Lilian

Lilian
Perasaan itu



Arion masih menatap Lilian dengan aura dinginnya, namun gadis yang ditatap hanya memberikan senyuman manis bagai gula kepadanya.


"Apa yang lo mau cepat katakan!" Suara dingin Arion bahkan membuat orang-orang yang menyaksikan keduanya bergidik ngeri dengan hanya mendengarnya.


Lilian masih mempertahankan senyumnya. "Pertama Kakak harus duduk dulu." Ucap Lilia. sambil menunjuk tempat yang sebelumnya Arion duduki.


Arion tidak melakukan permintaan Lilian, Ia hanya menatap tajam ke arah gadis itu.


"Masih menginginkan ponsel mu kembali bukan?" Tanya Lilian dengan mata berbinar.


Arion dengan rasa keterpaksaannya menuruti kemauan gadis didepannya. Namun jika nanti keingin gadis itu tidak sesuai keinginannya maka dengan cara apapun Arion akan memberi pelajaran yang tidak akan Lilian lupakan seumur hidupnya.


Lilian kembali memberikan botol mineral yang tadi dibuang oleh Arion. Sebelum Lilian mengatakan apapun, Arion terlebih dahulu mengeluarkan suara.


"Gue tidak haus dan lo pikir gue bakalan minum air yang sudah gue buang?" Tanya Arion dengan nada dinginnya.


"Ekhmmm maaf ikut campur, namun sebaiknya lo beli minuman yang baru aja buat di kasih ke Arion." Ujar Mario tiba-tiba yang sedari tadi hanya menonton keduanya.


"Arion tidak akan pernan mau mengambil sesuatu yang sudah dis buang ... Apalagi sesuatu yang harus diminum seperti itu." Ucap Reibn ragu sambil mengamati raut wajah kesal dari Arion.


Lilian menatap ketiga teman Arion secara bergantian. "Siapa yang mau memberinya minuman?" Kalau dia haus pergi beli aja sendiri!" Kata Lilian yang langsung mendapat tatapan tidak percaya dari ketiga teman Arion.


"Laahh bukannya kamu kesini mau memberinya minuman?" Tanya Farrel dengan mata membola.


"Siapa bilang? Gue kesini bukan mau ngasih dia minuman." Ucap Lilian sambil menatap Arion yang juga menatap matanya.


"Lalu untuk apa kamu menyerahkan botol minuman itu kepada Arion?" Tanya Mario penasaran.


Lilian menghelas napas pelan. "Untuk mengobati luka gue." Jawab Lilian santai.


"Luka?" Tanya ketiga teman Arion dengan kompak.


Bukan cuman ketiga teman Arion yang bingung, Arion sendiri-pun bingung dengan ucapan yang keluar dari bibir Lilian barusan.


"Apa maksud mu?" Tanya Arion masih dengan raut wajah datarnya.


"Tadi penggemar Kakak datang melabarak ... Akibatnya tangan gue memerah kek gini." Tunjuk Lilian ke arah tangannya yang masih terlihat sedikit memerah.


"Terus apa hubungan sama gue?" Tanya Arion mulai kembali kesal dengan gadis didepannya.


"Urusannya Kakak harus bertanggung jawab pada gue!" Jawab Lilian enteng.


"Lo apain anak orang Arion? Perasaan nih cewek baru pindah kemarin ... Kenapa langsung minta tanggung jawab?" Tanya Farrel ambigu.


"Lo ngehamilin anak orang Arion?" Tanya Rein dengan suara sepelan mungkin.


"Gilaaaa ternyata kelakuan lo lebih bejat dari kita-kita." Ucap Mario sambil menggelengkan kepalanya.


"Diam!!" Kesal Arion sambil memijit keningngya pusing dengan kelakuan ketiga temannya yang semakin hari semakin aneh, belum lagi ia harus menghadapi gadis licik di depannya ini.


"Kenapa gue harus tanggung jawab kepada sesuatu yang nggak gue lakuin?" Pertanyaan Arion kembali membuat ketiga temannya menatapnya dengan tatapan aneh.


Arion mengabaikan tatapan ketiga temannya dan hanya fokus ke arah Lilian yang saat ini bersedekap dada.


"Tentu saja karena Kakak ... Gue harus menerima kerugian dari segi fisik maupun mental seperti sekarang! Selain tangan gue yang memerah, bisa saja besok-besok mental gue yang bermasalah karena terus-terusan dilabrak oleh para penggemar mu." Jawab Lilian tanpa merasa bermasalah sedikitpun.


"Gue pikir mental lo sekarang sudah bermasalah!" Kesal Arion dengan mata melotot ke arah Lilian.


"Kalau begitu mulai hari ini Kakak harus bertanggung jawab terhadap mental gue!" Nada Likian mulai meninggi mengikuti nada dari Arion.


"Nggak." Kesal Arion.


"Nggak apa?" Tanya Lilian heran.


"Nggak mau!" Ketusnya.


Kantong plastik itu ternyata berisi es batu yang sekarang mulai mencair. Lilian memaksa Arion agar menerima kantong plastik itu kemudian mendudukan diri disampingnya dan memberikan tanggannya untuk di obati.


Arion menghala napas pelan dan kembali memijit keningnya pelan. "Kenapa harus gue?" Pertanyaan itu kembali ia ucapkan dengan nada dinginnya.


"Masih membutuhkan ponsel mu tidak? Jika tidak mau ya sudah ... Ponselnya buat gue aja." Ujar Lilian sambil berdiri dari duduknya dan berniat berjalan menjauh.


"Tunggu." Ucap Arion kemudian membuang wajah ke arah lain. "Duduk." Lanjutnya.


Lilian tidak bisa lagi menahan bibirnya agar tidak tersenyum lebar. Meski es batu nya sudah mencair dan minumannya sudah tidak dingin lagi namun Lilian merasa sangat puas karena rencananya hari ini telah berhasil. Lilian bisa merasakan sentuhan lembut dari tangan Arion masih sama dengan sentuhannya pada masa lalunya.


Saat Lilian terluka maka Seint selalu datang untuk mengobati lukanya, meski luka kecil namun Seint selalu menunjukan raut wajah khawatir ketika mengetahui Lilian sedang terluka. Tidak terasa cairan bening mulai turun membasahi kedua pipi Lilian, isak tangisnya membuat Arion mendongak dan menatap tepat ke arah mata Lilian yang tidak hentinya mengeluarkan air mata.


Sejenak Arion merasakan sesak dihatinya melihat gadis yang di hadapannya menangis. Arion merasa tidak rela melihat mata cantik gadis itu mengeluarkan cairan bening.


"Apakah sesakit itu?" Tanya Arion pelan meski masih dengan raut datarnya.


Lilian mengangguk cepat. "Sakit sekali ... Kau bilang tidak akan melupakan ku dan berjanji hanya ada aku dihatimu! Tapi kenapa setelah semuanya, kau malah melupakan ku! Kau benar-benar harus bertanggung jawab atas rasa sakit ku ... Kau melupakan ku, kau menyakiti ku ... Kau harus bertanggung jawab." Tangis Lilian pecah, tidak peduli dia di anggap aneh oleh semua orang, hatinya benar-benar merasakan sakit karena orang yang ia sayangi tidak dapat mengingatnya.


Meski bingung dengan yang di ucapkan oleh Lilian, entah mengapa Arion dapat merasakan kesedihan yang sama dengan gadis didepannya ini. Hatinya terasa tertikam belati melihat gadis itu menangis, Arion merasa bahwa ialah yang membuat gadis itu terluka. Namun sekuat apapun ia mengingat, tidak ada kenangannya yang mengingatkannya pada gadis itu.


Arion juga tidak pernah mengalami kecelakaan yang membuat ingatannya hilang namun kata-kata yang diucapkan gadis di depannya itu seakan nyata dan dialah penyebab luka itu.


Arion mengalihkan pandangannya ke arah temannya untuk bertanya namun ketiga temannya juga tidak mengerti dengan ucapan Lilian. Tangan Arion akhirnya bergerak meraih kepala Lilian dan menyembunyikan wajah gadis itu ke dalam dada bidangnya.


Lilian kembali menangis sejadi-jadinya dalam pelukan hangat Arion. Pelukan ini yang Lilian rindukan, tanpa Lilian minta Arion dengan sendirinya memeluk gadis itu dengan sangat erat. Berharap luka gadis itu sedikit berkurang meski Arion sendiri tidak mengerti mengapa ia harus memeluknya.


__________________


Seluruh Florenzo School gempar dengan kejadian antara Arion dan juga Lilian dilapangan. Setelah Lilian meluapkan semua isi hatinya dengan menangis dalam pelukan Arion gadis itu akhirnya terlelap karena merasa sangat lelah.


Melihat Lilian yang terlelap dalam pelukannya, Arion tidak tega meninggalkan gadis itu begitu saja. Ia akhirnya memutuskan untuk menggendong Lilian menuju tempat yang biasa mereka kunjungi yaitu rooftop.


Setelah kepergian Geng Andromeda dengan membawa Lilian bersama mereka, seluruh sekolah kembali gempar. Banyak sekali tulisan-tulisan yang dimuat dalam blok sekolah yang membahas tentang keduanya.


Berita-berita itu seakan menjadi pencarian nomor satu diblok sekolah hanya dalam hitungan menit saja. Hal itu membuat para penggemar Arion semakin marah kepada Lilian, terutama Sheril yang sejak awal mengatas namakan Arion sebagai miliknya.


Hatinya begitu panas melihat interaksi antara Arion dan Lilian dalam sebuah video singkat yang diunggah dalam blok sekolah. Saat kejadian itu, Sheril sedang mengikuti mata pelajaran yang sedang berlangsung. Sedangkan kejadian antara Arion dan Lilian terjadi saat mata pelajaran berlangsung, hanya anak-anak yang sedang berolahraga atau anak-anak yang bebas sekitar lapangan saja yang dapat menyaksikan kejadian itu secara langsung.


Seisi kelas Lilian heboh karena meraka juga melihat secara langsung interaksi anatara Arion dan Lilian yang berakhir dengan Arion yang menggendong Lilian dan diikuti oleh ketiga Geng Andromeda lainnya.


Setelah kepergian Lilian, ketiga teman Lilian berusaha menelpon ponsel Lilian namun ponsel gadis itu ia simpan didalam ransel yang sekarang berada didalam kelasnya. sampai jam terakhir Lilian tidak kunjung kembali dan membuat mereka khawatir, Ketiganya hanya bisa menunggu kabar dari Lilian sendiri, ingin sekali mereka ke rumah Lilian langsung mengantar ransel dan menyakan banyak pertanyaan namun mereka belum sempat bertanya dimana letak Lilian tinggal.


Sedangkan keempat orang yang membawa Lilian pergi sekarang duduk saling berhadapan disebuah ruangan yang sangat mewah. Tidak banyak barang didalam ruangan tersebut, hanya ada sofa panjang dan beberapa hiasan untuk mempercantik tampilan ruangan. Awalnya Arion membawa Lilian ke rooftop sekolah namun tidak lama mereka disana, Lilian tiba-tiba mengigau dengan memanggil nama Seint secara terus-terusan, suhu badannya pun sangat tinggi sehingga Arion memutuskan membawa Lilian ke mension. miliknya untuk mendapatkan perawatan dokter.


"Lilian masih belum sadar?" Tanya Rein dengan membawa beberapa cemilan ditangannya.


"Belum ... Nampaknya gadis itu memiliki seseorang yang ia sayangi namun mungkin orang itu pergi meninggalkannya." Mario mencoba memahami situasi yang Lilian alami.


"Sejak tadi ... dia hanya memanggil nama Seint saja. Apa sebaiknya kita bawa Lilian pulang saja?" Tanya Farrel.


"Kita tunggu sebentar lagi ... Jika Lilian masih belum sadar kita harus membawanya pulang agar orang tuanya tidak merasa khawatir." Ucap Rein yang langsung disetujui oleh teman-temannya.


"Gue tanya sekali lagi ... Apakah lo memang sebelumnya tidak mengenal Lilian?" Tanya Mario hati-hati takut menyinggung Arion.


"Kita sejak kecil tumbuh dan besar bersama ... Selama itu apakah kalian pernah melihatnya berada di dekat ku?" Tanya Arion balik yang langsung dapat gelengan dari teman-temannya.


"Mungkinkah Lilian memiliki kekasih yang mirip dengan Arion? Lalu orang itu meninggalkannya, secara kebetulan Arion memiliki kesamaan dan nama yang sama dengan kekasihnya itu." Tebak Rein asal.


"Mungkin juga ... Saat ia menangis, ucapannya terasa begitu nyata. Gue bahkan tidak bisa mengendalikan diri untuk tidak bersedih." Ucap Farrel sambil mengingat saat Lilian menangis.


Arion menghela napas pelan kemudian menyandarkan punggungnya pada sandara sofa. Arion juga memiliki pemikiran yang sama dengan yang dipikirkan oleh taman-temannya mengenai Lilian.


____________