Lilian

Lilian
Hancurnya Hati Sheril



Lilian hampir saja jatuh terjungkal kedepan kalau Arion tidak sigap menangkapnya. Dengan wajah mengeras Arion menoleh ke belakang dan melihat Sheril yang sudah terduduk di atas tanah.


"Apa perlu mata lo gue cungkel sekalian?!" Tanya Arion dengan kata-kata pedasnya. "Kalau nggak di gunain dengen bener maka percuma aja!" Pertama kali Arion mengatakan kata-kata panjangnya pada Sheril namun bukannya kata manis yang sering gadis itu harapkan, Arion malah mengatakan kata-kata yang mengiris hati bagi pendengarnya.


"Sorry, gue nggak sengaja! Lo kira gue mau jatuh kek gini?" Tanya Sheril dengan wajah di tekuk. Bagaimana tidak, Arion mengatakan hal pedas kepadanya dan malah melakukan hal manis kepada Lilian.


Arion kembali merapikan anak rambut Lilian yang berantakan karena tadi hampir saja gadis itu terjatuh. "Lo nggak apa-apa?" Tanya Arion dan mengabaikan keberadaan Sheril.


Lilian menggeleng pelan dan tersenyum kecil. "Nggak apa-apa." Jawabnya.


Hati Sheril semakin memanas, niat awalnya ingin mendapatkan perhatian Arion, namun lelaki itu malah mengabaikannya dan tidak melirik sedikitpun melirik ke arahnya.


"Arion bantuin gue ..." Rengek Sheril dengan nada manja yang sengaja ia buat.


Arion hanya menatap Sheril dengan tatapan malas. "Kita pergi!" Ajaknya dan berniat menarik tangan Lilian meninggalkan Sheril sendiri.


"Tapikan ..." Ucap Lilian ragu sambil melirik ke arah Sheril yang masih terduduk di atas tanah.


"Udah biarin aja." Ujar Arion malas melirik ke arah Sheril.


"Lo tega banget ama gue Arion! Kaki gue lagi kesakitan dan lo malah berniat ninggalin gue!" Kata Sheril dengan raut wajah yang sengaja ia buat menyedihkan. Ia berharap Arion menggendongnya sampai ke tempat kemah di adakan.


"Lo sendiri yang jatuh, napa gue yang harus repot?!" Kata Arion dengan raut wajah dinginnya.


"Jatuh juga bukan keinginan gue! Mana ada orang yang ingin jatuh kek gini sampai kakinya kesakitan." Sanggah Sheril sambil memijit pelan kakinya yang katanya sakit.


Karena tidak tega, Lilian berjalan kearah Sheril dan mengulurkan tangannya untuk membantunya. "Gue bantuin ya, Kak."


Sheril langsung menepis tangan Lilian dengan kasar. "Nggak usah sok baik deh lo sama gue! Lo sengaja baik ke gue agar narik rasa simpati dari Arion kan! Gue nggak butuh orang yang sok cari muka kek lo!" Pekiknya ke arah Lilian.


"Lo adalah cewek yang nggak tau di untung! Sudah baik orang mau bantuin, lo malah nolak!" Arion tidak dapat lagi menahan kekesalannya terhadap Sheril.


"Tapi dia sengaja baik di hadapan lo." Kata Sheril tidak terima.


"Dan lo orang yang suci di sini?" Tanya Arion dengab tatapan tajam yang mampu membuat Sheril mengatup bibirnya rapat-rapat.


"Kita pergi aja! Orang kek dia nggak pantes lo tolong." Arion kembali menggenggam tangan Lilian dan berniat melangkah pergi.


"Sheril!" Pekin Naomi dan Karin yang berlari mendekati Sheril.


"Kalian berdua nggak punya hati banget ya! Bukannya bantuain Sheril malah ngatain dia!" Marah Naomi dan segera membantu Sheril untuk berdiri.


"Ehh Lilian! Gue tau lo nggak suka dengan Sheril, namun lo seharusnya punya sedikit rasa simpatik ke Sheril untuk menolongnya." Kali ini Karin yang bersuara.


"Gue udah coba ..." Kata-kata Lilian terhenti saat Arion menggenggam tangannya dengan sangat erat.


"Lo nggak perlu ngejelasin hal yang nggak penting!" Kata Arion dengan raut wajah datarnya, "Dia bukan termasuk orang yang perlu kami tolong! Orang kek dia nggak pantas untuk kami tolong!" Kata Arion pedas.


Hati Sheril semakin memanas, tanpa ia sadari sebutir cairan bening mulai membasahi pipinya. "Segitu nggak pantasnya gue di mata lo?! Tanya Sheril dengan suara lantangnya.


Sakit, tentu saja Sheril merasakan sakit. Sudah sejak lama ia mengajar Arion, sudah banyak cara yang telah ia lakukan untuk menarik perhatian Arion namun lelaki itu tidak pernah sekalipun menatap ke arahnya. Hatinya seperti teriris oleh sebuah pisau yang tajam mendengar ucapan Arion yang sangat pedas kepadanya.


"Gue udah lama ngejar lo! Gue bahkan udah mencoba melakukan semua hal untuk mendapatkan perhatian lo! Namun apa yang gue dapatkan? Hanya kata-kata pedas yang membuat hati gue merasakan sakit! Namun bodohnya, gue tetap sayang ke lo meski lo udah nyakitin gue!!" Sheril mengeluarkan semua perasaan yang selama ini ia pendam.


"Dia!" Tunjuk Sheril ke arah Lilian, "Dia baru aja hadir di hidup lo! Namun mengapa lo malah memilihnya dan bukan gue yang udah lama ngejar lo! Apa yang nggak gue miliki sehingga lo malah memilihnya di bandingkan gue yang jelas-jelas sudah lama suka dengan lo!!" Terdengar napas ngos-ngosan dari mulut Sheril.


Hatinya saat ini sangat hancur melihat perlakuan Arion kepadanya. Tidak peduli ada banyak orang yang melihat ke arahnya saat ini, meluapkan segala kekesalan yang sudah lama ia pendam dalam hatinya adalah hal yang sangat ingin ia lakukan untuk saat ini.


Lilian hanya terdiam mendengar ucapan dari Sheril. Meski Lilian belum pernah berada dalam posisi Sheril, namun ia juga mengerti dengan rasa sakit yang saat ini Sheril rasakan. Sedangkan Arion sendiri hanya menatap Sheril dengan acuh.


"Napa diam aja Arion?! Jawab gue!!" Tegas Sheril sambil menatap harap kearah mata Arion.


"Karena lo bukan Lilian!" Jawab Arion tidak kalah tegasnya.


Sheril tersenyum sinis kearah Arion. "Kareba gue bukan dia?" Matanya sedikit melirik ke arah Lilian. "Apa kelebihan yang dia punya sehingga li memilihnya?" Tanya Sheril kembali.


"Ada banyak kelebihan yang ia punya, namun entah kelebihan mana yang membuat gue tetap milihnya. Meski dia tidak memiliki kelebihan apapun dalam dirinya, namun gue hanya akan memilihnya, hanya Lilian dan tidak akan ada yang lain. Baik sekarang maupun di masa yang akan datang." Kata Arion dengan menegaskan setiap kata-katanya. Kali ini ia harus bersikap tegas pada Sheril, jika sebelumnya statusnya masih sendiri maka sekarang ada seorang gadis kecil yang perlu ia lindungi.


Entah karena hal apa yang membuatnya selalu merasa terikat dengan Lilian. Arion selalu saja merasa Lilian adalah sebagian dari dirinya, jika Lilian pergi maka ia merasa jika sebagian dari dirinya ikut pergi bersama Lilian.


Lilian sendiri tertegun mendengar penuturan dari Arion. Kata-kata itu adalah janji yang selalu Arion ucapkan pada masa lalunya. Lilian tidak menyangka akan mendengarkan kata-kata yang sama lagi di masanya yang sekarang. Entah ikatan antara keduanya yang begitu kuat namun di dalam hati kecil Lilian merasakan kehangatan yang sama seperti yang dulu ia rasakan.


Jika Lilian meraskan kehangatan dari dalam hatinya, berbeda dengan yang Sheril rasakan saat ini. Hatinya pecah berkeping-keping, di depan banyak orang dan di hari pertama acara kemah tahunan di mulai Arion menolaknya mentah-mentah. Lelaki itu dengan gamblang mengatakan jika hanya Lilian yang akan ia pilih meski ada banyak gadis lain yang jauh lebih baik dari gadis itu.


Hati Sheril terasa tercabik-cabik, air matanya jatuh membasahi kedua pipinya. Dalam hatinya ia sudah menetapakan jika ia tidak dapat memiliki Arion maka tidak akan ada gadis lain yang akan mendapatkan lelaki itu.


"Tidak ada yang perlu di bahas lagi di sini." Kata Arion dengan dingin, " Kita pergi!" Lalu menarik tangan Lilian pergi.


Sheril mengepalkan kedua tangannya kearah punggung Arion dan Lilian pergi. "Lihat saja Lilian, lo akan merasakan pembalasan yang setimpal dari gue!! Katanya dengan wajah memerah marah kemudian melangkah pergi di susul oleh Karin dan Naomi di belakangnya.


Lilian sendiri terus saja berjalan mengikuti langkah Arion yang menggenggam tangannya. Meski ia merasa bahagia dengan ucapan Arion barusan namun Lilian juga merasa kasihan dengan Sheril. Terlihat jelas di sorot mata gadis itu jika ia benar-benar menyukai Arion.


"Apa yang lo pikirin? Tanya Arion dan mengelus pelan kening Lilian yang mengerut.


"Gue hanya memikirkan tentang Kak Sheril." Jawab Lilian jujur.


"Lo nggak usah mikirin dia." Kata Arion dengan tatapan lembutnya.


"Gue hanya kasihan aja dengannya." Kata Lilian.


Tentu saja Lilian terpancing oleh ucapan Arion, matanya melotot ke arah Arion. "Awas aja lo milih ninggalin gue." Ancamnya.


"Tadinya bilang kasihan dengan si Sheril." Ungkut Arion.


"Kasihan memang! Tapi nggak dengan relain lo bersama dengannya!" Ketus Lilian tidak terima.


Arion terkekeh kecil mendengar jawaban jujur dari Lilian.


"Ekhmmm" Deheman Gladis membuat Arion dan Lilian menolehksn kepalanya ke arah gadis itu.


"Acara romantis-romantisnya bisa di jeda dulu nggak?" Tanya Gladis, "Kita harus buat tenda, nama lo udah gue serahib ke Denis, biar kita berempat bisa tidur bareng." Jelasnya.


Lilian kembali menatap Arion. "Gue pergi dulu ya." Pamitnya dan berniat melangkah bersama Gladis.


"Gue ikut!" Kata Arion dan kembali menahan tangan Lilian.


"Nggak bisa, Kak! Wilayahnya di bagi menjadi dua, perempuan sebelah barat dan laki-laki sebelah utara." Jelas Gladis.


"Gue ikut bantuin diriin tenda." Kata Arion kemudian menarik tangan Lilian.


Gladis menggelengkan kepalanya pelan. "Apalah daya gue yang jomblo gini ... Hanya bisa menjadi penonton keuwuan mereka." Kata Gladis kemudian melangkah mengikuti Lilian dan Arion yang sudah lebih dulu melangkah pergi.


Sesampainya di tempat yang akan Lilian dan temannya dirikan tenda. Di sana sudah ada Rein, Mario dan Farrel yang sudah lebih dulu membantu mendirikan tenda untuk Lilian dan teman-temannya.


"Kemana aja lo berdua? Kita cariin dari tadi malah ngilang." Gerutu Farrel.


"Tau nih anak dua" Sambung Mario.


"Lilian! Gladis! Sini!" Panggil Meira yang berdiri tidak jauh dari tenda mereka dirikan.


"Gue bantuin yang lain diriin tenda." Kata Arion dan melangkah pergi menuju ketiga temannya.


Lilian dan Gladis kemudian berjalan menuju tempat Meira dan Laura berada. Disana, kedua gadis itu tengah mempersiapkan makan siang untuk beberapa orang.


"Ayok bantuin kita nyiapin makan siang! Tadi Kak Rein datang nyariin Kak Arion, cuman karena lo juga nggak ada maka kami nyimpulin kalau kalian berdua lagi bersama." Jelas Meira.


"Mereka tadi lihat kita yang kesusahan masang tenda. Jadi langsung di bantuin deh ... Sebagai ucapan terima kasih, kita nyiapin makan siang buat mereka." Kata Laura dengan wajah riang.


"Idiiiihhh seneng amat lo pada karena di bantuin." Kata Lilian sambil terkekeh kecil.


"Iyalah seneng ... Kagak lihat lo hampir semua murid perempuan menatap iri ke arah tenda kita? Secara most wanted sekolah pada milih bantuin diriin tenda buat kita." Kata Laura sambil tersenyum bangga.


Lilian dan Gladis spontan menengok ke arah kiri dan kanan setelah mendengar ucapan Laura. Benar saja, hampir semua pandangan murid perempuan lainnya mengarah ke arah tenda yang saat ini di dirikan oleh Arion dan ketiga teman lainnya.


"Bener juga." Ucap Gladis sambil tersenyum lebar.


"Ya udah ayok, cepat bantuin kita nyiapin makan siang. Bentar lagi mereka kelar." Ajak Meira.


Lilian dan Gladis langsung membantu kedua temannya menyiapkan makan siang. Sambil menunggu Arion dan yang lainnya selesai, Lilian dan yang lainnya memainkan ponsel masing-masing.


"Ehh Lilian coba lo lihat ini!" Kata Gladis sambil menyerahkan ponselnya ke Lilian.


Mata Lilian membulat melihat video yang terputar beberapa menit dan menampakkan kejadian yang ia alami tadi sebelumnya.


"Ini kejadiannya kapan? Kok gue nggak tau?" Tanya Gladis heboh.


Lilian menghela napas pelan. "Tadi sebelum gue kesini." Jawab Lilian.


"Seriusan? Gimana ceritanya?" Tanya Laura yang nampak sangat penasaran.


Lilian kembali menghela napas pelan kemudian menceritakan semua kejadian yang ia alami tadi bersama Arion.


"Astagaaaa ... Seriuan si Mak lampir di tolak di depan banyak orang?" Tanya Meira dengan mata membulat.


"Nggak banyak amat sih ... Hanya aja masih ada beberapa murid yang tersisa disana bareng kita tadi." Jawab Lilian.


"Tetap aja Lilian! Aduh sumpah gue malu banget kalau jadi si Mak Lampir. Dari dulu dia selalu menjadikan dirinya sebagai kandidat pertama yang akan Kak Arion pilih sebagai kekasihnya. Siapa sangka Kak Arion malah menolaknya di depan banyak orang." Kata Gladis heboh.


"Gue kira anak-anak lain natap ke arah sini karena iri dengan kita, tau-taunya heboh gara-gara tadi. Sumpah nyesel banget gue nggak ada di momen itu." Kata Laura.


"Husshhh ... Nggak boleh kek gitu. Sebenarnya gue juga kasihan ama Kak Sheril, terlihat jelas dia cinta banget ke Kak Arion." Kata Lilian mengingat kembali raut wajah Sheril.


"Udahlah Lilian! Orang kek dia itu kalau di kasih hati bakal ngelunjak! Kagak tau aja lo berapa orang yang udah di sakitin olehnya dan sekarang dia sendiri yang kena karmanya." Runtuk Meira.


Lilian menghela napas pelan mendengar ucapan dari teman-temannya untuk Sheril. Meski Sheril selama ini telah berbuat jahatnke banyak orang tapi tetao saja Lilian merasa kasihan kepadanya. Menurut Lilian, Sheril akan berubah di saat waktu yang tepat. Meski waktunya belum sekarang.


"Udahlah nggak usah kalian bahas lagi. Mereka dah selesai dan berjalan kearah sini." Kata Lilian dan sukses membuat ketiga temannya berhenti bergosip.


"Ayok Kakak semua makan bareng kita. Makasih ya udah bantuin diriin tenda buat kita semua." Kata Laura dengan senyum mengembang.


"Nggak apa-apa kok, kita juga seneng bisa bantuin kalian." Jawab Farrel kemudian mengambik tempat duduk di depan Lilian dan yain lainnya.


Arion langsung duduk di dekat Lilian, Rein duduk di sebelah Arion dan Mario duduk di sebalah Farrel. Mereka semua akhirnya bisa makan siang bersama dan membuat semua pandangan murid perempuan lainnya tertuju ke arah tenda Lilian dan ketiga temannya.


Sungguh kebaikan apa yang telah mereka laukan di masa lalu sehingga membuat seluruh anggota Geng Andromeda ikut membantu mendirikan tenda ke empat gadis itu. Ke empat *mos wante*d itu bahkan mau menerima ajakan ke empat gadis itu untuk makan bersama.


__________________