Lilian

Lilian
Pertememuan I



Sejak pagi suasana di Florenzo School terasa berbeda. Biasanya sebelum bel masuk berbunyi, semua murid Florenzo School tampak duduk santai di sekitar parkiran atau sekedar ngumpul di depan koridor kelas masing-masing.


Namun untuk hari ini semua murid langsung di arahkan oleh para Guru untuk memasuki aula besar yang berada di tengan bangunan Florenzo School. Biasanya aula itu digunakan pada saat sekolah mengadakan acara atau tempat berkumpulnya semua murid untuk di berikan pengarahan oleh Kepala Sekolah secara langsung.


Suasana aula saat ini sangat ramai. Semua murid dari kelas satu sampai kelas tiga dikumpulkan jadi satu dan berdiri sesuai dengan kelas masing-masing.


Semua murid sudah pada tahu apa alasan mereka dikumpulkan di aula tersebut. Kejadian kemarin saat pertandingan basket antara dua sekolah tentu saja sudah menjadi trending topic bagi masyarakat umum. Bagaimana tidak, kejadian kemarin melibatkan banyak sekali keluarga yang berstatus tinggi, hingga akhirnya isu tentang kejadian kemarin menyebar dengan sangat cepat. Bahkan kejadian kemarin sampai disiarkan oleh salah satu stasiun TV swasta.


Suasana aula yang tadinya cukup ramai sekarang menjadi hening ketika Pak Bram selaku Kepala Sekolah dari Florenzo School terlihat memasuki aula dengan aura kepemimpinan yang menguar dari dalam tubuhnya. Wajah tegas, tatapan mata tajam dan tanpa ada sedikit pun senyuman di wajahnya membuat semua murid menerka-nerka apa yang akan ia sampaikan pada semua muridnya.


Dari belakang punggung Pak Bram juga di ikuti oleh beberapa Guru yang terlihat berwajah tegang. Sedangkan Pak Bram berjalan dengan raut wajah dingin menuju podium untuk bertatapan langsung dengan semua murid-muridnya.


Semua murid masih terdiam menunggu pengumuman apa yang akan Pak Bram sampaikan. Tatapan mata tegas serta ada raut wajah marah terlihat di sana membuat semua murid harus menelan ludah dengan susah payah.


"Saya rasa, apa yang saya ingin sampaikan pada hari ini sudah kalian ketahui." Ucap Pak Bram tanpa berbasa-basi lagi.


"Kemarin ... Sekolah kita melakukan pertandingan basket dengan SMA Tunas Harapan! Meski hasil akhirnya memuaskan namun setelahnya ada kejadian yang benar-benar mencoreng nama sekolah!" Raut wajah Pak Bram semakin terlihat tidak enak.


"Untuk itu ... Semua murid yang hadir di tempat pertandingan basket kemarin akan dihadirkan semua Walinya! Semalam kami telah mengirim surat kepada semua Wali murid dan untuk hari ini, mereka akan datang untuk mempertanggung jawabkan ulah kalian!!" Tegas Pak Bram lagi.


Suasana masih sangat hening, tidak ada satupun murid yang berani menjawab atau menyela. Kejadian kemarin memang sangat fatal bagi kedua sekolah. Reputasi serta nama baik sekolah dipertaruhkan di sana. Meski kedua sekolah itu tidak pernah akur, namun Pak Bram masih berharap jika murid-muridnya dapat menahan diri.


"Kalian murid-murid dari keluarga kelas atas. Tapi kelakuan kalian tidak mencerminkan status kalian!! Apakah kejadian kemarin termasuk didikan dari Florenzo School?" Tanya Pak Bram sengan raut wajah dinginnya.


"Selama pertemuan nanti berlangsung ... Saya harap kalian tidak lagi bertingkah! Jika nanti kalian masih membuat ulah ... Maka jangan salahkan saya jika harus bersikap tegas pada kalian semua!!" Ucap Pak Bram tegas.


Habis sudah kesabaran dari Pak Bram. Selama Florenzo School berdiri belum ada kejadian seperti sekarang ini. Dimana semua keluarga besar yang memiliki status tinggi harus saling berhadapan satu sama lain.


"Setelah ini langsung kembali ke kelas masing-masing! Jangan ada yang keluyuran keluar sekolah selama pertemuan orang tua murid berlangsung! Silahkan lakukan hal-hal baik di sekolah dan sekali lagi jangan bertingkah!" Peringat Pak Bram.


Setelah selesai berbicara di depan semua murid, Pak Bram akhirnya meninggalkan aula bersama dengan sebagian Guru yang masih berjalan di belakangnya. Mereka berjalan menuju tempat pertemuan dengan orang tua murid dilaksanakan. Sebisa mungkin Pak Bram harus memutar otak supaya nanti pas pertemuan berlangsung ia dapat mengendalikan suasana.


Semua murid akhirnya dapat bernapas lega setelah Pak Bram pergi meninggalkan aula. Dengan teratur semua murid akhirnya kembali ke kelas masing-masing sesuai perintah dari Pak Bram tadi.


Hal itu juga berlaku untuk Lilian dan ketiga temannya. Saat berbaris tadi, tatapan mata Lilian tidak sengaja menatap kearah Arion yang juga tengah menatap kearahnya. Meski tidak bersuara, namun Lilian dapat menangkap gerakan mulut Arion yang mencoba menenangkannya dengan mengucapkan kata "semua akan baik-baik saja".


Setelah semua orang membubarkan diri, Lilian dan ketiga temannya ikut membubarkan diri dan berjalan kembali menuju kelas masing-masing. Selama perjalanan, Lilian masih memikirkan siapa yang akan kedua orang tuanya kirim kali ini untuk menjadi Walinya.


Statusnya yang disembunyikan selama ini membuat Lilian menjadi khawatir sendiri. Masalah yang harus ia hadapai kali ini cukup besar, sehingga orang yang harus kedua orang tua Lilian kirim kali ini juga harus lebih kompeten.


"Tenanglah! Semua akan baik-baik aja." Ucap Laura mencoba menenangkan Lilian.


Keterdiaman Lilian membuat ketiga temannya juga ikut khawatir. Ketiganya yakin jika Lilian masih mengkhawatirkan masalah yang terjadi kemarin.


"Gue tau hal ini mungkin sulit buat lo. Hanya aja kejadian seperti ini wajar terjadi di Florenzo School! Entah siapa yang membuat peraturan yang kaya akan lebih berkuasa dan yang miskin hanya bisa gigit jari. Kesel sendiri gue tau!" Dumel Gladis.


"Jaga ucapan, lo! Ingat, semua dinding disini memiliki mata dan telinga! Jika ada orang yang mendengar ucapan lo maka akan timbul lagi masalah baru!" Peringat Meira sambil menengok ke kanan dan kirinya untuk memastukan jika tidak ada yang mendengar pembahasan keempat gadis itu.


"Iya ...Iya." Jawab Gladis dengan bibir manyun.


"Eh ngomong-ngomong ... Kalian ngerasain nggak sih ada yang beda dengan suasana sekolah kita hari ini?" Tanya Laura.


"Iyalah beda! Semua keluarga terpandang bakal hadir di sekolah kita bentar lagi. Bayangin aja gimana orang-orang penting itu bakal hadir di gedung yang sama dengan kita? Mikirinya aja udah buat gue puyeng." Sahut Gladis dengan memijit keningnya.


"Bener banget dah tuh ... Sejarah baru semua keluarga status tinggi ngumpul dalam satu ruangan! Pasti suasananya bakalan memanas." Ujar Meira heboh.


Lilian masih saja terdiam mendengar ucapan ketiga temannya. Jika semua Wali murid hadir, maka akankah salah satu orang tua dari Lilian akan hadir juga? Begitulah pikirnya saat ini.


"Lilian! Lo napa diam aja?" Tanya Gladis menyadarkan Liloan dari lamunannya.


"Nggak ... Nggak apa-apa?" Jawab Lilian dengan senyum canggung.


"Lo nggak usah terlalu memikirkan hal itu dong! Kalau lo di hukum ... Tentu aja kita di hukum barengan! Kejadian kemarin bukan hanya satu dua orang aja yang terlibat. Namun hampir semua murid dari Florenzo School juga hadir kemarin. Maka dari itu, hukumannya pasti dilaksanakan secara masal." Kata Meira sambil mengesul pelan lengan Lilian untuk memberi ketenagan kepada Lilian.


Gladis, Laura, dan Meira dengan sangat jelas dapat menangkap raut wajah khawatir dari gadis itu. Sejak tadi Lilian hanya diam, jadi ketiga temannya menyimpulkan bahwa Lilian lagi memikirkan tentang kejadian kemarin.


Bukan hanya Lilian atau orang-orang yang berada dekat dengan gadis itu yang dapat mendengarkan ancaman dari Anin kemarin, namun ketiga teman Lilian yang berada cukup jauh dari tempat mereka berdiri dapat mendengar dengan secara jelas ancaman yang dilontarkan oleh Anin.


"Biarkan orang tua kita yang nyelesain semua ini." Ucap Meira kembali menenangkan Lilian.


"Justru itu yang buat gue khawatir! Siapa yang akan Papa dan Mama kirim buat menjadi Wali gue hari ini." Batin Lilian frustasi.


Keempat gadis itu tinggal berbelok agar dapat sampai di kelas mereka. Namun belum sempat mereka berbelok, Anin tiba-tiba muncul di depan Lilian dan ketiga temannya.


"Disini lo rupanya?" Tanya Anin dengan raut wajah angkuhnya.


"Gue kira ... Lo sejak tadi lagi ngumpet karena ketakutan!" Ejek Anin lagi.


"Atau jangan-jangan udah ngompol?" Tanya Sheril dengan kekehan kecil.


Tepat dibelakang punggung Anin ada Sheril, Naomi, Karin dan juga Rama yang setiap saat selalu mengikuti kemanapun Anin dan yang lainnya pergi.


Terdengan suara helaan napas yang keluar dari mulut Lilian. "Gue kagak ada ***** buat ladenin kalian! Sebaiknya kalian pergi aja sebelum Guru lain datang dan mergokin kalian yang lagi buat ulah disini!" Ucapnya dengan menekan semua kalimatnya.


Anin dan yang lainnya tertawa mengejek mendengar ucapan Lilian.


"Lo takut?" Tanya Anin dengan raut wajah senang. "Tenang aja ... Posisi kita pasti bakalan aman, hanya saja ..." Ucapnya menggantung sambil menatap Lilian dengan tatapan jijik.


"Nggak yakin dengan lo!" Lanjut Sheril.


Kembali Anin, Sheril, Naomi dan Karin tertawa mengejek Lilian. Sedangkan Rama hanya berdiiri diam tanpa bersuara atau bergerak sedikitpun dari tempatnya.


Lagi-lagi helaan napas berat keluar dari mulut Lilian. "Gue nggak takut! Hanya saja sedikit kasihan dengan kalian." Ucap Lilian dengan senyum seringai yang menghias wajah cantiknya.


"Maksud lo?" Tanya Sheril mulai meninggikan suaranya.


"Diem deh lo! Makhluk jadi-jadian macam lo kagak usah ikut-ikutan." Bentak Laura.


"Ehh lo yang diem ya!!" Peringat Naomi.


Anin kembali tersenyum mengejek. "Udahlah guys ... Biarkan dia untuk sedikit berkhayal. Karena sebentar lagi waktunya di sekolah ni akan segera berakhir!"


"Seyakin itu?" Tanya Lilian menantang. "Gue kasihan ama idup kalian semua. Keknya kagak ada kerjaan banget sampe nungguin gue disini!" Kata Liloan dengan senyum manis dibibirnya.


"Gue kesini cuman mau liat wajah busuk lo untuk yang terakhir kali!" Ucal Anin.


"Mau mati lo? Pakek lihat yang terakhir kali?" Celetuk Laura tiba-tiba.


"Bener tuh ... Lagian kagak ada kerjaan banget pakek nyamperin kita! Idupnya kagak bahagia ya?" Tanya Gladis.


"Diem lo bertiga! Atau mau gue depak juga sekali?" Tanya Anin mulai marah.


"Mau depak kemana? Gue nggak yakin mampu." Ejek Lilian.


"Udah, Lilian! Stop ... Jangan memulai pertengkaran yang akan memancing Guru kesini." Ucap Rama yang menyalahkan Lilian.


"Eh asap kenalpot! Kagak salah ngomong tuh? Siapa yang nyari masalah disini? Lo katarak atau mata lo emang buta?! Perasaan kalian yang ngehadang kita." Ketus Laura tidak suka.


"Orang kalau dah bucin susah bedain mana bener dan salah! Sama halnya dengan orang bodoh!" Sindir Meira kearah Rama.


"Kalian semua bisa gue laporin ke Guru karena berlaku nggak sopan dengak Kakak kelas kalian." Peringat Rama lagi.


"Laporin aja! Biar ntar gue jawab, gimana nggak sopan orang kalian aja nggak pantas buat disopanin!!" Kesal Gladis tak takut.


"Udahlah ... kagak perlu lagi kita ladenin mereka! Orang-orang kek mereka sebaiknya di biarin aja! Cabut ayok." Ajak Lilian dan langsung berjalan menabrak lengan Anin.


"Aw ... Lo!!" Belum juga sempat memarahi Lilian. Gladis, Laura dan Meira ikut menabrak Anin berkali-kali.


"Awas aja kalian semua!! Hitung waktu lo semua dari sekarang!! Gue bakal jadi orang yang berdiri di barisan paling depan untuk mengantar kepergian kalian nanti!!" Teriak Anin.


"Nangis darah kalian bentar lagi!!" Sheril ikut berteriak.


Lilian dan ketiga temannya tidak lagi mau menghiraukan ucapan dari Anin dan teman-temannya, ketiganya lebih memilih pergi ketimbang harus meladenin orang-orang itu. Memang sejak awal Lilian sedang tidak ingin beradu argumen dengan Anin. Selain tidak ingin membuat ulah, Lilian juga sedang pusing memikirkan siapa kali ini yang akan hadir untuk menjadi Walinya.


Jarak Lilian dan ketiga temannya hampir mendekati kelas mereka, namun kehadiran murid yang memenuhi koridor kelas membuat langkah keempatnya terhenti.


"Ada apaan?" Tanya Gladis dengan alis bertautan.


"Masa ada yang lagi buat ulah lagi? Baru aja di peringatin oleh Pak Bram! Abis dah mereka kalau lagi-lagi buat ulah!" Ujar Laura.


Murid-murid itu memang sedang berkumpul, namun tidak ada tanda-tanda bahwa mereka sedang membuat ulah. Mereka hanya berebut tempat untuk melihat sesuatu kearah pintu masuk ruang pertemuan berada.


Jarak antara kelas Lilian dan ruang oertemuan bisa dikatakan dekat. Letaknya sama-sama di lantai pertama, jika kelas Lilian harus melewati lapangan dulu, maka ruangan pertemuan itu berada sebelum melewati lapangan. Letaknya juga berada di seberang lapangan dan berada dekat dengan ruangan perpustakaan.


"Eh ada apaan?" Tanya Lilian pada salah seorang murid perempuan yang berebut tempat dengan yang lain.


"Wali dari keluarfa Anderson udah masuk ... Terus tadi lewat keluarga dari Pratama dan Bantara ... Dengar-dengar keluarga Ganendra dan Arisena lagi di jalan dan hampir sampai." Jawab murid tersebut.


"Tau dari mana?" Tanya Gladis yang ikut nimbrung.


"Alah ... Kabarnya sedang memasan tapi kalian semua malah kagak tau! Kemana aja lonpada?" Tanya murid itu.


"Sibuk kita ..." Jawab Laura asal.


"Pertemuannya udah di mulai?" Tanya Meira penasaran.


"Belum ... Nunggu keluarga Ganendra dan Arisena dulu." Jawab murid itu lagi.


Pikiran tentang wali yang mewakili kedua orang tuanya kembali menghantui Lilian. Sudah banyak Wali murid yang hadir namun kedua orang tua Lilian masih belum mengabarkan Lilian apapun. Sesekali Lilian mengecek ponselnya untuk mengecek apakah kedua orang tuanya telah mengabari, namun sayangnya notif dari kedua orang tuanya malah kosong.


_________________