahui segala hal yang juga ia ketahui.
"Lilian, Lo nggak apa-apakan?" Tanya Meira hati-hati.
Ketiga teman Lilian menatap khawatir ke arah Lilian. Sejak tadi Lilian hanya diam dan terlihat memiliki banyak masalah yang ia pikirkan dikepalanya.
"Nggak apa-apa." Jawab Lilian sambil menarik sedikit sudut bibirnya.
"Lo istirahat aja, Nggak apa-apa kok. Keknya Lo kelelahan setelah beberapa hari nyiapin stand kita." Kata Laura.
Kali ini Lilian tersenyum lebih lebar dari sebelumnya, "Gue nggak apa apa kok. Kalian tenang aja." Lilian memperhatikan keadaan sekitar stand yang padat dikunjungi oleh pengunjung. "Lagian lagi rame banget, yang lain juga pada kewalahan. Masa iya Gue harus istirahat sendiri." Lanjutnya.
"Ya nggak apa apa. Teman-teman yang lain juga kalok capek ... Ya istirahat. Kita dah bahas hal ini sebelumnya. Lo terlihat lelah, sebaiknya Lo istirahat aja." Kali ini Gladis yang menyarankan.
Lilian kembali menggeleng. "Nggak, Gue nggak kenapa-kenapa kok. Kalian santai aja." Gadis itu kemudian mengangkat nampan yang sejak tadi hanya ia pandangi kemudian berjalan menuju ke salah satu meja pengunjung.
Sedangkan ketiga teman Lilian masih memandangi Gadis itu dengan tatapan khawatir.
"Lo pada yakin kalok tuh anak bakal baik-baik aja?" Tanya Laura yang sejak tadi hanya diam.
"Nggak yakin sih, tapi mau kek gimana lagi? Orang anaknya aja kagak mau istirahat." Jawab Gladis dengan tatapan mata masih ke arah Lilian.
"Nah tadikan Lo berdua kesini bareng, kagak ada kejadian apa gitu dijalan?" Tanya Meira.
"Ada sih ... Tadi sebelum kesini kita ketemu sama Kak Arion dan teman-temannya." Gladis kembali mengingat kejadian beberapa waktu lalu. "Kak Arion sempat ngomongin sesuatu gitu ama Lilian, hanya saja Gue kagak denger." Lanjutnya.
"Terus?" Tanya Laura tak sabaran.
"Ya ... Nggak ada terusannya lagi! Kak Arion tampak membisikan sesuatu gitu ditelinga Lilian, setelahnya wajah Lilian menegang. Yang Gue lihat keknya Kak Arion tampak puas melihat raut wajah Lilian, setelahnya dia pergi sama teman-temannya." Ucap Gladis panjang.
"Serius?" Kali ini Meira yang bertanya.
Gladis mengangguk dengan antusias. "Dua rius malahan."
"Kira-kira apa yang dibisikan Kak Arion ya?" Tanya Laura penasaran.
"Jangan ... Jangan ..." Ucap Gladis gantung.
"Ahh dahlah ... Nggak usah mikir aneh. Toh Lilian juga bilang nggak apa-apa. Mending kita bantuin yang lain tuh, repot keknya." Meira menunjuk kearah pengunjung yang semakin lama semakin ramai.
"Ya sudah." Jawab Gladis lesu.
__________________________
Stand tempat Lilian dan teman-temannya semakin lama semakin ramai oleh pengunjung. Banyak sekali pengunjung berdatangan untuk mencicipi aneka kue yang disediakan oleh mereka.
Pengunjung yang datang bukan hanya dari kalangan remaja. Yang berumur dewasa dan masih duduk dibangku SMP dan SD pun ada.
Mereka datang lantaran penasaran dengan kue-kue yang disajikan. Bukan hanya tampilannya saja yang manis, kue-kue yang disediakan juga memiliki rasa manis yang pas untuk pecinta kue manis.
Tak hanya kue manis, Stand milik kelas Lilian juga menyediakan kue yang tidak terlalu manis bagi orang yang tidak menyukai makanan manis. Kue-kue itu juga dihidangkan dengan teh yang langsung dibuatkan oleh Lilian. Sehingga para pengunjung yang datang akan merasa puas meski harus berdesakan dengan pengunjung lain saat mengantri.
Tidak hanya itu, Lilian dan teman-temannya membuka sesi foto gratis untuk para pengunjung yang datang. Konsep kerajaan ala jaman-jaman dahulu ternyata banyak menarik minat dari pengunjung untuk mendekati stand.
Apalagi adanya kehadiran Lilian yang sejak awal menarik banyak perhatian. Dengan tampilannya yang menawan, ia mampu menarik banyak pengunjung. Meski pada akhirnya Lilian merasa kelelahan karena melayani para pengunjung dan harus ikut berfoto saat diminta oleh pengunjung yang datang.
Karena ramainya pengunjung yang datang ke stand X Ipa 1, Hal itu juga menarik perhatian Anin yang sejak tadi melirik ke arah stand milik Lilian dan teman-temannya. Tanpa pikir panjang, ia berjalan ke stand dan mendekati tempat Lilian berada.
Lilian hanya melirik sekilas ke arah Anin kemudian kembali sibuk dengan aktifitasnya.
Anin berdecak pelan dan menendang salah satu kaki meja yang berada di dekatnya. "Lo tuli?!"
Lilian menghela napas dan menatap dengan malas ke arah Anin. "Mau ngapain?" Tanyanya acuh.
Anin tersenyum puas setelah mendapat respon dari Lilian. "Stand kalian keknya lagi rame. Lo pakek cara apaan buat ngumpulin orang serame ini?" Tanyanya dengan nada menghina.
Lilian tertawa pelan mendengar ucapan Anin. "Kalo Lo nggak mampu buat stand Lo serame ini ... Setidaknya Lo nggak ngefitnah orang." Balas Lilian.
Anin mengepal kedua tangannya dengan sangat erat. "Siapa bilang stand gue sepi? Lo kagak tau aja kalau para pengunjung gue juga banyak!" Ucapnya tidak mau mengalah.
Lilian kembali tertawa mendengar ucapan Anin. "Lah terus Lo ngapain kesini kalo stand lagi rame?" Tanyanya dengan nada mengejek.
Anin mulai emosi mendengar ucapan Lilian. "Ya, terserah gue lah mau kemana! Apa urusannya sama, Lo?!" Ucapnya dengan nada sedikit tinggi.
Lilian melirik ke arah kiri dan dan kanan memastikan para penjung tidak merasa terganggu karena ulah Anin. "Tentu aja ada urusannya sama Gue! Lo kesini dan ganggu para pengunjung! Kalau Lo punya waktu luang lebih baik Lo ke tempat lainnya aja! Stand gue penuh dan nggak ada waktu buat ngeladenin orang macam Lo!" Ucap Lilian yang juga mulai kesal.
"Ehhh apa maksud Lo?!" Suara Anin semakin meninggi. "Gue disini adalah pembeli, dan Lo harusnya tau kalau pembeli adalah raja! Seburuk inikah pelayanan di stand kalian? Gue semakin yakin kalau orang-orang yang berada disini adalah orang yang sengaja Lo kumpulin agar kesannya Stand milik Lo rame oleh pengungjung!" Nada Anin semakin meninggi.
Para pengunjung mulai memandang ke arah keduanya. Suara Anin yang semakin meninggi membuat orang-orang di tempat itu penasaran.
Lilian menghela napas kasar dan menatap Anin dengan tajam. "Gue kagak ada waktu buat mikirin cara sampah kek gitu! Kalau stand Gue rame oleh pengunjung itu artinya kualitas stand Gue bagus." Ucap Lilian dengan nada tajam. "Kalau Lo pakek cara itu ke stand milik Lo setidaknya jangan fitnah orang lain." Lanjutnya dengan nada mengejek.
"Lo ..." Anin menunjuk ke arah Lilian dengan wajah memerah karena marah.
"Apa?" Tantang Lilian dengan tatapan tajam. "Oh iya satu lagi." Ucap Lilian sambil berpura-pura berpikir. "Pembeli emang adalah raja, Tapi ..." Lilian menggantung ucapannya dan maju selangkah agar ia lebih dekat dengan Anin.
"Sayangnya Lo bukan pembeli di stand Gue." Ucap Lilian dengan nada mengejek. "Kalau Lo pembeli ... Tempat Lo bukan disini tapi disana." Lilian menunjuk ke arah barisan pengunjung yang sedang mengantri panjang.
Anin ikut melihat ke arah para pengunjung yang sedang mengantri. Ingin sekali ia membalas ucapan Lilian namun bibirnya seakan tidak ingin terbuka walau hanya dengan mengucap satu kata saja.
"Lo nggak mungkinkan mau mengantri panjang? Apalagi stand Gue menerapkan sistim siapa cepat dia dapat. Siapa yang duluan mengantri maka Ia duluan yang akan dilayani." Ucap Lilian dengan senyum kemenangan.
"Ohh iya satu lagi kelupaan. S**tand kami menerapkan keadilan bagi setiap orang. Pengunjung harus mengantri dulu baru bisa di layani. Tidak ada kata teman dekat atau apalah alasannya agar dilayani duluan." Lanjut Lilian dengan senyum lebar.
Anin tidak bisa lagi membalas ucapan Lilian. Gadis itu berbalik dan berjalan sambil menghentakkan kaki keluar dari Stand.
Senyum Lilian semakin lebar melihat Anin yang pergi meninggalkan stand-nya.
"Maaf ya atas ketidak nyaman-nya tadi. Sekali lagi saya minta maaf." Ucap Lilian kepada para pengunjung.
"Si Mak Lampir ngapain kesini?" Tanya Denis. Di belakangnya ada beberapa teman Lilian yang juga datang setelah keributan kecil tadi.
"Cari masalah lagi dia pasti." Sinis kemal yang juga baru sampai.
"Kagak laku tuh pasti stand-nya." Cibir Bimo.
Lilian menghela napas pelan kemudian menatap temannya satu persatu. "Dahlah ... Kagak usah peduliin dia. Masih banyak pekerjaan yang harus di kerjakan." Ucap Lilian dsn berjalan menjauhi teman sekelasnya.
Teman Lilian manggut menyetujui ucapan Lilian kemudian kembali ke tugas mereka masing-masing.
_________________
Akhirnya sekian abad biasa UP juga. Setelah sekian lama hibernasi dari dunia pernovelan. Pekerjaan dunia nyata yang menyita waktu dan tenaga sehingga terpaksa membiarkan novel tanpa notif ðŸ˜ðŸ˜ðŸ˜ðŸ˜. Mudah²an tidak ada lagi pekerjaan yg akan menguras waktu, agar novel ini bisa berjalan aman dan damai sampai selesai. Amiinn