
Lilian menatap malas ke arah ketiga temannya yang sedang sibuk memilih asesoris yang sedang trend untuk remaja seumurannya. Setelah selesai mengerjakan tugas sekolah, ke empat gadis itu berangkat menuju salah satu mall besar yang ada di Jakarta.
Tempat yang pertama kali mereka kunjungi adalah sebuah cafe yang memiliki tema kekinian. Disana ada banyak sekali menu makanan yang sangat di gemari oleh para kaum remaja, bukan saja nuansa cafe yang nyaman, namun penyajian serta rasa dari menu yang disediakan sangat enak dan pas unruk ukuran kantong anak SMA.
Setelah menghabiskan makanan, ke empatnya kemudian mencoba makanan lain yang juga di jual oleh beberapa stand yang masih berada di mall tersebut, hingga akhirnya langkah kaki mereka membawanya ke salah satu toko yang menyediakan berbagai macam aksesoris.
Sudah hampir satu jam ketiga temannya memilih aksesoris, namun sampai sekarang ketiganya belum ditahap untuk membayar. Hal itu membuat Lilian bosan dan sedikit jengkel
Bukan tidak menyukai aksesoris-aksesoris itu, namun Lilian terbiasa melihat banyak perhiasan saat ia melakukan time travel, hal itu membuatnya merasa terbiasa melihat sesuatu yang cantik dan berkilau.
Sambil menunggu ketiga temannya yang sedang memilih aksesoris, Kaki Lilian berjalan menuju salah satu toko yang letaknya tidak jauh dari toko aksesoris tersebut. Toko yang Lilian kunjungi adalah sebuah toko buku yang memiliki ukuran yang cukup besar. Toko itu menyediakan banyak sekali buku-buku yang berjejer disepanjang rak dan masih terbungkus rapi.
Kaki Lilian berjalan menuju rak yang menyiadakan novel atau komik. Senyum manis Lilian terlukis jelas diwajahnya saat melihat ada banyak sekali novel best seler yang biasa lewat diberanda instagram-nya untuk promosi pemasaran.
Tangannya meraih salah satu novel kemudian Lilian membaca sinopsisnya dengan diam. "Dari sinopsisnya sih bagus." Gumam Lilian pelan sambil memeriksa judul novel tersebut.
Setelah memeriksanya dengan teliti, Lilian memutuskan untuk membeli novel itu. Bukan cuman satu, Lilian bahkan mengambil beberapa buku yang menurutnya bagus. Kaki Lilian terus berjalan dan berhenti pada salah satu rak yang menyediakan novel time travel.
Ingatan Lilian kembali ke masa dimana ia juga pernah melakukan perjalanan waktu yang cukup lama. Bibirnya mengulas senyum pahit saat ia mengingat banyak hal yang ia lewati pada masa itu. Lilian rindu dengan kedua orang Tua, Kakak-Kakaknya, sahabat, orang terdekat dan Seint.
Lilian rindu akan sikap manis yang selalu Seint lakukan kepadanya, lelaki itu selalu bersikap dingin terhadap orang lain namun tidak kepadanya. Lelaki itu cenderung banyak bicara saat menghabiskan waktu bersamanya dan yang paling Lilian sukai adalah saat lelaki itu bersikap malu-malu saat Lilian goda.
Tidak Lilian sadari, ia menghabiskan waktu yang cukup lama hanya untuk mengenang masa lalunya. Lilian bahkan tidak menyadari bahwa sejak tadi ada seorang lelaki yang menatap ke arahnya dengan raut wajah bingung.
"Hampir semua orang pernah merasakan yang namanya sakit hati. Namun hal itu bukan menjadi kendala untuk seseorang melanjutkan hidupnya. Jadikan pengalaman pahit itu sebagai pelajaran hidup untuk lo kenang agar suatu saat nanti lo tidak akan lagi merasa sakit atau kecewa." Ucap lelaki itu tepat disamping Lilian berada.
Lilian menengok ke samping dan menemukan seorang lelaki yang tidak ia kenal. Spontan Lilian mencari orang lain yang lelaki itu ajak bicara. Kening Lilian berkerut bingung saat matanya tidak menemukam siapa pun yang berada dekat dengannya.
"Maksud lo?" Tanya Lilian akhirnya. Ia tidak menemukan siapapun selain ia dan lelaki itu, sehingga ia menyimpulkan jikalau lelaki itu sedang berbicara kepadanya.
"Gue sering banget lihat cewek yang memiliki raut wajah yang seperti lo tampilkan sekarang." Ucap lelaki itu lagi.
Lilian semakin tidak mengerti dengan ucapan lelaki itu. "Maksud lo apasih? Gaje banget ..."
Lelaki itu kemudian menghembuskan napas pelan. "Ekspresi lo saat ini adalah ekspresi yang menunjukkan cewek yang sedang patah hati." Katanya dengan nada santai.
Lilian akhirnya mengerti maksud dari lelaki yang sekarang berdiri berhadapan dengannya saat ini. "Lo nggak usah sok tahu ya!" Kesal Lilian.
Lelaki itu tersenyum sinis. "Tampang lo lebih jujur ketimbang mulut lo." Ucapnha lagi.
"Sumpah lo gaje banget! Dari sisi mananya gue terlihat seperti cewek yang sedang patah hati?" Tanya Lilian.
"Dari semu sisi! Sejak tadi lo hanya memandang ke arah yang gak jelas ... Raut wajah lo bahkan terlihat sangat sedih. Raut wajah seperti itu biasanya di miliki oleh seseorang yang sedang patah hati." Jelas lelaki itu yang menambah kekesalan Lilian.
"Sepertinya lo pakar melihat raut wajah seseorang! Namun sayangnya kali ini lo salah!" Ucap Lilian kembali mengontrol emosinya.
"Terus ngapain lo berdiri bengong sejak tadi disini seperti seseorang yang sedang patah hati?" Tanya lelaki itu lagi.
"Itu karena gue sedang mikir mau beli novel ini atau tidak!!" Lilian menunjukkan salah satu novel yang berada ditangannya.
"Alaaahhh sejak tadi lo hanya berdiri diam dan tidak berniat membeli buku itu ...." Ucap lelaki itu.
"Lahh kok lo nyolot sih? Terserah gue dong mau ngapain aja. Mau berdiri seharian atau apapun itu ya terserah gue!" Kesal Lilian.
"Apa susahnya untuk ngaku? Toh juga berbohong tidak akan mengobati rasa sakit hati lo." Ucap lelaki itu dengan raut wajah tenang.
Sepanjang jalan menuju kasir, mulut Lilian tidak henti-hentinya mengutuk lelaki yang ia anggap sok tahu itu. Bukan hanya tidak kenal, namun lelaki itu sangat memaksa Lilian untuk mengatakan hal yang tidak Lilian alami saat sekarang.
"Bagaimana mau patah hati ... Do'i aja nggak punya ... Tunggu si Es Papan Datar meleleh dulu baru gue punya pacar." Gumam Lilian sendiri.
Setelah membayar beberapa buku yang ia pilih, Lilian akhirnya berjalan keluar toko dan melambaikan tangannya ke arah ketiga temannya berada.
"Lo kemana aja sih? Dari tadi kita cari malah nggak ada." Kata Laura saat ia dan kedua temannya sampai dihadapan Lilian.
Lilian menunjukkan beberapa novel yang ia beli sebagai jawaban. "Tadi kalian bertiga lama banget milih aksesoris-nya. Karena merasa bosan, gue akhirnya mampir ke toko buku selagi menunggu kalian memilih." Ucap Lilian.
Ketiga teman Lilian tersenyum cengengesan mendengar ucapan Lilian. Memang sejak tadi ketiganya sedang asik memilih aksesoris sampai lupa dengan keberadaan Lilian. Setelah waktu yang cukup lama mereka habiskan untuk memilih, ketiganya baru sadar jikalau Lilian tidak berada di dekat mereka.
Setelah membayar dan mengambil belajaannya, ketiga teman Lilian akhirnya memutuskan untuk mencari keberadaan Lilian. Meira bahkan mencoba menelpon Lilian namun gadis itu tidak merespon sedikitpun panggilan telepon dari ketiga temannya.
"Sor**ry, Ini memang salah kami terlalu sibuk memilih dan melupakan lo, tapi semua ini bukan sepenuhnya kesalahan kami. Tadi di toko aksesoris kami udah berusaha menelpon untuk menanyakan keberadaan lo ... cuman lo nya aja yang nggak ngangkat telepon sama sekali." Kata Gladis membela diri.
Lilian membuka tas ransel-nya kemudian mengambil ponselnya. Memang benar ada banyak sekali panggilan dari ketiga temannya yang masuk. Hanya saja Lilian mengatur ponselnya dalam mode diam sehingga ia tidak dapat mendengar suara ringtone dari ponselnya.
"Oh iya. Ada banyak sekali panggilan masuk." Kata Lilian sambil menunjukan ponselnya kepada teman-temannya.
"Tuh kan apa gue bilang ..." Ucap Gladis heboh.
"Iya ... Iya gue juga salah ... Tadi karena takut ganggu kalian gue pergi nggak bilang-bilang. Jadi maafin gue ya!" Ucap Lilian sambil tersenyum manis.
Meira, Laura, dan Gladis kompak mengangguk. "Maafin kita juga ya." Ucap ketiganya kemudian mereka saling berpelukan.
Lilian akhirnya dapat kembali meraskan pelukan dari sahabatnya. Pertama kali ia mendapatkan pelukan hangat dari sahabat lewat Violet dan Fania pada masa lalunya namun ternyata di masa sekarang Lilian juga mendapatkan sahabat baik seperti pada masa lalunya.
Hal itu membuat Lilian merasa senang, akhirnya impian di masa kecilnya terwujud juga. Dari dulu ia selalu ingin memiliki sahabat yang selalu berada di sampingnya dan berbagi kisah bersama seperti saat ini.
"Selanjutnya kita mau kemana?" Tanya Meira setelah melepaskan pelukannya.
"Main games aja kayaknya seru!" Usul Gladis.
"Gus setuju." Ucap Lilian pertama menyetujui usilan Gladis.
"Gue juga setuju." Ucap Laura senang.
"Kalau begitu ayo kita pergi sekarang." Ajak Laura.
Ke empat gadis itupun akhirnya berjalan menuju timezone. Permainan pertama yang Lilian kunjungi adalah tempat dance. Butter adalah lagu yang Lilian pilih untuk memainkan permainan itu, dengan gerakan lincah serta langkah kaki yang sangat cepat membuat ketiga teman Lilian bersorak menyemangati Lilian.
Banyak juga pengunjung yang berhenti sejenak dari kegiatannya hanya untuk melihat ke arah Lilian. Banyak sekali ungkapan kagum dari para pengunjung yang melihat kecantikan Lilian. Gadis mungil yang memiliki banyak pesona selalu saja membius banyak orang dimanapun ia berada.
Sorakan ramai kembali terdengar saat score nilai Lilian menunjukkan angka sempurna dan ada banyak sekali kupon keluar dari mesin tersebut. Setelah selesai dengan permainan itu, ke empatnya beralih ke permainan balapan mobil. Ke empatnya membagi dua tim, dengan tim pertama di isi oleh Lilian dan Meira dan tim kedua di isi oleh Gladis dan Laura.
Lilian dan Laura menjadi anggota penyemangat untuk Gladis dan Meira yang melakukan pertandingan. Ke empatnya bermain dengan penuh kebahagian, hinga akhirnya tim Gladis dan Laura memenangkan pertandingan. Sebagai hadiah kemenangan, Lilian dan Meira harus mentraktir keduanya makan di kantin sekolah besok.
Permintaan tersebut kemudian disetujui oleh Lilian dan Meira. Ke empatnya kembali memainkan permainan lain yang disediakan ditempat itu. Hingga tidak terasa waktu menunjukkan sore hari dan sebentar lagi akan berganti malam. Ke empat gadis itu akhirnya memutuskan untuk kembali pulang ke rumah masing-masing setelah menghabiskan waktu bersama.
________