
Lilian berjalan dengan sedikit tergesa untuk menghindari tatapan dari Arion, sejak tadi wajah Lilian selalu saja memerah tiap kali Arion tersenyum ataupun berkata manis kepadanya. Senang, ya tentu saja satu kata itulah yang sekarang ini menggambarkan perasaan dari Lilian. Sejak pertama kali bertemu dengan Arion, pemuda itu selalu saja bersikap dingin dan tidak terlalu banyak berbicara kepadanya. Kehidupan Arion bagai tidak tersentuh sama sekali namun semakin lama Lilian mengenalnya semakin mudah baginya untuk mendekati pemuda itu.
Masih dengan senyuman lebarnya Lilian mendekati salah satu penjual soto untuk memesan pesanan yang Arion inginkan.
"Bibi ... Pesan sotonya dua sama es tehnya dua." Kata Lilian sambil mengacukan jari tengah dan telunjuknya.
"Tunggu sebentar ya ..." Kata Bi Emi sambik tersenyum sopan.
Lilian hanya mengangguk pelan kemudian mengeluarkan ponsel dari kantong jas-nya. Ada beberapa notif dari ketiga temannya yang menanyakan dimana Lilian berada. Jari lentik Lilian mengetik balasan untuk teman-temannya agar ketiganya tidak merasa khawatir kepadanya.
Bunyi notif kembali terdengar, setelah memerika isi notif Lilian langsung mendonggakkan kepalanya kemudian menengok ke arah kiri dan kanan kantin untui mencari keberadaan ketiga temannya.
Senyum Lilian melebar ketika melihat ketiga temannya sedang duduk disalah satu meja yang letaknya sedikit jauh dari tempat Lilian berdiri. Lilian akhirnya melambaikan tangan kepada ketiga temannya kemudian kembali mengetik sesuatu di atas layar ponselnya.
...Cecannya Florenzo School...
Lilian~
Gue ntar kesana ... Tapi harus ngantarin makanan Kak Arion dulu.
Gladis~
Nggak apa-apa kok kali ini lo nggak bisa gabung bareng kita ... Lihat lo sama Kak Arion yang so sweet gitu udah cukup bagi kita ... kapan lagi coba bisa lihat senyum kak Arion.
Meira~
Sumpah kalian berdua sweet banget Lilian ... Gue aja ampe senyum-senyum nggak jelas lihat lo berdua.
Laura~
Uwww kantin serasa milik berdua ... Jangan terlalu sering mengumbar kemesraan didepan umum ... Kasian kita yang jomblo gini. Lihat yang sweet gitu juga pasti buat kita menangis ... ðŸ˜
Lilian tidak bisa untuk tidak tersenyum setelah membaca pesan dari ketiga temannya. Namun pandangannya dari layar ponsel harus teralihkan saat Bi Emi datang dengan membawa pesanan Lilian ditangannya.
"Pesanannya udah jadi ... Mau Bibi yang bawakan saja dimejanya?" Tanya Bi Emi sopan.
"Nggak usah Bibi ... Biar Lilian sendiri aja. Lagian nggak berat kok ..." Kata Lilian dengan senyum ramahnya.
Lilian menyimpan ponselnya kembali ke dalam saku jasnya kemudian ia mengambil alih makanan dari tangan Bi Emi dan berjalan menuju meja yang ia dan Arion tadi tempati.
Saat dijalan, tiba-tiba Sheril muncul kemudian mendorong nampan yang Lilian bawa sehingga kuah soto serta minuman yang Lilian bawa tumpah semua ke bajunya.
"Aww ..." Pekik Lilian keras.
"Uppsss ... Sorry gue nggak sengaja." Ucap Sheril dengan angkuhnya.
Lilian menggeram pelan dan menatap tajam ke arah Sheril dan ketiga orang yang berdiri tepat di hadapannyaa. Tercetak jelas senyum culas pada bibir Sheril melihat karya yang ia buat pada baju Lilian.
"Makanya lain kali kalau jalan lihat-lihat dong." Ucap Naomi dengan senyum sinis.
Lilian mencoba mengatur napasnya agar tidak terpancing oleh Sheril dan teman-tannya. "Kak Sheril yang terhormat ... Siapa disini yang kalau jalan harus melihat dengan benar? Perasaan jalan disamping masing sangatlah besar, namun kenapa Kak Sheril harus memilih jalan yang dengan ku?" Tanya Lilian masih dengan mengontrol emosinya.
"Ehhh gue sejak tadi emang udah ngambil jalan ini ... Dasar lo nya aja yang nggak bisa melihat dengan benar." Kata Sheril angkuh.
Lilian masih harus mengontrol emosinya agar tidak meledak. "Ok. Mungkin memang gue yang tidak bisa melihat dengan benar." Pasrah Lilian.
Lilian sebenarnya ingin melawan namun ia tidak ingin mengacaukan suasana bahagia yang tengah ia rasakan. Dari pada harus meladeni Sheril lebih baik Lilian pergi agar tidak membuat mood baiknya menjadi jelek.
"Ehh lo mau kemana?" Tanya Sheril saat melihat Lilian mulai melangkah menjauhinya.
"Pergi bersihin baju gue dan meminta bantuan Bi Emi buat beresin sisa pecahan mangkok." Jawab Lilian santai.
"Ehhh nggak bisa gitu dong ... Lo tadi udah buat gue kaget dan seharusnya lo minta maaf pada gue!" Nada suara Sheril mulai meninggi.
"Kak Sheril yang terhormat. Apa lo nggak lihat siapa disini yang kondisinya sangat mengenaskan? Baju lo masih terlihat bersih dan nyaman. Gue sebenarnya udah mau mengalah pada lo agar hari ini nggak ada keributan." Kata Lilian masih memepertahankan ketenangannya.
"Ehhh jelas-jelas lo yang salah! Seharusnya lo berlutut dan minta maaf pada Sheril. Nggak tahu diri banget ... Udah salah malah mau nyelonong gitu aja." Kata Karin membela temannya.
"Kenapa gue harus berlutut dan meminta maaf atas masalah yang nggak gue perbuat? Jika seandainya Kak Sheril udah ngambil jalan yang sama dengan gue masa iya Kak Sheril nggak lihat gue dari arah lain." Kata Lilian masih menahan emosi.
"Mata gue nggak terbiasa lihat orang-orang kotor kek lo! Sejak tadi gue udah ngambil jalan yang sama namun dasar lo nya aja yang nggak mau menghindar dan akhirnya lihat penampakan lo yang sekarang ... Sungguh mengenaskan namun pas sih kalau menurut gue." Ucap Sheril sambil tersenyum meremehkan ke arah Lilian.
"Kalau sejak tadi, kenapa lo nggak menghindar saat melihat gue? Sepertinya lo sengaja cari masalah dengan gue!" Ucap Lilian sudah mulai emosi.
"Emang kenapa kalau gue sengaja cari masalah sama lo? Mau apa lo?" Tanya Sheril menantang.
"Ohhh ternyata benar ya lo sengaja. Gue udah baik-baik tidak mau cari ribut dengan lo, namun lo masih saja mau cari ribut sama gue." Kesal Lilian.
Semua orang yang ada di dalam kantin mulai berbisik satu sama lain melihat keributan antara Lilian dan Sheril.
"Udahlah Ril ... Ngapain lo cari mainan yang modelnya kek begini." Ucap salah satu gadis yang sejak tadi berdiri dibelakang punggungnya Sheril.
Lilian menggeser tubuhnya sedikit dan matanya langsung bertubrukan dengan mata seorang gadis yang baru saja ia lihat. Pertama menginjakkan kaki di Florenzo School Lilian hanya melihat Sheril selalu bersama kedua temannya namun kali ini muncul seorang gadis yang sama sekali belum pernah Lilian lihat.
"Lo hanya buang-buang waktu aja untuk bermain dengannya. Akan lebih baik kita cari mainan lain saja." Saran gadis itu dengan tatapan mencemooh ke arah Lilia.
Sheril tertawa kecil mendengar ucapan dari temanya itu. "Audry ... lo nggak tau aja betapa menariknya mainan di depan lo saat ini." Katanya sambil tersenyum sinis.
Lilian yang ditatap seperti itu tentu saja merasa risih. Baru pertama kali Lilian melihat seseorang yang bermulut tajam dan tatapan mengitimidasi seperti Audri, nama yang dipanggil oleh Sheril.
"Rein dari anggota Andromeda begitu sangat melindunginya ... Belum lagi sepupu lo yang sekarang mungkin sedang terkena pelet olehnya." Kata Sheril dengan tatapan marahnya ke arah Lilian.
Audry melayangkan tatapan tidak suka ke arah Lilian dengan sangat kentara. Kata-kata Sheril barusan begitu mengusik ketenangan yang sejak tadi ia jaga.
"Ternyata juga seorang ja**ng." Ucapnya tajam.
Lilian menaikan sebelah alisnya dan tersenyum sinis ke arah Sheril dan Audry. "Benar kata orang ... Kalau kita harus pintar-pintar cari teman main. Kalau tidak tersesat yaaa pasti akan menyesatkan."
Audry menatap Lilian dengan tatapan tajamnya. "Sepertinya yang lo bilang benar, Ril. Dia adalah mainan yang paling menarik, kita akan bersenang-senang untuk kedepannya." Ucapnya sinis.
Audry dan Lilian sama-sama melempar tatapan tajam untuk satu sama lain. Entah kemana gadis itu pergi sehingga Lilian tidak pernah melihatnya. Jika Sheril memiliki sifat cepat marah dan selalu meledak, Audry adalah kebalikan dari Sheril. Gadis itu tampak sangat bisa mengontrol emosinya namun gadis itu juga memiliki tatapan yang membuat lawannua akan merasa takut.
Lilian sendiri tidak merasa takut dengan Audry, namun untuk keamanan Lilian harus tetap waspada agar tidak ada hal buruk yang akan terjadi untuk kedepannya.
"Sayangnya gue bukan mainan yang bisa kalian mainin. Jika gue ngerasa tertindas maka gue akan melawan. Jika selama ini lawan yang kalian temui selalu saja diam dan menerima nasib ..." Kata Lilian terjeda kemudian ia kembali tersenyum sinis. "Gue malah kebalikannya." Lanjutnya.
Audry kembali menatap Lilian dengan tatapan sinisnya. "Kita lihat saja ... Kedepannya apakah lo masih bisa mengatakan hal yang sama seperti hari ini."
Ingin sekali Lilian membalas ucapan dari Audry, namun tiba-tiba Arion datang dan memaksa tubuhnya menghadap ke arah laki-laki itu.
"Lo nggak apa-apa?" Kata pertama yang Lilian dengar keluar dari mulut Arion.
Lilian melirik tampilannya ke bawah lalu kembali menatap ke arah Arion. "Nggak apa-apa ... Hanya saja seragamnya nggak bisa lagi dipakai buat belajar." Katanya santai.
"Dia yang salah kok Arion." Ucap Sheril tiba-tiba dan memegang tangan Arion dari samping.
Arion menutup matanya karena menahan marah kemudian menghempaskan tangan Sheril dengan sangat kuat. "Jangan sentuh gue." Ucapnya dengan tatapan tajam.
"Arion ... Jangan sampai lo tertipu dengan gadis ja**ng itu! Dia yang buat masalah sama gue dan nggak mau minta maaf atas kesalahannya." Kata Sheril dengan muka memerah.
Arion tersenuyum sinis mendengar ucapan dari Sheril. "Ohhh ... Jadi disini lo adalah korbannya?" Tanyanya dengan raut wajah yang membuat orang-orangnya harus menahan napas.
"Ten ..Tentu saja." Ucap Sheril gugup.
"Ohhh ... Bagaimana bisa korban memiliki pakaian sebersih lo." Tunjuk Arion dengan raut wajah tajamnya.
"I ... itu." Suara Sheril terasa tersendak di tenggorokkan-ya.
"Kenapa lo harus buang-buang waktu buat ngurus masalah ini Arion." Tanya Audry dengan senyum manisnya dan berjalan mendekati Arion.
"Dia."Tunjukknya ke arah Lilian. "Yang cari masalah duluan." Lanjutnya.
Arion kembali tersenyum sinis. "Baru kali ini gue lihat seorang Audri yang tidak cari masalah duluan."
Audry terdiam dengan muka masam-nya. "Lo nggak percaya dengan sepupu lo sendiri dan malah mempercayai gadis itu?" Tanya Audry tidak terima
"Faktanya selama ini lo yang selalu buat masalah. Jika sebelumnya gue tidak peduli maka kali ini perlu gue tegaskan. Jangan ganggu dia!" Tekan Arion di akhir kalimatnya.
Suasan kantin semakin menegang, Arion selama ini tidak pernah berkomentar setiap kali Audry berulah, namun untuk kali ini sepertinya Audry salah memilih lawan.
"Gue adalah sepupu lo ... Jika lo lupa." Kata Audry menahan kesal.
"Lalu kenapa jikalau lo sepupu-nya Arion? Jika Arion akan membela lo maka yang pertama gue lakuin adalah memukul kepalanya dengan sangat keras." Ucap Rein yang tiba-tiba saja ikut bergabung.
Audry mengepalkan tangan kesal melihat Rein yang juga ikut membela Lilian dan lelaki itu sekarang berdiri tepat disamping Lilian sambil membersihkan bajunya yang tertumpah kuah soto.
"Lo juga ikut membelanya?" Tanya Audry.
"Apakah gue harus membela lo? Jika lo lupa maka gue ingatkan kembali apa yang lo lakuin terakhir kali. Lo di skors karena masalah bullying namun untuk kali ini lo nggak akan bisa menyentuhnya." Tegas Rein.
Audri benar-benar marah mendengar ucapan Rein. Selama ini sudah banyak cara yang ia lakukan untuk mendapatkan perhatian dari Rein namun sebanyak apapun usaha yang ia lakukan tetap saja tidak dapat membuat lelaki itu meliriknya.
Audry menatap sengit ke arah Lilian, tanpa di minta perasaan benci terhadap gadis itu tumbuh dengan sendirinya. Audry merasa usahanya mendekati Rein sia-sia karena kehadiran Lilian.
"Dasar cewek ja**ng!!" Audry tiba-tiba berjalan maju dan berusaha menyerang Lilian.
Tangan Audry berusaha meraih rambut Lilian namun dengan cepat Arion menangkap tangan Audry kemudian menghempaskannya ke belakang. "Jangan sentuh dia!!" Suara Arion terdengar memekakan telingan bagi pendengar.
Tatapan tajamnya menghunus tepat ke arah mata Audry. "Waktu sebulan sepertinya nggak cukup buat lo untuk merenungkan kesalahan yang lo perbuat." Kata Arion dengan raut wajah serius.
"Apa perlu gue kirim lo keluar negri?" Tanya Arion dengan tatapan tajamnya.
Audry benar-benar ingin memusnahkan Lilian dari hadapannya. Baginya Lilian sudah mengambil semua kebahagiaannya, selama ini apapun yang ia lakukan Arion tidak pernah membentak atau mengancamnya seperti sekarang ini. Tanpa di minta, air mata Audry akhirnya membasahi kedua pipinya.
Sebelum pergi meninggalkan semua orang, Audry memberikan ancaman pada Lilian. "Lo lihat aja apa yang bisa gue perbuat meski lo di lindungi oleh dua orang yang gue sayang."
Setelah mengatakan hal itu, Audry pergi bersama Sheril dan kedua temannya yang lain meninggalkan kantin. Sedangkan Arion langsung menarik tangan Lilian pergi meninggalkan kantin untuk mengganti seragamnya yang sudah kotor.
Rein, Farrel, dan Mario juga ikut mengikuti langkah Arion yang sudah berjalan sedikit menjauh. Suasana kantin pun kembali normal setelah orang-orang yang dianggap penting di Florenzo School telah meninggalkan kantin.
Selama pertikaian antara Lilian dan Audry, semua murid tidak ada yang mau mengeluarkan suara sedikitpun. Mereka tidak ingin terlibat masalah yang akan membuat mereka berada dalam masalah yang besar. Diam adalah pilihan terbaik agar mereka terus berada diposisi aman.
_________________