Lilian

Lilian
Ciki



Lilian merebahkan tubuhnya di atas ranjang king size miliknya. Hari ini bukan hanya fisik Lilian yang lelah namun mental Lilian juga ikut merasakan lelah setelah melewati hari yang cukup panjang di sekolah.


Lilian memejamkan mata karena lelah namun pikirannya masih saja melayang ke kejadian yang ia alami saat di sekolah. Setelah mengenakan sepatu yang di berikan oleh Mario, Lilian kembali ke kelasnya dengan perasaan yang lebih baik dari sebelumnya. Namun saat Lilian kembali ke kelasnya, ketiga teman Lilian langsung melempar banyak pertanyaan yang membuatnya semakin lelah.


Keberuntungan masih di pihak Lilian karena bel masuk segera berbunyi sehingga membuat Lilian terbebas dari ketiga temannya. Setelah bel pulang berbunyi pun, Lilian secepatnya melarikan diri dari ketiga temannya. Lilian hanya ingin cepat pulang dan mengistirahatkan fisik dan mentalnya.


Lilian menghembuskan napas dengan pelan kemudian mengubah posisinya yang sejak awal terlentang menjadi menyamping. Masih dengan mata yang tertutup, Lilian meraba tempat di sampingnya untuk menemukan bantal kesayangan yang biasa ia peluk setiap malamnya.


"Suga Oppa selalu saja bisa membuat ku menjadi tenang." Lilian memeluk erat bantal bergambar salah satu anggota dari boy band terkenal BTS.


Tidak membutuhkan waktu lama untuk Lilian terlelap dari tidurnya. Kondisi tubuh dan mentalnya yang lelah membuat Lilian cepat terlelap.


2 Jam kemudian


Lilian masih saja menutup kedua matanya dan belum menunjukan tanda-tanda untuk bangun. Sejak tadi pintu kamar Lilian di ketok dari luar namun pemiliknya sama sekali tidak meresponnya.


Tidak mendapatkan respon dari pemilik kamar, Efina pun memutuskan untuk membuka pintu kamar Lilian menggunakan kunci cadangan yang ia sengaja simpan jika saja kejadian seperti hari ini terjadi.


Klik ....


Bunyi pintu terbuka dari luar, Efina masuk ke dalam kamar Lilian dan menemukan Putrinya sedang tertidur lelap masih dengan menggunakan seragam sekolah lengkapnya.


"Astagaaa ... Kamu kenapa Lilian?" Tanya Efina khawatir kemudian secepatnya ia berjalan mendekati Lilian dan tangannya ia tempelkan kening Lilian untuk mengecek suhu tubuh Putrinya.


"Nggak panas kok ..." Kata Efina heran.


Efina menggoyangkan tubuh Lilian dengan pelan agar gadis itu segera bangun dari tidurnya, sejak pulang sekolah Bi marni mengatakan jikalau Lilian belum makan dan tidak sekalipun keluar dari kamarnya.


Efina tentunya khawatir dengan kondisi Lilian, kemudian ia memutuskan untuk mengetok pintu kamar Lilian namun meski ia sudah mengeyok beberapa kali Lilian belum saja meresponnya.


"Sayang ... Ini sudah malam, kenapa kamu tidue masih dengan mengenakan seragam lengkap?" Tanya Efina sambil menepuk pelan pipi Lilian.


Merasa pipinya di tepuk beberapa kali, Lilian akhirnya perlahan membuka kedua matanya dan menatap langsung ke arah Mamanya.


"Mama ..." Panggil Lilian dengan suara seraknya.


"Kenapa kamu tidur masih menggunakan seragam lengkap? Ini sudah malam loh." Efina mengelus lembut kepala Lilian.


"Tadi Lilian kecapean banget mah ... Nggak sempat buat ganti baju." Ujarnya kemudian Lilian mengubah posisinya menjadi terduduk.


"Sudah makan?" Tanya Efina.


Lilian menggeleng pelan. "Tadi belum sempat makan."


Efina kembali mengusap pelan kepala Lilian. "Ya sudah, sebaiknya kamu mandi dulu sana gih! Habis itu kamu langusng turun buat makan bersama ... Papa juga udah nungguin."


"Baik Mah." Jawab Lilian.


Efina tersenyum singkat kemudian berjalan keluar dari kamar Lilian. Lilian sendiri langsung masuk ke kamar mandi untuk membersihkan dirinya.


Tidak lama kemudian, Lilian sudah berganti pakaian. Setelah menyisir rambutnya dengan rapi, Lilian akhirnya turun dan menemui kedua orang tuanya.


"Selamat malam Papa." Sapa Lilian kemudian mengambil tempat duduk di dekat Papanya.


"Selamat malam. Mama bilang kamu tidur masih dengan menggunakan seragam lengkap. Betul?" Tanya Rahadian di akhir kalimatnya.


Lilian mengangguk singkat. "Benar Pah ... Lilian sangat mengantuk dan akhirnya langsung tertidur tanpa memebersihkan diri." Jelas Lilian.


"Lain kali kalau pulang kamu harus makan dulu, setelahnya ganti baju baru tidur. Kamu baru saja bangun dari koma, sebisa mungkin harus menjaga kesehatan." Ucap Rahadian menasehati Lilian.


"Baik Pah. Akan Lilian usahakan." Ucap Lilian sambil menyengir ke arah Papanya.


Rahadian sendiri hanya tersenyum menanggapi ucapan dari Lilian.


"Udah ahh ... Sudahi obrolannya, waktunya kita makan!" Ucap Efina yang di angguki oleh Rahadian dan Lilian.


Ketiganya langsung menyantap makanannya dengan sangat tenang. Untuk yang bertanya di mana Keira Kakaknya Lilian, jawabannya adalah Keira sedang berada di apartemen yang di belika oleh Papanya. Jarak rumah dan kampus Keira sangatlah jauh, sehingga Keira memutuskan untuk mencari tempat tinggal yang jauh lebih dekat dengan kampusnya.


Dengan bantuan Papanya, Keira akhirnya menemukan tempat yang cocok untuk ia tinggali. Keira hanya akan pulang ke rumah pada hari dimana ia tidak memiliki jadwal kuliah atau pada hari libur saja. Akhirnya Lilian hanya bisa berkumpul bersama kedua orang tuannya saja.


_________


Lilian kembali memeriksa isi ransel yang akan ia bawa ke rumah Laura. Sebelumnya Lilian dan ketiga temannya telah sepakat jika pada hari minggu mereka akan belajar kelompok di rumah Laura.


Setelah memastikan semua barang yang ia perlukan sudah masuk ke dalam ransel, Lilian beralih menatap tampilannya di cermin. Hari ini Lilian mengenakan atasan baju switer longgar yang panjangnya sampai lutut dan berwarna kuning. Sedangkan bawahannya Lilian mengenakan celena pendek, karena baju Lilian memiliki ukuran yang besar, celana yang Lilian kenakan hampir tidak terlihat.


Lilian memakai sepatu sport berwarna senada dengan baju yang ia kenakan sekarang. Sedangkan untuk rambutnya, Lilian hanya menggerainya dengan bebas.


Setelah momeles sedikit lip-gloss di bibirnya, Lilian akhirnya siap berangkat ke rumah Laura. Sebelum keluar kamar Lilian memeriksa ponselnya sebentar untuk melihat notifikasi dari Laura yang mengirimkan alamat rumahnya.


"Ok. Waktunya berangkat." Ujar Lilian kemudian menyampirkan ransel di punggungnya.


Lilian berjalan menuruni tangga dan menemui Mamanya yang sedang membuat resep baru untuk bisnis kuenya di dapur.


"Mama Lilian ijin mau ke rumah temen ya?!" Ujar Lilian berjalan mendekati Efina.


"Kemana dan mau ngapain?" Tanya Efina.


"Deket kok mah ... Sekitar Tiga kilo dari sini. Ada banyak sekali tugas dari sekolah, jadi Lilian sama teman-teman memutuskan untuk belajar bareng. Kita juga berencana jalan-jalan sebentar untuk menghilangkan penat dalam belajar." Jelas Lilian.


"Memangnya kamu tahu jalan?" Tanya Efina khawatir.


"Mama ... Sekarang jaman udah canggih, kita tinggal sebutin alamat yang akan kita tuju ke google maka nanti dia akan mengarahkan kita ke tempat itu." Jawab Lilian.


"Ya sudah kalau begitu ... Untuk jaga-jaga jangan pernah matikan ponsel kamu. Mengerti?!" Ucap Efina dengan nada peringatan.


"Ya sudah sana berangkat sama supir Mama aja!" Ujar Efina kemudian kembali melanjutkan kegiatannya yang sempat tertunda.


Lilian tersenyum canggung namun sebisa mungkin ia menguatkan diri untuk mengatakan hal yang ingin sekali ia ungkapkan. "Mama ... Lilian mau berangkat sendiri dengan motor yang diberikan Papa kemarin." Ucap Lilian takut


Efina langsung menghentikan kegiatannya lagi kemudian ia menatap ke arah Putrinya. Memang setelah makan malam kemarin, Rahadian telah menyerahkan kunci motor baru yang sebelumnya ia janjikan sebelumnya kepada Lilian. Saat itu Lilian begitu senang sehingga ia mudah melupakan kejadian yang membuatnya seharian merasa lelah.


Ingin sekali Efina menolak permintaan Putrinya namun binar di mata Lilian membuat hatinya menjadi luluh. Sesaat efina menghembuskan napas pelan untuk menghilangkan perasaan risaunya.


"Ya sudah ... Tapi jangan ngebut-ngebut ya! Jika sudah sampai segera hubungi Mama." Kata Efina dengan nada pelan.


Lilian sontak maju dan memeluk Efina dengan sangat erat. "Lilian sayang Mama. Lilian janji kalau nanti sudah sampai, secepatnya Lilian akan menghubungi Mama." Ucapnya kemudian melepaskan pelukannya.


"Lilian berangkat dulu ya!" Setelah mendapat ijin dari Efina, Lilian akhirnya berangkat menuju rumah Laura menggunakan motor matic berwarna ungu yang diberikan oleh Papanya.


Sepanjang jalan Lilian tidak henti-hentinya merasa kesal kepada Papanya lantaran motor yang Rahadian belikan berwarna ungu. Semalam ia belum sempat melihat motor barunya di karenakan Lilian takut melewatkan konser online dari idolanya BTS.


"Kenapa harus warna ungu sih ... Memangnya warna sudah pada habis semua?" Meski kesal namun Lilian masih saja fokus membawa motornya.


Tidak jauh di depannya, Lilian melihat sebuah mini market, ia pun memutusakan untuk membeli beberapa cemilan yang akan ia bawa ke rumah Laura. Setelah memarkirkan motornya, Lilian mengambil sebuah keranjang tenteng untuk menyimpan barang belanjaannya.


Kaki Lilian langsung menuju ke arah rak yang menyediakan banyak cemilan. Satu persatu ciki ia masukan ke dalam keranjangnya, meski sudah mengumpulkan banyak ciki namu mata Lilian masih saja mencari ciki ya g menjadi kesukaannya.


"Nggak seru amat ... Masa ciki kesukaan gue nggak di jual sih!" Gumam Lilian sendiri.


Meski matanya tidak menangkap apa yang ia cari, namun Lilian masih saja berusaha mencari ciki kesukaannya. Hingga Lilian sampai pada rak paling ujung, senyumannya kian melebar melihat ciki kesukaannya masih tersisa satu.


Dengan langkah cepat Lilian meraihnya namun ada tangan lain yang juga memegang ciki tersebut. Kepala Lilian mendongak menatap seseorang yang juga berniat mengambil ciki tersebut.


"Lo!!" Ujar Lilian dan Arion samaan.


Keduanya saling menarik ciki tersebut, tidak ada yang mau mengalah satu sama lain.


"Lepasin tangan lo! Sejak tadi gue udah nyari-nyari nih ciki!" Tangan Lilian masih berusaha merebut ciki tersebut.


"Tidak bisa!" Ketus Arion.


"Gue nggak minta persetujuan lo ya! Gue yang pertama ngambil nih ciki, jadi lepasin tangan lo." Nada suara Lilian meninggi dan tidak mau mengalah dari Arion.


"Ciki ini masih milik umum, siapa yang cepat maka dia yang dapat." Ucap Arion yang juga tidak mau mengalah pada Lilian.


"Ehhh papan datar ... Dari dulu sifat lo nggak pernah berubah ya! Setiap adu mulut sama gue pasti lo banyak bicara ... Namun setiap ucapan lo selalu bikin gue kesel! Lepasin nggak ... Lepasin nggak." Kesal Lilian sambil memukul tangan Arion menggunakan tangannya yang lain setelah ia menyimpan keranjangnya di lantai.


"Dasar cewek aneh!!" Kesal Arion.


"Terus kalau gue aneh ... Lo mau apa?" Lilian menatap Arion dengan tatapan permusuhan.


"Nggak ada! Lepas!" Arion semakin menarik paksa ciki tersebut.


"Jangan andalin kekuatan lo ... Gue ini cewek dan seharusnya lo ngalah sama gue!" Kesal Lilian masih mempertahankan tangannya untuk menarik ciki tersebut.


"Nggad ada cewek yang bisa ngalahin empat cowok dengan mudah. Itu artinya kedudukan lo dengan cowok-cowok itu setara." Kata Arion dengan raut wajah kesal.


"Dasar papan datar nggak guna!!" Karena kesal Lilian semakin kencang menarik ciki tersebut.


Semua mata menatap keduanya dengan tatapan bingung, sejak tadi Lilian dan Arion sama-sama tidak ingin melepas ciki tersebut. Karena suara ribut dari keduannya sontak saja mengundang pelanggan lain untuk mendekati keduannya.


Karena terlalu fokus berebut ciki, keduanya tidak sadar jika sedari tadi sudah banyak orang yang berkumpul untuk melihat keributan yang mereka buat. Sebagian orang bahkan ada yang sudah merekam.


Kembali ke Lilian dan Arion yang sejak tadi tidak ada yang mau mengalah. Ciki yang mereka perebutkan pun berhamburan keluar dari bungkusannya karena tarikan dari keduanya. Lilian menatap sedih ke arah ciki yang sudah berhamburan di bawah kakinya.


Matanya kemudian beralih ke arah Arion yang juga mentapnya dengan tatapan mengejek. Spontan Lilian mendekatinya dan memukul dada Arion dengan keras.


"Dasar cowok sialan ... Gara-gara lo ciki gue jadi berhamburan kayak gitu." Lilian tidak henti-hentinya memukul Arion namun lelaki itu hanya memasang wajah datarnya.


Napas Lilian ngos-ngosan karena lelah memukuli Arion. "Lo punya tenaga kingkong ya? Sejak tadi gue pukul bukannya kesakitan namun raut wajah lo masih sama kek papan datar!" Kesalnya.


"Rasa sakit gue hilang lihat lo kesal karena nggak bisa makan ciki kesukaan lo." Ucap Arion sambil tersenyum sinis.


Lilian berniat maju untuk menjambak rambut Arion namun seorang penjaga mini market datang dan menghentikan niatnya.


"Maaf Mbak ... Mas, Jika ingin ribut silahkan di luar saja. Kalian berdua telah membuat keributan dan membuat pengunjung lain merasa resah." Ucap salah satu penjaga mini market wanita tak enak.


Mendengar suara itu, Lilian baru menyadari ada begitu banyak orang yang sudah menonton keributan antara dirinya dan Arion. Lilian memejamkan mata dan menundukan kepalanya karena malu.


Melihat Lilian yang menunduk, Arion segera menarik tangan Lilian dan membawanya menuju kasir untuk membayar belanjaannya dan belanjaan Lilian yang berada tidak jauh dari mereka berdiri.


"Maaf mengganggu." Ucap Arion datar kemudian berjalan melewati orang-orang itu.


Kesimpulan yang orang-orang pikirkan adalah keduanya sepasang kekasih yang sedang berantem dan tidak sengaja menarik perhatian pengunjung lain.


Setelah membayar belanjaan miliknya dan belanjaan milik Lilian, Arion kembali menarik tangan Lilian ke arah parkir. "Lo kesini pakek apa?"


Lilian tidak menjawab namun kakinya melangkah meninggalkan Arion dan menunju tempat motornya berada. Arion kembali menarik tangan Lilian dan memberinya sekantong besar cemilan yang tadi sudah ia bayar.


"Sebagai pengganti karena telah berhasil bikin lo nggak jadi makan ciki itu." Ujar Arion datar kemudian ia berjalan pergi meninggalkan Lilian yang melongo tidak percaya.


"Dasar bre**sek!!" Lilian meninju udara karena kesal sama ulah Arion.


"Awas aja lo ... Akan gue balas semuanya!" Lilian berjalan menuju motornya dengan menghentakkan kaki karena kesal.


__________


2021 Kata .... Part paling panjang. Sengaja Author buat panjang untuk mengganti kemarin yangg nggak UP.