Lilian

Lilian
Reboisasi



Setelah semua murid selesai mendirikan tenda dan beristirahat sebentar. Pak Fadli kembali menyuruh seluruh murid agar berkumpul di sumber suara. Kegiatan awal mereka setelah sampai adalah reboisasi atau pananaman kembali pohon-pohon yang sebelumnya telah di tebang secara liar oleh penebang yang tidak bertanggung jawab.


Untuk menghindari bencana alam yang mungkin akan membahayakan banyak orang kedepannya, Rama dan pengurus osis lainnya merekomendasikan kegiatan reboisasi sebagai salah satu kegiatan wajib yang dilakukan oleh para murid. Kegiatan itu bertujuan agar semua murid memiliki rasa cinta alam terhadap lingkungan sekitar.


Setelah melalui proses panjang, kegiatan reboisasi akhirnya di setujui oleh pihak sekolah. Demi kelancaran kegiatan tersebut, pihak sekolah menyediakan seribu anak pohon yang akan di tanam di sekitar hutan yang mulai gundul. Ada tanda bendera Florenzo School di setiap pohon yang akan di tanam. Selain itu, pihak sekolah secara resmi mrndaftarkan kegiatan itu ke pemerintah setempat, sehingga bagi siapa saja yang berusaha menebang pohon itu di kemudian hari tanpa ijin, maka orang itu akan di kenakan sangsi sesuai peraturan perudang-udangan yang berlaku.


"Anak-anak semua ... Kegiatan awal kita di acara kemah tahunan ini adalah reboisasi. Di hutan sebelah selatan sana sudah ada banyak sekali pohon yang sudah di tebang secara liar. Akibatnya membuat hewan berupa monyet, serigala, bahkan orang utan yang jarang terlihat memasuki kawasan para penduduk untuk mencari makan. Belum lagi dampak lain yang mungkin akan terjadi untuk kedepannya, maka dari itu untuk menghindari kemungkinan yang terjadi, maka kita akan melakukan reboisasi kembali ke tempat hutan yang mulai gundul." Jelas Pak Fadli panjang.


"Pohon yang akan kita tanam di hutan sana sudah di sediakan oleh pihak sekolah. Sekarang tugasnya kalian yang akan menanamnya. Oh iya satu lagi, bagi anak-anak yang dari ekstrakurikuler fotografi agar segera merapat ke Ketua Osis, karena kalian akan mendapat tugas mengabadikan momen selama kegiatan reboisasi berlangsung." Jelas Paf Fadli lagi.


"Sampai sini ada yang mau bertanya?" Tanya Pak Fadli setelah penjelasannya selesai.


"Nggak ada, Pak!" Jawab semua murid serentak.


"Ok, langsung saja semuanya mengambil tugas masing-masing dari anggota osis. Yang dari anggota fotografi agar sekiranya langsung menghampiri Rama." Kata Pak Fadli.


Semua murid akhirnya membubarkan diri dan langsung mengerjakan beberapa pekerjaan sebelum mereka ketempat reboisasi. Arion, Lilian dan anak-anak dari fotografi lainnya berjalan menghampiri Rama yang terlihat sangat sibuk dengan tumpukan kertas di depannya.


"Tugas kami apaan, Kak?" Tanya salah satu murid perempuan yang termasuk dalam anghota fotografi.


Rama merapikan kertas-kertas di depannya kemudian menatap kearah suara prrempuan tadi. "Ketua kalian mana?" Tanyanya dengan sedikit nada sinis.


Semua pasang mata langsung mengarah kearah Arion yang berdiri mendekap kedua tangannya di depan dada. Arion berdiri paling belakang dan enggan sekali untuk menatap ke arah wajah Rama.


Dengan sedikit kesal, Rama berjalan dan mendekati Arion. Meski perasaan tidak sukanya jauh lebih besar terhadap Arion, namun Rama masih dapat berpikir jernih untuk tidak mengacaukan acara kemah tahunan yang sudah sejak lama ia persiapkan dengan susah payah.


"Ini tugas lo!" Rama memberikan beberapa lembar kertas kearah Arion. "Baca dan arahkan semua anggota lo untuk bekerja sesuai tupoksi masing-masing." Katanya dengan nada tegas.


Arion mengambil kertas dari tangan Rama tanpa mengatakan sepatah katapun. Setelahnya Rama kembali berjalan menuju ke tempanya semula, tidak sengaja ia bertatapan dengan Lilian yang juga berdiri tidak jauh dari tempat Arion berdiri.


"Lo juga termasuk anggota fotografi?" Tanya Rama sedikit terkejut melihat Lilian.


Lilian dengan ragu melirik ke arah Arion namun tetap saja menganggukkan kepalanya sebagai jawaban.


"Sejak kapan? Napa nggak masuk ekstrakurikuler lain aja?" Tanya Rama sedikit menyindir ke arah Arion.


"Sejak beberapa hari gue pindah." Jawab Lilian ragu, matanya mencuri pandang kearah Arion yang tampak sibuk membaca lembaran yang di berikan oleh Rama. "Gua suka dengan pemandamgan alam dan keindahan lainnya, untuk itu gue putusin buat ngambil fotografi sebagai ektrakurikuler wajib." Lanjutnya.


"Napa nggak ngambil ektrakurikuler bagian seni aja? Di sana kamu sangat leluasa melakukan banyak hal yang lo suka. Kalau lo berminat, gue bisa rekomenin lo sama temen gue. Kebetulan temen gue adalah ketuanya jadi lo bisa ngembangin bakat lo disana." Kata Rama panjang kali lebar.


Lilian kembali melirik kearah Arion yang masih tetap tenang dengan kertas di tangannya. "Nggak deh, gue cuman mau di fotografi aja." Jawabnya.


"Lo nggak perlu jawab sekarang. Lo bisa mikir dulu ... Beberapa hari kedepan baru lo ..." Ucapan Rama terhenti saat Arion tiba-tiba menarik Lilian dan menyembunyikan gadis itu dari arah belakang punggungnya.


"Dia kagak mau!" Kata Arion dengan tatapan tajamnya.


Rama terlihat tersenyum sinis kearah Arion. "Status pacaran aja udah main ngatur-ngatur orang lain." Sindirnya.


"Lalu bagaimana dengan lo yang maksa padahal lo nggak punya hubungan apapun dengannya?" Tanya Arion dengan satu kali tarikan napas.


Rahang Rama mengeras mendengar pertanyaan dari Arion. Sejak lama Arion selalu bisa membuatnya skatmat.


"Gue bukannya maksa! Gue hanya menuntunnya ke arah yang dia sukai." Kilah Rama.


"Lo pikir itu yang dia suka?" Tanya Arion, bibirnya terulas sebuah senyum sinis. "Jangan samakan Lilian dengan dia!" Sindir Arion.


"Semuanya ikut gue." Ucap Arion kemudian berjalan pergi meninggalkan Rama yang terlihat sedang menahan kekesalannya.


Arion baru melepaskan tangan Lilian setelah jaraknya dengan tempat Rama tadi sedikit menjauh. Ia membalikkan badannya dan menatap kesemua anggota intinya.


"Kita di tugasin buat ngambil gambar selama acara reboisasi berlangsung. Kalian semua bawa kamerakan?" Tanya Arion diakhir kalimatnya.


"Bawa." Jawab mereka serempak.


"Ok, Selain acara reboisasi. Kita juga di tugaskan untuk mengambil gambar pada acara-acara lain yang telah di rencanakan selama acara kemah berlangsung. Untuk itu kita perlu membagi anggota menjadi beberapa team." Kata Arion tegas. Di sini sosok kepemimpinan Arion bisa di lihat dengan jelas.


"Untuk acara reboisasi kita akan membagi anggota menjadi empat team. Masing-masing team memiliki tugas di tempat yang berbeda. Team pertama akan di pimpin langsung oleh gue sendiri dan bertugas di wilayah barat. Team kedua akan di pimpin oleh Rein dan akan bertugas di wilayah selatan. Team ketiga akan di pimpin oleh Mario dan akan memimpin wilayah utara. Dan team terakhir akan di pimpin oleh Farrel di wilayah timur. Masing-masing team tidak boleh melewati wilayah orang lain. Kita akan berkumpul dan melaporkan pekerjaan kita masing-masing setelah kegiatan reboisasi selesai." Jelas Arion panjang.


Lilian menatap salut ke arah Arion yang mengatur semua anggotanya dengan sangat baik. Pantas saja semua anak fotografi terlihat disiplin dan tegas saat bekerja, Arion telah mengatur mereka dengan sangat rapi sehingga tidak akan ada masalah saat mereka turun lapangan seperti saat ini.


Arion kembali memilih anggota yang akan mendampinginya selama ia mengambil gambar di wilayah barat. Lilian termasuk anggota yang Arion pilih untuk mendampinginya. Setelah semua selesai Arion jelaskan, semua mulai bergerak sesuai arahan yang sebelumnya Arion berikan.


Semua murid mulai berjalan menuju tempat reboisasi akan di langsungkan. Mereka berjalan sesuai arahan dari anggota osis. Setelah berjalan tidak terlalu lama, mereka sampai di tempat yang di tentukan.


Entah seberapa luas pohon di hutan itu telah di tebang secara liar. Itu sebabnya para hewan yang seharusnya hidup damai di hutan harus pergi keluar hutan lantaran pohon-pohon di dalam hutan sudah banyak yang di tebang. Pemandangan yang semua murid lihat saat ini sangat memprihatinkan, sebutan tempat itu adalah hutan namun penampakannya mirip ladang yang sudah di bersihkan dan siap untuk di tanami tanaman.


Semua murid langsung berkerja setelah lama memperhatikan sekitar. Lilian juga mulai mengikuti Arion dan mengambil beberapa gambar yang ia rasa perlu ia ambil menggunakan kameranya. Selama kegiatan itu berlangsung, Arion tidak membiarkan Lilian untuk berada jauh darinya. Padahal sangat jelas jika Arion mengatakan pada anggota lainnya agar tidak berdekatan satu sama lain selama mereka mengambil gambar. Hal itu dilakukan untuk menghindari pengambilan gambar yang sama.


Namun berbeda halnya dengan Lilian, Arion tidak membiarkan gadis itu berada jauh darinya. Karena tidak memiliki perkerjaan lain selain melihat Arion mengambil gambar, Lilian memutuskan untuk membantu murid lain menanam pohon sekitarnya.


Arion tidak melarang kegiatan yang Lilian lakukan, lelaki itu malah mengambil gambar Lilian puluhan kali. Lilian sendiri tidak menyadari jikalau Arion telah mengambil gambarnya diam-diam karena terlalu fokus membantu menanam pohon.


Setelah banyak mengambil gambar, Arion juga ikut membantu menanam pohon di sekitarnya. Kegiatan itu berlangsung cukup lama sampai matahari mulai masuk kembali keperaduannya. Namun beruntungnya sebelum gelap semua pohon-pohon itu sudah selesai di tanam. Sebagai penutup acara, semua murid melakukan sesi foto bersama.


Meski lelah, semua murid tampak menikmati momen saat mereka melakukan reboisasi. Semuanya berjalan dengan riang menuju tempat kemah mereka berada. Sesampainya di sana, mereka di suguhi oleh pemandangan yang sangat menggiurkan. Bagaimana tidak, seharian capek menanam pohon dan pulangnya di suguhi dengan banyak makanan.


Ada banyak sekali jenis makanan yang di sediakan oleh pihak sekolah untuk para muridnya. Mulai dari makanan laut sampai makanan yang jarang Lilian dan yang lainnya lihat.


Lilian mengambil tempat duduk yang letaknya tidak jauh dari tendanya di dirikan. Di tangannya sudah ada bebarapa jenis makanan yang tadi sudah ia pilih.


"Eh Lilian! Arion mana?" Tanya Audry dengan raut wajah tidak sedap.


"Tadi di panggil Pak Fadli." Jawab Lilian. Ya, sebelum Lilian mengambil makan, Pak Fadli datang dan mengajak Arion pergi bersamanya.


"Bilangin ke dia gue balik!" Kata Audry dan berjalan pergi.


Lilian cepat-cepat menyimpanan makanan-nya dan menyusul Audry. "Kak ... Kak ... Kak ..." Panggil Lilia, "Kak mau balik kemana?" Tanya Lilian panik.


"Balik ke Jakarta." Jawabnya malas sambil bersedekap dada.


"Tapi ini udah malam loh, Kak! Mana ada kendaraan malam-malam gini. Mending Kakak balik lagi dan tunggu sampai urusan Kak Arion kelar." Usul Lilian.


"Gue nggak bisa nunggu lebih lama lagi!" Jawab Audry sedikit meninggikan suaranya.


"Gue harap Kakak tetap tenang! Ada apa? Maksud gue kenapa Kakak mau balik? Acaranya kan masih dua hari lagi, napa Kakak malah mau balik aja?" Tanya Lilian untuk mengulur waktu.


"Gue nggak bisa lebih lama lagi Lilian!! Gue nggak bisa!!" Pekik Audry keras. Matanya mulai memerah dan tubuhnya mulai menggigil.


"Kakak baik-baik aja?" Tanya Lilian panik melihat keanehan Audry.


"Gue sedang nggak baik-baik aja!! Gue harap lo pergi! Tinggalin gue sendiri!!" Usir Audry dan mulai berjalan menjauh.


Lilian tidak bisa membiarkan Audry pergi sendirian, apalagi melihat kondisi Audry yang terlihat sedang tidak baik-baik saja. Ia mengikuti langkah kaki Audry yang menjauh dan menarik tangan gadis itu agar berhenti.


"Lo mau kemana?" Please tungguin Kak Arion bentar lagi." Harap Lilian.


Tubuh Audry semakin menggigil, wajahnya memerah dan tangannya mulai dingin. Dengan keras Audry menghempaskan tangan Lilian kemudian berlari kearah semak-semak. Dengan asal Audry mematahkan ranting pohon kemudian menggoreskan ranting pohon itu di tangannya.


Mata Lilian membulat sempurna melihat tangan Audry yang mulai mengeluarkan cairan merah kental. Bukannya kesakitan, Audry terlihat begitu menyukai hal yang ia lakukan saat ini.


"Apa yang lo lakuin?" Tanya Lilian panik dan merebut ranting di tangan Audry.


"Jangan ganggu gue Lilian!!" Marah Audry. Napasnya terdengar ngos-ngosan.


"Lo sadar nggak dengan hal yang lo lakuin? Hal itu bahaya dan melukai diri lo sendiri!!" Kata Lilian. Ia berusaha bersikap setenang mungkin menghadapi Audry.


"Gue sadar! Namun hal ini yang mampu menyadarkan gue dari kenyataan pahit yang gue rasain!!" Marah Audry. Air matanya mulai meluruh membasahi kedua pipinya. Kembali mencari hal lain untuk menggores tangannya.


Sekuat mungkin Lilian menahan Audry agar tidak lagi menyakiti dirinya sendir. "Tenanglah! Gue bisa menjadi pendengar buat lo! Tapi please tetaplah tenang." Lilian lansung memeluk tubuh Audry dengan erat.


Lilian dapat merasakan jika Audy sedang menggigil namun ini adalah salah satu efek dari penyakit yang Audry derita selama ini. Entah trauma macam apa yang Audry rasakan sehingga ia harus menyakiti dirinya sendiri.


Audry semakin lama semakin tidak dapat Lilian kendalikan, tubuh gadis itu seakan tidak tahan untuk tidak menyakiti dirinya sendiri. Bibir Audry bahkan mulai mengeluarkan banyak darah dan hal itu membuat Lilian semakin panik. Dengan cepat Lilian memeriksa kantong bajunya untuk mencari ponselnya, namun sayang ponselnya malah tidak ada.


"Disaat seperti ini ponsel gue malah nggak ada." Kesal Lilian sendiri.


Lilian masih berusaha menahan Audry agar tidak menyakiti dirinya sendiri sampai tangannya sendiri harus terkena goresan dari ranting yang Audry pegang. Meski darah ditangannya sudah menetes banyak, namun Lilian masih tetap bertahan sampai Audry tetap tenang.


"Lilian!" Panggil Arion.


"Dia datang ... Gue tau lo pasti datang." Batin Lilian dalam hati.


__________________