
Lilian mencoba mengatur kembali napasnya agar lebih tenang lagi. Melihat lukisan wajah pada masa lalunya membuat Lilian sedikit merasa terkejut sekaligus penasaran.
"Seint?" Tanya Arion.
Sebelumnya Lilian menyebut nama Seint tanpa sengaja. Meski Lilian menyebutnya dengan nada pelan, namun Arion masih bisa dengan jelas mendengar Lilian menyebutkan nama itu dari mulutnya.
"Lilian! Jawab gue! Sikap lo yang diem kek gini buat gue khawatir!" Arion sedikit mengguncang kedua bahu Lilian agar gadis itu sadar dari lamunannya.
"Lo ... Dapat lukisan itu dari mana?" Lilian akhirnya baru mengeluarkan suara setelah kesadarannya kembali.
Tatapan mata Lilian juga sangat serius membuat Arion semakin bingung dengan kelakuan gadis itu.
"Lukisan?" Tanya Arion. Ia mengalihkan pandanganya ke arah lukisan yang sengaja ia gantung tepat di atas ranjang king size miliknya.
Lilian mengangguk pelan sebagai jawaban dari pertanyaan Arion.
"Gue buat sendiri." Jawab Arion.
Mata Lilian membulat sempurna mendengar jawaban Arion. Wajah Lilian pada lukisan itu sangatlah berbeda dengan wajah Lilian yang sekarang. Pada masa lalunya Lilian memiliki wajah sedikit tirus dengan warna mata yang berbeda. Selain itu warna dan model rambut yang berbeda serta warna kulit Lilian yang juga sedikit berbeda. Namun anehnya Arion malah mengatakan jika lukisan itu hasil dari coretan tangannya sendiri.
"Tapi kok ..." Lilian sedikit ragu untuk menayakan tentang lukisan itu.
Bisa saja Arion mengatakan Lilian sedang berhalusinasi jika ia menceritakan tentang time travel yang pernah ia alami. Namun Lilian juga penasaran darimana Arion mendapatkan inspirasi untuk melukis wajah pada masa lalunya itu.
"Gue ngelukis itu sebelum gue ketemu ama lo." Jawab Arion.
Lilian semakin penasaran setelah mendengar ucapan Arion.
"Kok bisa?" Tanya Lilian tidak sabaran. Ia bahkan memperbaiki cara duduknya agar ia bisa dengan nyaman membahas lukisan wajahnya itu.
Arion mengangguk pelan kemudian berjalan menaiki ranjangnya. Dengan hati-hati Arion mengeluarkan lukisan itu di dinding kamarnya kemudian membawa lukisan itu ke hadapan Lilian.
"Lihat tanggalnya." Tunjuk Arion pada salah satu coretan angka pada pojok bawah lukisan itu.
Benar saja, Lukisan itu ternyata di buat oleh Arion dari tahun lalu. Itu artinya pada waktu itu Lilian sedang dalam keadaan koma atau ia lagi mengalami time travel ke masa lalunya.
"Percaya atau nggak... Lo selalu muncul dalam mimpi gue! Anehnya, hampir tiap hari gue mimpiin lo mengenakan baju kerajaan seperti dalam lukisan." Ucap Arion sambil mengingat beberapa mimpi yang selalu ia lihat.
"Awalnya gue pikir sebagian ingatan gue ilang. Sehingga mimpi-mimpi itu selalu datang tiap gue melek. Namun tetap aja semua orang yang kenal gue bilang ... Kalau gue kagak pernah kecelakaan atau apapun itu yang ngebuat gue jadi amnesia atau apalah!" Papar Arion tentang mimpinya.
Lilian tertegun mendengar pemaran dari Arion tentang mimpinya. "Apa mungkin saat gue time travel ... Arion juga mengalaminya? Cuman yang ia alami hanya sepotong-potong saat ia sedang tidur doang."Batinnya.
"Lo napa diem aja?" Tanya Arion yang kembali menyadarkan Lilian.
"Oh nggak kok ... Gue cuman penasaran aja ama mimpi lo." Jawab Lilian dengan senyum canggung.
"Gue juga gitu ... Awal ketemu ama lo pas dikantin ... Gue kek kenal lo lama. Namun sekuat apapun gue berusaha mengingat lo, tetap aja kagak ada yang gue ingat. Hingga akhirnya gue lihat lukisan ini ..." Ujar Arion sambil menatap ke arah lukisan wajah Lilian.
"Awalnya gue pikir lukisan ini sedikit mirip dengan lo ... Hanya saja semakin lama, gue ngerasa kalau lukisan ini memang wajah lo. Cuman dalam mimpi gue, kita berdua sering memakai pakaian kerajaan ... Gue ngerasa bahwa gue dan lo yang ada di mimpi itu. Cuman ... Ah sudahlah." Pasrah Arion di akhir kalimatnya.
"Kenapa?" Tanya Lilian cepat. Ia sangat ingin mendengar cerita lengkap tentang mimpi Arion.
"Lo nganggep gue aneh?" Tanya Arion curiga.
"Nggak kok! Gue malah pengen dengar cerita lo lebih jelasnya lagi." Jawab Lilian cepat.
"Kenapa?" Arion kini berbalik merasa penasaran dengan Lilian.
"Itu ... Itu ... Karena." Lilian sedikit ragu menceritakan hal apa saja yang pernah ia alami pada Arion.
"Karena apa?" Arion mencoba menekan Lilian dengan tatapan mengintimidasinya.
Lilian selalu terlihat ragu menceritan sesuatu kepada Arion. Itu sebabnya Arion memberikan tatapan mengintimidasi kepada Lilian agar gadis itu mau membuka diri dan sedikit bercerita kepadanya.
"Lo percaya adanya reinkarnasi nggak?" Tanya Lilian dengan raut wajah seriusnya.
"Lo bercanda? Di jaman yang udah canggih kek gini lo masih percaya yang kek begituan?" Tanya Arion heran.
Sejenak Lilian mengehela napas pelan. "Lo percaya atau tidak? Jawab gitu aja susah amat!" Ketus Lilian tidak sabaran.
"Nggak!" Jawab Arion datar.
"Gue percaya." Jawab Lilian dengan raut wajah seriusnya.
"Maksud lo?" Tanya Arion heran.
Lilian terbangun dari duduknya dan berlari kearah pintu. Setelah memastikan tidak ada orang disekitar pintu, Lilian akhirnya menutuo pintu itu dari dalam kemudian kembali duduk ke tempatnya semula.
"Gue juga mimpi hal yang sama kek lo." Kata Lilian sambil menunjuk ke arah Arion.
"Itu sebabnya gue panggil lo dengan sebutan Seint! Dalam mimpi gue ... Nama lo adalah King Alpenseint Balaz! Seorang Pangeran Mahkota dari kerajaan Apollonia. Pertama Lihat lo di kantin ... Tentu aja gue keingat dengan mimpi gue itu." Jelas Lilian.
Arion hanya terdiam mendengar ucapan Lilian. Memang pertemuan pertama keduanya Lilian memanggilnya dengan nama Seint, nama itu juga di anggap spesial bagi Lilian. Sehingga gadis itu akan memanggil Arion dengan nama Seint di waktu tertentu saja.
"Gue pernah cerita kalau gue pernah koma kan?" Tanya Lilian.
Masih tidak menjawab, Arion hanya menganggukkan kepalanya pelan sebagai jawaban.
"Gue koma tahun lalu ... Selama gue koma, yang gue mimpiin adalah lo! Udah gitu banyak amat yang gue laluin dalam mimpi! Percaya atau tidak ... Mimpi itu kek beneran." Kata Lilian heboh.
Arion masih terlihat diam tanpa suara. Memang benar jika Lilian pernah mengalami koma yang cukup lama karena kecelakaan. Mimpi bagi Arion hanyalah bunga tidur, namun untuk mimpi yang selalu datang setiap kali ia memejamkan mata membuat Arion sedikit bingung.
"Dalam mimpi nama gue pun masih Lilian! Lebih lengkapnya adalah Lilian Daisyla Marven." Ucap Lilian dengan mantap.
Hal itu berarti jika yang Lilian ceritakan bukanlah kebohongan. Arion belum pernah menyebut atau menceritakan kepada siapa pun tentang inisial LDM. Namun gadis itu malah menyebutnya secara gamlang dihadapan Arion sendiri tentang ini sial LDM itu sendiri.
"Ada apa?" Kali ini Lilian lah yang bertanya.
"Apa mungkin kita ..." Ucap Arion ragu.
"Munkinlah." Jawab Lilian yang mengerti arah pembicaraan Arion.
Tentu saja Lilian merasa yakin adanya reinkarnasi. Lilian mengalami time travel dan kembali ke jamannya sediri. Jika ia hanya mendengar cerita dari orang lain tentu saja Lilian tidak akan mudah percaya begitu saja.
"Mungkin aja pada masa lalu kita berdua nggak bersatu! Terus dilahirkan kembali untuk menyelesaikan sesuatu yang belum kelar." Tebak Lilian.
Namun beberapa saat kemudian Lilian baru menyadari tentang ucapannya barusan. "Gue dilahirkan kembali? Waktu itu gue ditarik ke masa lalu untuk menyelesaikan hal yang nggak bisa jiwa masa lalu gue kerjain ... Oh astagaaaa gue baru nyadar sesuatu ... Mungkinkah gue dilahirkan kembali karena sesuatu?" Batin Lilian.
"Apa yang belum kelar?" Tanya Arion yang mrmbuyarkan lamunan Lilian.
Lilian menggeleng pelan. "Gue juga nggak tau." Jawabnya.
Arion langsung menghela napas pelan. Saat keduanya ingin membahas tentang mimpi Arion lagi, pintu kamar Arion diketuk dari luar.
"Tuan Muda ... Non Lilian! Tuan dan Nyonya besar memanggil kalian berdua! Katanya pembahasan mereka udah selesai dan Tamu akan segera pulang." Lapor salah satu pelayan dari luar pintu.
"Baiklah." Jawab Arion.
Tidak lama setelahnya pelayan itu pergi. Arion dan Lilian juga mulai melangkah keluar kamar untuk menemui orang tua masing-masing. Pembahasan tentang mimpi Arion akan mereka bahas lagi di kemudian hari.
_______________________
Lilian berguling-guling tak jelas diatas ranjang king size-nya karna memikirkan mimpi yang di alami oleh Arion. Setelah keluar dari kamar Arion, keduanya langsung menuju ruang keluarga tempat kedua orang tuanya berada.
Ingin sekali Lilian sedikit lebih lama lagi berada disana untuk membahas kelanjutan mimpi yang Arion lihat setiap hari. namun ia tidak berani mengutarakan keinginanya itu kepada Rahadian dan Efina.
Meski raut wajah kedua orang tuanya terlihat tenang namun tidak akan ada yang menjamin jika keduanya sedang bahagia. Itu sebabnya Lilian harus mengalah dan pulang setelah berpamitan kepada Aditia, Elisa dan Arion.
Dan disinilah Lilian berada, di dalam kamarnya yang tidak bisa dibilang kecil. Sejak sampai ke rumahnya Lilian terlihat uring-uringan karena masih merasa penasaran dengan cerita mimpinya Arion.
Mungkin saja jika mimpinya Arion ada hubungannya dengan time travel yang dialami oleh Lilian. Tatanan rumah serta desain rumah Arion menyerupai tatanan dari kerjaan Apollonia jaman dahulu membuat Lilian semakin yakin jika mimpi Arion ada hubungannya dengan kembalinya ia ke masa modern-nya.
"Gimana caranya agar si datar mau cerita lagi." Ucap Lilian yang berada di balik selimut yang ia gunakan untuk menggulung tubuhnya.
"Tuh orang paling susah kalau di suruh cerita ... Apalagi tentang mimpi. Mungkin aja ia nggak akan pernah mau menceritakan mimpinya lagi!!" Kesal Lilian sambil memukul bantal yang berada disampingnya.
"Terus bagaimana caranya gue bisa ngebujuk tuh orang buat cerita." Ucap Lilian dengan lesu.
Meski kemungkinan kecil untuk Arion kembali menceritakan mimpinya. Namun Lilian tetap membuat beberapa strategis untuk membuat Arion mau menceritakan lebih jelas lagi tentang mimpinya.
"Kalau di pikir-pikir ... Apa mungkin sekarang gue juga harus ngelakuin sesuatu? Bisa jadi gue dilahirkan kembali untuk menangkap orang-orang jahat lagi." Gumam Lilian pelan.
"Yah ... Apes amat idup gue! Kagak peduli tentang apapun lagi ... Pokoknya si datar tetap harus jadi pacar gue! Biar perlu jadi pasangan hidup." Ucap Lilian sambil meyakinkan dirinya sendiri.
"Ah udah ah! Tambah pusing gue mikirin hal itu." Ucap Lilian.
Lilian kemudian kembali menarik selimutnya sampai menutup kepala. Untuk saat ini yang ia perlukan adalah tidur, biarkan semua yang terjadi padanya mengalir apa adanya. Kali ini Lilian ingin hidup sesuai dengan keinginannya maka dari itu ia memilih untuk mengistirahatkan diri dan pikirannya.
__________________________
Tidak jauh dari yang dialami oleh Lilian. Arion juga merasakan hal yang sama. Sejak Lilian berpamitan pulang bersama kedua orang tuanya membuat Arion merasakan penasaran yang sama besarnya dengan yang Lilian rasakan.
Mimpi yang ia alami tentang Lilian selalu saja datang setiap ia memejamkan mata. Mimpi itu seperti kaset yang berputar terus menerus dan menjelma menjadi sebuah ingatan.
Ingin sekali Arion menahan agar Lilian sedikit lebih lama lagi di kediamannya. Namun keinginannya itu harus ia kubur dalam-dalam lantaran Rahadian memiliki pertemuan penting dengan rekan bisnis yang tidak bisa ia tinggalkan.
Itu sebabnya Arion lebih memilih sabar dan akan mencari waktu yang tepat lagi untuk membahas tentang mimpinnya dengan Lilian.
"Dia keknya tau sesuatu." Gumam Arion pelan sambil memandang pemandangan malam di luar jendela kamarnya.
"Reinkarnasi? Hal bodoh semacam itu?" Tanya Arion kepada dirinya sendiri.
"Namun Lilian memang terlihat akrab dengan gue sejak awal. Gadis itu memanggil gue dengan nama tengah dan anehnya gue suka kalau dia yang ngelakuin hal itu." Gumam Arion heran.
"Ah sudahlah ... Lebih baik pikirkan lain kali aja." Ujar Arion kemudian menutup jendela kamarnya.
Arion kembali menatap lukisan yang ia buat sendiri. Bibirnya sedikit tertarik ke atas ketika bayangan tentang Lilian tidak sengaja muncul di pikiranya.
Setelah merasa puas dengan memandang lukisan wajah Lilian. Arion pun langsung menjatuhkan dirinya begitu saja ke atas ranjang king size miliknya. Biarkan ia mengistirahtkan pikirannya yang memutar tentang kejadian yang selama ini ia alami bersama Lilian.
"Gue harap gadis itu bisa lebih terbuka lagi saat bersama dengan gue." Harap Arion.
Tidak lama setelahnya Arion memutuskan untuk menutup kedua matanya secara perlahan. Tidak lama setelahnya Arion pun terlelap dengan tubuh yang seperti tengkurap.
Mimpi yang selalu datang setiap kali ia memejamkan mata kini kembali lagi datang. Terlihat Lilian yang sedang melompat lompat kecil di sekitaran bunga daisy. Senyum dan kebahagian gadis itu terlihat nyata dimata Arion.
Melihat senyum Lilian membuat Arion juga merasakan ketengan dan kedamaian. Meski hal itu adalah mimpi dibawah alam sadarnya. Namun tetap saja ia merasa sangat bahagia melihat Lilian yang juga bahagia.
"Lilian Daisyla Marven." Tanpa sengaja Arion menyebutkan nama itu dalam mimpinya.
Gadis yang berada dalam mimpi Arion sepontan berbalik memandang kearah Arion dengan senyum lebar dibibirnya. Gadis itu sedikit berlari menuju tempat Arion berdiri dengan membawa keranjang kecil yang berisi bunga daisy yang sudah ia petik.
"Seint ... Lihatlah bunga yang baru saja aku petik ini! Cantik, bukan?" Tanya Lilian dengan senyum mengembang.
_______________________