
Lilian berjalan dengan menghentakkan kakinya karena kesal. Ia bahkan menendang apa saja yang di anggap menghalangi jalannya. Kejadian di kantin membuat perasaannya kembali memburuk.
Lilian beberapa kali menghela napas kasar melihat sebelah sepatunya yang basah terkena cairan yang di lempar oleh Karin tadi.
"Sial ... Sial ... Sial ... Kalau tau begini seharusnya gue bawa sepatu cadangan dan di simpan di loket!" Gerutu Lilian sendiri sembari mencium aroma bau dari sepatunya.
"Nenek Lampir and The Geng nyampur bahan apa aja sih kok bisa aromanya menyengat gini ... Malah nggak ada sepatu cadangan lagi." Kesal, satu kata yang menggambarkan suasana hati Lilian saat ini.
Setelah kejadian di kantin tadi, Lilian memilih berjalan ke taman belakang untuk meredakan kekesalannya. Sepanjang perjalanan Lilian hanya menggerutu sendiri dan mulutnya tidak henti-hentinya menyumpah serapahi Sheril dan teman-temannya.
"Mulai besok gue harus nyiapin banyak baju ganti dan sepatu di loket ... Jika kejadian seperti ini terulang lagi maka gue nggak pusing seperti sekarang ini." Gumam Lilian sendiri.
Orang yang tidak mengerti dengan situasi yang Lilian alami saat ini akan menganggap gadis itu aneh, kerena di sepanjang jalan Lilian terlihat berbicara sendiri dengan raut wajah berbeda-beda.
"Kira-kira jika gue ijin keluar sekolah sebentar di ijinkan nggak ya?" Ucap Lilian sambil memeriksa jam di ponselnya. "Masa iya gue belajar tanpa alas kaki? Kalau baunya nggak terlalu menyengat gue tinggal nyiram aja nih sepatu ... Cuman masalahnya aromanya benar-benar busuk ... Entah apa yang mereka campurkan sehingga menghasilkan mahakarya seperti ini. Ehhh tapi jika di ingat-ingat, apa kabar dengan mereka yang terkena cairan itu di seluruh tubuhnya?" Lilian kembali mengingat kejadian di kantin tadi.
"Syukurin ... Rasakan itu! Niat hati mau nyiram gue, ehhhhh senjata maka Tuan jadinya." Lilian tertawa kecil mengingat seluruh tubuh Sheril terkena cairan bau itu.
Lilian terus saja berjalan dengan cekikan kecil keluar dari mulutnya, hingga akhirnya ia sampai di ujung lorong dan berniat berbelok namun niatnya terhenti ketika seseorang tiba-tiba mulcul di hadapannya.
"Aniijirr ... Eh anjiiiirrr ..." Kaget Lilian sampai mundur beberapa langkah ke belakang.
Mata Lilian membulat serta jantungnya berdegup sangat kencang dan napasnya pun terputus-putus karena terlalu kaget.
"Kenapa Kakak harus muncul tepat di hadapn gue? Asli gue kaget banget! Jantung masih amankan?" Tanya Lilian lebih ke diri sendiri sambil memegang di mana jantungnya berada.
"Memangnya kenapa dengan jantung lo? Berdegup kencang karena dekat denga gue?" Tanya Mario sambil menaik turunkan alisnya ke arah Lilian.
"Ih pede amaat! Gue kaget lihat Kakak tiba-tiba muncul di hadapan gue ... Tentu saja gue harus tanya jantung gue masih aman atau tidak. Kalau copot atau gue kena serangan jantung, mau tanggung jawab?!" Ketus Lilian.
Mario menatap Lilian dengan senyuman manisnya. "Boleh ... Kalau jantung lo copot ... Ambil saja jantung gue sebagai gantinya." Sambil memegang ke arah jantungnya dan mendekatkan dirinya lebih dekat ke arah Lilian.
Lilian mendorong pelan dada Mario sehingga laki-laki itu terdorong beberapa langkah ke belakang. "Kayaknya Kakak udah gila! Kakak sebaiknya cepat ke Psikiater dan periksa mentalnya."
"Hahahahhahahahahaha ..." Mario tertawa keras mendengar ucapan dari Lilian sambil memegang perutnya.
"Ini orang kayaknya kerasukan ... Kok ngeri ya." Gumam Lilian pelan kemudian berniat meninggalkan Mario yang tertawa sendiri.
Mario berhenti tertawa dan menarik tangan Lilian pelan. "Nih ..." Mario memberikan paper bag yang sejak tadi ia pegang kepada Lilian.
Lilian mengerutkan kening bingung kemudian menatap Mario dan paper bag di tangannya bergantian. "Ini apaan?" Tanyanya sambil melirik ke arah paper bag di tangan Mario.
Mario kembali mengangkat paper bag di tangannya dan memberi kode kepada Lilian untuk mrngambilnya. "Ambil dan lihat!"
Lilian masih tidak ingin mengambil paper bag tersebut dan menatap Mario curiga. "Lo mau ngerencanain apa sama gue?" Tunjuk Lilian.
Mario menarik tangan Lilian dan memaksanya untuk mengambil paper bag tersebut. Meski tidak ingin menerimanya begitu saja namun setelah aksi dorong mendorong, Lilian akhirnya mau menerima paper bag tersebut.
Lilian membuka dengan ragu isi dari paper bag tersebut, namun setelahnya mata Lilian membulat melihat sebuah kotak sepatu serta beberap makanan yang ada di dalam paper bag tersebut.
"Sepatu lo mengeluarkan bau tidak enak, entah apa yang Sheril campurkan sehingga cairan itu berbau tidak enak." Jelas Mario dengan senyuman manisnya.
Lilian menatap Mario lama dengan banyak pertanyaan di kepalanya. "Kenapa lo ngasih gue sepatu ini?" Tanyanya penasaran.
"Karena lo butuh." Jawab Mario.
"Terus makanan-makanan ini?" Tanya Lilian lagi.
"Tadi gue lihat lo belum sempat makan di kantin ... Karena kasihan, gue akhirnya kasih lo sepatu serta makanan itu." Gurau Mario.
Lilian mengembalikan paper bag di tangannya dengan kesal ke arah Mario. "Gue nggak perlu di kasihani." Ketusnya tidak senang.
Mario hanya tertawa pelan kemudian mengusap pelan kepala Lilian. "Gue hanya bercanda." Ucapnya kemudian kembali memberikan paper bag tersebut.
Lilian sejenak tertegun merasakan sentuhan tangan dari Mario. Ia merasa tangan itu sangat hangat dan nyaman, Lilian merasa tidak asing dengan sentuhan serta senyuman dari Mario.
"Kenapa lo baik terhadap gue?" Pertanyaan itu tanpa sadar Lilian ucapkan.
Mario sejenak berpikir. "Kenapa ya? Entah karena apa tapi gue rasa hal ini perlu gue lakukan." Ujarnya dengan senyuman hangat.
"Tapi ..." Ucapan Lilian menggantung.
"Ahh sudahlah ... Jika menolak maka lo nggak akan bisa keluar sekolah di jam sekarang. Lagian lo nggak akan mungkin belajar dengan sepatu bau itu kan? Yang ada teman-teman lo pada kabur ... Jika lo masih saja sungkan maka lain kali lo harus traktir gue makan gimana?" Tanya Mario dengan nada lembutnya.
Mario tersenyum manis sambil mengusap pelan rambut Lilian. "Kalau gitu gue pergi dulu
... Jangan lupa di makan makanannya."
Lilian mengangguk pelan kemudian matanya tetap menatap ke arah punggung Mario pergi. Tangan Lilian memegang tempat di mana Mario mengusap kepalanya tadi, rasanya masih saja hangat dan nyaman. Lilian benar-benar familiar dengan perasaan yang tengah ia rasakan saat ini.
_______________
Arion sejak tadi berbaring pada sebuah kursi panjang dengan sebelah tangan yang menutupi sebagian wajah tampannya. Meski matanya tertutup namun telingannya fokus mendengarkan obrolan dari kedua temannya yang sejak tadi membahas tentang Lilian. Setelah menyaksikan aksi dari Lilian tadi, ketiganya langsung berjalan menuju rooftop tempat yang selalu menjadi favorite Geng Andromeda.
"Anjiiiir .... Nggak nyangka gue tuh cewek memiliki kemampuan bela diri sehebat itu. Empat murid laki-laki ia berantas tanpa sedikitpun perlawan dari ke empatnya." Ujar Farrel takjub dengan aksi Lilian tadi.
"Tuh Cewek badannya aja yang mungil tapi kemampuannya perlu di pertanyakan. Ia baru beberapa hari bersekolah di sini namun dalam beberapa hari tuh Cewek mampu menggemparkan satu sekolah." Ujar Rein menambahi.
"Benar baget tuh ... Namanya Lilian bukan?" Tanya Farrel yang langsung di angguki oleh Rein sebagai jawabannya.
"Pertanyaan ini mungkin malas lo dengar namun untuk ke sekian kalinya gue lagi-lagi mau mempertanyakan hal ini. Serius lo nggak kenal sama tuh Cewek?" Tanya Farrel sambil mengamati raut wajah Rein
Rein mendengus pelan. "Mesti berapa kali gue jawab tidak?" Jawabnya dengan nada acuh. "Gue baru lihat tuh Cewek pas dia sekolah di sini aja ... Hari di mana dia meluk Arion adalah pertama kalinya gue lihat dia." Lanjutnya.
Farrel menggaruk kepalanya bingung. "Ada ya orang yang memiliki warna mata yang sama dengan keluarga Arisena. Atau siapa tahu dia ..." Ucapan Farrel terhenti saat melihat tatapan pembunuhan dari Rein.
"Lo jangan mikir yang aneh-aneh ... Spesies di muka bumi ini ada banyak. Memiliki warna mata yang sama adalah hal yang wajar. Tidak terkecuali antara warna mata gue dan dia." Jelas Rein.
"Benar juga." Ucap Farrel.
Arion tiba-tiba terbangun dari tidurnya kemudian matanya langsung tertuju ke arah Rein. "Jika di lihat-lihat bukan hanya mata yang mirip. Namun wajah kalian berdua jika diperhatikan memiliki kemiripan." Ucapnya tiba-tiba.
Rein dan Farrel menatap ke arah Arion tidak percaya. Tidak biasanya teman mereka yang satu itu menimpali ucapan ke duanya terlebih pembahasan kedua temannya adalah mengenai gadis yang akhir-akhir ini selalu menjadi tranding topic di sekolahnya.
"Tuh kan ... Arion saja setuju dengan gue!" Ucap Farrel sambil menunjuk ke arah Arion.
"Lo nggak biasanya menimpali pembahasan kami ... Kenapa kali ini lo kelihatannya peduli?" Tanya Rein menatap heran ke arah Arion.
"Nggak ... Hanya memberikan argumen." Jawab Arion dengan.
"Tcckk gue udah bilang ... Gue nggak kenal, mau mirip atau gimapun namanya gue nggak kenal ya nggak kenal." Kesal Rein lelah selalu di tanyakan dengan hal yang sama.
"Santai aja dong ... Kita cuman nanya. Kalau nggak kenal ya sudah ..." Kata Farrel kemudian menyenderkan punggungya pada sandaran kursi.
Tiba-tiba pintu rooftop berbunyi dan menampilkan sosok Mario dari balik pintu. Arion, Rein dan Farrel sontak menatap ke arah tamannya itu yang sejak tadi tidak bersama dengan mereka.
"Kemana aja lo? Tiba-tiba hilang kayak setan aja." Celetuk Farrel.
Marion mendudukan dirinya pada salah satu kursi yang berada di dekat Farrel. "Kenapa lo? Kangen sama gue?" Tanyanya sambil menaik turunkan alisnya.
Farrel pura-pura seperti berakting seperti orang yang sudah muntah. "Najiisss lo! Hilang aja lo sana ... Bosan gue yang ada lihat muka lo tiap hari!" Ujar Farrel.
"Alaaahh bilang aja lo nggak tahan jauh-jauh dari gue." Ucap Mario dengan ekspresi menggoda ke arah Farrel.
"Ihhh najis gue lihat lo ... Sampai merinding gue coba." Ucap Farrel sambil memeluk tubuhnya.
Mario hanya menanggapinya dengan tertawa pelan.
"Memangnya lo dari tadi kemana? Perasaan bareng ke kantin ehhh tiba-tiba menghilang aja." Ucap Rein.
"Tadi perut gue mules ... Gue lihat kalian bertiga lagi serius baget menonton pertunjukan dari Lilian, nggak mau mengganggu akhirnya gue putusin ke toilet sebentar ... Pas gue balik kalian udah nggak ada." Jelas Mario.
"Tadi kita langsung ke sini setelah Lilian pergi. Napsu makan gue hilang setelah mencium bau busuk dari tubuh si Sheril." Celetuk Farrel.
Mario hanya menggangguk pelan tanpa menjawab ucapan dari Farrel. Arion yang sejak tadi memperhatikan interaksi ke tiga temannya akhirnya bangun dari tempat duduknya.
"Balik ... Bel udah berbunyi." Ucap Arion singkat.
"Anjirrr capek-capek gue kesini ... sampai sini malah disuruh balik." Kesal Mario.
Rein dan Farrel tertawa keras mendengar ucapan Mario sedangkan Arion sendiri sudah berjalan sendirian meninggalkan ketiga temannya.
______________
Ini part pengganti kerena kemarin Author nggak UP.