
Setelah acara makan bersama selesai, Lilian akhirnya kembali pulang bersama dengan Arion karena hari sudah mulai menginjak sore hari. Awalnya Rein menawarkan diri untuk mengantar Lilian pulang namun Arion tidak mengijikannya dan beralasan jika ialah yang telah menjemputnya dan ia pulalah yang akan kembali mengantarnya pulang. Akhirnya Rein mengalah dan membiarkan Arion untuk mengantar Lilian.
Sepanjang perjalanan pulang, tidak ada percakapan antara Lilian dan Arion yang terjadi. Hal itu di sebabkan karena Lilian terlalu kecapaian dan akhirnya tertidur dengan memeluk Citto di pangkuannya.
Mobil Arion sampai di depan rumah Lilian tepat pada saat matahari baru saja tenggelam dan tidak menampakkan sinarnya lagi. Arion memacu kecepatan tinggi pada laju mobilnya agar Lilian dapat beristirahat dengan benar di rumahnya.
Niatnya Arion ingin membangunkan Lilian dari tidurnya, namun melihat gadis itu yang tertidur dengah damai membuat Arion mengurungkan niatnya untuk membangunkan Lilian.
Arion memandang lama kearah wajah Lilian yang tertidur pulas. "Cantik." Gumam Arion pelan dengan seulas senyum terbit dari bibirnya.
Tangan Arion mulai merapikan beberapa helai rambut Lilian yang menutupi sebagian wajah gadis itu. "Benar-benar cantik." Gumamnya lagi.
Arion tidak lagi ingin membangunkan Lilian, ia memilih menatap wajah gadis itu dengan diam tanpa berkata sedikitpun. Setelah cukup lama Arion menatap wajah Lilian, kaca mobil Arion akhirnya di ketuk oleh seseorang dari luar.
Tok ... Tok ... Tok ...
Arion menurunkan kaca mobil yang di sampingnya dengan perlahan kemudian mentap kearah orang yang telah mengetuk kaca mobilnya.
"Aden sudah sampai rupanya ... Nyonya sedari tadi khawatir karena nungguin Non Lilian pulang." Kata Bi Marni dengan beberapa barang bawaan di tangannya.
"Dia tertidur." Jawab Arion dengan raut wajah datarnya.
Bi Marni sedikit melirik ke arah Lilian yang terlihat tertidur dengan sangat pulas. "Kalau gitu biar saya panggilkan Tuan saja untuk mengangkat Non Lilian masuk."
"Nggak perlu, saya saja." Ucap Arion masih dengan sikapnya yang dingin.
Arion kemudian keluar dari mobilnya lalu berjalan memutar ke arah samping pintu dimana Lilian berada. Dengan hati-hati, Arion melepas pelukan Lilian dari tubuh Citto kemudian menyerahkan Citto kepada Bi Marni untuk di bawa masuk.
"Pegang dan bawa masuk." Ucap Arion singkat.
Bi Marni sedikit ragu melihat Citto namun tetap saja tangannya mengambil Citto dari tangan Arion.
Setelahnya Arion dengan hati-hati melepas seat-bealt yang ada dibadan Lilian kemudian menahan tubuh gadis itu agar tidak merosot kesamping.
Arion mengangkat tubuh Lilian kemudian berjalan mamasuki pintu utama dengan Bi Marni yang berjalan dari belakangnya. Sampai diruang keluarga, Efina langsung berlari mendekati Liliam dengan raut wajah panik.
"Ada apa dengannya? Kenapa Lilian di gendong?" Tanya Efinna.
"Nggak apa-apa hanya ketiduran, Tante." Jawab Arion.
Efina langsung bernapas lega setelah mendengar putrinya hanya ketiduran saja. "Syukurlah." Katanya dengan mengelus dada.
"Ada apa dengannya?" Tanya Rahadian yang baru saja muncul dengan segelas kopi yang masih panas di tangannya.
"Ketiduran Pah ... Mungkin kecapaian." Jawab Efina sambil mengelus pelan kepala Lilian.
Rahadian menyimpan kopinya diatas meja kemudian berjalan mendekati Arion dan Lilian. "Biar saya saja." Ucapnya kemudian mengambil alih Lilian dari Arion.
Setelahnya Rahadian langsung berjalan pergi membawa Lilian menuju kamarnya berada.
"Terima kasih ya karena kamu telah mengantar Lilian kembali pulang." Kata Efina dengan nada lembut. "Boleh Tente minta sesuatu ke kamu?" Tanya Efina lagi.
Arion hanya mengangguk tanda menyetujui ucapan dari Efina.
"Tolong rahasiakan identitas Lilian." Pinta Efina.
"Baik, Tante." Jawab Arion.
Efina kembali tersenyum lega mendengar jawaban dari Arion.
"Maaf Den ... Kucingnya mau saya bawa kemana?" Tanya Bi Marni yang sejak tadi hanya diam di belakang punggun Arion.
Efina menengok ke arah belakang Arion dan melihat Bi Marni sedang membawa bebera tas belanjaan dan kucing di pelukannya. "Kucing siapa Bi?" Tanya Efina heran.
"Kucing Lilian." Jawab Arion.
Efina hanya mengangguk pelan kemudian menatap lama kearah Citto. "Apa mungkin anak ini yang ngasih Lilian kucing? Sejak kapan Lilian suka dengan kucing?" Batin Efina.
"Taroh di kamar Lilian aja, Bi. Agar nanti nggak dia cari-cari lagi." Kata Efina.
"Baik, Nyonya." Kata Bi Marni kemudian berjalan membawa Citto menuju kamar Lilian.
"Saya juga pamit pulang Tante." Kata Arion sopan.
"Ohh ya udah. Sekali lagi terima kasih ya dan hati-hati di jalan." Kata Efina.
"Iya, Tante." Jawab Arion kemudian menyalim tangan Efina lalu pergi.
_________________
Meong ... Meong ... Meong ...
Citto menggigit kecil baju yang Lilian kenakan saat gadis itu tertidur untuk membangunkan Tuanya. Sedangkan Lilian sendiri masih berada di alam mimpinya dan tidak sedikitpun merasa terganggu dengan ulah dari Citto.
Meong ... Meong ... Meong ...
Lagi-lagi Citto berusaha membangunkan Lilian lagi dengan cara menarik baju Lilian dengan kecang menggunakan giginya. Usaha Citto kali ini tidak sia-sia, Lilian mulai bergerak dati tidurnya kemudian gadis itu mulai membuka kedua mata indahnya.
Meong ... Meong ...
Citto kembali mendekati Lilian kemudian mengusap kepalanya ke tangan gadis itu. Lilian sedikit terkejut merasakan sapuan lembut bulu dari Citto di tangannya.
"Astagaaa!" Ucapnya sedikit berteriak dan terbangun dari tidurnya.
Lilian mengucek matanya berkali-kali melihat tatapan lucu yang Citto arahkan kepadannya. "Astagaa lucunyaaaa." Ucap Lilian dengam suara seraknya sambil mengusap bulu Citto dengan gemas.
Meong ... Meong ... Meong ...
Lilian tersenyum kecil mendengar suara Citto yang terdengar sangat lacu dan menggemaskan di indra pendengarannya.
"Eh ... Citto. Aku penasaran aja, dimana tanduk mu pergi." Gumam Lilian sambil mengelus tubuh Citto yang lembut.
Citto merasa nyaman dengan elusan tangan Lilian dan tidak merespon sedikitpun ucapan dari Lilian.
"Apa tubuh kamu yang sekarang adalah reinkarnasi dari tubuh lama mu?" Tanya Lilian lagi. "Tentu aja ... Jaman sekarang mana ada kucing yang punya tanduk, bisa-bisa kamu disangka makhluk jadi-jadian." Jawab Lilian sendiri dengan sedikit kekehan.
"Ehh Citto ... Jujur aja, aku lebih suka suara kamu yang sekarang terdengar kek kucing aja gitu ... Meong ... Meong ... Gitu. Kalau dulu suaranya kamu kek musuhnya kamu, Cit ... Cit ... Cit ..." Tawa Lilian pecah mengingat suara lama Citto.
Meong ... Meong ...
Citto terdengar menyahuti ucapan Lilian namun Lilian yang sekarang tidak dapat mengerti lagi apa yang Citto katakan.
"Hanya saja kamu yang sekarang nggak bisa ngomong kek aku ... Bisanya hanya meong ... meong saja." Kata Lilian.
Citto kemudian melompat lompat kecil di hadapan Lilian. "Ya ... Ya ... Kamu juga masih lucu dan menggemaskan seperti dulu." Kata Lilian sambil memelul erat tubuh Citto gemas.
"Oh iya ... Ngomong-ngomong napa kita bisa ada disini?" Tanya Lilian baru menyadari sesuatu.
Lilian kembali mengingat jikalau memang ia kemarin tertidur di dalam mobilnya Arion. "Astagaa gue ketiduran di dalam mobilnya Kak Arion. Tapi sekarang malah udah ada kamar aja ... Apa mungkin Kak Arion yang gendong gue sampai kesini?" Tanya Lilian ke dirinya sendiri.
"Akhhhh ... Gue di gendong ama Kak Arion!" Pekik Lilian senang.
Dengan perasaan bahagia, Lilian menyibak selimutnya kemudian kakinya segera melangkah menuju kamar mandi.
"Citto kamu tunggu disitu dan jangan kemana-mana!" Titah Lilian kemudian memasuki kamar mandi.
Tidak lama Lilian akhirnya keluar dari kamar mandi dengan seragam lengkap yang melekat di badannya. Bibirnya masih menyunggingkan senyum senang memikirkan jikalau Arion yang telah menggendongnya sampai ke dalam kamarnya.
Sambil merapikan dirinya, Lilian menyandungkan beberapa lagu dari mulutnya untuk mengekspresikan kebahagiaannya saat ini. Setelah di rasa sudah siap, Lilian mengambil tas yang sudah ia siapkan sebelumnya kemudian mengangkat tubuh Citto agar segera pergi untuk sarapan bersama keluarganya.
"Selamat pagi, Papa ... Mama ..." Sapa Lilian ceria.
"Pagi juga sayang ... Mama lihat wajah kamu hari ini kok ceria banget. Ada yang terjadi ya?" Tanya Efina sambil menyiapkan sarapan bersama Bi Marni.
"Nggak ada. Memangnya wajah Lilian tiap hari kek gimana?" Tanya Lilian penasaran sambil meletakkan Citto pada salah satu kursi yang berada di kursinya.
"Ceria sih ... Tapi kali ini sedikit berbeda." Kata Efina sambil tersenyum.
"Ahhh ... Sama aj kok. Kek hari-hari biasanya." Jawab Lilian sambil mengambil beberapa lebar roti di depannya. "Bi Marni tolong siapkan susu buat Citto. Nanti juga tolong beliin makanan kucing buatnya. Untuk kandangnya biar Lilian aja yang milih sendiri." Kata Lilian sambil mengoles selai di atas rotinya.
"Lilian juga minta tolong jagain Citto. Lilian mau sekolah soalnya." Ucapnya lagi.
Rahadian yang sejak tadi sibuk membaca koran kini melipat korannya kemudian menatap ke arah Lilian dengan serius. "Kamu dekat dengan anaknya aditia?" Tanyanya.
Lilian menatap Rahadian dengan tatapan bingung. "Aditia siapa?" Tanyanya.
"Anak yang kemarin jemput dan ngantar kamu kemarin." Kata Rahadian memperjelas.
"Ohh ... Kak Arion? Hmmm Sepertinya memang itu nama Papanya." Jawab Lilian masih dengan wajah cerianya.
"Kamu punya hubungan spesial dengannya?" Tanya Efina ikut bergabung dengan pembahasan Putri dan Suaminya.
"Nggak sih ... Kak Arion itu Kakak kelas Likia. di sekolah." Jawab Lilian tersenyum malu.
"Raut wajah kamu mengatakan hal yang berbeda." Kata Rahadian sambil menyesap kopi paginya.
Lilian segera menutup wajah dengan kedua tangannya. "Ihh Papa ini ... Nggak kok. Dia hanya Kakak kelas dan Ketua eskulnya Lilian." Kata Lilian.
"Kalo hanya sebatas Kakak kelas napa dia sampai ngasih kamu kucing mahal?" Tanya Rahadian sambil terus memperhatikan raut wajah Putrinya.
"Siapa bilang dia yang ngasih?" Sanggah Lilian dengan kening mengerut.
"Kalo bukan dia lalu siapa lagi? Kamu kemarin di jemput olehnya dan pulang juga bareng dia. Pulanya juga sambil bawa tuh kucing." Tunjuk Efina ke arah Citto yang mulai menjilat susu yang dibuat oleh Bi Marni.
"Kemarin itu ..." Ucap Lilian terjeda setelah baru menyadari sesuatu. "Gawat gue mau jawab apa ke Mama dan Papa? Masa iya gue bilang nemu disana? Mana percaya mereka ... Jenis kucing Citto adalah jenis kucing mahal lagi. Mana mungkin mereka percaya kalau gue nemu Citto disana. Belum lagi gue dah terlanjur bilang sama Kak Arion kalau Citto adalah peliharaan gue ... Bodoh ... Bodoh banget gue." Batin Lilian
"Kemarin apa?" Desak Rahadian.
"Kemarin itu ... itu ... kucing itu ... terlihat cantik jadi Lilian mau. Akhirnya Lilian bawa pulang." Jawab Lilian sedikit gugup.
"Lalu siapa sebenarnya yang punya kucing itu?" Tanya Efina lagi.
"Punya Lilian." Jawabnya.
"Terus kamu dapat dari mana?" Tanya Rahadian lagi.
"Nemu dihutan." Jawab Lilian jujur.
"Hutan?" Tanya Efina panik. "Kamu ngapain ke hutan?"
"Kamu jangan aneh-aneh ya Lilian." Tegas Rahadian.
"Mama dan Papa jangan marah dulu. Dengerin penjelasan Lilian dulu ... Kemarin Kak Arion, Lilian sama teman-temannya punya kegiatan ngambil gambar alam gitu. Pilihan yang tepat yaitu di Desa Nuri namanya, nah disana ada hutan yang nggak terlalu besar gitu dan sangat aman. Di dalam hutan ada air terjun cantik, disana juga Lilian sama Kak Arion nemu Citto secara nggak sengaja." Jelas Lilian jujur.
"Benar begitu?" Tanya Efina masih curiga.
"Mana ada kucing liar bisa sejinak itu ... Belum lagi jenisnya yang mahal jika di uangkan." Kata Rahadianasih ragu.
"Lilian berani sumpah, Mah ... Pah ... Kalau nih kucing beneran Lilian nemu disana. Kalau jinak berarti untung buat Lilian dong." Kata Lilian.
"Mana ada kamu yang untung? Bagaimana kalau tuh kucing milik orang yang lepas? Jik pemiliknya lapor polisi maka kamu yang akan dirugikan." Kata Rahadian.
"Ihh Papa ... Jikalau kucing itu milik orang lain, maka tentu saja sudah ada iklan yang mencari keberadaannya. Seperti kata Papa tadi jenisnya sangat mahal, mana mungkin orang hanya diam aja kalau tau kucingnya dah hilang." Jelas Lilian.
Efina dan Rahadian mulai percaya dengan ucapan Lilian. Jika kucing jenis itu hilang pasti pemiliknya sudah memasang iklan dimana-mana terkait dengan kucing hilang.
"Lalu mau kamu apakan kucung itu?" Tanya Rahadian.
"Tentu saja mau Lilian rawat. Mulai sekarang namanya Citto, dia bakalan jadi anggota keluarga kita." Ujar Lilian senang sambil mengusap bulu Citto.
"Kenapa namanya harus Citto?" Tanya Efina.
"Karena dia laki-laki dan Lilian suka dengan nama itu." Jawab Lilian dengan senyum senang.
"Baiklah terserah kamu ... Asal kamu rawat dia dengan baik." Kata Efina.
"Tentu." Kata Lilian semangat.
"Lalu bagaimana dengan hubungan mu dengan si Arion tadi?" Tanya Rahadian kembali mengungkit tentang Arion lagi.
"Ihhh Papaaa ... napa harus bahas itu lagi?" Kata Lilian dengan raut wajah malu.
"Papa pengen tau aja." Jawab Rahadian santai.
"Kami nggak punya hubungan apa-apa kok." Kata Lilian cepat. "Oh iya Mah ... Kak Keira kemana? Kok nggak ikut sarapan?" Tanya Lilian mengalihkan pembicaraan.
"Udah balik ke apartement-nya dari kemarin. Maklumlah Kakak mu itu adalah mahasiswi yang udah mau semester akhir, tentu saja ada banyak hal yang harus ia urus." Jelas Efina.
"Ohh gitu ... Ya udah Lilian berangkat sekolah dulu ya." Kata Lilian kemudian berdiri dari kursinya dan menyalim tangan Rahadian dan Efina bergantian.
"Bi Marni jangan lupa jangain Citto ya!!" Kata Likian sedikit berteriak.
Lilian kemudian berjalan pergi setelah mengelus kepala Citto dengan sayang.
"Sepertinya Lilian suka dengan anak itu." Kata Rahadian sambil menatap ke arah tempat Lilian menghilang.
"Kalau begitu Mas lebih paham apa yang perlu di lakukan untuk ke depannya." Jawab Efina sambil menghela napas pelan. "Putri ku bagai gelas kaca ... Jika tidak hati-hati membawanya maka akan pecah. Sebagai Ibu, Aku mohon Mas bisa tangani masalah ini." Kata Efina dengan nada sedih.
"Akan Mas usahakan yang terbaik." Jawab Rahadian.
____________________